
"Daddy!"
Reynand membangunkan Azka pagi-pagi karena ingin diantar sekolah. Tetapi baru saja ia melihat kesamping Azka bahwa ada ponsel pria itu dekat bantal sambil menghadap wajahnya.
"Mama Reynand ♡," Rey membaca nama yang terpampang di layar ponsel Azka. "Daddy sama Mama punya hubungan apa?" Gumam Rey diam-diam ia meraih ponsel Azka dan ingin tahu apakah mama dan Daddy-nya memiliki hubungan atau barangkali berencana untuk kembali.
Rey segera mengambil tabletnya ketika menemukan foto keduanya begitu mesra. Selama ini Daddy dan mamanya bertemu diam-diam dibelakangnya. Rey tak masalah dengan itu, sungguh Rey merasa sangat bahagia jika memang keduanya kembali lagi. Harapannya adalah keluarganya utuh kembali.
Melihat layar ponsel dan melihat bahwa keduanya telah melakukan video call selama sembilan jam lebih. "Dasar Mama sama Daddy diam-diam main dibelakang aku," gumamnya setelah berhasil mengirim foto ke tabletnya. Rey pun mengembalikan posisi ponsel Azka ke tempat semula kemudian pergi lagi.
"Mama sama Daddy, dari dulu aku pengin lihat kalian seperti ini," Rey mencium layar tabletnya ketika melihat Azka mencium kening Nagita di foto. Keduanya nampak mesra. Rey tahu orang tuanya diam-diam bermain di belakang karena takut ketahuan oleh Rey maupun Om Dimas. Tetapi pagi itu ia terharu saat Nagita nampak tersenyum bahagia saat dipeluk dan dicium keningnya oleh Azka.
Pagi itu Rey langsung ke kamar Azka untuk membangunkan Daddy-nya. Di sana diam-diam ia ingin mengagetkan Daddy-nya yang tengah berbicara dengan Nagita.
"Cium dulu,"
"Nggak mau, belum mandi,"
"Ya sudah kamu mandi sana!"
"Kamu juga, Mas. Hari ini kamu antar Rey sekolah kan?"
"Iya, aku antarin dia, nanti siang kita makan siang bareng, mau?"
"Rey juga,"
"Nggak Nagita, kita berdua aja yang pergi. Kalau dia tahu kita sering ketemu, yang ada dia cerita sama yang lain kalau kita pacaran,"
Rey tersenyum mendengar Azka berkata demikian.
"Cium dulu, udah gitu kita mandi,"
"Iya, sayang,"
"Mamanya Rey suka banget godain aku sekarang ya,"
"Siapa yang mau di cium coba?"
"Sana gih,"
"Muach dulu!"
"Mu-"
"Daddy!" Rey mengagetkan Azka dengan cara muncul tiba-tiba. Azka yang spontan menjatuhkan ponselnya dan menarik napas panjang.
"Rey ngagetin Daddy, ada apa sih?"
"Daddy, hari ini ada Ujian Nasional loh. Daddy nggak bisa antarin aku?"
"Bisa, Daddy belum mandi,"
"Daddy teleponan sama siapa pagi-pagi?"
"Teman,"
"Teman apa pacar Daddy?"
"Kalau Daddy punya pacar emang Rey mau?"
"Kalau itu Mama sih nggak masalah,"
"Kalau bukan?"
"Ogah,"
"Kenapa?"
"Mana mau aku punya Mama tiri, Daddy. Maunya sama Mama Nagita yang paling cantik yang bisa buat Daddy tidur nyenyak," Azka meraih ponselnya dan ternyata telepon sudah ditutup.
"Rey, Daddy boleh ngomong?"
"Boleh,"
"Daddy izin sama Rey Daddy mau pacaran sama Mama,"
"Kenapa izin? Kalau memang Mama sama Daddy saling sayang, aku suka kok. Daddy juga kayaknya bahagia banget sama Mama,"
"Memangnya Rey lihat Daddy teleponan sama siapa?"
"Tahu, itu Mama. Bahkan Daddy teleponan sama Mama tiap malam. Terus udah gitu lama banget,"
"Rey, Daddy pengin perbaiki keluarga kita," Azka memegang kedua tangan Rey dan mengatakan hal itu. Rey yang tak kalah bahagia mendengar pernyataan Azka pun langsung tersenyum.
