RICH MAN

RICH MAN
PIKIRAN NEGATIF



Alin telah membuat janji dan akan bertemu dengan pria yang sudah menjadi incarannya itu. Tidak peduli dengan status Rey yang sudah memiliki istri. Alin mencintai pria itu, apa pun alasannya. Jika tujuan papanya adalah karena Rey adalah putra tunggal dari keluarga Azka. Akan tetapi tidak dengan Alin, pria itu selalu menghargainya. Meskipun sudah menikah, Rey tetap menghargainya bahkan pria itu tidak segan untuk makan malam bersamanya. Dan terkadang pria itulah yang mengantarnya pulang. Dan perempuan mana yang tidak terpikat oleh kebaikan dari seorang pria seperti Reynand.


Sudah menjadi tujuannya adalah untuk memiliki pria itu seutuhnya. Walaupun jadi yang kedua, bahkan Alin rela asal dia diutamakan. Selama dekat, Rey tidak pernah menceritakan perihal istrinya kepada Alin, tidak pernah ada rasa cemburu di hati perempuan itu karena Rey tidak pernah membanggakan istrinya di hadapannya.


Menunggu beberapa menit, pria yang sedang ditunggunya pun akhirnya datang sendirian seperti biasanya.


Alin bangun dari tempat duduknya untuk menyambut pria yang sudah ditunggunya sedari tadi itu. Merasa sangat bahagia karena kedatangan orang yang sudah mampu menyentuh hatinya hingga sedalam ini. Dari awal pertemuan, tekadnya adalah untuk mendapatkan Reynand.


Pria itu langsung duduk dihadapannya dan langsung menatap dirinya dengan tajam. Sesekali pria itu menarik napas seperti orang yang sedang resah. “Alin ada yang ingin aku bicarakan sama kamu,” pria itu menarik napasnya dengan kasar. “Setelah ini kita tidak perlu bertemu lagi. Berhenti datang ke kantor aku. Karena beberapa hari ke depan aku bakalan sibuk,”


Mendengar ucapan Rey. Tentu Alin tidak suka. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan langsung menarik kursi mendekati Reynand. “Rey, kenapa kamu bilang begitu? Aku bisa ngerti sama kesibukan kamu. Aku ngerti kalau kita itu nggak bisa ketemu,”


Rey menarik napasnya dengan kasar. Hatinya sakit, istrinya di sana menantinya setiap hari. Sedangkan di sini dia justru menemani perempuan tidak jelas seperti Alin. “Aku sudah menikah, Alin. Sebentar lagi anak aku lahir, dan aku tanya sama kamu,” Rey menarik kursinya agar sedikit lebih jauh lagi dari Alin. “Apa tujuan kamu untuk terus ketemu sama aku? Lin, kalau ada orang yang lihat pasti mikirnya tuh lain,”


“Memang tujuan kita jalan berdua apalagi, ya kencan Rey,”


Ia begitu terkejut mendengar ucapan dari Alin yang mengatakan bahwa mereka berkencan selama ini. Padahal dia hanya menemani anak dari pria yang mengajaknya kerjasama itu untuk menemani saja. Berkencan artinya Rey selingkuh dibelakang istrinya. Tidak mungkin, Rey menggeleng dan berdiri dari tempat duduknya. “Kamu kenapa menjauh, Rey,”


“Alin jaga sikap kamu!” bentak Rey saat perempuan itu menyentuh tangan Rey dan mengusap dadanya. “Kamu tahu kan yang kamu sentuh sekarang ini adalah suami orang lain,”


“Apa peduliku kamu sudah punya istri dan tidak, Rey?”


“Tapi aku nggak peduli sama ucapan kamu barusan,”


“Apa ini caramu menghargai hati orang yang mencintai kamu?”


Pria itu beranjak dari tempat duduknya dan langsung bangun kemudian hendak pergi. Akan tetapi Alin menahan tangan Rey hingga pria itu menahan diri agar tidak pergi. “Sekarang apalagi?”


