
Cuaca yang begitu terik, seorang lelaki yang sedang duduk di pinggir kolam renang sambil mengipas wajahnya yang benar-benar merasakan gerah yang luar biasa siang itu.
Di sana, dia berusaha untuk menikmati momen libur semester bersama dengan keluarganya. Reynand, ia duduk sambil mengawasi kedua adiknya yang tengah asyik bermain air di kolam renang. Sementara dirinya masih berada di atas, belum sempat berenang karena harus menjaga keduanya terlebih dahulu.
Kegiatan sekolahnya akan dimulai dua minggu lagi. Masih banyak waktu untuk bisa bersantai seperti sekarang ini bersama dengan keluarga, barangkali orang tuanya telah menyiapkan acara untuk liburan bersama nanti seperti apa yang telah dikatakan waktu itu sebagai hukuman untuk lelaki itu adalah menjaga kedua adiknya.
Beberapa bulan yang lalu, adalah sesuatu hal yang dianggap oleh lelaki itu sebagai waktu yang begitu sia-sia karena lebih banyak menghabiskan waktu di luar bersama dengan seorang gadis yang entah dia tidak tahu apakah gadis itu memiliki rasa yang sama seperti dirinya. Jika pun memiliki, tentu saja semua itu tidak akan seperti sekarang ini.
Waktu itu, gadis tersebut telah jujur dengan perasaannya. Namun, Rey masih belum bisa memastikan perasaan gadis itu karena belum keluar dari mulutnya tentang sebuah rasa.
Sebuah perasaan alangkah baiknya diucapkan dengan sejujur-jujurnya. Barangkali setiap orang butuh keberanian untuk mengungkapkan itu.
Rey masih menantikan jawaban itu, seminggu lagi dia telah memiliki janji bersama dengan Bintang untuk bertemu di suatu tempat. Akan tetapi hingga saat ini keduanya tidak pernah berkomunikasi semenjak kejadian di mana mereka memuncak waktu itu.
Sejak pertemuan pertama bersama dengan Bintang; dia sudah tertarik terhadap gadis itu semenjak jatuh cinta pada pandangan pertama. Akan tetapi jika jatuh cinta semenyakitkan itu, Rey memilih untuk tidak pernah jatuh cinta terhadap Bintang jika hatinya dijadikan sebagai cadangan untuk mengisi kesepian gadis itu saja. Bukankah menyakitkan jika kita hanya dijadikan sebagai pengisi kesepian. Jika hanya untuk mengisi kesepian, maka siapa pun bisa, tetapi seseorang takkan pernah bisa untuk membohongi dirinya sendiri. Pengakuan perasaan itu memang berat, akan tetapi yang lebih berat lagi ketika seseorang yang pernah begitu dicintai dengan sangat baik tiba-tiba pergi begitu saja.
Seseorang yang dahulunya begitu baik, namun tiba-tiba kebaikan itu hilang begitu saja. Bukankah itu akan menjadikannya menjadi jauh lebih sulit dibandingkan sebelumnya? Maka dari itu, berbuat sewajarnya. Karena terkadang kebaikan itu membuat seseorang menjadi merasakan nyaman, tetapi apalah artinya rasa nyaman itu jika perasaan terus saja digantung tanpa diberi kepastian. Tidak semua orang bisa bertahan dalam pahitnya penantian cinta.
Selain senyuman Bintang. Ada beberapa hal yang pernah membuat Rey ingin sekali memiliki gadis itu, dia yakin di masa mendatang ada kebahagiaan tersendiri yang mungkin tercipta jika bersama dengan Bintang. Tetapi, harapan itu musnah ketika Bintang mulai menggantung perasaannya. Rasa sakit itu yang tersisa kini, menyesal tiada arti. Karena sudah terlanjur menaruh harapan.
"Rey, hubungan kamu sama Widya, apa?" Dia yang awalnya biasa saja, tetapi setelah mendengar pertanyaan itu dengan segera Reynand berusaha untuk menepisnya. Sungguh Reynand merasa itu sangatlah menyedihkan, apalagi dia mencari cara untuk menjelaskan semua itu kepada Bintang agar tidak salah paham kala itu.
Bodohnya Reynand yang merasa bahwa senyum indah yang diciptakan oleh Bintang khusus untuk dirinya. Bodohnya ia yang menaruh harapan begitu besar hingga lupa bahwa harapan itu hanya ada dalam hatinya, tidak ada sedikitpun bukti yang menyatakan bahwa perasaan mereka tertaut satu sama lain.