"Daddy nggak bohong?"
"Daddy sama Mama pacaran baru beberapa minggu Rey. Daddy harap Rey ngerti, Daddy keluar malam, Daddy nggak jemput, Daddy nggak nemenin Rey makan malam. Bukan karena Daddy sibuk kayak dulu, tapi Daddy sedang berusaha buat dekati Mama. Bagaimanapun juga Daddy sayang banget sama Mama, nggak apa-apa sekarang Daddy pacaran dulu. Tapi Daddy janji, kita kumpul lagi,"
"Daddy nggak bohong kan?"
"Daddy nggak bohong, ini lihat!" Azka langsung memperlihatkan foto kebersamaan mereka. Bahkan Rey sudah melihatnya tadi yang ia kirim ke tabletnya.
"Bawa Mama pulang ya Daddy!"
"Tapi sabar ya! Daddy bakalan berjuang buat Mama, buktiin ke Om Dimas kalau Daddy benar sayang sama Mama,"
"Ya udah sana mandi, aku berangkat sama sopir,"
"Oke, nanti suruh sopir yang jemput ya! Daddy ada urusan,"
"Sama Mama?"
Azka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, Daddy mau jalan sama Mama,"
"Dasar anak udah gede gini malah pada pacaran. Ingat umur Daddy!" Ledek Reynand. Azka langsung pergi ke kamar mandi tak menghiraukan ucapan Rey.
*****&*****
Setelah kelulusan Reynand, mereka berdua memang menepati janjinya untuk ke sekolah Rey bersama, sesuai dengan apa yang diminta oleh Rey. Bahkan mereka lebih mesra dibandingkan permintaan Rey.
Hari ini Nagita dititipkan Rey karena Azka akan pergi ke luar negeri untuk beberapa minggu ke depan. Bahkan untuk mendaftarkan Rey ke SMP, Nagita dan Rey akan pergi berdua. Azka sudah memberitahukan sekolah mana yang harus menjadi tujuan Reynand. Soal pendidikan Azka lebih berperan, Nagita hanya mengikuti saran dari Azka.
"Kak, kakak mau berangkat kerja?"
"Iya, ada apa?"
"Kakak nggak nunggu Rey dulu? Dia mau datang sama Mas Azka, katanya mau dititip beberapa minggu,"
"Belum, Mas Azka nggak bisa pergi daftar. Dia suruh aku pergi daftarin dia sekolah,"
"Nanti sama kakak,"
"Kakak masih marah sama Mas Azka?"
"Nagita, kalau memang untuk mengurus sekolah dan segala keperluan Rey, silakan. Jika untuk kembali, maaf, kakak nggak izinin,"
Nagita mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan Dimas sendirian. Ia berpacaran baru beberapa bulan bersama dengan Azka. Pria itu benar-benar keras kepala dan tak main-main soal restu untuk keduanya.
Cukup lama Dimas pergi ke kantor tanpa menunggu kedatangan Reynand dan Azka. Sementara Viona dan anaknya pergi ke rumah orang tuanya pagi-pagi tadi karena ada acara keluarga.
Sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya. Nagita langsung keluar menyambut kedatangan Rey dan Azka. Setelah mempersilakan untuk masuk, Rey justru meninggalkan mereka berdua. Nagita tahu bahwa Rey memang mengetahui hubungan mereka. Namun tidak dengan Dimas dan keluarga yang lain. Bahkan Azka dengan begitu apik untuk tidak memberitahukan bahwa mereka berpacaran diam-diam.
"Kamu lama di sana?"
"Beberapa minggu aja kok,"
"Cepat pulang!"
"Iya, bakalan cepat pulang kok. Jaga Rey baik-baik! Nagita aku sudah janji sama Rey kalau kita akan kembali lagi,"
"Aku ngomong saka Kak Dimas. Sepertinya memang tidak direstui,"
"Percayalah, aku akan berjuang untuk keluarga kita. Demi Rey, dan demi kebahagiaan kita nanti, kamu mau?"
"Aku nunggu kamu pulang, Mas,"
"Aku berangkat ya!"
"Hati-hati di sana! Jaga hati, jangan lirik-lirik perempuan lain,"
"Iya, udah nggak minat sama yang lain kalau yang sekarang lebih cantik,"
Azka mendekat ke arahnya. Nagita mundur beberapa langkah, akan tetapi Azka menahan punggungnya. Perlahan wajah peia itu mendekat, Nagita nampak ragu. Namun Azka memberikannya senyuman, perlahan ia menutup matanya saat Azka menciumnya.
