
Dimas menerima kabar dari Azka bahwa Rey telah mengetahui tentang Marwa yang tidak lain adalah Bintang. Saat itu Dimas yang telah berusaha untuk membuat ingatan Marwa pulih dengan cara memberikan beberapa foto Rey dan Marwa yang dahulu. Akan tetapi itu ia rasa bahwa terlalu cepat karena Marwa sendiri kebingungan tentang foto itu. Bahkan perempuan itu tidak tahu bagaimana harus memberikan respon yang baik. Apakah harus berusaha untuk memaksakan diri untuk mengingat atau tidak.
"Sebelumnya aku pernah kenal sama Mas Rey?" tanya Marwa ketika melihat foto mesra mereka di masa lalu sambil mengelus dadanya.
"Om enggak paksa kamu untuk ingat ini, Marwa. Karena ini pasti akan semakin sulit untuk kamu dan juga ini sudah sangat sulit bagi Rey untuk bisa nerima bahwa kamu adalah Bintang,"
Perempuan itu terdiam tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Dimas.
Marwa melamun karena benar-benar tidak mengetahui apa pun tentang suaminya yang ternyata adalah orang yang dia kenal dulu.
"Mas Rey kenal aku juga?" tanyanya pelan.
"Enggak, Rey enggak kenal kamu. Karena kamu pakai cadar kan,"
"Karena setiap kali aku mau buka. Mas Rey selalu larang aku, dia bilang kalau dia belum siap untuk buka dan lihat wajah aku, jadi aku hanya nurut dan enggak maksa buka cadar di depan dia,"
Dimas pun mengangguk pelan setelah mendengar pernyataan dari istri keponakannya itu. "Sejak kapan perjanjian konyol itu berlaku? Rey larang kamu untuk buka cadar karena apa?"
"Karena Mas Rey bilang kalau dia belum sanggup untuk lihat aku, enggak mau nyakitin hati orang yang sama dia sekarang ini karena dia bilang kalau dia mencintai perempuan di masa lalunya, Om,"
Karena Dimas paham bahwa semua ini dilakukan untuk kebaikan keponakan dan istri. Dia tidak ingin Rey menyia-nyiakan pernikahan. Sejak mendengar kabar dari Azka, dia menghampiri Marwa yang tengah melamun sendirian. Dia tidak ingin melihat perempuan itu terus bersedih karena perbuatan Rey sendiri.
Dimas membuang pandangannya saat Marwa menangis melihat foto dirinya yang dahulu begitu mesra dengan Rey dan bahkan belum menutup auratnya.
"Marwa, perempuan yang dicintai oleh Rey itu adalah kamu, Rey hanya enggak tahu kalau itu adalah kamu. Kamu dulu pernah berjanji sama Rey untuk ketemu di taman, tapi kamu enggak datang karena ada insiden pemukulan, kan? Marwa, andai kamu tahu delapan tahun Rey tersiksa hanya karena kamu. Bahkan Om sendiri sampai melamar kamu karena dia enggak bisa lupain perempuan itu, dan ternyata perempuan yang dia cari selama ini adalah kamu. Dan kami juga tahu setelah kalian menikah, yaitu ketika Leo menceritakan semua ini,"
"Dia kenal aku juga?"
"Kalian satu sekolah dulu. Bahkan Jenny juga sahabat kamu, Fendi juga. Tapi mereka enggak maksa kamu untuk ingat hal yang dulu-dulu, sekarang Om hanya menaruh harapan sama kamu. Bagaimana kamu harus sembuh, Rey mencintai kamu sebagai Bintang, bukan sebagai Marwa. Karena dia seperti orang kehilangan arah hidupnya setelah kamu pergi dulu. Mungkin itu adalah hal yang paling berat untuk dirasakan oleh Rey, yaitu kehilangan orang yang dia sayang. Setalah kamu enggak ada kabar, Rey berusaha untuk menjalin hubungan sama beberapa perempuan, belum sampai tahap pacaran. Rey udah ninggalin perempuan-perempuan itu, semua karena kamu, Marwa,"
"Om tahu apa aja tentang aku sama Mas Rey dulu?"
"Om enggak tahu, cuman yang Om tahu Rey pernah menjadi pria yang keterlaluan. Ngelawan sama orang tua, dan lagi setelah kamu pergi, dia enggak lagi satu sekolah sama kamu dulu karena orang tuanya ingin dia fokus sama pendidikan dia, Mama dia di lawan. Tapi lihat sekarang, dia justru jodoh sama kamu, kan?"
