RICH MAN

RICH MAN
TAK DISENGAJA



Setahun sudah Nagita


berada di Jepang. Setelah mendapatkan kursus untuk bahasa Jepang. Kini  ia sudah menguasai bahasa itu, bahkan


mendapatkan pendidikan yang baik seperti yang ia inginkan. Nagita sangat


bahagia beberapa waktu yang lalu anaknya datang untuk mengunjunginya bersama


dengan Dimas dan juga Viona. Setelah satu tahun menikah, akhirnya kakaknya itu


diberikan kesempatan menjadi orang tua. Kini Viona tengah mengandung buah hati


mereka. Mendengar kabar itu, Nagit sangat bahagia. Terlebih anaknya juga kini


sudah masuk SD. Nagita semakin bahagia bahwa Rey sudah tidak manja lagi seperti


dulu.


Ingin rasanya Nagita


untuk pulang, tetapi Dimas dan Damar melarangnya. Hari-hari yang Nagita lalui


di sana adalah belajar dan jalan-jalan setiap harinya. Berkeliling di Jepang


memang sangat menyenangkan. Kadang ia membayangkan bagaimana rasanya bisa


berlama-lama bersama dengan anaknya. Tetapi anaknya sibuk dengan sekolah. Bahkan


ia hanya melihat anaknya di wisuda waktu lulus TK dulu, menjadi lulusan terbaik


sangat membahagiakan bagi Nagita. Anaknya itu mampu membuktikan kehebatannya. Nagita


sangat bangga terhadap Rey.


Nagita beres-beres dan


tepat bahwa hari itu adalah hari minggu. Ia berencana untuk pergi ke


supermarket untuk membeli kebutuhannya selama di sana. Kulkasnya juga sudah


tidak apa-apa lagi. Waktu kuliahnya yang padat, dengan tugas-tugas yang


diberikan membuatnya kadang jarang menghubungi anaknya. Tentang Azka, tentu ia


kadang merasa rindu. Tetapi semenjak kesibukannya saat kuliah, Nagita merasakan


begitu banyak perbedaan. Hatinya tidak kacau seperti dulu lagi.


“Begini rasanya tinggal


di negara orang. Mama akan kembali untuk kamu, sayang.” Ucapnya menyemangati


dirinya sendiri. Nagita keluar dari apartemennya untuk pergi ke supermarket. Tidak


seperti dulu, kini ia lebih banyak berjalan kaki dan kadang menggunakan


kendaraan umum. Tidak seperti biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Ia sudah


terbiasa di tempat ini. Bahkan untuk pertama kalinya waktu itu ia langsung


jatuh sakit karena harus membiasakan dirinya dengan iklim yang tak sama dengan


Indonesia. Ia jatuh sakit waktu musim salju. Namun setelah beberapa lama, ia


sudah terbiasa di sana.


Nagita memilih-milih


beberapa makanan yang hendak di bawanya untuk pulang. Meskipun banyak penjual


Bento (Bento bahasa jepang yang memiliki arti bekal makanan yang berisi nasi


dan lauk) ia lebih memilih untuk membuatnya sendiri di rumah dan di bawa ke


kampusnya.


Nagita meraih sebuah


ramen cup yang ada di depannya, namun saat itu juga, tangannya bertabrakan


dengan seseorang. Nagita mengambil ramen yang melewati satu ramen lainnya,dan


orang tersebut mengambil ramen yang ada di depannya. Posisi mereka adalah


bersilang, hingga membuat ramen tersebut jatuh.


“Gomen nasai, daijoubu


desu ka?” Nagita langsung memungut ramen yang terjatuh.


“Daijoubu desu,” jawab


seseorang itu.


Nagita langsung


mengangkat kepalanya saat mendengar orang itu.


“Nagita?”


“Kak Teddy?” ucapnya


pelan. Takut jika yang ia lihat salah.


“Iya ini aku, Nagita


apa kabar?”


“A-aku baik-baik saja. Kakak


ngapain di sini?”


“Aku kerja Nagita. Setelah


menyelesaikan pendidikanku, aku langsung direkrut begitu saja,”


“Hmmm, benarkah?”


