
Semenjak pertengkaran itu. Setiap kali dia pulang bekerja, dia bertemu dengan asisten rumah tangga yang sedang memasak untuk makan malam seperti biasanya. Semenjak bertengkar, Marwa menghindarinya. Sudah menjadi hal yang biasa bagi Rey ketika dia dan istrinya bertengkar justru jauh lebih diam-diaman dibandingkan dengan saling meneriaki atas kesalahan masing-masing.
Ia berkata bahwa selama ini dialah penyebab masalah dalam rumah tangganya. Di dalam keluarga yang baru saja dibinanya. Apalagi dengan kehadiran calon buah hati. Rey tidak ingin menggunakan kekerasan hanya untuk berdamai dengan cara memarahi istrinya karena tidak menegurnya sama sekali.
Bagaimana cara untuk memperbaiki kesalahannya sekarang ini. Apalagi ketika tidur, Marwa sepertinya hanya diam tanpa ada kata apa pun seperti biasanya. Marahnya dalam diam, tapi Rey berusaha untuk tetap tegar menghadapi sikap istrinya itu. Dia tahu bahwa istrinya bukan tipikal orang yang keras kepala.
Setiap kali pulang bekerja minuman selalu saja menyambutnya bahkan setelah mandi pun. Marwa membawakan jus atau air putih ke dalam kamarnya. Namun, kali ini dia hanya bertemu dengan bibi di sana. Rey melangkah menuju dapur dan mengambil gelas di sana untuk minum meredakan tenggorokannya yang terasa sangat kering. “Bibi, Marwa sudah makan?”
“Sudah, tuan. Tadi pamit mandi setelah masak,”
“Marwa masak?”
“Iya tuan. Nyonya masak terus pamit mandi katanya sih mau pergi. Nggak tahu mau ke mana,”
Rey tidak pernah mendapati istrinya tidak pernah berpamitan kepadanya. Biasaya perempuan itu selalu saja bilang ke mana pun dia pergi kepada Rey. Akan tetapi sekarang ini justru lebih banyak diam dibandingkan dengan bicara kepadanya.
Terkadang ada saja hal yang tidak kita sadari mulai membuat sebuah hubungan menjadi renggang. Hal yang kita anggap baik-baik saja terkadang diam-diam menyembunyikan hal yang begitu baik dan dapat menghancurkan apa pun yang ada di dalamnya. Sama seperti kebahagiaan yang dirasakan oleh Rey. Barangkali selama ini dia terlalu bahagia, kemudian diam-diam dia menyembunyikan suatu kebohongan yang dia anggap baik-baik saja justru sedang mengancam kebahagiaannya saat ini.
Rey baru kali ini mendapati Marwa yang mendiaminya beberapa hari. Perempuan itu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Atau terlalu dalam Rey membuat luka hingga membuat istrinya menjadi seperti sekarang ini. Biasanya dia yang paling mengerti dan langsung menyambut kedatangan Rey ketika pulang bekerja. Tapi, kali ini seolah itu adalah harapan yang ingin sekali terulang oleh Reynand.
Baru saja dia hendak ke kamar, bel pintu terdengar begitu nyaring di dalam hingga membuat Rey langung keluar dan seperti janji yang telah dilontarkan oleh papanya bahwa pria itu akan datang bertamu sore ini. Dan benar saja ketika dia membuka pintu, kedua orang tuanya datang tanpa membawa kedua adiknya. Rey sendiri tidak ingin terlalu ambil pusing mengenai adiknya yang tidak ikut. Dia langsung mempersilakan kedua orang tuanya masuk dan duduk di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian dia memerintahkan bibi untuk membuat minuman kepada orang tuanya karena dia tahu bahwa Marwa masih mandi di dalam sana.
“Marwa ke mana?” tanya mamanya yang sedari tadi mencari keberadaaan perempuan itu akan tetapi tidak menemukan adanya Marwa di sana.
Rey langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Marwa lagi mandi, Ma,”
“Oh, ya sudah,” hanya itu jawaban singkat dari mamanya. Rey tidak pernah sekalipun mendengar ucapan singkat itu. Biasanya dia langsung pergi ke kamar untuk mencari keberadaan menantunya. Akan tetapi berbeda dengan kali ini.
