
Marwa dan juga mamanya kali ini sedang makan di sebuah restoran untuk makan malam mereka. Rey dan papanya bilang bahwa mereka berdua akan makan malam diluar nantinya. Maka dari itu dia akan makan bersama dengan mamanya berdua. Sedangkan Audri, dia hanya meminum susu yang dibawakan oleh mereka berdua. Nanti ketika sampai rumah, barulah Marwa akan menyuapi anaknya lagi.
Mereka berdua berhenti di salah satu restoran Jepang. Karena mamanya bilang bahwa dia ingin mencoba Miso ramen yang katanya sangat enak. Mamanya ingin mencoba makanan itu karena Rey pernah mengatakan bahwa dia dulu sering ke Jepang ketika masih kecil. Maka dari itu, Mamanya ingin mencoba makanan yang satu itu. Sebelum pulang, Marwa sempat bertanya kepada suaminya di mana restoran yang menyediakan ramen yang diinginkan oleh sang mama. Maka dari itu mamanya mengatakan bahwa dia sangat ingin mencoba makanan iut. Rey memberitahunya dengan jelas, dan benar jika tempat itu menyediakan makanan yang diinginkan oleh mamanya Marwa.
Marwa sudah memesankan makanan itu untuk mamanya, “Gimana pesanin Audri juga? Nggak apa-apa dikit aja!”
“Mas Rey nanti marah, Ma,”
“Terus dia makan apa? Kasihan nggak makan,”
Marwa sempat berpikir sejenak sebelum memilih makanan untuk sang anak. “Mbak, anak kecil boleh makan mi juga?”
“Nggak apa-apa, minya lunak, nggak ada bahan pengawet dan sebagainya. Dibuat langsung di sini, jadi aman. Nggak masalah kok, cuman untuk penggunaan bumbu di kuahnya mungkin nggak pakai bumbu,”
“Potong-potong kecil ya, Mbak,”
“Baik, Bu,”
Marwa memang mengajarkan anaknya makan nasi juga. Tapi tidak pernah mencoba memberikan Audri mi seperti sekarang ini. Semoga nanti ketika sampai di rumah. Dia menceritakan itu kepada Rey, suaminya tidak marah dan memaklumi itu. Biasanya Rey yang sangat hati-hati ketika memberikan anaknya makanan. Sekalipun Audri giginya sudah tumbuh, tapi tetap saja dia khawatir mengenai makanan untuk si kecil.
“Ma, Mama tahu nggak kalau Mas Rey paling sensitif kalau urusan makanan Audri,”
“Nggak bisa gitu Marwa. Kan tadi mbaknya juga bilang kalau nggak apa-apa. Nggak pakai pengawet juga,”
Marwa menganggukkan kepalanya menunggu pesanan mereka datang.
Menunggu beberapa saat, pesanan mereka datang. Ketika Marwa mengangkat kepalanya ingin mengucapkan kata terima kasih karena dia belum sempat melihat pelayan itu barusan. “Hana?” panggil Marwa. Itu adalah temannya ketika SMA dulu. Karena dia beberapa kali pindah sekolah dulu, jadi dia ingat beberapa temannya sekalipun dia kehilangan memori berharganya. Tapi, inilah kenyataannya, dia bisa mengingat beberapa orang mengenai masa lalunya.
“Sebentar? Siapa ya?” tanya Hana ketika dia tidak mengenali Marwa yang mengenakan cadarnya.
“Bintang, teman kamu SMA dulu,” Marwa mencoba mengingatkan perempuan itu. Karena tidak akan ada yang mengenalnya jika namanya Marwa. Sebab ketika itu namanya memang diganti. Semua masa lalu itu juga sudah dia kubur mengenai lukanya.
Perempuan itu berhenti sejenak, “Astaga, ini beneran kamu? Ya ampun kok beda banget. Ini anak kamu? Ya Allah cantik banget,”
“Lama banget kita nggak ketemu,”
“Iya, aku nggak nyangka banget kita ketemu di sini. Ya ampun, apalagi anak kamu lucu banget,” ucap Hana. “Tante, apa kabar?” tanya Hana bersalaman kepada mamanya Marwa.
