RICH MAN

RICH MAN
BERHARAP



Pagi di kediaman kedua orang tuanya, Rey sengaja tinggal di sana sesuai dengan permintaan mamanya. Walaupun dia dan istrinya sudah memiliki rumah yang sudah dibelinya, akan tetapi mamanya selalu meminta dia untuk tinggal di rumah orang tuanya saja, karena suatu waktu dia pergi meninggalkan Marwa sendirian di rumah. Agar istrinya itu tidak kesepian, sang mama pun memberi usul agar ia dan istrinya tinggal di rumah orang tuanya saja, meski sempat menolak akan tetapi pada akhirnya Rey pun setuju atas keinginan istrinya juga.


Niatnya, adalah membangun rumah tangga tanpa campur tangan kedua orang tua ketika mereka bermasalah akan tetapi selama tinggal di rumah orang tuanya juga, orang tuanya tidak pernah ikut campur jika dia dan Marwa seringkali berdebat perihal perbedaan yang dialami oleh keduanya. Orang tuanya mengerti dengan hal itu, dan itu juga yang membuat Rey percaya bahwa orang tuanya benar-benar tidak mencampuri kehidupan pribadinya.


Dia mengenakan setelan rapi, melihat istrinya masih tertidur, rasanya dia begitu tidak tega untuk membangunkan Marwa karena semalam istrinya mendadak demam dan membuatnya begadang.


"Mas," panggil Marwa lirih. Rey yang sedari tadi menatap istrinya mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Mau kerja?"


"Iya, kamu udah enggak apa-apa?"


"Mas bisa enggak usah kerja hari ini? Aku pengin ditemani, Mas,"


Rey yang tidak tega mendengarkan suara lirih istrinya, dia pun mengangguk kemudian mencium kening istrinya. Seusai bulan madu beberapa minggu yang lalu, Marwa lebih banyak di kamar dan memenuhi kebutuhannya setiap waktu. Mulai dari membersihkan kamar, hingga makanan. Akan tetapi kali ini dia tidak akan membiarkan istrinya kelelahan karena demam itu.


"Kalau kamu larang, aku pasti enggak bakalan ke kantor," ucapnya pelan dan melonggarkan dasinya, perlahan dia membuka dasi itu dan mengelus puncak kepala istrinya, Marwa tiba-tiba meneteskan air mata yang membuat Rey terkejut. "Kamu kenapa? Aku ada salah?"


Marwa menariknya kemudian memeluknya. "Jangan ke mana-mana ya!"


Rey berbaring di samping istrinya kemudian mencium kening perempuan itu. "Sayang, kenapa? Enggak enak badan malah manja gini, kita ke dokter yuk!" ajaknya pelan. Akan tetapi istrinya justru menolak, sejak semalam Rey berusaha membujuk istrinya agar mau ke dokter.


"Enggak mau, takut disuntik,"


"Mana ada di suntik sih, sayang. Kita periksa, kamu dikasih obat," jelasnya.


"Kamu temenin, kan?"


Rey mengangguk kemudian memeluk istrinya, mungkin hanya perasaannya saja atau karena dia baru menyentuh Marwa dan tidak tahu bahwa datang bulan istrinya rutin atau tidak, yang dia ketahui bahwa kadang datang bulan itu datang sebulan dua kali, atau kadang rutin setiap bulannya, bahkan ada pula yang datang bulan dua bulan sekali.


Rey segera menepis pikiran tentang Marwa yang hamil atau tidak, dia tidak ingin jika nanti bahwa istrinya tidak hamil, justru itu yang membuat dia dan istrinya terlalu berharap begitu besar, akan tetapi justru menerima kenyataan pahit.


"Mas, pengin sup ayam sama wortel,"


Rey mengangkat alisnya, mendengar itu Rey bergidik ngeri. Sepagi itu istrinya meminta makanan. "Tapi aku mau yang panas,"


"Aku suruh Bibi atau Mama yang buatin ya,"


Marwa menggeleng, "Kamu yang buat!"


Rey menggaruk kepalanya, "Aku enggak bisa buat yang begituan, Marwa. Nanti enggak enak,"


"Enak atau enggak, aku bakalan tetap makan. Sama kayak kamu yang waktu itu makan kue buatan aku yang udah kamu buang itu, kan?"


Rey tersentak mendengar pernyataan sang istri, mengingat itu dia jadi ingat bahwa dia pernah membuang makanan yang telah dibuatkan oleh Marwa. Pertengkaran itu pernah menjadi sumber pemisah antara keduanya. Dan kenangan yang lalu pula membuat mereka menyatu hingga sekarang ini.