Foto yang di mana Rey merangkulnya dan dia memegang tangan Rey yang sedang merangkulnya sambil tertawa bahagia. Sebegitu dekatnya mereka dahulu, tetapi mereka hanya belum saling mengetahui satu sama lain.
"Jangan pernah paksain diri kamu untuk ingat ini semua, pelan-pelan saja! Kepala kamu nanti sakit untuk ingat ini semua, dan mungkin ini akan lama. Tapi percayalah sama Om, Rey sangat mencintai kamu. Enggak ada kata pisah,"
"Aku dengar sendiri dari mulut dia, Om,"
Dimas pun berusaha untuk tetap bersabar dan membiarkan Marwa di sana. "Om tinggal ya. Sekarang lebih baik kamu istirahat, Om masih punya beberapa barang kalian dulu, tunggu di sini Om ambilkan barangnya," ucap Dimas sambil berlalu dari ruang keluarga yang ada di lantai dua.
Dimas membawa kotak hitam yang di sana ada beberapa barang yang dikumpulkan oleh Rey dan itu adalah milik Marwa dan juga Rey di masa lalu.
Marwa menutup mulutnya berusaha menahan sedih yang tidak bisa dibendung lagi.
"Marwa, hey! Jangan sedih sayang!" ucap Viona yang ikut kali ini. Viona sendiri berusaha menenangkan di saat Marwa sudah benar-benar merasa begitu rapuh karena melihat foto yang diberikan oleh Dimas begitu banyak. Dan tetap bahwa keduanya begitu mesra dulu.
Mereka seperti sepasang kekasih yang sudah lama menjalin hubungan karena terlihat dari kemesraan keduanya. Dimas tetap diam ketika melihat Marwa membongkar barang-barang itu.
"Bawa ke kamar!" bisik Dimas kepada istrinya karena tidak tahan melihat kesedihan Marwa. Dia hanya ingin bahwa Rey tetap bertahan dengan rumah tangganya. Tidak ada yang berbohong, dan tidak ada yang dibohongi. Sesungguhnya mereka berdua sedang dilindungi agar bisa bersatu kembali dengan cara yang terbaik. Bukan dengan saling melarang hubungan seperti yang dikatakan oleh orang tua Marwa waktu itu.
Sekarang, mereka telah berada di kamar Marwa. Sesuai dengan perintah Dimas tadi. Viona membawa Marwa ke kamar dan menjelaskan itu pelan-pelan.
"Marwa, benar-benar enggak ingat Rey?"
Marwa yang di sana membuka cadarnya dan menangis sesenggukkan.
"Ini memang sangat sakit. Apalagi saat kalian berdua saling menyakiti, Rey menyakiti kamu. Dan kamu justru buat Rey jauh lebih sakit. Kamu hilang itu yang membuat Rey menyakiti kamu seperti sekarang, tante sudah dengar semuanya dari Om Dimas kalau ternyata Rey mau menceraikan kamu hanya karena dia merindukan perempuan di masa lalunya,"
Perlahan Marwa mulai membongkar barang-barang. Mulai dari kaos biru tosca yang di sana ada gambar sebuah hati yang terbelah dan barangkali pasangannya ada di kaos yang berbeda. Dan Marwa ingat, bahwa dia memiliki satu kaos di rumahnya yang bermotif sama.
"Tante,"
Viona tetap mengusap punggung perempuan itu agar lebih tenang sedikit. "Kenapa sayang?"
"Aku punya kaos yang seperti ini di rumah, tapi itu dulu. Papa bakar sama gelang dan yang lainnya,"
Viona paham bahwa barang yang dimaksud adalah barang miliknya dan Reynand yang bersangkutan satu sama lain.
Hilang ingatan dengan waktu yang panjang seperti itu memang sangat sulit bagi Marwa. Terlebih tidak ada yang membantunya untuk mengingat kejadian itu, apalagi orang tuanya tidak pernah membahas ini semua. Ingin sekali dia kembali pada dirinya yang dulu, mengetahui suaminya lebih dari apa yang dia tahu seperti sekarang ini.
Marwa memegang kepalanya dan menangis di sana.
"Istirahat! Jangan dipaksa, nanti tante bantuin sama Om untuk ingat ini semua. Om juga sedang berusaha untuk minta bantuin Jenny untuk bisa bantu kamu mengingat hal-hal yang dulu, mungkin ini akan memakan waktu yang lama, tapi percayalah bahwa tante itu sangat sayang sama kamu. Sebagaimana Rey yang sayang sama kamu, tapi tante sayang kamu bukan karena Rey yang mencintai masa lalunya, tetapi karena tante ingin kalian bersatu dan saling membahagiakan satu sama lain, jangan menyakiti seperti sekarang ini."