“Baik, nak. Teman lama ketemu lagi,” ucap mamanya Marwa sambil tersenyum. “Ayo duduk sayang. Kita makan bareng,”
“Kerjaan masih banyak tante,”
Mama marwa hanya ber-oh ria. “Ngomong-ngomong ini nggak apa-apa kalau anak kecil makan, mie?”
“Nggak apa-apa kok tante. Mie yang dibuat juga beda untuk dia, lebih lunak. Karena tadi waktu mesan juga dibedakan untuk anak kan. Pasti dicatat kok kalau itu untuk anak kecil. Jadi lebih lunak dan nggak mudah dicerna. Mie yang dibuat juga nggak pakai pengawet dan bahan berbahaya lainnya, sudah dipotong-potong juga biar nggak susah disuapinnya,” jelas Hana.
“Makasih ya, nanti kapan-kapan aku ke sini lagi. Ohya aku boleh minta nomor kamu?” tanya Marwa yang meminta nomor telepon sahabatnya karena dia begitu rindu kepada perempuan itu.
Hana menuliskan nomor teleponnya di kertas yang dia bawa. Kemudian Hana langsung kembali bekerja begitu pesanan selesai diantarkan. Marwa mencoba menikmati makan malamnya di sana. Dia juga mencicipi makanan untuk anaknya yang katanya tidak ada bumbu pedas dan dikhususkan untuk anak kecil. Mungkin pelayannya mengerti bahwa dia butuh sendok makan biasa. Bukan sumpit dan sendok besar yang diberikan seperti yang diberikan untuk dirinya dan juga mamanya.
Marwa ingat bahwa dia tidak boleh meniupkan makanan untuk anaknya seperti pesan Rey. Dia juga ingat ucapan suaminya untuk membiarkan makanan itu dingin terlebih dahulu.
“Nggak ditiupin?”
Marwa menggeleng, “Nggak dibolehin sama papanya Audri,”
“Oh, ya udah tunggu dingin aja kalau gitu!”
Mereka menikmati makan malamnya begitu baik. Marwa juga sesekali membiarkan makanan yang sudah diambilnya dengan sendok tadi dingin terlebih dahulu sebelum disuapkan kepada anaknya. Mamanya benar bahwa Audri juga suka dengan makanannya. “Jangan semuanya, dikit aja ya! Nanti Rey marah kalau tahu anaknya makan begituan,”
Marwa juga setuju dengan ucapan mamanya. “Udah ya sayang, nanti dimarahin Papa,” Marwa menjauhkan mie itu dari dekat Audri. “Sudah habis sayang,” ucap Marwa untuk menjauhkan anaknya dari makanan itu.
“Udah ayo pulang sayang. Nanti Audri nggak mau berhenti makan kalau kayak gini. Apalagi dia itu kan disuapi makanan apa pun pasti senang,”
Marwa menggendong Audri dan membiarkan mamanya yang membayar makanan tersebut. Dia takut jika anaknya nanti menangis ketika diajak ke kasir dan justru meminta yang lain lagi.
Mereka berdua keluar dari restoran karena takut jika pulang terlambat dan justru suaminya sudah pulang.
Tempat mereka makan pun tidak terlalu jauh dari rumah. Mengendarai mobil kurang lebih dua puluh menit, mereka tiba di rumah. Marwa melihat mobil suaminya sudah berada di rumah. “Mas Rey pasti marah,” ucapnya pelan sebelum dia keluar dari mobil.
“Ayo! Nggak bakalan. Kan kamu keluarnya sama, Mama,”
Marwa keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Dia tak melihat suaminya di ruang tamu. Ketika dia beru saja beranjak ke kamar lantai dua. Suaminya berdiri di ujung tangga dan menatapnya dengan tajam. Marwa takut bukan main, apalagi mamanya yang terlihat langsung berekspresi aneh ketika dia melirik ke arah mamanya.
