
“Perasaan dari tadi diam aja? Nggak mau ngomong sesuatu gitu?” tanya Viona ketika melihat Marwa lebih banyak diam saat pertama kali dia datang bahkan hingga sore, perempuan itu tetap saja diam.
Marwa melirik ke arah tantenya dan menggeser sedikit posisi duduknya. “Tante, ini tanggal berapa?”
“Tanggal 20, sih. Memangnya kenapa?”
“Itu tante, harusnya aku pergi periksa kandungan kemarin. Tapi karena aku sibuk jadi lupa,” berbohong mungkin adalah hal yang terbaik untuk menyembunyikan rasa sakit hatinya karena di sana suaminya tengah bersama perempuan lain.
Viona pun sejenak merasa bahwa perempuan itu sangat kesepian. Mengingat bahwa ketika dirinya hamil Lyla, justru Dimas sering pergi. “Kalau gitu kita periksa sekarang ya, sama tante,”
“Tante nggak sibuk? Kan ada Mama sama Papa,”
“Mereka ikut kok, biar tante yang ngomong,”
Perempuan itu merasa sangat disayangi oleh keluarga Reynand. Dia ingat bagaimana pesan masuk itu kemarin menyayat hatinya, bagaimana tidak? Di sana ada sebuah video yang tidak menampilkan wajah suaminya. Akan tetapi suara Rey yang membahas tentang pernikahan bersama perempuan itu. Keluarganya memang baik, akan tetapi suaminya yang bertingkah. Barangkali dia harus bertahan hingga bayinya lahir dan melepaskan Rey seperti yang diminta oleh perempuan itu.
Cintanya bukan habis, tetapi siapa yang mau bertahan jika suaminya tidak bisa lagi menjaga hati sebaik dulu. Bahkan dengan beraninya pergi bersama perempuan lain ke luar negeri dengan alasan mengurus pekerjaan yang hingga kini istrinya tidak tahu pekerjaan apa yang dimaksud oleh Rey. Tidak mengabari istrinya sama sekali, dan tidak mau menjawab sekadar telepon ataupun pesan yang sama sekali tidak pernah ditanggapi. Suami macam apa yang bersenang-senang dengan perempuan lain dan mengabaikan istrinya yang hamil.
Viona melenggang ke ruang tamu yang di mana ada adik iparnya di sana bersama sang suami. Sementara Marwa sedang membantunya menyiapkan minuman di dapur barusan.
“Nagita, kita ke rumah sakit,”
“Siapa yang sakit?” tanya Nagita terkejut karena mendengar penuturan Viona.
“Nggak ada yang sakit, hari ini Marwa harus periksa kandungan. Sebenarnya dia harus periksa kemarin, tapi katanya dia ada urusan jadi nggak bisa ke sana. Hari ini kamu ikut?”
“Biar Papa yang nyetir,” tawar Azka yang tidak tahu jadwal Marwa harus memeriksakan kandungannya ke dokter. Perempuan itu tidak berkata apa-apa kemarin. Jadi dia tidak tahu kapan Marwa akan periksa.
Dimas juga demikian, dia menatap istri dari keponakannya itu tidak seperti biasanya. Barangkali perempuan itu sakit, tubuhnya terlihat sedikit lemas. “Ya udah kalian pergi aja, aku jagain anak-anak di sini,” ucapnya kemudian Viona berpamitan mengambil tasnya.
Tiba di dalam mobil, Marwa bersandar. Namun beberapa saat kemudian setelah Viona mengajaknya berbicara, tidak ada jawaban sedikitpun. Viona menoleh dan kemudian mengguncang tubuh Marwa, tetapi perempuan itu tidak menanggapi sama sekali. “Astaga, dia pingsan,” ucap Viona panik melihat Marwa yang lemas seperti itu. Tidak biasanya perempuan itu pingsan. Apalagi jika berada di rumah, perempuan itu selalu baik-baik saja.
“Ya udah, Pa ayo buruan, kasihan,”
Sebenarnya mereka ke rumah Dimas kemarin, akan tetapi ada halangan yang tidak bisa membuat mereka ke sana hari itu juga. Karena Azka yang pulang terlambat dari kantor, maka dari itu harus menunggu hari senggang.
Dan sejak mereka berangkat tadi, Nagita sudah memiliki perasaan yang tidak baik terhadap menantunya itu. Raut wajah Marwa pucat, barangkali memang perempuan sudah merasa tidak enak badan akan tetapi malu untuk mengatakannya.
Tiba di rumah sakit, Marwa langsung dipasangkan selang oksigen. Dokter memeriksa keadaannya, “Apa dia selalu telat makan?” tanya dokter kepada Nagita.
Perempuan itu baru saja mengingat bahwa kemarin menantunya tidak makan siang dan tidak ikut makan malam. Dia hanya mengatakan bahwa sudah makan, tetapi ada kejadian janggal yang membuat Nagita mengingat, yaitu tidak ada makanan yang berkurang sedikitpun di dalam kulkas. Bahkan dia menanyakan itu kepada asisten. Bahwa Marwa tidak makan sama sekali.
