
Beberapa jam sudah operasi berjalan di dalam sana. Seorang remaji putri sedang bertaruh nyawa untuk hidup dan mati menghadapi penyakit yang sudah lama dia rasakan. Tetapi orang-orang yayasan tidak tahu bahwa penyakitnya separah itu.
Azka, ditemani kedua anak remaja yang sedang duduk diseberangnya. Rey dan juga Leo yang nampak tidak pernah tenang dengan keadaan sekarang ini. Terlebih Azka, dia juga merasakan kepanikan yang Leo rasakan. Tentang kehilangan, maka siapa pun akan merasa sedih bila hal itu terjadi. Dengan perasaan yang teramat mendalam takut dengan kejadian yang sama terulang lagi, Azka mendekati keponakannya kemudian duduk di sebelah kanan Leo, kemudian Rey duduk di ujung kiri.
"Sekarang kamu tenang ya!" ucapnya memberikan Leo semangat. Dirinya juga baru mengetahui bahwa keponakannya itu berteman dengan Amanda, dia juga tidak tahu bahwa kedekatan keduanya seperti saudara. Yang di mana Leo menganggap Amanda seperti adiknya sendiri, tidak salah lagi bahwa sikap keponakannya yang juga berubah membuat Azka heran. Bahkan dia sampai memperhatikan setiap perubahan yang dialami oleh keponakannya, sedangkan perubahan anaknya sendiri dia tidak tahu.
Rey pergi dari situ, Azka tetap menemani Leo. Dia tahu bahwa perasaan Leo begitu kuat terhadap Amanda semenjak gadis itu masuk ke rumah sakit untuk pertama kalinya, dan ternyata diam-diam Leo yang menjaga anak itu tanpa sepengetahuan orang lain. Bahkan, orang yayasan selalu kecolongan mengintip siapa yang selalu merawat Amanda selama ini.
Azka mengelus punggung Leo dan berusaha menguatakan keponakannya, sengaja dia meminta kedua anak itu untuk tidak sekolah. Beberapa orang yayasan memang tidak dia izinkan untuk ada di sana. Takut jika semua khawatir, maka cukup dia saja yang menemani gadis itu untuk mewakili semua orang yang ada di yayasan.
"Leo,"
Pria yang berusia belasan tahun itu menoleh, dengan rambut yang berantakan sedari tadi karena berkali-kali diacak disebabkan oleh perasaan yang berantakan. Azka sendiri mengerti dengan kejadian itu dan tidak terlalu memaksa Leo untuk memahami keadaan sekarang.
"Om, apa dia bakalan selamat?"
"Kenapa kamu bilang seperti itu?"
"Karena dia janji sama aku, kalau dia akan menjadi temanku dan akan tetap hidup,"
"Maka dari itu, cobalah untuk tetap percaya dengan apa yang dia katakan. Dia percaya diri untuk sembuh, kenapa kamu harus ragu terhadap dia? Tugas kita adalah berdoa semoga saja dia itu berhasil melewati ini semua, tentang hidup dan mati seseorang kita tidak pernah tahu, tapi berusahalah untuk tetap berserah diri kepada siapa yang menciptakan kita, percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Di sana, dia pasti sedang berjuang juga,"
"Tapi bagaimana jika nantinya dia tidak bisa selamat? Dia berhutang sama aku? Berhutang kalau ternyata dia bohong tentang ini semua,"
"Jangan pernah meragukan kekuasaan Tuhan. Kita tidak pernah tahu, apakah dia akan selamat atau tidak. Tapi apa yang dikatakan oleh Papa itu benar, bahwa hidup dan mati seseorang adalah tergantung Tuhan memberikan dia izin untuk hidup di dunia, jangan terlalu memikirkan hal buruk dan berburuk sangka terhadap Tuhan. Jika memang dia hidup, bukankah itu adalah suatu anugerah terindah yang Tuhan berikan untuk kita semua, terlebih untuk Amanda sendiri, dan kamu Leo, jangan pernah berpikir buruk terhadap kuasa Tuhan," Rey datang dengan membawa minuman yang ditentengnya, Azka tersenyum mendengar ucapan anaknya yang sedikit lebih mendetail menjelaskan itu semua terhadap Leo. Sudah terlalu banyak kehilangan yang telah di rasakan oleh Reynand. Barangkali keadaan yang membuat seseorang terpaksa mengerti, bukan karena sok mengerti.