"Ciuman pertama untuk pacaran kita," ucap Azka perlahan. "Aku segera kembali, Nagita," perlahan, Azka menciumnya lagi namun berbeda. Kali ini lebih lembut lagi. Nagita tak pernah merasakan ciuman Azka selembut ini dulu. Namun ia hingga tak sadarkan dirir saat membiarkan Azka menciumnya. "Maaf, aku janji nggak bakalan sejauh ini,"
"Hmm," Nagita memeluk Azka. Seolah itu adalah LDR mereka yang pertama. Jujur, mereka seringkali bertengkar karena Teddy masih saja muncul saat Azka ke butiknya. Tetapi Nagita bukannya tak menghargai, cara Teddy dulu sangat keterlaluan. Memberikan kesempatan Azka kembali bukan semata karena Rey, tetapi perjuangan Azka yang selalu membuatnya kagum. Mulai dari berani menjenguknya waktu di rumah sakit. Dan diam-diam menjadikan Rey alasan agar bisa bertemu.
Kali ini yang perlu dilakukan adalah meluluhkan hati Dimas. Membuktikan bahwa cinta keduanya memang tidak bisa dipisahkan. Keduanya bertatapan dengan sangat lekat, Azka menyingkap rambut Nagita. "Kamu milik aku, Nagita," ia tak bisa berkutik saat Azka mencium lehernya. Hingga menimbulkan suara karena Azka sepertinya sedang mencupang lehernya.
"Aku kembali untuk kalian berdua, tanda ini milik aku, Nagita," Nagita mengangguk. Ia menarik Azka dan ikut memberikan tanda di leher Azka.
"Nagita, perempuan itu malu kalau di kasih tanda. Kalau cowok,pasti bakalan bangga dikasih cupang. Itu artinya istrinya sangat hebat diranjang,"
Nagita membelalakan matanya saat Azka demikian. "Aku pamit, bilang sama Rey kalau aku berangkat. Jangan lupa sembunyikan lehermu di depan Dimas, atau nggak dia bakalan mennginterigasi kamu,"
Nagita cemberut, sesaat itu Azka mencium keningnya dan berangkat. Semenjak menjadi bos di butik. Nagita semakin rajin perawatan untuk tubuhnya. Bahkan Azka pun sering memarahinya jika pakaiannya terlalu terbuka. Berbeda dengan Rey yang justru senang menggoda Azka. Ia percaya bahwa Azka benar-benar ingin keluarganya utuh. Nagita pun hanya percaya pada Azka, setelah dicium tadi, ia merasakan ada yang berbeda dari Azka.
Nagita beranjak ke kamar Rey. Sebelum bercerai Dimas memang merenovasi rumah agar menjadi lebih luas. Dan sekarang rumah itu tak kalah besarnya dengan rumah lama yang dihadiahkan oleh Azka waktu mereka menikah dulu.
"Ma, tadi aku belum sarapan. Aku pengin dimasakin nasi goreng boleh?"
Nagita menghampir Reynannd dan langsung membantu anaknya merapikan pakaian ke lemari. "Iya, sekarang ayo temani Mama masak! Kita masak bareng ya!"
"Boleh. Mama, Daddy lama ya?"
"Nggak, Daddy nggak lama. Cuman beberapa minggu,"
"Tahu nggak Ma, semenjak Mama pacaran lagi, aku bahagia Mama bisa buat Daddy bahagia gitu,"
"Rey, Mama juga,"
"Mama kalau Daddy ngajak balik mau?"
"Sayang, untuk beberapa saat ini begini saja dulu. Mama bukannya nolak, tapi Mama sama Daddy harus buktiin dulu sama Om Dimas,"
"Ya juga ya,"
"Sabar ya sayang, Mama juga pengin bahagiain Rey,"
"Jangan balik demi aku, Ma. Tapi karena kalian saling membutuhkan,"
Mereka berdua menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Nagita langsung mengucir rambutnya dan mulai mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas, membiarkan Reynand yang memotong sayur dan sosis.
