RICH MAN

RICH MAN
TAHU DIRI



Keesokan harinya Azka termenung di ruang kerjanya, semalam ia tidur di sana. Pagi buta, ia masuk ke kamarnya dan melihat gadis itu tengah tertidur dengan sangat pulas. Ia melihat ke arah perut yang sedikit ada gundukan kecil, di sana ada darah dagingnya yang hadir tanpa keinginannya.


"Apa yang harus gue lakukan? Sama aja gue bunuh anak gue sendiri," matanya perih. Bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Ia keluar dari kamar tersebut dan mandi di tempat yang berbeda. Kamarnya memiliki dua kamar dan dua kamar mandi. Kamar satunya dia sulap menjadi ruang kerja. Ia membersihkan diri dan keluar dengan handuk terlilit dibagian bawah tubuhnya.


Dengan sangat pelan ia membuka kamar itu agar perempuan tadi tidak terbangun. Setelah mengedarkan pandangannya, di sana telah ia temukan setelan seragam kerjanya berada di atas ranjangnya. Tentu saja perempuan itu menyiapkannya. Dengan menghela napas, ia memakai setelan tersebut dan keluar dari kamarnya. Ketika hendak berangkat bekerja, ia berhenti di meja makan yang sudah tertata rapi beberapa menu sarapan. "Gadis bodoh itu masak?" Batinnya.


"Pak sarapan dulu, saya sudah buatkan. Setelah ini saya harus pulang," Mendengar kata pulang, tadinya Azka berniat untuk berdiam diri dan menyantap makanan itu. Akan tetapi moodnya langsung berubah dan langsung pergi begitu saja tanpa peduli beberapa kali perempuan itu memanggilnya. Entah kenapa perasaan berantakan itu menguasai Azka, entah apa yang akan terjadi nantinya. Tiba di parkiran apartemen, ia langsung mengemudikan mobilnya ke rumah sang mama. Di sana ia menemukan adiknya yang begitu bahagia mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang.


"Bahagia banget, dek?"


Perempuan itu menoleh,


"Iya dong kak, saat hamil adalah suatu kebahagiaan bagi seorang istri yang bisa membuat suaminya bahagia. Nanti kakak juga akan tahu sendiri rasanya, disayang sama istri kalau istri lagi hamil. Beda lho kak rasanya, keluarga akan terasa sempurna, kalau ada anak,"


"Kamu bahagia memangnya?"


"Iyalah, siapa sih yang enggak bahagia bisa ngasih keturunan untuk suaminya,"


Azka tersenyum dan duduk disamping adiknya. Semenjak menikah, adiknya lebih sering datang ke rumahnya dan tinggal di sana. Karena suami sibuk bekerja dan lagi tidak ingin terjadi apa-apa kepada adiknya, ia juga membiarkan adiknya tinggal di rumah kedua orang tuanya.


Ia tersenyum dan beranjak meninggalkan adiknya yang berada di ruang tengah. Setiap pagi


ia akan datang menyapa dan sarapan bersama keluarganya.


*****


Istirahat makan siang, ia menyempatkan dirinya untuk pergi ke dokter yang akan menjadi tempat


untuk menggugurkan kandungan Nagita. Ia bertemu dengan dokter Eva, yang tidak lain adalah teman SMAnya dulu.


"Lo gila, buat janji temu sama gue cuman buat mau gugurin kandugan pacar lo?"


"Bukan pacar, tapi itu karena kesalahan gue,"


"Maksud lo?"


"Lo ingat Deana?"


"Ingatlah, lo kan cinta mati sama dia. Dan sekarang lo mau gugurin anak lo sama dia?"


"Bukan, itu karyawan gue sendiri. Gue hamili dia. Perkosa dia, udah ambil kehormatan dia, dan


gue enggak pakai pengaman. Dia hamil dalam sekali main," jelasnya.


"Brengsek lo, pikirin baik-baik sebelum lo nyesel. Apa enggak sebaiknya lo tanggung jawab"


"Enggak bakalan, gue sendiri enggak mau bayi itu ada. Lo tahu sendiri, gue cuman mau punya anak dari, Deana."


Ia begitu menyombongkan diri ketika membahas tentang Deana. Ia tahu bahwa perempuan itu tidak akan kembali lagi padanya. Namun, ia tidak akan berhenti. Karena sudah terlanjur mencintai Deana, tidak mudah baginya untuk melupakan perempuan itu begitu saja.


"Kira-kira lo kapan bisanya, Va?"


"Seminggu lagi lo datang kemari. Soalnya akhir-akhir ini gue sibuk banget. Itu khusus buat lo


deh. Hari minggu biasanya praktek gue enggak buka. Tapi nanti demi lo, gue relain hari libur gue,"


"Oke, inga janji lo ya."


