RICH MAN

RICH MAN
MENANTI KEBAHAGIAAN



Beberapa hari setelah


pernikahan mereka, Azka mulai pulang larut malam. Makanan yang ia masak


tak pernah disentuh oleh suaminya. Akan tetapi hal itu tidak pernah


menyurutkan hatinya untuk berhenti begitu saja untuk menjalankan


tugasnya sebagai seorang istri.


Bahkan beberapa kali


juga Azka dengan sengaja membawa perempuan ke apartemen mereka dan


mengunci pintu kamar sementara Nagita harus tertidur di sofa ruang tamu,


meski hatinya begitu sakit, tidak mungkin baginya untuk mengeluh sebab


ia tahu posisinya memang tidak pernah dihargai. Pernikahan terjadi hanya


karena tanggung jawab saja, tidak pernah ada cinta. Nagita sadari itu,


ia harus menahan rasa sakitnya sendiri, diam memendam tanpa berani


mengatakan apa pun.


Azka selalu melewatinya


begitu saja, tidak ada tegur sapa sekali pun. Keberadaannya di apartemen


itu hanya sebagai pesuruh. Jujur saja andai saja tidak ada bayi hasil


perbuatan brengsek Azka, ia sudah meninggalkan pria itu. Tidak akan


pernah bertahan walau mencintai sekali pun, tetapi ia tahu bahwa anaknya


juga butuh status seorang ayah. Mau tidak mau ia harus siap menerima


risiko tersebut.


Pagi hari ia harus


bangun lebih awal untuk menyiapkan setelan Azka dan juga sarapan. Hanya


sarapan yang diterima dengan baik, dan juga minuman yang ia buatkan.


Selain itu, tentu semuanya akan kembali ke sedia kala lagi.


****


"Ingat status lo udah


nikah, malah mainnya ke club. Emang lo nggak mau lakuin sama istri lo


sendiri, sayang di anggurin," Damar berusaha untuk mengingatkan. Akan


tetapi tidak diindahkan oleh Azka.


"Gue nggak nafsu, lihat dia aja gue maunya marah melulu, lama-lama darah tinggi di usia muda gue,"


"Nggak nafsu tapi sekali tembak jadi,"


"Ngingetin melulu, lo. Anjir bentar doang ah gue main,"


"Setan lo tuh ya,"


Azka tak peduli dengan


apa yang dikatakan oleh Damar. Justru ia melanjutkan aksinya untuk


mencari perempuan yang akan menjadi teman kencannya semalaman. Jika


tidak membawa ke apartemen, maka hotel adalah tujuan yang sangat baik


bagi Azka. Mengingat bahwa pernah suatu hari ia membawa perempuan teman


kencannya ke apartemen, alhasil tidak membuat Nagita cemburu, justru


merasa sangat diabaikan begitu saja. Inginnya adalah untuk


menyingkirkan perempuan itu dengan segera dari apartemennya, berharap


bahwa Nagita begitu menyesal telah menikah dengannya, justru sebaliknya


yang terjadi, tak ada reaksi apa pun. Mungkin belum saatnya ia melakukan


hal itu, tidak membawa perempuan mana pun ke tempat tinggalnya.


Beberapa saat kemudian, Azka berada di salah satu hotel setelah membayar seorang wanita sebagai teman kencannya.


"Kamu nggak nginep?"


"Nggak," sambil mengenakan kemejanya dan perempuan tersebut masih terbaring di tempat tidur.


"Denger-denger, kamu sudah menikah. Kenapa nyari perempuan lain? Istri kamu nggak bisa muasin gitu?"


"Bukan urusan kamu,


setidaknya kamu lebih baik melayani saya. Jangan ikut campur lebih jauh


lagi, saya membayarmu hanya semalam. Ingat itu!"


"Dasar pria berhati dingin."


Azka melemparkan


sejumlah uang dan berlalu begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Ia tak


menanggapi ucapan perempuan yang baru saja selesai ia tiduri. Kini ia


pun harus kembali lagi ke apartemennya untuk bertemu dengan istrinya


yang selalu menunggunya. Meski Azka tak pernah meminta, tetapi perempuan


itu selalu melakukannya setiap malam. Tak akan tidur sebelum dirinya


pulang bekerja.


Jam sudah menunjukkan


pukul sebelas malam, Azka menyetir dengan begitu hati-hati. Sebelumnya


ia menyempatkan diri untuk mencari makan malam untuk dirinya sendiri.


Tak pernah peduli dengan pola makan Nagita dan juga mengkhawatirkan


sedikit saja tentang calon bayinya.


Tiba di depan apartemen,


ia mendongakan kepalanya dan menarik napas panjang. Harus berusaha


menerima keadaan kehadiran perempuan itu dalam hidupnya. Hidupnya yang


terasa begitu berantakan setelah kehadiran Nagita. Jujur saja tak pernah


ia mendapati masalah sebesar ini sebelumnya. Hidupnya selalu tertata


bagaikan menjetikkan jari. Namun, kini ia harus menghadapi hidupnya yang


mulai banyak dihadapkan dengan lika-liku.