Ketika logika dibuat tak berdaya oleh hati, terkadang logika terlalu diperdaya oleh hati yang membuat hati lebih berkuasa untuk mengambil alih semua itu.
Semakin bertambahnya usia, seharusnya seseorang harus lebih pandai untuk menata hati. Tapi apalah daya Rey yang juga memiliki perasaan terhadap lawan jenisnya. Sebagai lelaki normal pada umumnya, hal itu sudah biasa terjadi. Barangkali dia tidak memiliki pengalaman soal jatuh cinta. Itulah yang membuatnya terlalu menaruh hati kepada Bintang.
"Beberapa hari ini Papa perhatiin kok ngelamun melulu? Nilai kakak kan sudah bagus, apalagi yang dipikirkan?" Rey menoleh ketika papanya tiba-tiba duduk disebelahnya.
Lelaki itu kemudian membaringkan tubuhnya. "Enggak ada apa-apa, Pa,"
"Masih mikirin soal jatuh cinta itu? Kabar dia gimana?"
"Bukan itu, Pa,"
"Rey, sesama pria, bukan berarti Papa itu sok tahu soal perasaan kamu. Hanya saja kamu berusaha untuk bersikap sok dewasa di depan Papa padahal kamu sedang berusaha untuk menyembunyikan perasaan kamu sendiri. Rey, Papa enggak bakalan salahin kok. Lagian kenapa masih begini? Masih banyak yang lain, kan?"
Azka tersenyum, usahanya untuk membuat anaknya mengaku pun tidak sia-sia. Beberapa hari ini dia perhatikan anaknya lebih sering melamun dibandingkan dengan berbicara kepada dirinya dan juga Nagita. Selaku orang tua, tentu saja dia berusaha untuk lebih dekat terhadap putranya. Barangkali Rey malu terhadap Nagita, dan sebagai penggantinya, ia harus bisa membuat anaknya lebih dekat dengannya.
"Siapa sih yang sudah buat anak Papa ini jatuh cinta?"
"Ada, Pa. Ada,"
"Ada, tapi Papa enggak tahu siapa yang kamu maksud, Rey,"
Azka kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri kedua anak kembarnya yang sedang asyik berenang. "Hey, udahan yuk!" ucapnya. Membiarkan Reynand di sana barangkali dia butuh waktu sendiri untuk memikirkan itu semua. Dia mengambil alih atas Nabila dan Salsabila agar Rey lebih leluasa mengobrol dengan dirinya nanti.
Rencana Azka membawa keduanya ke Nagita dan dia akan mencari waktu luang untuk mengobrol bersama dengan Reynand.
Baru saja dia menggendong kedua anaknya masuk untuk bertemu Nagita. Dia berpapasan dengan istrinya di pintu penghubung halaman belakang. "Loh, Papa mau ke mana?"
"Mau antarin anak-anak sih tadi niatnya, Ma," ucapnya kepada Nagita yang sedang membawa beberapa camilan untuk mereka semua dan minuman untuk mereka ketika sedang bersantai.
"Bisa temani anak-anak sebentar renang enggak, Ma? Papa mau ngomong sama Rey, karena beberapa hari ini Papa perhatiin dia melamun lagi," ucap Azka mengikuti langkah istrinya yang menuju tempat Reynand merebahkan tubuhnya.
Perempuan itu menaruh minuman serta makanan di atas meja dan pindah ke tempat lain untuk sekadar berbincang. "Rey kenapa, Pa?"
"Biasalah, Ma. Kangen pacarnya mungkin," canda Azka yang membuat raut wajah Nagita berubah seketika.
"Papa jangan ajari anak-anak yang aneh, deh,"
"Enggak, Mama. Ini mau ngomong sama dia, makanya tadi mau bawa yang dua ini ke Mama. Papa mungkin butuh lebih banyak waktu untuk bisa bercengkrama dengan dia,"
"Suami siapa sih ini," ucap Nagita sambil mencolek pipi suaminya. Azka pun justru menarik hidung istrinya.
"Mama kebiasaan banget, sana ih bawa anak-anak renang,"
"Iya bawel."
Azka tak menanggapi ucapan istrinya dan justru melangkah ke tempat Reynand. Tetapi anaknya justru tertidur dengan sangat lelap di sana. Banyak hal yang ingin dia ceritakan mengenai urusan hati, menjelaskan perihal tentang jatuh cinta. Walaupun sebenarnya cinta itu tak butuh soal teori, akan tetapi memberikan sedikit penjelasan tentang cinta terhadap Rey mungkin bisa membuat anaknya lebih berpikir agar tidak terjebak dalam kenyamanan yang barangkali di rasakan oleh anaknya itu.