"Mama, tanda yang di kasih Daddy jangan dipamerin!" Nagita spontan menutup lehernya dengan tangan kirinya. Ia lupa bahwa tadi Azka mencupangnya di leher. "Tenang aja Ma, Rey nggak bakalan cerita kok, Mama tenang aja. Ma aku sudah besar, ngerti sama yang begituan, sini tangannya, Ma,"
"Ngapain?"
"Mama buat tanda lagi di tangan Mama. Biar nanti kalau nggak sengaja, alasan aja aku yang ngerjain Mama,"
"Rey udah besar. Nanti di marah sama Om Dimas,"
"Mama, aku sayang sama Mama dan Daddy. Nggak apa-apa di marah, biarin aja. Daripada Mama di marahin sama Om Dimas gara-gara tanda itu,"
"Rey, Mama tahu ini salah. Mama sama Daddy tahu kalau yang kami lakuin ini salah. Mama mohon jika memang ini Rey lihat, jangan pernah di tiru,"
"Mama, Rey tahu kok mana salah dan benar. Aku juga ngerti gimana Mama berusaha untuk tetap ada untuk Daddy, dan berusaha agar Mama tetap sayang sama Daddy. Ma, ingat janji kalian dulu sebelum pisah buat ngasih adik? Aku mau kalian tepati itu, jangan buat aku berharap lagi ya, aku mohon, Ma. Sudah cukup aku kehilangan Syakila, Ma,"
"Reynand?"
"Aku capek pura-pura, Ma. Waktu Mama nikah sama Om Teddy, aku harus pura-pura bahagia. Padahal aku pengin Mama sama Daddy. Tapi karena waktu itu setiap bahas Daddy Mama nangis, jadi aku harus diam dan nggak bahas Daddy. Pura-pura benci sama Daddy, walaupun sebenarnya aku sayang sama kalian, aku cuman pengin punya Mama dan Daddy yang utuh, bisa kan?"
Hatinya tersentuh, ia pun memeluk Reynand yang tengah memotong sosis untuk bahan masakan mereka nantinya. Nagita tahu bahwa Reynand tak akan bohong perihal hatinya. Jika dahulu Rey memang tidak bisa menerima, seharusnya anak itu tak membiarkan dirinya untuk jatuh cinta kepada Teddy. Tetapi takdir memang terkadang tak pernah berpihak padanya. Jika memang Azka yang terbaik untuk memperbaiki apa yang telah rusak. Biarlah mereka berusaha untuk memperbaikinya. Jika tidak, mereka berharap bahwa hati mereka dilapangkan agar tak ada dendam dalam hati keduanya.
Perlahan Reynand membelai rambutnya ketika anak itu membalas pelaukannya. "Jadi Mama nggak boleh sedih lagi. Kalau memang Daddy melakukan hal yang salah, kita pergi dari hidup Daddy. Mama, perempuan paling hebat yang aku punya. Tidak peduli seberapa sayangnya aku pada Daddy, jika Daddy nyakitin lagi, ayo kita pergi jauh dan jangan balik lagi, Ma!"
"Rey, sebenarnya waktu Rey didiami oleh Om Teddy, Mama berniat untuk pergi. Udah gitu Mama pengin pisah, tapi Om Teddy nggak mau,"
"Kenapa Mama mau pisah?"
"Karena Mama nggak mau anak yang sudah berjuang bersama Mama dulu dicampakkan. Waktu Rey lahir, Mama sama Rey pertaruhkan nyawa berdua. Di sana Daddy nungguin, tapi Mama nggak bisa jelasin, nanti kalau udah dewasa pasti ngerti juga kok,"
"Yang lalu biarlah berlalu, Mama. Jangan diingat lagi, sekarang Mama harus fokus jalani hubungan sama Daddy. Kalau Mama pengin curhat, aku dengeri kok. Asal jangan curhat tentang Om Teddy,"
"Rey marah sama dia?"
"Marah banget, Ma. Karena dia Mama kecelakaan waktu itu. Tapi ya sudah jangan dendam, bu guru bilang waktu itu, nggak boleh dendam. Adik meninggal juga mungkin karena nggak mau punya Papa seperti Om Teddy. Sama kayak Syakila, dia meninggal juga pasti karena nggak mau punya Daddy seperti Daddy Azka yang udah sia-siain dia walaupun aku juga di abaikan oleh Daddy waktu itu,"
"Ayo berjuang bertiga sayang! Jangan pisah lagi, Mama nggak mau buat kamu sedih."