
Rey mengendarai mobilnya dengan hati-hati, ia begitu hati-hati saaat sedang menyetir. Mengingat bahwa ada orang yang sedang menunggunya di rumah. Sudah dipastikan saat ini istrinya sedang menunggunya seperti biasanya.
Ia pulang selepas magrib karena harus mengurus beberapa persiapannya. Mulai dari mencari orang yang akan membersihkan rumah tersebut dan yang akan membantunya pindah nanti. Rey ingin rumah yang sudah dibelinya itu dibersihkan serta barang-barangnya harus baru. Sebagai hadiah untuk istri dan calon buah hati. Semua usaha sebagai seorang istri ia lakukan untuk membahagiakan orang yang disayanginya. Rey tersenyum saat keluar dari mobilnya.
Baru saja ia masuk ke dalam rumahnya dan menemukan mamanya di ruang tamu yang sedang bergegas hendak pergi. Rey yang memeluk mamanya dari belakang kemudian menanyakan ke mana akan pergi. “Mama cantik begini mau ke mana?”
“Papa kamu pengin ke rumah Leo. Pengin tengok anaknya Leo. Mama buru-buru juga karena Papa ngajaknya mendadak,”
“Loh bukannya Mama pernah ke sana?”
“Ada urusan katanya. Terus minta di temenin, ya udah kamu jaga adik-adik kamu. Marwa ada di kamar adik kamu bantuin adik kamu ngerjain PR. Ohya Rey, mereka bertiga belum makan. Jadi tolong ya ajak makan. Mama belum sempat masak,”
“Aku antarin, Ma?”
“Enggak usah, Rey. Sana temenin aja adik sama istri kamu. Papa sepertinya udah datang jemput Mama, ya udah Mama berangkat dulu ya,” ucap mamanya kemudian Rey bersalaman dan mengantarkan mamanya ke depan. Dari jarak beberapa meter, Rey langsung mendekati mobil papanya dan bersalaman.
“Papa lama di sana?”
“Mungkin pulangnya agak larut. Jagain adik-adik kamu ya! Jangan sampai kamu kunciin mereka lagi. Kalian jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan! Ya sudah Papa berangkat ya, Nak.”
Rey mengangguk dan melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya yang telah berlalu. Wajah lelahnya yang tidak bisa disembunyikan lagi. Selepas berbicara dengan mertuanya tadi siang, Rey merasa sedikit lebih lega.
Ia melepaskan dasinya dan melenggang ke kamar kedua adiknya nampak di sana istrinya sedang membantu adiknya membuat kerajinan. Tugas si kembar di sekolah yang selalu meminta bantuan Marwa menemaninya. Melihat kedekatan ketiga perempuan tersebut, terkadang berat rasanya harus memisahkan istri dan adiknya nanti ketika mereka akan pindah. Akan tetapi mau bagaimana lagi, Rey dan Marwa sudah sepakat untuk tinggal di luar dan membeli rumah lain agar bisa hidup berdua.
Rey akan sangat merindukan itu, tetapi hidup selalu memiliki alurnya masing-masing yang barangkali memang sudah takdirnya bahwa mereka akan terpisah. Bukan berarti akan berhenti menjadi keluarga baik. Tetapi itu adalah cara agar dia bisa hidup mandiri bersama dengan istrinya.
“Masih sibuk?” sapa Rey dan menghampiri ketiga orang yang sedang duduk di lantai dengan begitu banyak kertas karton serta barang-barang yang hendak dijadikan kerajinan tangan. “Di suruh buat apa?”
“Di suruh buat rumah-rumahan dari kertas karton dan kardus kak,”
“Dikumpulinnya kapan?”
“Hmm, dua hari lagi,”
Rey mengangguk dan melihat adiknya yang sedang berusaha untuk lebih kreatif mengerjakan tugas mereka bersama. Sedangkan Marwa di sana diminta hanya untuk menggunting beberapa bagian dari kardus yang sudah di garis. “Besok dikerjakan ya. Kakak bakalan bantu, sekarang kalian beresin semuanya, kita makan di luar. Kalian mau?”
“Yang benar kak?”
Rey mengangguk dan membuka kancing kemejanya satu persatu. “Benar. Kakak bakalan ajak kalian untuk makan malam sepuasnya. Terserah kalian mau pesan apa aja. Yang penting kalian kenyang,” ucap Rey memberikan semangat kepada kedua adiknya.
