
Usai makan malam mereka memilih untuk kembali lagi ke rumah. Namun, sebelumnya karena papanya yang menyetir, mereka berhenti di salah satu tempat yang di mana tempat itu terasa asing bagi Rey dan juga Marwa. Begitupun dengan orang tua Marwa yang ikut juga turun dari mobilnya karena Rey yang menyetir.
Rey turun dan mendekati papanya. “Pa, kok berhenti sih?”
“Papa lihat sesuatu barusan, Rey. Jadi papa berhenti karena merasa ada yang aneh dari tempat ini,”
Rey merasa merinding karena ucapan papanya. Ya, Rey memang penakut. Apalagi ketika dia pulang bekerja dan pernah ingin mengantar seorang nenek pulang. Namun justru ketika dia bicara, orang itu sudah tidak ada lagi di dalam mobil. Padahal dia tidak pernah berhenti waktu itu. Rey yang sudah jera malam itu dan kali ini ketika papanya mengatakan bahwa melihat sesuatu, ia menjadi ketakutan dan berdiri dibelakang papanya.
“Kamu kenapa sih? Kok kayak penakut gitu?” tanya sang mama ketika Rey menempel pada papanya.
“Marwa, sini bentara, Nak!”
Rey menyuruh istrinya mendekati sang papa di tempat sebuah bangunan yang begitu gelap. Rey juga tidak mengerti dengan tempat itu. Dia tidak pernah di sana sebelumnya. Sepertinya bangunan itu sedang proses pengerjaan.
“Kamu bawa kartu yang tadi, Papa kasih itu, kan?”
Marwa mengangguk kemudian mengeluarkan kartu tersebut dan memberkannya kepada sang mertua. Namun, mertuanya menggeleng dan mengajaknya ke depan, “Kamu coba tempelin kartu yang tadi ke alat itu!”
Tanpa ada rasa curiga atau perasaan aneh. Marwa langsung menempelkan kartu itu dan melihat lampu menyala secara bersamaan. Rolling door yang ada disebelahnya juga terbuka. Barusan, Marwa berpikir bahwa itu adalah bangunan yang sedang dikerjakan karena di kaca itu ada tanda silang yang artinya belum dibuka. Namun, ketika pintu terbuka secara otomatis dan ia melihat pemandangan yang luar biasa. Sebuah toko pakaian yang begitu besar dan sangat luar.
“Maaf, Papa ngasih hadiahnya telat. Selama ini Papa nggak pernah ngasih hadiah sama kamu. Ini punya kamu yang nantinya bisa kamu kelola. Rey bilang kamu sering bosan di rumah. Jadi, Papa sengaja kasih ini ke kamu agar kamu bisa kelola dan ada kegiatan. Papa memang nggak suka kalau seorang istri itu kerja. Dari dulu Mama Rey juga nggak pernah Papa kasih kerja. Karena biar dia fokus urus anak. Sama halnya dengan Rey yang nggak suka kalau kamu kerja. Jadi, ini Papa kasih sebagai kado ulang tahun kamu,”
Rey mendekati istrinya. Kedua orang tua Marwa tersenyum dibelakang di dekat mamanya Rey yang tengah menggendong Audri. “Terima kasih banyak ya,” ucap papanya Marwa kepada mama Rey yang sedang berdiri di sana.
“Ini adalah kado dari Mas Azka sendiri. Sudah lama disiapkan karena selama ini kami selaku orang tua nggak pernah ngasih apa-apa. Justru kami ngerasa gagal ngedidik Rey waktu itu,”
Ya, orang tua Marwa memang sudah tahu jika sebelum Audri lahir, Rey memang melakukan kesalahan. Itu diceritakan oleh Marwa langsung ketika Rey tidak pulang ke rumah orang tua Marwa. Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa orang tua menantunya itu akan peka seperti ini. Justru mereka selaku orang tua kandung tidak pernah melakukan hal seperti itu. Mereka hanya melakukan hal yang sewajarnya. Tak penah memberikan kado seperti ini kepada Marwa. Apalagi tadi ketika makan malam, Marwa menceritakan bahwa dia dibelikan mobil oleh Rey sebagai kado ulang tahun.
Inilah rasa syukur yang tak bisa diungkapkan oleh kedua orang tua Marwa ketika melihat anaknya begitu bahagia mendapatkan suami dan juga mertua yang begitu baik. Mereka berdua tidak pernah menyangka jika orang tua Rey akan seperti itu baiknya. Mungkin inilah yang di maksud oleh Dimas beberapa wkatu lalu bahwa orang tua Rey akan melakukan apa pun cara untuk membahagiakan anak-anaknya.