“Rey, kamu tahu kan sejak awal kita ketemu. Aku nggak tahu lagi bagaimana cara untuk yakinkan hati aku lagi. Aku bahkan berusaha untuk nggak sayang seperti ini sama kamu. Tapi apa yang bisa aku lakuin setelah aku tahu bahwa aku jatuh cinta sama kamu,”


“Lin, pikirkan bagaimana perasaan istri aku. Dia perempuan, kamu juga perempuan yang harusnya kamu lebih mengerti bagaimana perasaan dia,”


Alin menggeleng saat Rey pergi. Namun, perempuan itu mengejar Rey dan memeluk pria itu dari belakang. “Rey aku bakalan lakuin apa aja buat kamu. Demi kamu, Rey. Aku nggak bisa hindari perasaan ini. Semakin aku jauh dari kamu itu semakin sakit,”


Rey melihat ke arah sekelilingnya tidak ada orang sama sekali selain mereka berdua. “Aku sengaja kosongin restoran aku buat kita berdua, Rey. Dan ini yang mau aku omongin sama kamu,”


Dengan rasa yang tidak bisa ditoleransi lagi. Rey melepaskan pelukan Alin dan mendengar perempuan itu menangis dipunggungnya. Rasa enggan untuk berbalik itu membuatnya merasa bersalah. Akan tetapi bagaimana dia menghadapi Alin yang sudah menaruh hati kepadanya? Rey sama sekali tidak berpikir kalau perempuan ini benar-benar nekat mencintainya. Apalagi di saat dia sudah beristri. Ia berusaha sebaik mungkin menjauhi perempuan ini dan tidak berani macam-macam. Terlebih karena dia menghargai istrinya yang tengah berbadan dua dan pastinya sangat kesepian di rumah.


“Rey!” panggil Alin dengan suara yang begitu parau. Rey langsung berbalik dan benar saja bahwa Alin menangis.


“Alin, sudahi perasaan kamu itu,”


“Caranya bagaimana?”


“Berhenti temui aku!”


“Nggak bisa,”


“Kamu nggak bisa karena tidak terbiasa. Percayalah masih banyak pria lain di luar sana yang bisa kamu dapatkan dan cintai. Bukan pria yang sudah memiliki istri. Dan apa yang kamu lihat dari aku? Aku tidak kaya. Kamu jauh lebih hebat dibandingkan aku,”


Alin menggeleng. “Apa artinya semua ini, Rey? Aku iri sama istri kamu. Iri sama dia yang sudah memenangkan atas kamu. Dan aku iri sama dia yang mendapatkan pria seperti kamu. Kamu baik, Rey. Dan aku nyaman sama kamu,”


“Nyaman karena apa? Bukanlah selama ini aku selalu berusaha untuk jauhi kamu?”


Kali ini dia tersentak dengan ucapan Alin. Sederhana itu membuat Alin jatuh cinta kepadanya. Dia hanya menghargai semua buatan Alin. Bukan berarti dia menyukai perempuan itu. Sejenak pikirannya kembali lagi ke rumah. Di sana ada istri dan juga buah hati yang masih tumbuh dengan baik di salam Rahim istrinya.


“Alin jujur aku enggak bermaksud ngasih harapan sama kamu. Sama sekali aku nggak berniat buat ngasih harapan nggak jelas ke kamu. Asal kamu tahu, Lin. Aku sama sekali nggak ada niat untuk buat kamu nyaman. Aku seperti itu karena aku nggak mau lihat kamu kecewa karena masakan kamu nggak enak atau lukisan kamu nggak bagus. Aku tahu semua hasil itu butuh proses, dan bagaimana mungkin aku yang nggak bisa ngelukis justru merendahkan hasil karya kamu sendiri?”


“Tapi cara kamu memperlakukan aku seperti itulah yang buat aku nyaman. Kamu istimewa, Rey. Dan aku nggak bisa untuk jauh dari kamu,”


Rey melepaskan tangan perempuan itu dari tangannya. “Percaya sama Tuhan, bahwa masih ada orang yang bisa nerima kamu. Bisa membahagiakan kamu, Alin. Aku tahu bahwa tidak ada orang yang bisa menghentikan kamu saat kamu sedang jatuh cinta. Tapi, ada hati yang harusnya lebih kamu ngertiin dibandingkan dengan perasaan kamu sendiri, di luar sana ada hati perempuan yang nungguin aku,”


“Lalu bagaimana sama aku?”