Nabila berdiri dan mulai merapikan barang-barang mereka yang berserakan di lantai. Meskipun ada asisten. Tetapi Rey ingin adiknya terbiasa merapikan barang milik mereka sendiri karena ketika dicari nanti mereka dengan mudah menemukannya. “Ayo dek kita rapiin!” ajak Nabila yang antusias dengan ajakan Rey barusan.
“Kakak nggak bohong kan?” walaupun sangat lelah. Rey tidak ingin membohongi adiknya. Ia ingin mengajak adiknya sesekali. Selama ini ia selalu saja usil kepada kedua adiknya hingga pernah suatu ketika mamanya tidak menegurnya sama sekali karena perbuatannya yang membuat salah satu dari mereka menangis.
“Kakak mandi bentar. Setelah itu kita bakalan pergi,” jawab Rey kemudian bangun dari tempatnya bersila tadi. “Marwa bantuin mereka ya. Yang nggak dipakai buang aja biar nggak numpuk nanti. Aku mandi ya,” pamit Rey kemudian beranjak dari kamar kedua adiknya itu.
Jika melihat kedua adiknya, Rey berharap bahwa anaknya nanti adalah perempuan. Itu adalah harapannya, mesikupun nanti tidak sesuai dengan harapannya setidaknya ia ingin jika istri dan anaknya sehat.
Beberapa menit setelah berpamitan tadi. Rey mengeringkan rambutnya dengan handuk kemudian duduk dipinggiran ranjang. Marwa pun masuk ke dalam kamar dan menghampirinya. Perempuan itu mengambil alih handuk yang dipegang Rey tadi.
“Kalau kamu capek jangan dipaksain, Mas,”
“Nanti kita ajak sopir. Aku cuman pengin ajak mereka berdua makan malam. Ngomong-ngomong tadi Papa ke kantor,”
“Iya dia telepon aku sih sebelum ke sana. Dia bilang pengin nanyain soal rumah yang kamu beli,”
“Kamu cerita hal itu ke Papa, kan?”
Marwa tersenyum, “Hehe, maaf. Abisnya aku senang kalau Mas itu ada niat buat bangun rumah tangga kita berdua. Terus tanpa campur tangan orang lain. Bukan berarti aku misahin kamu sama Mama dan Papa kandung kamu, Mas. Tapi itu semua keinginan kamu. Aku sebenarnya betah kok di sini, tapi kamu nggak mau kan kalau kita terus tinggal di sini?”
Rey mengangguk dengan cepat dan menatap mata istrinya yang masih fokus untuk mengeringkan rambutnya. “Mas udah sholat?”
“Udah. Tinggal makan yang belum, terus setelah itu sholat isya’ nah setelahnya tidur peluk kamu,” ucapnya tanpa malu-malu lagi menggoda istrinya. Ekspresi Marwa berubah dan pipinya memerah kala Rey berkata demikian. “Masih aja merona kalau digoda. Itu yang buat aku senang godain kamu tahu nggak,”
“Hati-hati Mas kalau mau rayu istri. Nanti salah ngomong, aku bisa marah loh,”
“Aku tahu kamu tuh nggak bisa melenceng dikit pokoknya hatinya. Sayang banget tahu,” ucap Rey menarik hidung istrinya dan memegangi kedua pipi istrinya dan langsung mencium bibir istrinya. “Kok kangen ya meskipun kamu ada di depan aku,” ucap Rey kemudian mencium kening istrinya.
“Kok bisa?”
“Nggak tahu. Kangen aja, perasaan aku nggak bisa tersampaikan. Tetap aja ngerasa pengin dekat-dekat sama kamu,”
Rey tersenyum saat istrinya tersenyum kepadanya. Selalu saja manis, dan bagaimana mungkin dia bisa mencari cinta yang lain saat keduanya sudah benar-benar diselimuti oleh perasaan saling mencintai.
“Kalian malah saling tatap gitu. Kapan berangkatnya?” Rey langsung melihat ke arah pintu yang di mana kedua adiknya sudah bersiap dan berdiri di sana dengan pakaian rapi.
Ia benar-benar terkejut, entah dari kapan kedua adiknya berada di sana. “Ka-kalian sejak kapan di-di sana?” ucapnya terbata.
“Dari tadilah. Orang kita barengan kok ke sini sama Kak Marwa,”
“Berarti kalian lihat?”
“Lihat Kak Rey cium Kak Marwa,”
Rey berdiri dari pinggir ranjangnya kemudian menghampiri adiknya. Bagaimana mungkin dia bisa seceroboh itu dan membiarkan kedua adiknya melihatnya seperti tadi. “Kalian kenapa nggak keluar kalau lihat kakak seperti itu? Dan kenapa kalian nggak permisi?”
