
Sepulang dari rumah sakit tempat di mana Ashira dirawat tadi. mereka berdua mampir sebentar untuk membeli susu dan juga popok untuk Audri untuk persediaan nanti. Mereka juga membeli makanan ringan untuk anak mereka yang sangat suka sekali ngemil. Rey juga tak terlalu melarang istrinya memberikan Audri makanan selama anaknya itu mau. Namun, harus tetap makanan sehat.
Usai belanja, mereka mampir dipemakaman Syakila—adik Rey yang merupakan anak dari papa dan juga perempuan lain itu. Kemarin memang dia sempat kemari. Tapi hari ini dia membawa anak dan juga istrinya untuk berziarah.
“Assalamua’alaikum tante,” ucap Marwa yang kemudian duduk di dipinggir suaminya ketika berkunjung ke pemakaman Syakila dengan membawa Audri di sana.
“Dek, kakak bawa Audri untuk kamu,” Rey tersenyum. Lalu dia menaruh bunga yang sama diatas pemakaman adiknya.
“Mas kemarin kemari?”
“Iya, ini kan Mas yang naruh bunga kemarin. Mas kan sudah bilang, kemarin pulang telat juga karena ini, bukan?”
Marwa lupa jika suaminya kemarin memberitahu bahwa dia pergi ke pemakaman Syakila. Audri yang meminta diturunkan di sana. tapi Marwa masih berusaha menahan anaknya agar tidak turun. “Sayang, nggak boleh ya, sssttt, nggak boleh berisik. Kita doain tante ya,” ucap Marwa sekilas ketika melihat suaminya berdoa untuk sang adik.
Syakila itu cantik, jika diperhatikan lagi. Ada sedikit kemiripan kepada Audri, sekalipun itu hanya mata. Jujur saya jika Rey merasa sangat dekat dengan adiknya sekalipun sudah tiada. Nabila dan juga Salsabila juga sering diajak ke sana oleh kedua orang tua mereka.
Marwa berdiri ketika Reynand mengajaknya pulang. Sementara Audri menangis meminta diturunkan di sana. tapi Rey dan juga Marwa mencoba untuk menenangkan sang anak agar tidak menangis di sana.
Mereka bertiga pun pergi dari sana, Rey yang baru saja berbalik menemukan tante Deana di sana yang membawa bunga. “Rey,” panggil perempuan itu.
“Marwa, bisa tunggu di mobi?!”
Rey sudah lama juga tidak bertemu dengan perempuan yang ada didepannya ini. “Apa kabar tante?”
“Baik, Nak,” balas Deana. “Kamu masih sering berkunjung?”
Rey mengangguk, “Sering banget tante. Bahkan kemarin juga datang, tante lama nggak ke sini?”
Dean membalas dengan senyuman. “Tante biasanya tiap kangen datang kok, sebelumnya terima kasih kalau kamu masih ingat sama dia, tante nggak tahu lagi mau bilang apa sama kamu. Soalnya dari dulu, kamu selalu datang kemari untuk adik kamu. Ngomong-ngomong, itu anak kamu?”
“Iya, itu istri dan anak aku, tante,”
“Mirip sama Syakila,” Rey memang akui jika anaknya memang ada kemiripan dengan adiknya yang sudah meninggal.
Tapi dia tidak mau lagi membahas kejadian dulu. Marwa juga mengingatkannya tentang kehilangan itu memang pasti. Tapi tidak pernah tahu kapan akan datangnya. Namun itu adalah hal yang akan datang kelak. Siap atau tidak siap, semua juga akan merasakan kehilangan Syakila. Dia yang belum siap kehilangan adiknya, tapi akhirnya dia bisa menerima kenyataan itu. bahwa Syakila tidak boleh menderita. Syakila juga pasti akan sedih ketika orang tuanya tidak utuh. Mama Syakila tidak akan pernah bisa bersatu sampai kapan pun dengan Papa Rey. Mungkin itu adalah kesalahan masa lalu yang pasti disesali oleh keduanya.
“Rey, kamu benci sama tante?”
Rey mengangkat kepalanya, “Kenapa tante bertanya seperti itu?”
“Tante cuman pengin tahu. Karena dulu, tante adalah penyebab kebahagiaan kamu menjadi hancur. Tante yang buat orang tua kamu menjadi seperti itu,”
“Bukan tante yang salah, tapi Papa yang terlalu cinta sama tante waktu itu,”
Deana menggeleng, “Tante pernah berharap bahwa tante bisa terima Papa kamu ketika kami dulu sadar jika perselingkuhan itu salah. Tante tahu Papa kamu sudah punya istri, tapi dengan bodohnya tante malah mau berselingkuh dengan Papa kamu. Dan itu merupakan kesalahan terbesar di dalam hidup tante yang sampai sekarang ini tante sadari. Bahkan suami tante melakukan hal yang sama dengan apa yang Papa kamu lakukan dulu, yaitu berselingkuh. Semuanya ada waktunya, Papa kamu juga pernah melakukan kesalahan. Kemudian tante menemukan kesalahan itu juga pada suami tante,”
“Tante sudah menikah?”