Sejenak Marwa berdiri di sana. “Pa, Ma, Ayo masuk!” ajak Marwa kepada ketiga orang itu.
Sedangkan adik iparnya sedang tidur di mobil karena sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Begitupun juga dengan Audri yang sudah tidur.
“Kelola dengan baik! Papa mau kamu juga punya kegiatan. Karena nggak mungkin kamu di rumah terus dan justru bosan di sana. Mama Rey juga punya butik, banyak banget. Mama Rey juga punya banyak restoran.
“Termasuk tempat kamu makan waktu itu sama, Mama,” ujar Reynand.
Marwa menggeleng tak percaya dengan tempat yang waktu itu dikunjunginya dengan sang mama. “Yang restoran Jepang?”
“Iya. Karena Mama dulu kan pernah tinggal di Jepang. Jadi nggak ada salahnya gitu kalau dia punya restoran Jepang juga kan. Jadi, aku belum pernah ajakin kamu ke sana. Makanya mereka nggak kenal sama kamu. Nanti kalau ada waktu kita ke sana,”
Marwa menyeringai dan melihat ekspresi suaminya yang begitu bahagia juga. “Papa berdoa kamu dan Rey bisa langgeng sampai tua. Nggak ada lagi masalah yang kalian hadapi. Papa nggak mau kalian bertengkar dan memutuskan ingin pisah lagi,” peringat papanya.
“Makasih banget, Mas Azka,” ucap papanya Marwa.
Azka tersenyum tipis. “Marwa sudah bagian dari keluarga aku, kan? Jadi nggak ada salahnya aku ngasih ini ke dia, aku juga tahu kalau Marwa juga punya toko busana muslim. Dan, di sana barangnya nggak sebanyak ini. Jadi, aku pikir mungkin Marwa butuh barang yang lumayan banyak,”
Rey mengelus kepala istrinya. “Makasih ya, Pa. aku nggak bisa balas kebaikan, Papa. Lihat Marwa nangis tiga kali sehari itu rasanya gimana gitu. Apalagi tadi siang aku juga buat dia nangis, belum lagi waktu di restoran. Dan sekarang ini,”
“Nangis bahagia nggak apa-apa, Rey. Asal jangan kamu sakitin lagi. Kalau sampai terjadi, kamu adu otot sama, Papa,” timpal papanya. Benar, jika Marwa pernah jujur kepada orang tuanya mengenai dia yang pernah berselingkuh waktu itu. Marwa mengatakannya dengan jujur karena hatinya masih terlalu sakit jika ditahan. Tapi, beruntunglah orang tua Marwa mengatakan bahwa dia harus bertahan dan juga belajar dari kesalahan waktu itu.
Rey menghela napas panjang ketika istrinya memeluknya karena malu dilihat menangis lagi. Sebuah mobil putih datang dengan pita yang ada dibagian depannya. “Itu mobilnya, kamu bisa pergi sama istri kamu, Rey!”
“Pergi ke mana?”
“Audri tinggal sama kami untuk malam ini. Lagian dia nggak pernah nangis kan kalau ditinggal. Jadi nggak apa-apa, untuk malam ini kalian bebas berduaan. Selama ini kalian nggak pernah bulan madu, Rey. Jadi ajakin istri kamu bulan madu,”
Orang tua Marwa tersenyum mendengar ucapan besannya. Apakah Marwa seberuntung itu punya mertua seperti Azka yang sangat membahagiakan anak kandung mereka. “Mas Azka, apa ini tidak terlalu berlebihan?”
“Hati seorang perempuan itu nggak bisa kita beli dengan uang. Ini mungkin nggak seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan dan juga rasa sakit yang pernah Marwa korbankan untuk anak aku yang pernah nyakitin hati anak, Anda,”
“Perselisisihan itu pasti ada, Mas,”
“Tapi perselingkuhan itu haram. Jadi, ini adalah bentuk terima kasih aku kepada Marwa yang sudah mau berjuang lagi dengan Rey. Jadi, jangan pernah tolak ini karena aku ngasihnya ikhlas. Mengenai Audri, biar dia sama kami. Dia nggak bakalan nangis kok, lagian nanti mainnya sama si kembar. Dia nggak pernah nangis walaupun ditinggal. Selama dia punya teman main,” jelas orang tua Rey.
