
Mereka berempat telah tiba di rumah sakit. Rey yang berjalan di depan memberikan komando untuk menunjukkan arah kamar tempat di rawanya Amanda.
Tiba di kamar 305, mereka pun masuk dan menemukan Leo yang sudah tiba di sana. Bintang mendapatkan perawatan yang cukup baik. Perawat di sana sengaja di minta untuk mengawasi keadaan Bintang setiap waktu. Leo pun yang pulang sekolah langsung ke sana, tidak ada orang yayasan yang menjaga di sana karena larangan papa Reynand.
Gadis itu terbaring lemah di sana. Rey berdiri di samping brankar. Amanda mengulurkan tangan kepada Reynand, lelaki itu pun mengulurkan tangannya dan dicium oleh Amanda. Gadis itu selalu sopan terhadap siapa pun. Bahkan gadis itu selalu mencium tangan Reynand, walau Rey sudah melarang, tetapi gadis itu tetap ingin menjalani tugasnya sebagai seorang adik angkat dengan baik.
"Cepat sembuh, ya!"
Gadis itu hanya mengedipkan matanya karena untuk beberapa waktu tidak diperbolehkan berbicara. Reynand yang mengusap puncak kepada gadis itu dengan kasih sayang, tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya terhadap adik-adiknya. Apalagi dia menyayangi Amanda sudah sejak lama, semenjak Papanya bercerita mengenai gadis yang sakit itu.
"Papa, mana?" gadis itu seolah sedang berbisik. Reynand pun hanya menggeleng, memberikan isyarat agar gadis itu jangan berbicara.
"Cari Papa?"
Amanda mengangguk. Panggilan untuk semua anak-anak asuh Papanya tetap sama seperti Rey memanggil Papanya. Tidak salah karena ibu-ibu pengurus tempat itu mengajarkan mereka memanggil dengan panggilan itu sesuai permintaan papanya. Agar mereka merasakan bagaimana rasanya memanggil seseorang dengan sebutan papa dan mama.
"Tunggu Papa bakalan kemari kok sama, Mama. Nanti kakak bilang sama mereka," Rey masih mengusap kepala Amanda. Reynand menatap Leo yang duduk di kursi samping Amanda sambil memegangi tangan kiri gadis itu.
"Leo, kenapa enggak ganti seragam dulu?"
"Aku bawa kok, kak,"
"Udah izin sama tante?"
"Udah, Papa juga ngizinin,"
"Syukurlah. Kalau begitu nanti sementara waktu kamu di sini tungguin Amanda ya!"
"Tanpa Kak Rey minta pun aku bakalan jagain dia,"
Rey pun mengajak teman-temannya di sofa rumah sakit. Tempat Amanda di rawat pun adalah ruangan terbaik dengan fasilitas yang memuaskan. Dia tahu bahwa papanya begitu menginginkan Amanda untuk sembuh dari penyakitinya. tak ingin kejadian di masa lalu itu terulang lagi. Namun, Amanda sudah mereka tahu dari awal. Tidak dengan Syakila yang dahulu mereka temui ketika sudah sekarat.
Rey pun keluar dari sana dan membiarkan teman-temannya.
"Mau ke mana?" tanya Jenny.
Rey memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, dia berbalik dan tersenyum.
"Sebentar, aku harus menemui dokternya. Aku mau bilang terima kasih untuk dia," ucap Reynand. Namun dia keluar dari kamar tempat perawatan Amanda. Dia menuju kamar 281, dia berdiri di sana. Di depan kamar itu, Rey menarik napas panjang. Dia sana tidak ada yang di rawat, kamar itu kosong namun tetap bersih.
Reynand berusaha menarik napas panjang dan hendak membuka pintu. Ingatannya terngiang dengan kejadian beberapa tahun silam yang di mana tangis itu tumpah tentang kehilangan. Reynand sempat ragu untuk membuka pintu. Dia teringat bagaimana teriakan dirinya yang menangis di sana menangisi Syakila. Lelaki itu masuk begitu saja dan duduk di atas brankar. Ingatan itu kembali lagi, yang di mana dia memeluk adiknya untuk terakhir kalinya.
"Kak Rey,"
Rey terdiam, dia menatap ke arah jendela kamar rumah sakit. Suara gadis itu terus memanggilnya berkali-kali. Reynand merasakan dadanya sangat sesak jika mengingat kejadian itu. Mengapa harus berada di rumah sakit yang sama? Dia masih mengingat kehilangan itu. Ingatan itu berputar kembali pada memori kepalanya.
"Kak Rey,"
Rey memejamkan matanya berusaha menghilangkan suara yang terus terngiang.
"Kak Rey, ingat sama Kila, kan?"