"Mas, mau kan?"


Rey menatap istrinya sejenak dan menyeka rambut sang istri ke belakang telinganya, "Iya, aku bakalan buatin, pasang jilbabnya. Mas bakalan keluar, tunggu sini. Nanti gimana-gimana kamu tuh turun, atau aku bawain ke sini,"


"Mas bawain kemari,"


Rey mengangguk, dia bangun dari tempat tidur dan mencium sang istri. Mengganti setelan kerjanya dengan kaus biasa, sejenak dia melihat istrinya memejamkan mata lagi. Dia pun akhirnya keluar dari kamar dan turun ke tempat makan.


Rey menggeleng karena ingin menemani sang istri yang sedang tidak enak badan. "Lain kali aja, Ma. Marwa sakit, pengin ditunggu. Ma, Mama sibuk enggak?"


Perempuan itu menoleh sejenak. "Enggak, Rey. Memangnya ada apa?"


"Gini loh, Ma. Marwa pengin dibuatin sup ayam sama wortel gitu, pagi-pagi banget. Terus dia mau aku yang buatin, enggak mau dibuatin sama Mama ataupun sama Bibi,"


Azka yang tadi sedang santai mengunyah makanannya menatap ke arah putranya. "Ngidam kali, Rey. Udah dibawa ke dokter?"


"Belum, dia enggak mau. Taku sama jarum suntik,"


"Cek gitu tanggal datang bulannya, kamu suaminya masa enggak tahu,"


"Feeling aku dia hamil, Pa. Tapi enggak mau gitu tiba-tiba bilang sama dia, aku pengin pastiin ke dokter dulu, takut nanti harapan aku enggak sesuai sama kenyataan,"


"Terakhir datang bulan kapan?" tanya Mamanya sambil mengeluarkan beberapa bahan masakan yang akan digunakan.


Rey duduk di kursi tempat makan dan meraih segelas air lalu minum, kemudian dia meletakkannya lagi, "Beberapa hari setelah aku tahu kalau dia itu Marwa, seingat aku sih itu, Ma,"


"Itu terjadi kan udah lama banget, Rey. Beneran hamil kali, coba deh kamu ajak ke dokter,"


"Enggak mau, Ma. Dia udah aku suruh,"


"Ya sudah, nanti Papa telpon dokter, suruh kemari. Biar kamu sama dia itu enggak ribut cuman gara-gara hal spele, ingat waktu itu kalian ribut cuman gara-gara sprei,"


Rey melotot ketika papanya berkata demikian, dia sangat ingat bahwa beberapa minggu yang lalu dia dan Marwa tidak saling tegur selama satu hari penuh karena pertengkaran itu, hingga pada akhirnya kedua orang tuanya memberikan penjelasan yang membuat keduanya akur kembali. Meski begitu, orang tuanya berusaha menjadi jalan tengah untuk mereka. Tidak terlalu ikut campur untuk hal lebih mendalam lagi.


"Papa masih ingat yang itu,"


"Iyalah, gimana enggak ingat kalian bertengkar di tempat nyuci pakaian, lain kali kamu tuh jangan ribut cuman gara-gara hal itu, Mama sama Papa mikirnya kalian bakalan beneran pisah loh waktu kamu belum tahu Marwa itu siapa. Eh malah ribut lagi gara-gara sprei,"


"Pa," tegur istrinya. Azka menoleh sesaat dan menyeringai.


"Jadi ingat Mama waktu hamil si kembar, minta rujak pagi-pagi. Apalagi harus buatan Papa,"


"Enggak salah lagi, Mama yang nurunin manja ke Marwa ini mah," protes Rey.


"Jangan lupakan bagaimana penderitaan Papa waktu ngidamin kamu, Rey. Papa sampai ngesot, Papa sampai muntah-muntah tiap pagi, Oma kamu sampai protes ke Papa waktu itu,"


"Sakit banget, Pa?"


"Kalau kamu pikirin sakitnya, ya sakit banget, Rey. Jangan protes kalau perempuan ngidam, Papa udah ngerasain gimana sakitnya, jadi kalau istri kamu minta yang aneh-aneh turuti ya! Ini masih belum seberapa, belum Mama dulu minta makanan tengah malam, ngambeknya nomor satu, belum lagi--"


"--Mulai lagi deh, Pa," ucap Nagita dengan ekspresi yang tidak suka.


Azka menggaruk kepalanya, sedangkan Rey tak berkomentar apa-apa sebab itu menyangkut tentang dirinya dulu ketika masih berada dikandungan sang Mama.