“Tentu. Ngomong-ngomong


kamu ngapain di sini?”


“Aku, aku kuliah di


sini, kak,”


“Sejak kapan?”


“Setahun lebih aku di


sini, awalnya kursus bahasa Jepang,”


“Nagita, kalau aku tahu


kamu di sini. Aku dengan senang hati ngajarin kamu,”


“Maaf. Aku nggak tahu,”


Nagita bertemu dengan


kakak kelasnya yang dahulu begitu menjadi siswa paling terkenal. Karena Teddy


adalah siswa berprestasi, tidak salah pria itu mendapatkan pendidikan yang


sangat baik bahkan hingga ke luar negeri.


“Kak Dimas apa kabar?”


“Kamu kenal?”


“Nggak sih. Cuman pernah


dengar dari Kak Damar?”


Damar? Nagita memicingkan


matanya, jangan-jangan yang dimaksud pria itu selama ini adalah Teddy,


seseorang yang menunggu Nagita. Dengan segera ia memukul-mukul pipinya mencari


kesadaran bahwa ini adalah sebuah kenyataan, bukan sebuah mimpi lagi.


“Nagita kamu kenapa?”


“Nggak-nggak. Aku nggak


apa-apa,”


“Kamu masih belum


selesai?”


“Sudah, tinggal beli


ramen,”


“Kamu tinggal di mana?”


“Aku tinggal di


apartemen yang nggak jauh dari sini,”


Suasana itu langsung


begitu canggung. Nagita tak menyangka akan bertemu dengan pria hebat yang dulu


pernah dikaguminya. Namun tak pernah bisa ia miliki, bahkan hingga lulus, ia


tidak pernah lagi bertemu dengan pria itu. Setelah bekerja, Nagita justru


mendapati petaka yang menghancurkan hidupnya.


“Pulang bareng, kamu mau?”


Nagita mengangguk dan


langsung menuju ke kasir. Ia masih tertegun dengan pria tinggi yang ada di


sampingnya kini. Mulai dari senyum, bahkan keramahannya. Tetapi harusnya ia


sadar diri, ia sudah memiliki seorang anak dan kini berstatus sebagai ibu dari


satu anak, dan mantan istri dari bos besar yang membuangnya begitu saja.


“Ayo pulang! Kenapa melamun?”


Nagita mengangguk dan


langsung mengikuti pria itu.


“Malam ini kamu sibuk?”


“Hmmm, nggak,”


“Bisa bertemu di luar?”


“Kakak kan kerja,”


“Nggak, kakak libur,”


“Hmm, tentu. Kita ke


apartemenku?”


“Iya, aku akan


mengantarmu pulang.”


Nagita mengangguk pelan


sambil membawa barang belanjaannya. Mereka berdua berjalan kaki menuju tempat


tinggal Nagita selama di sana.


“Aku tinggal di gedung


ini, dulunya di Shibuya bersama dengan Luna, istrinya Kak Damar. Dulu kami


belajar bareng, tapi semenjak kelulusan, dan memilih tempat yang jauh lebih


dekat dengan rumah sakit, aku memilih untuk pindah ke sini,”


“Ka-kakak dokter?”


“Hmmm, aku mewujudkan


semuanya. Bagaimana dengan cita-citamu?”


“Aku memilih jadi


desainer, aku belajar di sini untuk itu,”


“Semoga berhasil ya. Aku


tunggu kabar baiknya,”


“Kakak kerja di rumah


sakit mana?”


“Nanti kuberitahu kalau


kita bertemu lagi, suatu saat nanti.”


Nagita mengangguk. Hingga


tiba di apartemennya, ia langsung mempersilakan Teddy untuk masuk. Suasana canggung


tercipta lagi, mengingat bahwa sudah lama sekali ia tak berduaan dengan


laki-laki.


“Rey apa kabar?”


Nagita tersenyum, “Dia


baik, bahkan sekarang sudah sekolah,”


“Hmm, semoga dia jadi


anak yang hebat seperti Mamanya,”


“Terima kasih, kak. Ayo


di minum dulu!” Nagita mempersilakan Teddy meminum hidangan yang sudah


dibuatnya bersama dengan beberapa makanan.


