
Selepas berpamitan dari ruang keluarga dan menghampiri istrinya ke kamar. Pria itu menenteng plastik putih yang berisikan martabak tadi. Baru saja dia membuka pintu, Suasana kamar yang nampak begitu damai mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Ia tersenyum di ambang pintu kala istrinya masih sibuk dengan kegiatannya.
Perempuan itu barangkali tidak sadar akan kedatangannya. Ia tidak ingi mengganggu aktivitas istrinya dan langsung meletakkan plastik itu di atas nakas dan ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rey melihat dengan jelas raut wajah cantik istrinya yang masih sibuk dengan kegiatannya itu sebelum dia benar-benar tenggela dibalik pintu kamar mandi.
Beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi dan menemukan istrinya tengah merapikan kamar tidurnya dan siap untuk tidur malam itu juga. Rey menghampiri istrinya, “Mau tidur cepat?” tanyanya sambil menggoda sang istri.
“Kamu kapan pulang? Kok aku enggak lihat? Kamu udah mandi gitu aja,”
“Hehehe, kamu kan tadi sibuk ngaji. Makanya aku langsung masuk ke kamar mandi dan sekalian beliin kamu makanan tuh. Kan kamu suka banget martabak, jadi karena enggak mau ganggu, aku taruh di atas sana. Terus aku langsung mandi,” jelas Rey sambil menunjuk martabak yang ada di atas nakas itu.
“Alasan kamu aja, kan? Kamu enggak mau salam sama aku sebelum kamu ganti baju. Itu karena ada bau parfum perempuan di setelan kerja kamu?”
“Enggak sayang, sumpah,”
“Alasan kamu, Mas. Kenapa kamu enggak hampiri aku? Biasanya juga kamu lakukan itu sebelum aku hamil, sekarang semenjak aku hamil gerak-gerik kamu mencurigakan. Apa karena aku enggak bisa terus-terusan bisa penuhi nafsu kamu, gitu, Mas?”
Rey melotot tidak menyangka bahwa itu akan menjadi masalah besar baginya. Padahal niatnya tidak ingin mendekati istrinya karena ia tidak ingin Marwa muntah-muntah mencium aroma keringatnya yang seharian tadi tidak mengganti setelan kerjanya. “Aku enggak pernah berpikiran seperti itu, Marwa. Aku mana pernah niat buat nyakitin kamu, enggak ada yang sedikit pun alasan buat sakiti kamu. Apalagi kalau ternyata aku itu lukai perasaan kamu. Aku enggak pernah mikir buat nyakitin hati istri aku sendiri. Apalagi lirik-lirik perempuan di luar sana. Aku mandi karena aku enggak mau kalau kamu muntah karena keringat aku,”
“Tuh, kan. Kehamilan aku selalu saja jadi alasan utama kamu buat ngeles, Mas. Terus kamu ke mana aja dari tadi? Biasanya kamu ngasih kabar, kenapa hari ini enggak ngasih kabar sama sekali? Kamu beliin makanan di luar biar kedok kamu enggak kebongkar?”
Ia menarik napas. Jujur bahwa kehamilan istrinya ini sangatlah diluar dugaan, Marwa seringkali menuduhnya bersama perempuan lain di luaran sana jika ia telat pulang atau tidak memberi kabar sama sekali.
“Sayang, aku ke rumah Oma. Jengukin Oma dan ngobrol sama Leo. Alasan aku enggak ngabarin itu karena ponsel aku lowbet,”
“Bisa pakai telepon rumah Oma, kan?”
Rey menggaruk kepalanya. Dia tidak pernah berpikir hingga ke sana. Bahkan itu tidak ada di dalam otaknya untuk memberi kabar kepada istrinya bahwa ia sedang menjenguk sang Oma.
Tiba-tiba mual dan pusing secara bersamaan dirasakan oleh Marwa. Ia menyingkirkan Reynand yang berdiri di depannya dan langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua yang ada di perutnya itu. Pertengkaran yang belum juga usai, seperti biasanya Rey tidak pernah meninggalkan jika dalam keadaan seperti itu. Suaminya selalu saja siaga dan membantunya memijit tengkuknya.
