
Dimas yang baru saja pulang dari rumah ownernya. Ia melepaskan sepatunya dan disambut oleh Lyla yang ada di ruang tamu.
"Mama mana?"
"Mama telponan sama tante Nagita, Pa,"
Dimas mengangguk pelan. Dia segera ke kamarnya dan meninggalkan anaknya yang tengah asyik membaca komik di ruang tamu sambil berbaring di sofa. Minat membaca Lyla juga berasal dari komik, maka dari itu dia tidak pernah mempermasalahkan jika anaknya lebih banyak membaca komik, dan menyesuaikan diri untuk membaca buku pelajaran.
Di dalam rumah tangga yang dia sedang dia didik dengan baik, Dimas masih berusaha menjadi sosok kepala keluarga yang memahami anak dan istrinya. Terlebih pada Erlangga yang kini sudah remaja. Tanggung jawabnya akan semakin besar lagi, apalagi anaknya yang satu itu sangat mudah bergaul dengan siapa saja.
Dimas berpamitan untuk membersihkan tubuhnya karena kelelahan seharian membahas pekerjaan hingga malam hari. Di rumah yang berhasil ia bangun dengan bangunan yang cukup besar dibandingkan dahulu ketika masih hidup berdua dengan Nagita. Semua membutuhkan proses hingga di mana dia menjadi orang yang cukup baik dalam memberikan nafkah kepada anak dan istrinya. Terlebih Viona yang bekerja sama membuka butik baru bersama dengan Nagita saat ini.
Beberapa kali juga Dimas ditawari untuk mengurus beberapa perusahaan yang dimiliki oleh Azka, dia menolak. Ingin berusaha sendiri dan bertanggung jawab terhadap keluarganya apa pun yang terjadi.
Jatuh dan bangun merupakan suatu hal yang sudah sangat biasa bagi manusia. Tinggal kita sebagai manusia yang sanggup menjalani itu semua dengan lapang dada atau tidak.
Seusai membersihkan diri, dia keluar dari kamar dan sudah menemukan seluruh keluarganya ada di sana.
"Angga dari tadi ke mana?"
"Baru pulang nemenin Kak Rey,"
"Kalian nongkrong melulu deh perasaan," sindir Dimas.
"Biasalah, Pa. Siapa tahu ada yang nyantol gitu dihatinya Kak Rey. Ngomong-ngomong ya Pa, waktu aku nginap di sana tuh, Om Azka pernah bilang kalau dia mau jodohin Rey, sudah beberapa kandidat yang dipilih sama Om Azka untuk dijadikan istri Kak Rey. Apa Papa setuju dengan semua ini?"
Dimas mengernyitkan dahinya, pasalnya dia tidak pernah mendengar Azka mengatakan bahwa akan menjodohkan Reynand. Namun kali ini lelaki itu sangat nekat menjodohkan Reynand begitu saja. Barangkali dia juga sudah jengah dengan sikap Rey yang semakin sulit ditebak.
Apalagi tinggal menghitung hari, sahabat dari keponakannya itu akan melangsungkan pernikahan. Memang itu merupakan hal yang tidak bisa buru-buru.
"Terus sudah ada yang disepakati sama Om Azka?"
"Enggak, aku bilang kalau aku mau jodohin Kak Rey sama guru lesnya Lyla," tukas Erlangga begitu saja.
"Enggak, biar nanti kita omongin dulu sama Om Azka. Kalau Papa sendiri sudah ada sih, tapi mungkin ini juga akan mencari problem kita semua ya, terutama keluarga besar mereka yang mungkin akan nolak, tapi bagaimana pun juga, kita akan berusaha untuk bujuk, kelihatannya juga perempuannya baik-baik. Memang kita enggak bisa menilai hanya dari luar saja, tetapi kita akan berusaha untuk mencari tahu tentang perempuan itu, jadi pelan-pelan saja. Itu juga semua demi Reynand. Kasihan juga kalau terus seperti itu, terpuruk melulu, sampai Papa dia bertindak mencarikan jodoh segala lagi," keluh Dimas yang tidak tega jika harus mendapatkan perempuan yang tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Dimas juga mengaku salah bahwa menjodohkan Reynand bukan yang baik. Tetapi barangkali itu merupakan suatu hal yang di mana bahwa Rey bisa menghapus perempuan itu dari ingatannya.