Rey mendengar itu dengan jelas. Lelaki itu memejamkan matanya dan tidak terasa air matanya menetes, rasa sakit itu tengiang lagi. Andai dia berbalik, dia akan kecewa karena tidak akan menemukan Syakila di belakangnya.
"Kak Rey, Kila pengin peluk kakak,"
Reynand berbalik, "Aku pergi kak," dia pun semakin menangis karena tak menemukan siapa pun. Suara tadi yang dia dengar begitu jelas ditelinganya.
Reynand duduk di ruangan itu di dekat jendela dan meringkuk sambil memeluk lututnya sendiri. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sedihnya jika sudah seperti tadi. Bayangan Syakila mampu menghancurkan cerianya seketika.
"Rey, sudah, Nak!" tiba-tiba mamanya memeluknya di sana. Rey menangis dan tak mengangkat kepalanya sedikit pun. Dia hanya mampu meneteskan air mata jika itu menyangkut adiknya, dan juga menyangkut keluarganya.
"Ma, dia panggil aku, Ma,"
"Rey, Syakila udah pergi, Nak. Tolong jangan seperti ini, Mama enggak mau lihat Rey harus merasakan sakit seperti yang sekarang kamu rasakan!"
Reynand memeluk mamanya sambil menyembunyikan kepalanya di leher sang mama. "Mama kenapa di sini?"
"Tadi Mama ke tempat Amanda, di sana Mama ketemu sama Fendi, dia bilang sama kamu dan dua teman perempuan, tapi teman kamu sudah pulang duluan. Mama tanyain kamu ke mana, dia jawab kamu ke Om Teddy, sedangkan Om Teddy sedang memeriksa keadaan Amanda ditemani sama Papa,"
Reynand mendengar suara ketukan kaki yang mendekat. Dia semakin erat memeluk mamanya. suara ketukan kaki itu berhenti. "Ayo pulang!" ajak papanya. Reynand takkan serapuh ini pada hari-hari biasanya. Padahal dulu ketika perpisahan kedua orang tuanya, dia hanya menangis sesaat. Tapi bayangan adiknya, dia masih belum bisa lupa terhadap itu semua.
"Semua salah, Papa. Papa yang buat kamu begini, Nak!" Reynand mengusap air matanya dan melihat sorot mata papanya yang sedang sedih itu.
Reynand sendiri bukan benci dengan kejadian itu. Tetapi dia ingat bagaimana Syakila dahulu ingin bertemu dengan Papa kandungnya, dan berkata ingin memiliki seorang kakak. Bahkan Reynand tahu itu adalah adiknya saat Syakila meregang nyawa. Dia melihat dengan jelas bagaimana Syakila meninggal di pelukan papanya.
"Jangan lagi di ingat jika itu yang membuat kamu menderita, Rey. Papa tahu kalau Papa salah, Papa juga sadar bahwa penyebab dari semua ini adalah Papa. Kamu harus merasakan kehilangan yang hingga sekarang belum bisa kamu lupakan dengan sangat mudah. Begitu pula dengan Papa yang masih belum bisa melupakan Syakila dengan mudah. Tapi, Papa berusaha untuk tidak mengingat Syakila itu semua karena kamu, karena kamu adalah orang pertama yang bisa membuat Syakila tertawa saat dia mendekati hari di mana dia akan meninggal,"
"Papa," panggil Reynand. Sebenarnya dia tidak ingin menyinggung yang membuat papanya bersedih. Tetapi hatinya terlalu sakit untuk pura-pura kuat ketika dihadapkan suatu kehilangan di mana dia masih belum bisa memaafkan itu semua.
"Kamu masih benci sama, Papa?"
Reynand terdiam.
"Jawab!"
"Pa,"
"Papa enggak butuh basa-basi, Rey. Papa juga menyesal, andai Papa tahu bakalan begini, Papa enggak bakalan ngelakuin kebodohan yang bisa menghancurkan keluarga Papa sendiri,"
"Papa, enggak Pa. Aku enggak benci sama Papa,"
"Maka dari itu, ayo pulang!"
Reynand bangun dari tempat duduknya. Di bantu oleh sang mama dan juga papanya. Dia berjalan hendak meninggalkan tempat itu.
Dia melihat bayangan Syakila yang seolah sedang melambaikan tangan kepada dirinya.
"Selamat tinggal, Syakila!" ucapnya dalam hati dan berlalu meninggalkan ruangan itu.
Syakila yang mulai nampak menghilang pun membuat Reynand sedikit lebih tenang.
Dia pun keluar dari rumah sakit dan di ajak pulang oleh kedua orang tuanya.
"Jangan pernah ke rumah sakit ini lagi, Rey!"
Reynand mendengar papanya berkata demikian hanya mengangguk pelan.