RICH MAN

RICH MAN
BALAS DENDAM TERBAIK



Nagita sangat bahagia mendengar kabar bahwa Dimas akan melamar Viona, sahabatnya. Selama ini memang Dimas sangat mencintai perempuan itu. Tetapi Nagita tahu bahwa Viona menghindar karena terlalu malu dengan keadaan yang sekarang. Nagita sudah menjelaskan beberapa kali. Tetapi perempuan itu justru tetap menolak alasan Nagita.


Saat Dimas memutuskan ingin melamar Viona, Nagita sangat senang karena rumahnya tidak akan pernah sepi lagi. Perempuan itu sangat baik. Nagita tahu betul bagaimana sifat Viona yang selama ini selalu menjadi sahabatnya. Viona juga tahu bagaimana kisahnya bersama dengan Azka. Perempuan itu selalu saja memberinya semangat.


Hari ini, mereka berdua berjanji akan menjemput Rey bersama ke sekolah. Viona juga telah menjadi seperti saudaranya sendiri. Nagita sangat menerima dengan baik kehadiran perempuan itu. Terlebih Viona telah mengetahui bagaimana dulu keadaannya yang begitu pelik, tetapi justru Viona yang sering membantunya.


Tiba di sekolah. Rey langsung menyambut mereka berdua.


“Tante, kita ke kantor Om yuk!”


“Eh, Tante kan kerja Rey,”


“Untuk apa kamu kerja lagi? Kak Dimas pasti larang kamu, dan lagi dia sudah meminta izin cuti kamu selama pernikahan, dan ini kan sudah termasuk persiapan,”


“Kan cuman lamaran doang,”


“Siapa bilang? Lamaran sekaligus langsung hari pernikahan kamu, Na. Kak Dimas itu nggak pernah main-main lho kalau sudah serius. Ohya hari ini dia juga ngajakin untuk cari gaun pengantin sih katanya,”


“Secepat itu?”


“Iya, acaranya beberapa hari lagi, lho. Kak Dimas itu kalau sudah bilang A ya tetap A. Na, titip dia ya, kalau seandainya suatu saat aku pergi dari rumah kalian sama Rey, aku harap kalian tetap akur,”


“Kenapa bilang gitu? Kita akan tinggal bareng, Ta,”


Nagita menggeleng. “Nggak Na, kalau sudah berumah tangga alangkah baiknya nggak ada orang lain di dalam rumah tangga kalian. Itu akan lebih  asyik karena kalian akan bisa bertukar pikiran satu sama lain,”


“Nagita, kamu sama Rey kan satu-satunya yang dimiliki sama Kak Dimas,”


“Kamu yang akan menggantikan itu, Na.”


“Nggak ada ya bekas-bekas saudara segala Nagita. Kamu akan tetap sama kami, aku nggak mau tinggal sendirian di rumah, Nagita. Ini sudah diomongin sama Kak Dimas sama aku, jadi jangan pernah tinggalin rumah kalau memang kami benar-benar menikah. Terlebih kamu sama Rey harus tetap di sini, aku nggak mau kamu pergi, kamu pergi ke mana? Kamu nggak punya siapa-siapa lagi selain Kak Dimas,”


Nagita memeluk Viona. “Na, terima kasih banget atas semuanya. Tapi aku janji nggak bakalan jauh-jauh dari kalian berdua. Cuman aku maunya kita sama-sama aja gitu, capek tahu nggak sih ngurusin anak sendirian, terlebih nggak ada Papanya,”


“Sayang kamu sama Azka?”


“Itu dulu, Na. Sekarang aku fokus besarin Rey sendirian. Tapi nggak mungkin kan semuanya Kak Dimas yang tanggung, aku harus punya penghasilan sendiri, sekolahin Rey,”


“Nggak, Ta. Kamu harus tetap sama aku dan Kak Dimas,”


“Nanti kamu akan mengerti bagaimana menjalani rumah tangga itu alangkah baiknya memang berdua. Meskipun ikatan saudara aku dengan Kak Dimas. Aku nggak mau jadi orang ketiga, mungkin benar bahwa aku akan benar-benar pergi,”


“Kalau kamu pergi, aku batalin semuanya, Ta.”


Nagita menggeleng dan berusaha menjelaskan semua itu kepada Viona. Tetapi tetap saja perempuan itu menolak dirinya yang akan pergi. Hingga akhirnya Nagita mengalah dan menyetujui permintaan Viona.