Marwa bersalaman ketika Rey berada di depannya.
Perlahan perempuan itu masuk ke dalam kamar. Belanjaanya dibawa oleh sang mama. Kemudian Rey mengambil belanjaan itu dan masuk ke dalam kamar begitu saja tanpa ada kata apa-apa.
Di dalam kamar, Marwa menurunkan anaknya diatas ranjang. “Kamu kenapa nggak angkat telepon? Kamu pergi sampai malam, aku khawatir dan mau nyusulin kamu, apalagi kalian bertiga itu perempuan,”
“Aku makan malam, Mas. Aku ngajakin Mama ke restoran tempat di mana kamu kasih tahu itu,”
“Kamu mandi sana! Udah gitu shalat jangan lupa!”
“Sudah, Mas,”
“Ya udah, Audri sama aku dulu. Kamu bersihin diri ya,”
Marwa mengangguk pelan. “Kamu nggak marah?”
“Nggak, aku udah lihat kamu pulang dengan selamat itu udah buat hati aku membaik. Sekarang kamu mandi aja! Biar dia di sini sama aku,”
Marwa membuka cadarnya dan air matanya ingin terjatuh karena dia tidak bisa menahannya, dia takut jika suaminya marah kepada dirinya mengenai apa yang dia lakukan selama ini. Marwa memang salah jika tadi dia tidak tahu jika suaminya mencoba menghubungi.
Cup
Rey mencium keningnya. “Kamu nggak usah nangis! Aku nggak marah kok,”
“Tadi kenapa kamu ekspresinya gitu banget waktu di tangga?”
“Aku kesal karena kamu kebiasaan nggak lihat handphone. Aku mikirin kamu dari tadi,”
“Maaf kalau aku buat kamu khawatir, Mas,”
Marwa meneteskan air matanya. “Aku kan sudah bilang kalau kamu nggak usah nangis. Lagian aku nggak marah sama kamu. Kenapa kamu sedih seperti itu sih?” Rey mengusap kepala istrinya karena pasti istrinya sangat takut dimarahi. Memang dia tidak pernah bermain kasar kepada istrinya. Dia tahu jika hati istrinya ini sangatlah lembut. Rey juga sangat sabar menghadapi istrinya.
Ia menghela napas panjang dan memeluk istrinya dengan sebelah tangan sambil berdiri, sedangkan istrinya duduk dipinggiran ranjang. “Aku nggak marah, sumpah. Aku nggak mau lihat kamu kenapa-kenapa,”
“Maafin aku, Mas,”
“Iya, lagian kamu nggak pernah jalan-jalan sama Mama. Jadi itu wajar kalau kamu sampai lupa waktu,”
Marwa berdiri kemudian memeluknya. “Maafin aku sekali lagi, Mas,”
“Nggak apa-apa, udah kamu mandi sekarang ya! Aku tidurin Audri dulu,”
Rey keluar dari kamar begitu membawa Audri. Memang suaminya itu sangat bisa diandalkan ketika dia sedang seperti sekarang ini. Jujur saja jika tadi dia sangat ketakutan suaminya marah. Dan benar saja bahkan sampai mamanya sendiri langsung menghindar begitu Rey berdiri di ujung tangga dan berekspresi datar. Hubungan rumah tangganya memang tidak diikut campuri oleh orang tuanya. Dan baru kali ini dia mendapati Rey yang bersikap seperti tadi. Dan itu juga karena kesalahannya sendiri. Marwa begitu bangga ketika dia mendapatkan suami yang bisa sabar seperti Rey. Kesalahan suaminya memang pernah ada. Tapi tidak seharusnya dalam hal seperti ini dia membahas semua itu. Marwa tahu kadar dirinya harus menghadapi suaminya dengan sabar dan juga karena suaminya yang begitu sabar menghadapi dirinya juga.