*****


Nagita mulai dekat pria


itu. Bahkan sesekali Nagita yang datang ke apartemen Teddy untuk membawa


makanan. Suasana canggung memang seringkali terjadi setiap kali Teddy


‘Jangan terlalu banyak


mimpi, Nagita. Dia hanya kakak kelasmu, dulu. Ingat statusmu!’ ucapnya pada


dirinya sendiri saat itu. Ia telah menunggu di depan apartemen pria itu sejak


beberapa menit yang lalu. Teddy belum pulang bekerja, biasanya pria itu pulang


malam. Nagita sudah menunggu, beberapa waktu kemudian pria itu muncul.


“Sudah lama?”


“Hmmm, baru beberapa


menit yang lalu, kok,”


“Ayo masuk!” ajak Teddy


saat membuka pintu. Tidak ada orang yang ia kenal selain Teddy. Ia hanya


memiliki beberapa teman kuliah, tetapi kebanyakan asli dari Jepang dan beberapa


negara lainnya.


Mereka telah dekat


hampir satu bulan lamanya. Bahkan Teddy tidak pernah sungkan untuk sekadar


mengajaknya jalan-jalan dan mampir ke tempat Nagita.


“Kapan-kapan ajak Rey liburan


ke sini,”


“Iya, nanti aku


usahakan,”


“Aku mandi dulu, ya!”


Nagita mengangguk. Ia langsung mengambil wadah untuk menyajikan makanan yang ia


bawa. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Semua kesulitan yang dialaminya


dibantu oleh Teddy.


Pria itu keluar dari


kamar mandi dan langsung duduk di depannya. Ada meja kecil dan langsung tersaji


beberapa makanan yang Nagita masak sendiri.


Mereka berdua makan


bersama. Berbincang menceritakan begitu banyak hal yang terjadi selama ini. Bahkan


saat diminta untuk jujur, Nagita menceritakan tentang masa lalunya pada Teddy,


tidak ada yang disembunyikan sedikitpun.


Jam sudah menunjukkan


pukul sebelas.


“Kak, aku pulang ya!”


“Nagita, ini sudah


terlalu larut. Menginap saja!”


“Ta-tapi kan?”


“Jangan khawatir, tidak


akan terjadi apa-apa. Aku tidur di sofa,”


Malam sudah mulai


larut, Nagita tertidur di ranjang Teddy. Pria tersebut sudah terlelap di atas


sofa. Melihat hal itu, Nagita langsung memakaikan pria itu selimut. Ia pun


akhirnya itu terlelap.


*****


Teddy bangun sangat


pagi, mengingat dirinya adalah seorang dokter yang harus datang tepat waktu di


tempat kerjanya. Badannya terasa sakit karena harus meringkuk di atas sofa. Mau


tidak mau ia harus melakukan itu karena ada wanita yang begitu ia sayangi


sedang terlelap di atas ranjangnya.


Ia telah tahu semua


masa lalu perempuan itu, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa dirinya tetap


menginginkan Nagita. Akan tetapi suatu hal yang menjadi kekhawatirannya, yaitu


saat ia berjuang nanti untuk perempuan itu, dan justru Nagita kembali lagi pada


masa lalunya. Kini yang harus dilakukan oleh Teddy adalah memperjuangkan


wanitanya dan berusaha untuk menyembuhkan luka masa lalu perempuan yang tengah


terlelap itu.


Teddy telah selesai


mandi dan berpakaian rapi. Namun perempuan itu masih terlelap, dengan melihat


bahan masakan seadanya di kulkas, ia memasak omelet untuk perempuan itu.


“Nagita, bangun!”


Perempuan itu


merenggangkan tubuhnya dan mengucek matanya.


‘cantik’ ucapnya dalam


hati. Ia langsung meminta perempuan itu untuk mandi terlebih dahulu. Sementara itu


Teddy menyajikan sarapan itu di atas meja sambil menunggu Nagita.


Waktunya hanya tinggal


satu setengah jam lagi, tapi ia memilih untuk segera berangkat agar lebih dulu


tiba di sana, meski jarak tempat tinggal dan rumah sakit dekat. Tetapi Teddy


sudah terbiasa berangkat lebih awal agar dirinya terbiasa disiplin.


