RICH MAN

RICH MAN
RENCANA



Setiap orang yang jatuh cinta, memiliki cara tersendiri untuk menyimpan perasaan itu. Setiap kita jatuh cinta, apakah kita belajar sendiri ataukah membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa menjawab pertanyaan itu sendiri? Sayangnya semua jawaban itu sudah disiapkan dalam kepala masing-masing.


Ada yang jatuh cinta, memilih untuk tetap diam tak menyampaikan perasaan itu sendiri. Ada pula yang dengan percaya diri tinggi berani mengungkapkan cinta tanpa memikirkan risiko penolak cinta itu sendiri.


Gadis itu tengah buru-buru menyiapkan beberapa buku sesuai dengan jadwalnya. Dia berangkat sekolah dari rumahnya. Bintang turun dari kamarnya dan sudah menemukan papanya berada di ruang makan sedang menikmati sarapan.


"Hari ini berangkat sama Papa ya!"


Bintang mengangguk sejenak sedangkan saudara tirinya sedang asyik bermain ponsel diseberangnya. "Makin nempel aja deh lo kayaknya, enggak bisa jauh gitu ya dari Reynand? Gue perhatiin lo makin nempel,"


Bintang menoleh sejenak kepada Ulfa dan masih sibuk dengan sarapannya. Berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh gadis berambut panjang dan dandanan yang sangat menor. Hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh gadis SMA pada umumnya.


Sekilas papanya menoleh dan memberikan tatapan yang tidak suka terhadap Ulfa. Bintang sendiri tahu bahwa kini papanya merasa sedikit tidak suka dengan mama tiri dan juga kakak tirinya yang bahkan ikut pulang setelah tahu bahwa Bintang akan pulang ke rumah.


"Lo kok diam?"


"Ulfa, lanjutkan sarapanmu. Berangkat dengan sopir hari ini, Papa mau berangkat bareng sama Bintang," ucap papanya. Bintang tersenyum mendengar perkataan papanya. Pasalnya baru kali ini papanya membela Bintang di hadapan kakak tirinya.


Melihat Ulfa yang pergi begitu saja dengan raut wajah cemberut. suasana hati Bintang membaik dan merasa menang kali ini. Dia pun beranjak dari tempat duduknya dan menyambar tasnya yang ada di sebelahnya kemudian mencium papanya. "Aku tunggu di mobil, Pa,"


"Bintang, enggak salaman sama, Mama?" ucap perempuan yang kini berstatus sebagai mama tirinya. Bukannya menurut, justru Bintang juga tak peduli dengan perempuan yang sudah melukai tubuhnya berkali-kali.


Sekitar tujuh menit berlalu Papanya datang dengan setelan yang sangat rapi. Pria itu langsung duduk di kursi kemudi dan memakai sabuk pengaman. Bintang tak bereaksi apa-apa selain tersenyum bahagia karena sudah sejak lama dia tidak merasakan bagaimana bahagianya diantar sekolah oleh Papanya sendiri.


"Bintang, kapan berangkatnya?"


"Sekarang, Pa,"


"Maksud Papa. Kapan kamu berangkat mendaki?"


"Oh, itu lusa Pa,"


"Lusa ini?"


"Iya, Pa. Mungkin bakalan rame-rame sama teman-teman gitu, Pa,"


"Papa enggak bisa nganterin kamu ke Bandara. Tapi kalau mau kamu bisa minta sopir, Papa enggak jadi bawa pengawal buat kamu karena kamu enggak mau kan, Nak,"


"Lagian Papa anggap aku anak kecil apa pakai pengawal segala,"


Pria itu pun melajukan mobilnya untuk mengantar Bintang ke sekolah. Sudah lama semenjak orang tuanya bercerai. Bintang tidak pernah merasakan suasana hati yang begitu bahagia seperti sekarang ini.


"Pa, aku bahagia Papa yang seperti ini?"


"Papa beneran mau balik sama Mama?"


"Bintang, Papa enggak pernah ceraikan mama secara resmi. Mama enggak pernah Papa tuntut, bisa tanyakan hal itu kepada mama kalau memang kamu enggak percaya sama Papa. Papa belum cerai secara hukum,"


"Berarti ini besar kemungkinan kalau kalian balik?"


"Mama belum mau,"


"Kenapa?"