Suaminya itu juga membantunya berkumur dan memasukkan air ke dalam mulutnya. “Anak kita enggak suka kalau Mama sama Papanya bertengkar. Makanya kamu itu muntah-muntah, lihat tuh pakaian aku, bau keringat. Kalau kamu cium bau keringat aku pasti kamu bakalan gini lagi. Calon Mama enggak boleh terlalu emosian, aku ngerti gimana kamu hamil rewel banget. Bahkan kamu lebih parah ngidamnya dari Mama. Tapi aku enggak suka dituduh, Marwa. Di luar sana aku selalu mikirin kamu. Keadaan kamu bagaimana. Dan aku enggak ada niat buat main-main di luar sana sama perempuan lain di saat istri aku sedang ngidam anak pertama aku. Mungkin barangkali iya, bahwa banyak yang akan mencari pengganti atau sekadar pelarian saat istrinya hamil. Tapi jujur, aku enggak ada niat buat nyakitin hati kamu. Nyakitin hari perempuan yang sedang berjuang buat lewati masa-masa ini,”
Perempuan itu mengeluarkan air mata karena lelah muntah. Rey dengan sabar membuka jilbab istrinya dan mencuci wajah istrinya sekalian. “Tolong banget kalau kamu cemburu silakan cemburu. Jangan tuduh aku sama perempuan lain!” ia masih sabar menghadapi istrinya yang berada di kamar mandi dan ia mengelap wajah istrinya secara perlahan dengan handuk yang dibawanya.
“Kamu benar enggak main sama perempuan di luar sana, kan?”
“Sama sekali enggak, bahkan aku lagi berjuang untuk kerja keras. Biar bisa beli rumah untuk kita berdua,” jelas Reynand sambil membetulkan ikat rambut istrinya. “Eh, maksudnya kita bertiga. Sama calon buah hati kita. Biar enggak numpang terus sama orang tua, kamu mau, kan?” menghadapi masa ngidam itu.
“Maafin aku ya,” istrinya langsung memeluknya dengan erat.
Rey merasa begitu susahnya dia menghadapi istrinya saat ini. Akan tetapi dia masih bisa untuk bersabar dan tidak ingin jika masalah itu diperbesar lagi. Jika saja dia menghadapi Marwa dengan emosi, tentu saja dia belum bisa menjadi suami yang baik apalagi emosi istrinya yang tidak pernah stabil semenjak hamil.
“Makan dulu! Nanti kita bicarakan rumah yang bakalan kita beli. Dan kamu mau dekorasi seperti apa untuk anak kita?”
“Kamu enggak marah sama aku?”
“Marwa, gimana aku bisa marah sama kamu. Kalau kamu saja lagi capek-capeknya hadapi calon bayi kita yang ngidamnya bikin kamu tersiksa gini. Kata Mama ini sakit banget. Dan aku belajar buat ngertiin itu. Mulai dari kamu yang nyebelin, kamu yang bikin aku kadang emosi. Tapi aku enggak bisa lawan kamu pakai emosi juga, karena kamu bakalan sedih kalau aku marahin, iya, kan?”
“Iyalah, aku bakalan sedih kalau kamu marahin. Kamu pulang telat aja udah bikin aku sedih. Apalagi kalau kamu marahin aku, Mas. Ngomong-ngomong kapan kamu bakalan beli rumah?”
“Insya Allah secepatnya. Biar kita puas berantemnya,”
“Eh kok gitu?”
“Iya biar kamu puas ngamuknya, kan. Aku tahu kamu tahan emosi kamu karena ada orang tua aku di sini. Aku ngert kok,”
“Enggak juga,” ucap Marwa dengan pelan.
“Nanti kalau udah punya rumah. Kamu bebas ngomel deh,”
“Rumah yang lama kan masih bisa, Mas?”
Ia mengelus puncak kepala istrinya dan menciumnya kemudian mengelus punggung istrinya. “Rumah lama adalah tempat di mana ada luka yang pernah kita lalui. Dan aku enggak mau kalau sampai kita ke rumah itu lagi. Aku enggak mau kalau itu semua ingetin aku sama kejadian di mana aku selalu abaikan kamu. Di mana ketika aku selalu saja buat kamu nangis. Dan lagi, di mana aku selalu ingat masa lalu kita dulu,”
“Gimana baiknya aja, Mas. Aku bakalan terima.”
NOTE: Mohon maaf sebelumnya beberapa hari ini memang jarang sekali update. Di karenakan author jarang nulis karena tidak berani main laptop dulu karena hujan petir setiap hari. Dan juga setiap kali mau update, jaringan selalu saja menjadi kendala. Mohon maaf sebesar-besarnya.