“Kamu bisa nemuin cinta sejati kamu, bukan aku. Tapi orang lain, Alin. Aku ini punya perasaan. Aku punya hati yang harus dijaga untuk istri. Apa yang kamu lakukan ini itu salah, kamu nggak bisa egois!”


Alin tetap tidak terima dengan ucapan Rey. Tetapi pria itu tetap saja melenggang keluar dari restoran dan hendak pulang ke rumahnya. Hal yang tidak bisa lagi Rey jelaskan saat Marwa menghubunginya.


Di dalam mobil, Rey memukul setirnya karena dia berani memegang tangan perempuan lain selain tangan istrinya. Yang artinya dia melanggar janjinya sendiri. Selama ini dia berusaha untuk tidak menyentuh tangan siapapun karena ingin menghargai istrinya.


Di dalam perjalanan pulang, Marwa terus menghubunginya. Hatinya begitu nyeri saat hendak menjawab telepon itu. Pasti istrinya akan mengatakan bahwa dia harus segera pulang. Beberapa kali setelah panggilan itu berhenti berbunyi, Rey mencium setelannya di sana ada aroma parfum Alin menempel.


Ponselnya berbunyi lagi, dan Rey menjawab telepon itu dan benar saja bahwa Marwa menunggunya untuk sekadar makan malam bersama. Rutinitas yang dilakukannya selama ini berjalan sudah beberapa bulan semenjak mereka tinggal berdua.


Tiba di rumah. Seperti biasa Marwa menyambutnya dengan senyuman yang begitu manis dan Rey mencium kening istrinya. Tidak lupa juga menanyakan kabar si kecil yang ada diperut Marwa.


Ia langsung pergi ke kamar untuk membersihkan diri.


Baru saja Rey keluar dari kamar. Dia terkejut ketika melihat baju kotornya sudah dipindahkan oleh Marwa.


Marwa sadar bahwa ekspresi itu menandakan ada hal yang sedang disembunyikan oleh suaminya. “Kemeja yang tadi aku pakai mana? Biar aku cuci sendiri,” ucap Rey dengan gugup.


Perempuan itu tersenyum. Akan tetapi hatinya ingin sekali menangis, melihat kemeja biru muda yang digunakan suaminya ada bercak lipstick dibelakang kemeja itu. Akan tetapi Marwa tidak ingin curiga barangkali itu adalah kecelakaan yang tidak disengaja, bertabrakan saat Rey berjalan di depan atau itu milik sekretarisnya? Marwa sama sekali tidak tahu. Ia hanya tersenyum menyembunyikan itu semua.


Namun, bagaimanapun juga tetap saja rasa khawatir muncul di hati perempuan itu. Ia berusaha menenangkan diri. “Marwa, besok aku nggak kerja,” ucap Rey saat mereka baru saja duduk di ruang makan.


“Kenapa?”


“Nggak apa-apa. Pengin ajakin kamu jalan-jalan. Sekaligus…” ucapan Rey menggantung. Marwa menatap mata suaminya yang seperti malu-malu mengatakan hal itu.


“Sekaligus apa?” ia berharap ada jawaban mengejutkan dari suaminya.


“Sekaligus ke dokter kandungan. Ajakin kamu periksa kandungan, kangen si kecil. Pengin lihat perkembangan dia, kamu mau, kan?” Marwa tersenyum bahagia saat mendengar ucapan suaminya yang masih bisa dipercaya itu.


‘Maafkan aku yang terlalu curiga sama kamu, Mas. Di saat kamu begitu peduli sama anak dan istri kamu. Aku justru berpikir yang tidak-tidak mengenai kamu’


 


 


Marwa mengatakan semua itu di dalam hati sambil mengambil piring serta menawarkan beberapa lauk untuk suaminya. Terlihat raut bahagia di suaminya membuat Marwa puas dengan jawaban suaminya tadi.