Rey duduk dan langsung menyerahkan minuman tersebut, Azka juga sedang berusaha menenangkan diri dari rasa khawatir yang sebenarnya sedang dia rasakan. Mereka bertiga masih sibuk dengan perasaan dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan hingga tak ada kata yang keluar dari mulut mereka.
Ceklek.
Pintu ruangan operasi pun terbuka dan Teddy keluar melepas maskernya kemudian ketiganya menghampiri Teddy begitu saja. Azka yang sudah melupakan gengsi dan juga dendamnya terhadap pria itu, kini dia hanya fokus untuk menyemangati Amanda.
"Gimana keadaan dia?"
"Operasinya berjalan lancar, Papa asuh yang baik," Teddy menepuk bahu Azka dan membuat pria itu mengernyitkan dahinya.
"Ada apa? Apa ada yang salah?"
"Operasinya berjalan lancar, kita tinggal menunggu dia siuman. Terima kasih juga untuk doa kalian, semua ini berjalan lancar pasti karena doa kalian juga, yang sabar ya. Mungkin ini efek dari bius, jadi tunggu aja. Keadaannya tetap di kontrol, tapi untuk sementara waktu biarkan dia istirahat jangan masuk dulu!"
"Terima kasih, Papa," ucap Reynand.
Azka menoleh seketika. "Sama-sama, Nak,"
"Bukan Papa Azka, tapi Papa Teddy, dia kan yang paling dulu aku panggil Papa,"
Azka mendengus kesal dan menjitak kepala anaknya. "Rey,"
"Bercanda, Pa. Ya ampun,"
Teddy mengelus kepala Rey, "Cepat banget gede ya, Nak. Serasa baru kemarin,"
"Itu menurut, Om. Ini udah lama banget tahu, tapi ngomong-ngomong Om Teddy enggak tahu ya aku punya adik kembar?"
"Enggak, Om cuman tahu Mama kamu hamil sih waktu itu, karena pernah ketemu,"
Azka melirik Teddy tidak suka dan memilih untuk duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dengan kaki yang dilipat dan mendengarkan ucapan kedua orang itu.
"Pernah, waktu Mama kamu hamil besar,"
"Rey!" panggil Azka karena dia akan cemburu jika itu menyangkut Teddy. Pasalnya dia masih belum bisa menerima tentang kehadiran Teddy yang pernah menikah dengan Nagita dulu. "Pulang, Rey!"
"Aku masih ngobrol sama Om Teddy, Pa,"
"Pulang! Papa bilang pulang ya pulang!"
Teddy duduk di samping kanan Azka. Dia langsung menurunkan kakinya dan tetap bersikap seperti orang sombong.
"Kenapa sih, Azka? Masih cemburu? Aku sudah menikah, sudah punya anak,"
"Tetap aja aku enggak suka,"
"Cemburu kamu tuh kalah deh anak SMA yang baru pertama pacaran,"
"Bodo amat. Intinya jangan bahas, Nagita,"
Dia tidak bisa bersikap menyembunyikan sedikit saja perasaannya jika itu menyangkut Nagita. Azka yang selalu memperlihatkan cemburunya karena dia memang benar cemburu pada Teddy.