"Papa mau jodohin Rey sama siapa?" tanya Viona. Bahkan dia juga sangat khawatir tentang Reynand yang semakin hari semakin aneh saja tingkahnya, terlebih Nagita yang tidak tega melihat anaknya dirutuki oleh kesepian itu selama bertahun-tahun.
"Aira?" tanya Erlangga spontan.
"Kenapa?"
"Namanya bukan Bintang Aira, Pa?"
"Enggak, namanya itu Marwatul Aira. Kalau Bintang Papa tahu itu nama perempuan yang sudah buat kakak kamu jadi berantakan seperti sekarang ini, kalaupun misalnya perempuan itu tiba-tiba datang, apa akan mengacaukan semuanya lagi? Papa sendiri enggak tega lihat Rey, sekalinya jatuh cinta malah sakit begitu, intinya Papa enggak mau lihat kakak kamu terpuruk lagi dengan hal yang menyakitkan seperti itu, Erlangga,"
Dimas yang juga terlihat kesal dengan apa yang dirasakan oleh Reynand. Memang pria itu sudah menjadi pengusaha yang sukses, akan tetapi selalu memaksakan diri karena ingin menyibukkan diri agar melupakan masa lalu itu dengan mudah. Meski dia tahu sendiri bahwa tak mudah melupakan seseorang. terkadang seumur hidup ada beberapa orang yang masih menyimpan masa lalu itu hingga dia menjelang mati sekalipun.
Jika kesal, tentu saja jawabannya Dimas kesal. Anak yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri, dia didik dengan baik dari kecil. Bahkan selama kuliah juga, Rey pulang ke rumahnya, bukan pulang ke rumah Azka dan Nagita.
"Kalau memang itu yang terbaik, aku dukung, Pa. Jangan sampai itu juga perempuan nanti tiba-tiba datang minta maaf, bilang kalau dulu dia enggak ketemu karena alasan inilah itulah. 8 tahun itu adalah waktu yang enggak mudah bagi kak Rey menahan diri dari segala rasa sakit itu kan, Pa?"
"Makanya kamu juga jangan pacaran. Nanti aja sekalian, mau dicariin jodoh juga?" ledek Dimas terhadap anaknya yang pernah tertangkap basah jalan bersama dengan perempuan di salah satu mal.
"Mulai lagi deh," keluh Erlangga.
"Enggak masalah, asal kamu ingat betapa hati itu akan dibuat mati hanya karena orang yang kita sayangi pergi begitu saja tanpa alasan, lihat Kak Rey, hatinya udah enggak bisa diketuk oleh siapa pun karena ditinggalkan begitu saja. Alasan seseorang jatuh cinta karena nyaman, pas udah dibuat nyaman. Tiba-tiba dia pergi gitu aja nyisain luka yang begitu melekat di dalam hati. Seenggaknya kamu bisa belajar dari kisah Rey, kalau ternyata orang yang kamu cintai saat ini bisa jadi pergi. Kalau yang bertahan itu seperti sahabatnya kakak kamu yang bentar lagi nikah, siapa tuh namanya?" tanya Dimas yang pura-pura lupa nama sahabat keponakannya.
"Fendi sama Jenny,"
"Iya kalau mereka itu enggak mudah jalaninnya. Maka dari itu, sekarang fokus sama pendidikan kamu, kamu enggak tahu dulu tante kamu pengin banget kuliah,"
"Tapi kenapa tante itu nikah muda?"
"Karena Om Azka udah tua, ngebetnya sama tante kamu. Dia ajak tante kamu nikah melulu dengan catatan kalau udah nikah baru kuliah, dan benar tante Nagita itu kuliah waktu kak Rey udah besar loh,"
Dimas tak ingin mengatakan hal yang sejujurnya mengenai aib Azka yang dahulu pernah berbuat salah begitu besar. Bahkan dia tidak akan pernah menceritakan hal itu karena dia tahu sendiri, itu merupakan hal yang sangat tabu untuk diceritakan.
"Udah ah, makan. Jangan ngobrol melulu, Papa masih mikirin gimana kandidat menantu Azka sama Nagita ya, hahaha."
Dimas sengaja memecah suasana yang dianggapnya begitu serius.