Rey akui jika kesalahannya dulu memang fatal. Tapi, Rey baru tahu kalau Marwa jujur mengenai kebodhannya itu kepada orang tua kandungnya. Sedangkan dia yang merasa semuanya baik-baik saja. Beruntunglah mertuanya tidak mencercanya dengan ucapan-ucapan yang mungkin saja membuat Rey sakit hati. Justru mereka mendukung agar dia dan Marwa tetap bahagia sampai kapan pun.
“Rey, Marwa, sana pergi dong! Kasihan tuh sopirnya nungguin kalian,” ucap papa Rey dengan nada bicara yang begitu lembut.
Rey mengangguk dan mengajak istrinya pergi. Sebelum pergi, mereka berpamitan kepada orang tua masing-masing. “Marwa, kartu yang tadi papa yang bawa ya. Biar nanti tempatnya ditutup dulu. Besok jangan sampai kesiangan bangunnya. Jam sepuluh kamu sudah ada di sini untuk pembukaan,” ucap Azka.
Mereka berdua menganggukkan kepalanya. Lalu pergi dengan mobil SUV berwarna putih yang sudah dihias sedemikian rupa.
Ketika turun dari mobil dan Rey mengedarkan pandangannya lalu menatap hotel yang ada di depannya. “Kenapa hotel?” tanya Rey kepada istrinya.
“Silakan masuk saja, Tuan! Nanti barangnya biar saya yang bawakan,”
Barang? Rey tidak pernah membawa barang bersama dengan Marwa. Dia juga tidak pernah membawa barang-barang itu dari rumah.
Rey di sambut oleh beberapa pria yang berdiri di depan pintu hotel dan menyambutnya dengan sangat baik.
Rey baru ingat, ini adalah milik papanya. Ketika kecil, dia pernah diajak ke tempat ini. “Marwa, ini hotelnya, Papa,”
“Hah? Rey, Papa punya segalanya?” tanya Marwa dengan nada bicara yang pastinya akan terkejut. Pasalnya tadi Rey menceritakan mengenai restoran tempat Marwa makan dengan mamanya. Belum lagi diberikan tempat untuk dia membuat usaha oleh mertua. Dan juga mobil dari suaminya.
Marwa benar-benar tidak menyangka dengan semua itu.
“Marwa mana?”
Rey memutar bola matanya ketika teman Marwa tidak menjawab salam. “Jawab salam dulu!”
“Eh iya, wa’alaikumussalam. Mas Rey kan?”
“Iya, sebentar ya. Marwa lagi di kamar,”
“Eh, nggak usah deh. Nanti aja,”
Rey kemudian mengiakan lalu temannya Marwa mengucap salam dan memutuskan sambungan telepon. Tapi, rasanya ada yang aneh dari perempuan itu. Ketika melihat foto profil Hana yang begitu mesra dengan seorang pria.
Rey tidak ingin berpikir yang tidak-tidak. Baru kaliini juga dia memperhatikan foto perempuan itu dan begitu dia melihat foto Hana, dia bisa mengenali perempuan itu dalam satu kali pertemuan. Suara itu juga sepertinya begitu hening tadinya.
Ia memilih turun dan ingin bicara dengan beberapa karyawan papanya. Pantas saja tadi semua orang menyapanya dengan begitu baik ketika dia turun dari mobil. Namun, orang di sana tidak akan mengenali Marwa yang menutup wajahnya dengan cadarnya. Kadang Rey berpikir ini sangatlah lucu ketika papanya sendiri yang menyiapkan semuanya untuk dirinya dan juga istrinya.
Ketika dia bicara dengan salah satu staff di lorong hotel, Rey melihat Zibran yang berjalan dengan tergopoh-gopoh. Pria itu merupakan kontraktor yang kerjasama dengannya beberapa waktu lalu.
“Apa kabar, Pak?” sapa Zibran begitu saja ketika Rey yang tadinya ingin mengabaikan ketika pria itu terlihat sedang buru-buru.
Rey tersenyum dan menjabat tangan pria itu. “Baik, ada meeting di sini?” tanya Rey karena malam yang sudah sedikit larut tidak mungkin jika ada meeting jam segitu.
“Nggak, Pak. Ada urusan. Saya pamit ya, mendadak banget soalnya,”
Rey menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berpamitan kepada Gunawan salah satu staff yang bekerja malam di sana. “Selamat istirahat, Pak,”
“Terima kasih. Jaga kesehatan ya! Baik-baik sama karyawan!”