“Iya, menikah lagi. Dan kali ini udah nyari yang benar-benar serius,”
“Alhamdulillah kalau tante udah dapat yang terbaik. Semoga tante bahagia selalu, apa yang dulu pernah terjadi kita perbaiki sama-sama. Apa artinya kita saling membenci? Aku nggak mungkin benci sama tante, karena itu juga salah, Papa dulu. Nggak mungkin juga kan salah satunya berbuat salah kalau keduanya nggak sama-sama berbuat? Jadi aku nggak bisa benci sama tante, nggak bisa nyalahin tante terus. Kasihan juga tante, sekarang mungkin... maaf... tante juga ngerasain apa yang Mama rasakan dulu,”
“Terima kasih ya, semoga kamu bahagia dengan keluarga kamu, Rey,”
“Tante juga,”
“Semoga saja,”
“Kalau begitu aku pamit dulu, tante. Aku mau pergi sama mertua aku soalnya,”
“Hati-hati, Rey,”
“Tante jaga kesehatan!”
Dia menyusul istri dan juga anaknya yang sudah menunggu di mobil terlebih dahulu. Ketika dia meminta istrinya menunggu di sana. “Mas, baik-baik aja, kan?”
Rey menoleh ke arah istrinya dan langsung tersenyum kepada sang istri. “Kamu pikir aku kenapa? Kok nanya baik atau enggak sih, hmmm?” dia mengelus kepala istrinya.
“Kamu kelihatan kesal,”
“Nggak lagi kalau udah lihat kamu kayak gini,”
“Nak, semoga nggak ketemu sama laki-laki yang pintar gombal kayak Papa ya,” kata Marwa kepada anaknya yang sedang tertidur.
“Nah nah ngajarin anak yang enggak-enggak,” protes Rey yang menarik hidung istrinya.
“Mas, lepasin astaga!”
Seketika perasaan kesalnya hilang ketika bersama dengan istri. Apa yang dikatakan oleh papanya itu memang benar jika dia kesal. Dia cukup melihat senyuman istrinya yang selalu setia menemani dirinya. Maka dari itu dia mengerti dengan keadaan sekarang ini. Rey sedang berada dalam fase yang pernah diceritakan oleh sang papa waktu itu.
Marwa terus menyingkirkan tangannya hingga anaknya terbangun. “Sampai rumah Mas yang gendong loh, astaga. Ini anaknya kebangun karena keulisan sang, Papa,” ledek Marwa yang justru semakin membuat Reynand gemas untuk menyiksa istrinya di dalam mobil dengan rayuan-rayuannya.
“Nanti malam nggak boleh peluk lho!”
“Aku mau peluk siapa? Guling? Nggak senyaman meluk kamu tahu,”
Marwa menoleh ke arah lain. “Capek ngomong sama, Mas,”
“Jarang-jarang lho. Bahkan langka aku begini, dulu juga waktu sekolah gimana ya, lupa deh kayaknya,”
“Zaman sekolah kamu itu sok kegantengan. Sering disamperin adik kelas,”
“Suami kamu memang gantengnya dari dulu, makanya ya anak kita itu cantik, duplikat Reynand versi perempuan,” jawab Rey dengan sombongnya.
“Oke, nanti kalau cowok miripnya ke aku,”
“Jadi mau nambah nih? Ada kode nih mau nambah adik?”
“Maaaaaaaas,” rengek Marwa ketika Rey tak henti-henti-hentinya merayu sang istri hingga ngambek seperti barusan.
Inilah Marwa, dia bisa menyeimbangkan perasaannya dan juga keadaan ketika Rey ingin bercanda. Dia selalu ada, dia selalu bisa untuk membangun kebahagiaan itu dihati Reynand barangkali dia yang telah sadar bahwa dia punya segalanya kali ini. Rey tersenyum, Rey juga tertawa melihat anaknya yang justru tertidur lagi ketika Marwa mengatakan jika dia akan menggendong Audri nanti setibanya di rumah. Rey memang sosok papa yang bertanggungjawab kali ini.
“Mas,”
“Hmm? Apa sayang apa?” Rey mengerjapkan matanya beberapa kali di depan suaminya.
“Bisa enggak sih Mas itu serius?”
“Ini serius, ya ampun,”
“Mas makan apa sih tadi? kok bisa-bisanya kayak gini?”
“Makan apa yang kamu masak dong. Mas kan selalu makan masakan kamu, jadi kayak gini. Mas mungkin dimasakin dengan—“
“Mas aku kalau masak itu pakai bumbu cinta, dan juga kasih sayang,”
Rey menahan tawanya ketika istrinya justru membalas gombalannya. “Berarti aku nggak pernah kekurangan asupan kasih sayang?”
“Oh jelas dong,” jawab Marwa sambil menahan senyumannya. “Ayo, Mas! Kapan pulang coba kalau kita ngobrol gini terus?”
Rey melajukan mobilnya begitu ditegur oleh sang istri. Dia juga harus istirahat karena nanti akan pergi memancing bersama dengan papanya Marwa.