"Tuhan itu adil ya. Mempertemukan kalian berdua lagi, memberiku hukuman dan merasakan kehilangan calon buah hati aku. Tapi Azka, jauh dalam lubuk hati aku. Ada rasa sedih saat aku lihat Nagita bahagia, bukan aku enggak mau dia bahagia, tapi bahagia dia bukan sama aku lagi. Tapi sama kamu, sama anak-anaknya. Yang di mana dahulu aku selalu berusaha membahagiakan dia, tanpa sadar aku menyakiti anak kamu, menyakiti perasaan dia. Maaf itu tidak pernah mampu terobati, Azka. Seberapa hebatnya aku berusaha untuk melupakan kejadian itu, semakin sakit pula aku merasakan penyesalan yang di mana aku mengkhianati dia, kehilangan anak aku. Dan, aku kehilangan Reynand. Ada satu hal yang bisa aku pelajari dari masa lalu, yaitu aku enggak bisa mengambil apa yang sudah digenggam oleh pemiliknya, Nagita, Rey, itu milik kamu. Jika aku berharap bisa menunggu Nagita lagi, ternyata kekuatan cinta kalian jauh lebih kuat dibandingkan perasaan aku terhadap Nagita dulu,"
"Bisakah jangan bicarakan ini di depan anak-anak?"
"Anak-anak sudah pergi," Teddy menunjuk kedua remaja itu menjauh dari sana.
"Lalu sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Sampaikan maafku, aku tidak pernah mampu untuk bertemu dia setelah kamu menikahi dia lagi. Tentang Rey, terima kasih karena kamu menghadirkan anak seperti dia, yang pernah memberiku pelajaran bagaimana cara menghargai seorang perempuan tanpa harus menyingkirkan anaknya,"
"Apa istrimu sekarang statusnya sama seperti Nagita?"
"Tidak, dia belum pernah menikah sebelumnya. Tetapi dia mampu menerima anak angkat aku, Azka. Aku mengasuh seorang putri, ketika itu aku bertemu Nagita yang sedang hamil dan secara enggak sengaja kami bertemu di sana,"
"Nagita enggak pernah cerita,"
"Karena dia sayang sama kamu. Enggak mau bahas masa lalu, dan aku enggak sepantasnya tiba-tiba nyapa dia. Dan aku sungguh minta maaf,"
Azka menatap pria itu dengan intens, "Masa lalu itu pernah terjadi juga karena aku, kan? Maka dari itu, aku sudah memaafkanmu. Aku juga tidak dendam, anakku kembali ke sisiku. Nagita juga kembali ke pelukanku setelah sekian lama aku berusaha meyakinkan dia bagaimana kesungguhan hati ini minta dia kembali sama aku,"
"Jadilah Papa yang selalu membimbing Rey, aku suka kamu yang peduli sama Rey dari dulu. Dan aku tahu waktu kalian bertemu saat Nagita masih berstatus istriku, kamu jemput Rey ke sekolah dan bawa Nagita,"
Azka melirik dan mengingat kejadian di mana Nagita hamil dulu dan saat itu pula Rey pindah asuh ke tangannya. "Kenapa dengan kejadian itu?"
"Itu di mana aku melihat kamu mencintai, Nagita. Rey juga kelihatan bahagia, aku ngikutin kalian. Kalian pakai satu mobil, dan tiba di parkiran kantor lagi. Kamu peluk dia saat dia berstatus istriku, tapi di situ juga aku bisa merasakan, bahwa Nagita masih mencintai kamu, sangat masih. Dia hanya sedang berusaha untuk menyembunyikan perasaannyam"
"Iya, aku juga minta maaf dulu,"
"Sampaikan salamku untuk Rey, aku ke ruanganku dulu,"
Azka mengangguk dan bersalaman dengan Teddy berusaha untuk saling memaafkan dengan kejadian yang telah lalu. Azka tidak ingin dendam, dia juga tidak ingin terlalu berlarut dengan rasa bencinya terhadap Teddy yang pernah berstatus menjadi suami Nagita waktu itu.
'Tugasku hanya mencintaimu, membahagiakanmu, dan juga menjagamu beserta keluarga kecil kita' ucap Azka dan tersenyum. Bahwa semua itu telah selesai dia lakukan. Memberikan maaf dan saling memaafkan adalah puncak dari semua masa lalu yang pernah terjadi. Nagita yang sudah memaafkan Teddy. Mengapa dia harus benci terhadap Teddy? Jika istrinya saja sudah menerima masa lalu itu.