Gunawan merupakan orang yang bertanggung jawab untuk semua tamu ketika malam hari. Dia yang menjaga nama baik hotel agar tetap baik dan juga menghadapi orang yang sering komplain di sana. Tentu saja Rey kenal dengan pria yang dulunya sering datang ke kantor papanya ketika dia masih kecil. Tapi sampai sekarang pria itu masih di sana dan justru betah bekerja di sana. Siapapun pasti akan beruntung memiliki bos seperti papanya yang mengharamkan karyawannya untuk lembur. Tapi ketika mereka banyak mengobrol, pasti papanya akan menanyakan alasan kenapa pekerjaan mereka belum juga usai sampai jam pulang bekerja. Di kantor pun, papanya akan menerapkan semua itu.
Begitu Rey hendak masuk ke dalam kamarnya bersama dengan sang istri. Dia melihat Zibran berpelukan dengan perempuan yang kala itu menyambutnya di depan pintu yang tepatnya di dekat kamarya dengan Marwa.
Rey mengerutkan keningnya ketika dia melihat perempuan itu adalah Hana—sahabat yang selalu diceritakan oleh Marwa yang katanya bekerja di restoran mamanya yang bahkan Rey tidak pernah melihat perempuan itu sebelumnya.
Zibran? Bukankah dia sudah menikah dan punya anak? Rey ingat jika pria itu memang punya anak yang sudah SD dan juga masih kecil. Usinya tentu saja lebih jauh dibandingkan dirinya. Mungkin usia Zibran setara dengan Alvin.
Kemudian dia masuk ke kamarnya dan melihat istrinya sudah mengganti pakaian.
“Mas, handphone aku ada sama kamu, kan?”
“Iya, aku yang bawa,”
Marwa kemudian berpamitan untuk mencuci wajahnya sebelum tidur. Rey membuka handphone istrinya dan membaca chat istrinya dengan sahabatnya. “Maafin aku sayang,” ucap Rey dan langsung membaca pesan dari Hana yang ternyata isi chat mereka adalah mengenai Zibran yang katanya sudah hampir dua tahun pacaran dengan Hana.
Marwa keluar dari kamar mandi dan berbaring di samping Rey. “Tadi Hana hubungi kamu. Aku angkat teleponnya waktu lagi di luar,”
“Ya udah, Mas. Kalau gitu kita tidur aja. Mungkin dia sudah tidur,”
Rey berpikir hanya tidur? Tidak ngapa-ngapain? Jadi, untuk apa mereka di hotel malam ini.
“Sayang, serius kita cuman tidur?” tanya Rey ketika dia mendekap sang istri.
“Mau apa memangnya, Mas?”
“Ah, Marwa mulai nggak peka nih,” rengek Rey. Harusnya dia yang memberikan hadiah. Tapi justru dia yang meminta jatah kepada sang istri.
Marwa berbalik dan tersenyum kemudian dia mengelus pipi Rey. “Mas, makasih ya, aku bahagia banget pokoknya,”
Rey tersenyum tipis. Kemudian dia mencium bibir istrinya. “Nggak boleh tanpa doa, Mas!”
Dia kemudian menyeringai, “Ya sayang iya,”
Rey bangun dari tempat tidur kemudian membuka pakaiannya. Seketika itu Rey tersenyum saat istrinya memperbolehkan dia melakukannya.
Ponsel Marwa berdering, Rey yang langsung mengambil dan memakai suara luar. Terdengar napas Hana yang terengah-engah.
“Ada apa, Han?” ucap Marwa begitu dia melepas salam dan langsung bertanya tanpa basa-basi.
“Kamu udah tidur?”
“Belum. Ada apa? Kamu baik-baik aja, kan?”
“Aku tadi butuh teman curhat,” kata Hana yang kemudian Rey mengerutkan dahinya, “Sayang ih jangan cium-cium!” terdengar suara itu begitu kecil. Tapi Rey mendengarnya dengan sangat baik. “Ya udah, kamu lanjut tidur ya! Maaf gangguin kamu.”
Hana menutup teleponnya dan Rey langsung mematikan ponsel sang istri. Dia tidak ingin ikut campur dalam hal ini. Sekalipun dia tahu bahwa perselingkuhan itu memang benar terjadi. Akan tetapi tidak mungkin bagi Rey ikut campur ketika nanti terjadi sesuatu terhadap Hana dan juga Zibran. Karena sekalipun dia pernah bekerjasama. Dan mungkin, untuk proyek yang nantinya begitu besar menggunakan jasa Zibran. Dia tidak akan menyangkut pautkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Selama dia puas dengan hasil kerja pria itu. Maka semuanya tergantung dari pria tersebut.