“Gimana kita mau permisi, kita baru masuk aja Kak Rey udah cium Kak Marwa,”
Rey mengacak rambutnya frustrasi dengan ucapan Salsabila yang seperti itu. Rey berdiri di dekat pintu sambil memukul tembok dengan jidatnya. “Astaga kenapa kalian berdua jadi ternodai gini sih?”
Sedangkan Marwa di sana langsung menghindar dari kedua ipar kecilnya itu. Meskipun masih usia muda. Tapi keduanya tidak bisa diremehkan, kadang suaminya kalah bicara dengan dua anak itu.
Bukan itu yang Rey maksud. Tidak apa jika orang tuanya tahu bahwa dia mencium Marwa. Toh Marwa adalah istrinya akan tetapi yang membuatnya merasa bersalah adalah adiknya melihat itu semua dengan begitu nyata. Kecerobohannya yang mengakibatkan kedua adiknya harus melihat adegan yang tidak harus dilihat.
“Ya sudah sekarang kalian berdua tolong keluar dari kamar kakak. Kakak mau pakai baju dulu terus nyusul kalian,”
Kedua adiknya langsung keluar dari kamar itu. Marwa dan Rey saling menyalahkan di kamar. Mereka berdua bertengkar di sana. “Gara-gara kamu, Mas,”
“Kok aku? Kamu yang salah,”
“Lah kamu yang nyium. Kalau kamu nggak nyium mana mungkin yang dua itu lihat,”
“Kamu ngapain masuk kamar? Aku bisa keringin rambut aku sendiri. Kamu yang salah,”
“Oh jadi sekarang aku yang salah, Mas?”
Rey merasa tidak enak hati menyalahkan istrinya atas apa yang terjadi. “Ya sudah kamu tunggu di luar aja ya! Aku mau siap-siap,” Rey menetralkan emosinya dengan cara meminta istrinya keluar dari kamar. Pertama sorot mata istrinya terlihat seperti ingin menangis, kedua ia tidak enak hati karena telah membentak istrinya barusan.
Wajah Marwa yang tadi tiba-tiba memucat itulah alasan utama Rey tidak ingin berdebat panjang karena masalah tadi denga istrinya. Tiba-tiba perasaan bersalah itu terlintas di kepala Reynand.
Rey merasa malu karena tindakannya tadi benar-benar kekanakan dan hanya karena kejadian seperti itu mampu menyakiti hati istrinya hingga Marwa melepaskan handuk itu dengan sedikit rasa kesal. Ia berjanji setelah ini akan langsung menyusul dan meminta maaf atas tindakannya.
Pada saat itu Rey keluar dari kamarnya dengan pakaian santainya. Ia tidak lupa membawa dompet serta ponselnya ke sana. Dia kemudian turun dari kamar dan langsung ke ruang tamu tempat di mana adik dan istrinya menunggu di sana.
“Mas, ayo berangkat!” Marwa yang baru saja menyapanya terlebih dahulu tiba-tiba mengejutkan Rey. Dia tahu bahwa tadi Marwa kesal terhadapnya, akan tetapi kini seolah seperti orang yang tidak memiliki masalah sedikitpun. Selama keributan itu Rey berusaha mengalah untuk istrinya. Karena tidak ingin membuat istrinya stress seperti pesan mama mertuanya.
Rey menggandeng tangan istrinya dan mengajak adiknya keluar. Mereka tiba di parkiran dan membiarkan kedua adiknya masuk terlebih dahulu. “Kamu nggak marah?”
“Nggak. Jangan bahas yang udah lewat Mas. Kita sering banget berantem akhir-akhir ini. Aku nggak mau kalau kita berantem terus dan pada akhirnya nanti timbul rasa bosan di antara kita berdua. Biar yang sudah berlalu kita lupain aja. Walaupun sebenarnya kamu itu aslinya nyebelin,” celetuk Marwa yang membuat Rey tersenyum dengan ucapan istrinya yang barusan diyakini oleh Rey bahwa itu keluar dari peraasan Marwa,
Ia memang tidak menanggapi akan tetapi langsung merangkul istrinya masuk ke dalam mobil. Yang di mana Marwa sudah meminta sopir untuk mengantar mereka ke salah satu restoran untuk makan malam.
Tiba di restoran tersebut. Sopirnya diam di dalam mobil. “Loh kenapa diam disitu?”