“Kakak yang masak?”


“Tentu saja, memangnya


siapa lagi?” ucapnya sambil tersenyum


“Kenapa sausnya


berbentuk hati dan juga senyum?”


“Itu artinya biar hati


kamu selalu senang, Nagita. Nggak ada kesedihan yang harus kamu rasakan lagi,”


“Kakak ada-ada saja,”


“Cobain dulu!”


Nagita mengangguk. Teddy


hanya menatap perempuan yang ada di depannya kini. Meski sudah menjadi ibu satu


anak, Nagita tetap begitu cantik di matanya. Dari dulu ia mengagumi perempuan


itu, akan tetapi ia tidak pernah mampu mengutarakan perasaannya. Namun, suatu


waktu ia akan mengungkapkan rasa yang terpendam selama ini di hatinya. tidak


mungkin ia akan terus merasakan jatuh cinta sendirian seperti itu. Bertepuk sebelah


tangan itu sangat melelahkan.


“Enak?”


“Hmmm,”


“Enak atau nggak?”


Teddy mulai merasa bahwa masakannya itu tidak enak.


“Enak banget,” jawab


Nagita dan langsung menyantap makanan itu. Teddy yang tadinya sangat deg-degan


kini langsung tersenyum. Ia menarik hidung Nagita hingga perempuan itu mengaduh


karena perbuatannya.


“Kak, sakit tahu!”


“Biarin, emangnya enak?


Kamu ngerjain kakak duluan,”


“Ih, aku bercanda tahu


nggak,”


“Nagita,”


“Iya?”


“Festival nanti, kamu


pakai yukata untukku!”


“Heh, Yukata?”


“Iya, nanti kita beli


bareng. Buat kamu, pokoknya festival kembang api, kita pergi,”


“Hmmm, aku mana bisa


pakai sendiri,”


“Ada salon, Nagita. Kamu


pergi ke sana dandan yang cantik, buat aku,”


“Hmmm, iya.” Perempuan itu


nampak malu-malu.


Teddy  sangat memaklumi sikap Nagita yang malu-malu


seperti itu. Ia hanya mampu tersenyum melihat perempuan yang ada di depannya


sangat cantik. Meski tidak berdandan, perempuan itu sangatlah menawan di


matanya.


Tentang kehadiran Rey,


ia sudah menerimanya bahkan sebelum anak itu ada di depan matanya. Mendengar kabar


dari Damar, kakaknya. Ia sudah memutuskan untuk tetap mendekati Nagita. Walaupun


akhirnya nanti Nagita tak memilihnya, tetapi ia akan berusaha sebagaimana


usahanya dalam membahagiakan perempuan itu.


Pertemuan yang tidak


disengaja ditemuinya saat berada di supermarket beberapa waktu yang lalu. Teddy


merasa belum siap bertemu dengan Nagita. Akan tetapi takdir yang telah


mempertemukannya hingga kini,perempuan yang ada di depannya sangatlah nyata. Bukan


lagi hadir dalam angan-angannya semata.


“Kakak melamun?”


“Kamu cantik,” ucapnya


jujur. Namun seketika wajah perempuan itu merona karena ucapannya.


“Kelulusanmu nanti,


kita pulang bareng ya!”


“Aku lulus masih lama,


barangkali kakak nikah duluan, terus aku lulus deh,”


‘nikahnya sama kamu,


Nagita. Pasti aku tungguin’ ucapnya dalam hati sambil tersenyum.


“Kakak aneh, dari tadi


senyum-senyum sendiri,”


“Karena suka aja lihat


kamu,”


Nagita mengerucutkan


bibirnya. “Gombal,”


“Bukan gombal, tapi memang


beneran suka aja lihat kamu.”


Perempuan itu tersipu


malu. Teddy memilih untuk menyantap makanannya dibandingkan terus menggoda


Nagita. Ia merasa sangat bahagia saat ini. Nagita yang selalu menuruti segala


kemauannya untuk bertemu,bahkan sesekali ia datang ke apartemen perempuan itu. Namun


tadi malam, ia rasa itu seolah mimpi saat Nagita menerima tawarannya untuk


menginap di tempatnya.