Azka bangun dari tempat duduknya dan akan segera kembali ke kantor. Tiba-tiba saja ponselnya berdering.


"Kak, ke rumah sakit sekarang. Adik kamu keguguran, dia jatuh ditangga,"


Seketika jantung Azka mencelos, tubuhnya membeku dan ponselnya terjatuh begitu


Dengan segera ia menancap gas menuju rumah sakit yang telah diberitahukan oleh mamanya.


Tiba di sana ia segera berlari untuk mencari adiknya. Ia masuk dan melihat adiknya menangis di sana.


"Kak aku enggak bisa jaga dia, aku enggak bisa jaga dia,"


Dia memeluk adiknya sangat erat untuk menguatkan. Baru saja ia merasakan hatinya begitu


sakit untuk pertama kalinya melihat perempuan yang ia jaga menangis. Tak bisa dibendung rasa sakit Azka saa mengetahui adiknya mengalami keguguran. Ia bertemu dengan dokter Eva untuk membahas tentang menggugurkan kandungan orang yang telah ia hamili. Sekaran justru Tuhan langsung menegurnya dan membuatnya meringis. Hukumankah bagi Azka?


*****


Malam tiba, dia pulang ke apartemennya. Di sana ada gadis kecil yang tengah tidur selonjoran di


sofa. Azka lagi-lagi memperhatikan perempuan itu dan langsun membawanya ke kamar.


Dengan sangat hati-hati ia mengangkat gadis itu agar tidak terbangun. Ia meletakkan gadis itu dengan pelan.


"Bapak sudah pulang?"


Baru saja Azka ingin beranjak, perempuan itu bergerak dan membuka matanya.


"Kamu seharusnya tadi ke kamar sendirian. Enggak perlu saya bawa kamu kemari,"


"Saya ketiduran nunggu bapak pulang. Ini sudah jam 1 pak. Kenapa baru pulang?"


"Saya sibuk, apa urusan kamu tentang saya? Seharusnya kamu pikirin diri kamu sendiri, besok saya antar kamu pulang. Dan minggu depan kita akan melakukan aborsi itu,"


"Pak bisakah saya memohon? Saya ingin dia tetap hidup, saya janji enggak akan ganggu


kehidupan bapak. Saya hanya tidak ingin jadi pembunuh pak,"


"Tidak bisa. Nanti setelah dia lahir, kemudian saya menikah. Dengan gampangnya kamu merusak rumah tangga saya dengan kehadiran dia. Kamu juga bisa memeras saya


dengan mudah,"


Perempuan itu menggeleng dan menunduk.


"Harusnya kamu tahu diri Nagita. Tidak mungkin bagi saya bertanggung jawab. Apa kata orang? Kamu kenapa juga mau saya lakukan itu sama kamu?"


"Andai saya bisa menolak, saya sudah menolaknya. Andai tenaga saya bisa mengalahkan bapak, saya sudah melawannya. Andai saya mampu melawan saat bapak mulai menyatu, saya mendorong bapak. Tapi apa yang bisa saya lakukan? Anda membabi buta, menyentuh saya tanpa ampun. Saat itu bapak sedang marah dengan perempuan yang bernama Deana, dengan terus menerus nama itu anda sebutkan di depan saya. Pertama saya sakit hati, kehormatan saya direnggut. Kedua, kekecewaan yang anda rasakan anda lampiaskan pada orang lain. Ketiga, anda ingin menjadikan saya sebagai seorang pembunuh. Saya sadar diri, saya bukan orang pantas. Tapi saya memiliki naluri seorang ibu. Jangan pernah melakukan sesuatu yang bisa anda banggakan karena bisa membelinya,"


"Cukup!"


"Baik saya berhenti. Tapi tolong, buka pintu itu. Karena saya ingin pulang. Ini adalah neraka yang sebenarnya."


Azka keluar dari kamar tersebut setelah berdeba hebat dengan perempuan itu. Sebejat itukah yang dia lakukan? Sebrengsek itukah seorang Azka membuat perempuan menangis saat itu juga. Ia benar-benar merutuki dirinya. Tidak habis pikir bahwa begitu banyak kehidupan yang tidak diduganya berantakan. Dahulu, hidupnya selalu tertata rapi.


Pengkhianatan, menjadikan seorang Azka menjadi orang yang tidak pernah peduli terhadap orang lain lagi. Terlebih saat ini ia tidak peduli dengan bayi yang ada dalam kandungan Nagita. Setelah masuk ke dalam ruang kerjanya. Azka mengusap wajahnya gusar. Dengan sangat kesal ia benar-benar menendang meja yang ada di depannya. Hatinya berantakan.


 


 


"Brengsek."