“Saya tunggu sini aja, tuan,”
“Masuk! Kita makan bareng. Nggak usah malu!” ajaknya Rey tidak pernah ingin membedakan status dengan siapapun. Meskipun sopirnya sendiri, Rey masih menganggap seperti keluarga. Jarang sekali ia pergi dengan sopir jika tidak dalam keadaan lelah seperti ini. Kadang sopirnya hanya bertugas menjemput kedua adiknya ke sekolah dan mengantar asisten untuk membeli perlengkapan dapur.
Sopirnya yang tadi menolak masuk akhirnya mau masuk bersama dengan dirinya. Sedangkan istri dan adiknya sudah mengambil bagian tempat duduk. Di sana ada empat kursi dan sopirnya lansung menggaruk kepalanya. “Udah jangan malu. Nanti tinggal ditambahin kursi aja kok. Lagian mejanya bundar apalagi luas seperti ini,”
“Saya di luar, Pak. Nggak enak banget rasanya nanti kalau selesai makan terus nggak ngerokok. Nyonya kan lagi hamil, jadi saya di luar saja,”
“Ya udah jangan sungkan mau pesan apa aja. Intinya mala mini makan yang banyak asal habis,” pesan Rey kepada sopirnya. Dan pria itu keluar dan memilih duduk di ruang terbuka. Rey melihat dari jarak beberapa meter saat menunggu pesanan sopirnya memang benar-benar merokok. Pria itu mengerti dengan kehamilan Marwa dan memilih menghindar daripada membahayakan kandungan Marwa nantinya.
Rey sendiri bukan perokok. Bahkan dia sendiri tidak bisa mencium asap rokok yang sangat menyengat. Tatapannya tertuju pada adiknya dan ia melihat adiknya begitu antusias memesan makanan. Rey tertegun saat adiknya saling rebut menyebutkan makanan yang mereka pesan. “Awas kalau nggak habis,” ancam Rey saat tidak bisa lagi membayangkan bagaimana nanti makanan mereka akan sangat banyak karena keduanya memesan makanan yang begitu banyak.
“Kak benar kan kalau kita boleh pesan apa aja?”
Rey mengangkat sebelah alisnya. “Kalian mau pesan semuanya juga boleh,”
“Yeeee Kak Rey bayar,” Nabila begitu senang karena Rey meluangkan waktu walaupun hanya untuk makan malam.
“Kenapa senang banget?”
“Karena Kak Rey selalu sibuk. Karena Kak Rey selalu sama Kak Marwa. Nggak pernah ada waktu buat kita lagi, kalau kita pengin main Kak Rey bilang kalau kakak capek,” Rey merasa sedih kala adiknya berkata demikian. Memang benar setiap kali keduanya mengajak untuk bermain atau berbincang Rey selalu menolak. Kini ia menyadari bahwa begitu banyak waktu yang tidak bisa ia gunakan untuk mengawasi tumbuh kembang adiknya seperti dulu.
“Jangan bilang gitu. Kakak bakalan luangin waktu buat kalian. Jadi ini alasan kalian pesan makanan karena nggak mau lewati makan malam ini sama kakak?”
Salsabila dan Nabila mengangguk bersama. “Maafin kakak ya, kakak janji kalau kalian kangen nanti telepon kakak. Kakak pasti pulang dan bakalan main sama kalian lagi,”
“Loh memangnya Kakak mau ke mana?”
“Kakak bakalan tinggal di rumah baru sama Kak Marwa,”
Adiknya memanyunkan bibirnya. “Kakak kenapa nggak bilang?”
“Ini kan kakak bilang,”
“Kakak nggak bilang dari kemarin-kemarin,”
“Kakak nggak mau kalau terus buat kalian nangis,”
“Kita nggak apa-apa kok dibuat nangis terus sama kakak. Asal kakak tetap di rumah. Kita kangen sama kakak,” ucap Nabila.
“Nabila, kakak janji nanti bakalan luangin waktu buat kalian berdua,”
“Kakak marah sama kita sampai buat kakak mau pergi dari rumah?”
“Bukan. Karena kakak kan udah nikah. Nanti kalau kalian udah besar pasti ngerti maksud kakak,”
“Kakak bakalan tetap jadi kakak kita, kan?”
“Nabila kakak pergi sama halnya seperti kakak tingga di apartemen seperti dulu. Kakak bakalan pulang juga kok, bukan berarti kakak kalian ini direbut sama Kak Marwa. Cuman karena udah nikah kakak harus hidup mandiri dari orang tua.”