Mereka bertiga berangkat ke kantor Dimas untuk bertemu dengan pria tersebut. Nagita merasa sangat beruntung jika memiliki ipar seperti Viona. Karena selama bercerai, perempuan yang selalu ia temui adalah Viona. Tetapi tidak pernah terlintas dibenaknya untuk menjodohkan kakaknya sendiri dengan perempuan itu. Jodoh tidak akan ke mana. Sejauh apa pun ia pergi, jika memang Tuhan telah menggariskannya, semua akan bersatu jua, karena namanya telah tertuliskan dengan indah di Lauhul Mahfudz.


Setibanya di sana, Damar menghubunginya saat itu juga. Dimas yang mendengar pembicaraan mereka berdua langsung meminta izin membawa Rey bersama dengan Viona.


“Temui Damar, barangkali ada yang mau diomongin, biarin Rey sama aku di sini, lagian ada Viona yang bakalan jagain dia,”


“Pergi saja, Nagita!”


“Mama, hati-hati ya.”


Senin itu, Nagita dan juga Damar semakin dekat. Dimas tak pernah melarang keduanya berhubungan selama itu masih batas wajar. Ia merasa bersyukur jika Dimas begitu baik pada siapa pun. Bahkan waktu itu saat dirinya meminta izin mempertahankan rumah tangganya bersama Azka, Dimas menyetujui. Sampai bercerai pun, Dimas tidak pernah memarahi dirinya dan membahas perihal Azka pada dirinya.


Nagita keluar dari kantor Dimas dan bertemu di salah satu kafe tempat mereka berdua berjanji untuk bertemu.


“Damar!”


Nagita mengangkat tangannya setelah melihat pria tersebut kebingungan. Setelah pria itu melihatnya, Damar langsung mendekatinya.


“Sendirian?”


“Iya sendirian,”


“Rey mana?”


“Sama Kak Dimas, ngomong-ngomong nanti datang ya ke acara pernikahan dia!”


“Siapa yang mau nikah?”


“Kak Dimas,”


“What?” Damar terkejut seolah tak percaya. Selama ini Dimas tak pernah menceritakan tentang siapa yang ia sukai. Bahkan karena terlalu sibuk bekerja, Damar sendiri tak pernah tahu  bahwa Dimas telah dekat dengan seorang perempuan. “Kamu tahu Nagita, aku pikir Dimas itu nggak suka sama perempuan, dia selalu nolak aku ajak kencan buta,”


“Jangankan kamu, Mar. Aku aja yang berusaha nyariin dia jodoh nggak dapat-dapat. Malah dia ketemu sama pacarnya yang entah berapa tahun ngilang, langsung mau di lamar gitu aja,”


“Pacarnya ngilang bagaimana?”


“Ngilang karena dulu waktu Kak Dimas itu masih jadi sopir angkot, perempuan itu terima Kak Dimas apa adanya, tapi setelah mulai bekerja dan menjadi lebih baik, Viona ninggalin dia gitu aja, terus tepat setelah kamu pulang, dia bilang sama aku kalau dia baru saja ketemu sama pacarnya itu, dan setelah itu dia bilang minggu depannya mau lamaran, perempuan itu juga sering cerita soal pria yang dia cintai, tapi nggak pernah nyebut nama, ya cocoklah. Perempuannya baik, Kak Dimas juga,”


“Tapi secepat itu, Nagita?”


“Cepat apanya? Mereka pacaran delapan tahun, semenjak aku masih sekolah,”


“Sialan kunyuk itu malah ngelangkahi aku,”


“Makany nikah sana, umur sudah segitu belum juga mau nikah,”


“Santai, kalau kamu  izinin sih nggak apa-apa jadi Papa tirinya Rey, boleh kan?”


Nagita terdiam sejenak. “Dia masih mencintai Deana,”


“Oh, perempuan sialan itu lagi penyebabnya. Kenapa nggak dari dulu aja kamu pisah sama dia?”


“Aku pikir seseorang akan berubah seiring berjalannya waktu. Perasaan pada masa lalu bisa hilang begitu saja, tetapi justru aku yang bertahan untuk membuatnya pulih, justru aku yang tersingkirkan. Bahkan Rey benci dengan Papanya sendiri, semenjak Azka nampar aku, Rey nggak mau lagi ngakuin Azka sebagai Papanya,”


“Azka mukulin kamu?”


“Iya, dia nampar aku semenjak kami bertengkar pagi itu dan aku marah karena dia belain Deana.setelah itu dia menjatuhkan talak tanpa berpikir panjang. Aku bingung sama diri aku sendiri, kenapa waktu itu aku merasa sangat lega saat dia menjatuhkan talak. Terlebih karena Rey juga sangat mudah untuk dibawa pergi dari Papanya.”


“Kamu marah sama Azka?”


“Nggak, karena aku nggak bisa rubah perasaan orang lain. Yang bisa rubah perasaannya hanyalah dia sendiri,”


“Mau aku bantu?”