"Mama masih butuh waktu memikirkan itu semua, Bintang. Maka dari itu Papa bilang setelah kenaikan kelas nanti kamu harus tinggal bersama dengan Mama kamu. Temani dia, Papa sayang sama kalian berdua. Terlebih kalau ingat kejadian di mana Papa kasar sama Mama kamu. Dan itu yang buat Papa nyesel sampai sekarang ini,"


"Papa, yang penting Papa udah ketemu sama Mama dan ngomong ini semua, sekarang Papa sembunyikan Mama di mana?"


"Mama ada di suatu tempat yang di mana hanya Papa yang tahu dan anak buah, Papa. Karena Papa ingin melindungi Mama kamu dari kejahatan yang dilakukan oleh mama tiri kamu. Jadi untuk melindungi Mama, Papa harus memindahkan Mama ke tempat yang aman,"


"Papa, aku boleh ketemu, Mama?"


"Boleh. Besok, Papa antar sebelum kamu berangkat mendaki ya,"


Gadis itu menganggu pelan dan merasa sangat bahagia dengan apa yang akan terjadi dengan keluarganya nanti. Hingga tanpa sadar mereka telah tiba di depan sekolah, gadis itu berpamitan dan mencium pipi papanya kemudian turun dari mobil dan bergegas menuju kelas.


Ia melewati lorong kelas. Beberapa mata menatap ke arahnya dengan tatapan tidak suka. Mungkin itu karena dia yang dekat dengan Reynand atau bahkan tidak ada yang menyukainya karena dengan lelaki yang namanya cukup terkenal di sekolah itu.


Di depannya ada Reynand yang tengah asyik mengobrol dengan teman-temannya menuju kelas. Bintang hanya mengikuti dari belakang, sebetulnya dia ingin memanggil lelaki itu, akan tetapi tidak ingin menganggu keasyikan yang sedang dinikmati oleh lelaki yang jaraknya beberapa meter dari tempatnya mengikuti langkah kaki lelaki yang sedang mengarah ke kelas.


Bintang langsung duduk di tempat duduknya setibanya di kelas. Dia sudah melihat teman-temannya duduk di tempat masing-masing. Sedangkan Rey masih berdiri di ambang pintu dan bercerita begitu banyak hal entah apa yang diceritakan karena Bintang mendengar gelak tawa yang beberapa kali terdengar dari lelaki itu.


Lelaki itu pun ke tempat duduknya, sebelumnya lelaki itu menyinggungkan senyuman terhadapnya. Bintang membalas senyuman itu seperti biasanya. Senyuman yang hanya dikhususkan untuk Rey seorang. Sebenarnya sudah lama dia menampilkan senyuman berbeda untuk lelaki itu. Akan tetapi lelaki itu memang tidak mengerti dengan apa yang dia inginkan. Hingga membuat Bintang harus menahan diri agar tidak mengungkapkan perasaannya. Tebakan Jenny yang waktu itu menjurus kepada dirinya yang benar bahwa saat ini dia sedang mencintai Reynand. Barangkali itu masih belum dikatakan cinta karena hanya bertepuk sebelah tangan.


Rey duduk di depan Bintang. Gadis itu hanya menyibakkan rambutnya dan karena tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan lelaki itu. Dengan senyuman seperti biasa yang ditampilkan oleh lelaki itu kadang membuat Bintang salah paham terhadap senyum yang diberikan oleh Reynand.


Jenny yang baru saja datang pun langsung bergabung dengan mereka berdua. Kini mereka tengah asyik mengobrol tentang rencana mereka yang akan berangkat lusa untuk mendaki. Besok mereka sudah mulai istirahat dan berkemas. Kebiasaan sekolah mereka sangat unik, yaitu mengajak siswa dan siswi liburan menjelang kenaikan kelas ke kelas dua belas.


"Gimana Bintang kamu dapat izin?" tanya Reynand.


"Iya, aku udah dapat izin kok, tinggal berangkat lusa,"


"Gimana kalau kita berangkat besok aja? Kita bisa sampai dengan cepat, terus kita bisa lebih lama di sana,"


Kedua gadis itu saling tatap dan kemudian tersenyum setuju dengan ajakan Reynand. Tidak pernah sama sekali Bintang dapatkan izin untuk pergi bersama teman sekelasnya. Baru kali ini dia bisa bebas dalam bergaul, apalagi teman-temannya bergaul tidak nakal dan tidak menimbulkan masalah.