Beberapa saat setelah mereka ngobrol. Marwa keluar dengan membawa tas dan langsung bersalaman kepada kedua mertunya. “Loh, kamu mau ke mana?” tanya Nagita yang terkejut melihat menantunya hendak pergi tanpa diberitahu oleh Rey sebelumnya.
“Mau pergi ke rumah orang tua aku, Ma. Papa barusan telepon, katanya Mama sakit, jadi aku buru-buru ke sana,” jawab Marwa. Rey merasa bersalah ia pikir bahwa kepergian Marwa kali ini adalah karena dirinya yang sudah membuat kesalahan itu. Akan tetapi setelah mendengar kejadian yang sebenarnya adalah karena mertuanya sakit, Rey merasa sangat pengecut karena tidak menjenguk mertuanya.
“Nyonya, taksinya sudah datang,” panggil bibi. Marwa beranjak dari tempat duduknya dan langsung bersalaman kepada kedua mertuanya dan Rey. “Mas, aku pergi dulu ya. Maaf ini mendadak banget,”
Rey mengangguk. Sehebat itu istrinya tetap merasa baik-baik saja ditengah pertengkaran mereka. Saat ada mertuanya justru Marwa menyapa dengan sangat ramah. Baru saja tubuh Marwa tenggelem dibalik pintu utama. “Tuh, istri kamu masih berlaku baik sama kamu. Meskipun kalian dalam keadaan bertengkar. Tapi di depan Mama sama Papa dia seperti itu. Bukannya kamu bilang kalau dia diami kamu selama beberapa hari?”
“Pesan Mama sama kamu tuh ya nanti kamu susul Marwa. Kasihan kalau dia pergi apalagi perutnya udah kelihatan tuh, sayang nggak sih kamu sama istri kamu,” protes mamanya.
“Astaga Mama kenapa bilang seperti itu. Ya sayang banget dong,”
“Sayang, tapi nggak gitu juga perlakuan kamu. Mertua sakit kamu nggak tahu,”
Rey mengeluarkan ponselnya karena merasa tidak nyaman dengan posisi duduknya. Dia pun langsung melihat ponselnya begitu banyak panggilan tidak terjawab dari mertuanya. Kali ini dia benar-benar merasa bersalah lagi. Belum selesai urusannya dengan Marwa. Kali ini justru melihat papa mertuaya yang menghubungi belasan kali, tapi tidak ada satupun yang dia respon.
“Ma, Pa. Papanya marwa telepon,”
“Ya jawab!”
“Tadi, Pa. aku nggak angkat karena dijalan,”
“Ya ampun ini anak. Belum juga kelar masalah satu, malah ada masalah lagi. Ya udahlah, Mama sama Papa pulang. Sekarang kamu pergi ke rumah mertua kamu, jengukin! Jangan sampai kamu tuh nggak ke sana, nginap. Wajar aja tadi istri kamu buru-buru banget,”
“Mama sama Papa mau ngomongin apa?”
“Nggak ada. Cuman sengaja datang mau lihat istri kamu masih marah atau nggak,” jawab mamanya disertai dengan tawa yang dipaksan.
Begitu orang tuanya pamit. Rey langsung mandi membersihkan dirinya agar segera bisa ke rumah mertuanya menjenguk mama mertuanya yang sedang sakit.
Tiba di sana, Rey langung mengetuk pintu. Akan tetapi orang-orang di rumah sepi dan hanya bertemu dengan asisten. “Nyonya ada di rumah sakit,” jawab asisten di sana. Rey pun langsung menghubungi Marwa. Dan istrinya langsung memberitahukan alamat rumah sakit tempat mertuanya di rawat. Rey pikir mertuanya di rawat di rumah.
Dan tiba di rumah sakit. Mama mertuanya terbaring di sana katanya kekurangan darah dan lagi beberapa hari ini merasa sangat pusing dan tubuhnya sakit. “Mama sakit apa sih, Pa?” tanya Marwa yang di sana sedang membersihkan tubuh mamanya dengan tisu basah.
“Dokter bilang capek aja sih. Sama kurang darah juga. Jadi, semoga cepat sembuh.”