“Bantu apa?”


“Balas dendam,”


“Aku nggak mau dendam sama dia, Mar. Cukup dengan cara seperti ini aku sudah merasa lega, dia kebingungan dengan perasaannya sendiri,”


“Balas dendam terbaik kepada seseorang yang pernah menyakiti bukan dengan cara menyakitinya balik. Tetapi menjadi jauh lebih baik lagi, Nagita,”


“Tapi apa itu nggak kurang ajar banget, Mar?”


“Apanya yang kurang ajar, nanti aku kenalin sama orang yang bakalan bantuin kamu,”


“Bukan kamu sendiri?”


“Bukan. Yakali aku, Nagita. Yang ada calon istriku marah,”


“Kamu punya?”


“Punya, tapi masih di luar negeri kuliah sama adik aku,”


“Oh,”


“Nagita, kayaknya kamu kenal sama adik aku, deh,”


“Siapa?”


“Nanti aja. Kamu pasti nggak asing sama orangnya, dia teman kamu sekolah dulu deh kayaknya, aku baik sama kamu juga karena dia. Dia sudah aku ceritakan tentang masa lalu kamu, setelah pulang nanti, aku kenalin deh. Hmm, lebih tepatnya dia kakak kelas kamu, Nagita,”


“Siapa sih?”


“Ada deh,”


“Cewek atau cowok?”


“Nah kan mulai penasaran. Intinya nanti aja, dia yang bakalan bantuin kamu, Nagita. Aku sudah bilang ini sama Dimas, dia juga sudah izinin aku buat ngebantuin kamu. Lagian ya nggak ada salahnya buat perhitungan sama Azka yang udah sia-siain kamu sama Rey,”


“Kamu itu sahabat baiknya Azka, Damar. Kenapa harus hancurin hati sahabat kamu sendiri sih?”


“Aku memang sahabat sama dia, tapi kalau perihal nyakitin hati perempuan. Aku nggak kayak gitu, oke aku brengsek di sini. Tapi hati aku tetap untuk perempuan yang sekarang ini sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Dia mendapatkan beasiswa kuliah di sana, aku nggak mau larang dia buat ngejar cita-cita dia. Dia lagi berjuang sama adik aku, jadi nanti kamu akan tahu bagaimana reaksi adik aku ketemu sama kamu,”


“Damar, jangan buat aku penasaran.”


“Bentar, Viona itu yang ini kan?”


Damar merogoh ponselnya di dalam celananya dan memperlihatkan foto Nagita semasih sekolah dulu. “Kamu dapat dari mana?”


“Dari siapa lagi kalau bukan adik aku,”


“Bentar. Adik kamu yang mana sih?”


“Nanti aja, Nagita. Tunggu beberapa bulan lagi dia  balik kok, atau nggak kamu mau hadiri wisuda dia? Ngasih kejutan gitu?”


“Kenal juga nggak,”


“Hah, dasar.”


“Nagita, mulai sekarang tata hidup baru kamu sama Rey,aku usahakan akan tetap ada di sisi kamu. Meskipun kamu mantan istri dari sahabatku, aku nggak mau Rey itu hidup tanpa seorang Papa. Tapi aku nggak mau buat hidup kamu menderita juga dengan maksain kehendak, tapi seenggaknya usaha dulu, ya!”


“Omongan kita jadi ke mana-mana. Intinya kita mau ngapain?”


“Balas dendam. Aku sudah bilang, kita akan rencanakan balas dendam untuk mantan suami kamu. Eh tapi, nanti kalau si kunyuk  itu resepsi, sama aku ya! Ya seolah-olah kita itu pasangan serasi,”


“Bilang aja kamu itu nggak mau terlihat mengenaskan nggak bawa pasangan,”


“Iya sekalian itu juga sih. Kesayangan lagi di negeri orang, sudah lama banget nggak ketemu lagi,”


“Kamu punya banyak perempuan, Damar. Aku nggak yakin kamu itu setia,”


“Yakin nggak yakin, Nagita. Aku tetap sayang sama dia, cowok kalau sudah sayang sama satu orang, gimanapun perempuan yang dekati dia, dia akan tetap sayang sama orang yang dia sayangi meskipun perempuan lain sayang sama dia,”


Nagita merasa terpojokkan dengan ucapan Damar. Benar bahwa apa yang di katakan oleh Damar bahwa sehebat apa pun mencintai, jika memang hatinya untuk orang lain. Maka akan tetap pergi juga. Sama halnya dengan Azka yang waktu itu sangat ia sayangi, tetapi hati pria itu untuk perempuan lain. Percuma ia bertahan di sisi pria itu. Sedangkan hati pria itu ada pada perempuan lain.