Ia berjalan pelan dan


membuka pintu apartemen. Benar saja bahwa Nagita duduk di sofa sambil


menyambutnya seperti biasanya. Melayani dirinya dengan sangat baik,


membuka dasi, sepatu dan pakaiannya. Namun, tidak ada celah sedikit pun


masuk tentang perempuan itu dalam hatinya. Justru ada nama yang lain


dalam hatinya. Bukan istrinya.


"Saya sudah siapkan air panas, Bapak mandi saja dulu!"


Azka mulai merasa


jengkel dengan kehadiran perempuan itu. Tetapi saat ingin melukai, atau


membentak, ia melihat perempuan itu berjalan dengan sangat hati-hati.


Menjaga kandungannya dengan sebaik mungkin. Ia hanya bisa menarik napas


panjang sambil bersabar, bagaimana mungkin ia menikahi perempuan yang


jauh lebih muda darinya bahkan tak ada pengalaman bercinta seperti


perempuan lainnya yang selalu menemaninya.


Lagi dan lagi ia harus


melewati perempuan itu dengan sengaja seperti biasanya. Rasa kesal


selalu menguasai Azka setiap kali melihat ke arah perut perempuan itu,


dalam benakknya kenapa harus terjadi? Hal itu sangat disesali oleh Azka.


Jika saja perempuan itu setuju untuk menggugurkan kandungan, tentu saja


semua akan baik-baik saja. Tetapi pikiran tentang membunuh itu selalu


dipikirkan matang-matang olehnya. Setidaknya ia bisa bersabar untuk


beberapa saat kemudian sebelum melepas perempuan itu.


Dalam pikiran Azka, ia


akan melepaskan Nagita kelak setelah melahirkan. Hanya butuh waku


beberapa bulan untuk berada di sisi perempuan itu. Jika saja ia tak


merasa kasihan dengan calon bayinya, tentu saja ia tak akan pernah


menikahi Nagita. Tetapi ia sendiri yang menghancurkan masa depan


perempuan itu. Mau tidak mau dan suka tidak suka ia harus melakukan itu.


Kehadiran buah hati tanpa cinta, terkadang itu yang menyeang pikian


Azka. Tidak dipungkiri bahwa istrinya memang cantik, tetapi untuk


menyentuh, dia tidak pernah berpikir hingga ke sana.


Azka masuk ke dalam


kamar mandi dengan perasaan seperti biasa. Selalu datar, tak pernah


sedikitpun merasa tenang jika sudah kembali ke apartemennya. Ia berendam


untuk menenangkan diri. Bebeapa lama berendam, ia keluar dengan


mengenakan handuk yang dililitkan dipinggulnya.


Saat itu juga ia


menemukan Nagita sudah tertidur di ranjang sambil memegang pakaian yang


akan digunakan oleh Azka. Dalam hatinya ia mengernyit, memandangi wajah


polos. Tidak bisa dipungkiri, antara kasihan dan juga kesal. Bercampur


menjadi satu waktu itu juga.


Nagita hanya tertidur


telentang sambil memegangi pakaian itu, ia menariknya dengan sangat


pelan agar perempuan itu tidak bangun dari tidurnya. Saat itu juga, baju


Nagita tersingkap dan memperlihatkan perutnya yang sedikit membuncit.


Ia terduduk kembali dan mengelus perut perempuan itu.


"Daddy akan bersamamu,


Nak. Maafkan jika nanti kamu tidak akan pernah tahu siapa ibumu,


bagaimana pun juga kamu hadir karena kesalahan Daddy, bukan kesalahan


Mommy. Hidup dengan baik di sana, Daddy akan tanggung jawab, membiayaimu


dengan baik. Jangan pernah khawatir! Kamu akan bahagia hidup sama


Daddy, kamu akan punya Mommy yang jauh lebih baik." Ia menutup kembali


perut Nagita.


Azka keluar dari


kamarnya dan berdiam diri di ruang tamu sambil menyesapi rokoknya.


Hatinya bergejolak memikirkan Deana yang hingga saat ini belum mampu ia


raih, perempuan itu tengah menertawakannya.


Tekadnya tetap bulat,


mendapatkan perempuan itu dan menjadikan perempuan itu ibu dari calon


anaknya kelak. Mengembalikan Nagita kepada Dimas dan tak akan pernah


mengingat kejadian yang pernah dialaminya begitu buruk. Mengasingkan


diri bahkan menganggap bahwa itu tak pernah terjadi. Ia hanya perlu


menunggu hingga Nagita melahirkan, maka kebahagiaan yang sesungguhnya


akan benar-benar terjadi.