“Dia nggak dari kemarin,” jawab Nagita dengan suara merendah.
“Mama,” panggil Azka terkejut dengan pengakuan istrinya. “Kenapa Mama nggak suruh dia makan?”
“Mama udah ajak, tapi dia bilang dia kenyang. Karena beli makanan di luar,”
“Bu, dia nggak bisa seperti itu. Dia harus makan, bayi di dalam perutnya juga butuh asupan. Dan satu lagi, Bu. Jangan biarkan dia stress, kalau memang ada sesuatu, tanyakan. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Karena itu nggak baik, apalagi dia dalam masa hamil. Mungkin dia nggak apa-apa, tapi bagaimana dengan calon bayinya? Jangan sampai dia keguguran atau bayinya meninggal di dalam perut nanti,”
Nagita terkejut ketika mendengar hal itu. Dia langsung mendekati Marwa dan tidak mungkin dia berani menghubungi kedua orang tua menantunya itu jika dalam seperti ini. Yang mungkin saja hubungan antara Marwa dan anaknya itu tidak baik. Akan tetapi Marwa menyembunyikan semuanya. Karena selama ini dia tidak pernah mendengar satupun kata buruk dari Marwa mengenai Reynand.
“Pa, apa ini karena Rey?”
“Bentar, Ma. Papa lagi telepon Rey, Bibi baru saja ngasih tahu Papa kalau Rey pulang ke rumah,” tukas Azka dan langsung menghubungi anaknya. Beberapa kali setelah nada tersambung itu terdengar, akhirnya anak itu menjawab teleponnya. “Ke rumah sakit sekarang!”
“Ngapain, Pa? siapa yang sakit?” tanya Rey nada bicaranya tidak terdengar begitu khawatir.
“Marwa,”
“Kenapa lagi sih, Pa?”
“Kamu hampir kehilangan calon buah hati kamu,”
“Hah? Di rumah sakit mana, Pa? Aku ke sana sekarang,”
Azka memberitahukan lokasi rumah sakit di mana Marwa di rawat. Sungguh dia tidak akan membiarkan hal apa pun yang dapat menghancurkan rumah tangga anaknya terjadi begitu saja.
Menunggu beberapa waktu, di sana hanya ada dia dan juga istrinya yang ada di ruang tunggu. Sementara di dalam Viona yang menunggu Marwa sadarkan diri.
“Ma, kalau memang mereka nggak ada masalah. Nggak mungkin ini terjadi, apalagi dia nggak pernah ngapa-ngapain kan? Mama aja dulu nggak pernah pingsan dan nggak pernah nunda makan selama hamil,”
Nagita menganggukkan kepalanya dia juga ingat bahwa selama ini memang tidak pernah jatuh pingsan di saat hamil besar.
Beberapa saat kemudian Rey datang dengan napas yang terengah-engah, “Dia di mana, Pa?”
Azka bangun dari tempat duduknya. Dia melihat anaknya yang baru saja datang dan langsung melayangkan pukulan ke wajah anaknya. Selama ini dia tidak pernah memukul anaknya sama sekali. “Pa,” jerit Nagita karena dia terkejut melihat suaminya melakukan hal itu kepada putranya.
Rey yang tersungkur berusaha untuk bangun dan memegang pipinya yang kena bogeman dari papanya. “Papa kenapa?”
“Kamu yang kenapa itu kamu,” bentak Azka. Nagita tidak berani membela Rey di depan suaminya pada saat seperti ini. Dia tahu betul bagaimana sifat Azka jika sedang dalam emosi seperti sekarang ini.
Rey terus memegangi pipinya, “Dia di mana, Ma?” tanpa menghiraukan Azka yang ada di sana. “Katakan dia di mana, Ma?” nada bicara Rey sedikit meninggi.
“Kamu masuk aja, terus belok kanan. Di sana ruangan dia di nomor satu, baru saja dipindahkan,” jawab Nagita.
Rey berlari mencari keberadaan istrinya. Baru saja dia masuk ke dalam ruangan dan menemukan istrinya masih terbaring di sana dengan infus yang ada di tangannya. “Kamu ke mana aja sih?” tanya tante Viona.
“Aku baru pulang, tante,”
“Kamu nggak bisa ninggalin dia dalam keadaan seperti ini,” ucap tante Viona. “Itu pipi kamu kenapa?”
“Dipukul sama Papa,”
“Papa nggak pernah mukulin kamu selama ini. Kalau kamu nggak salah, mungkin Papa kamu nggak bakalan berlaku seperti itu. Tante tahu bagaimana sifat Papa kamu yang keras, tapi dia berusaha untuk terus tidak memarahi apalagi memukul anaknya. Tapi kalau sudah seperti ini, berarti memang ada sesuatu,” tukas Viona. Rey duduk di pinggir brankar dan mengelus kepala istrinya yang sedang tertidur di sana.
“Rey, jaga dia baik-baik. Kamu nggak pernah tahu bagaimana rasanya hamil, dan dokter bilang dia nggak pernah makan,”
“Nggak pernah makan? Aku sengaja bawa dia ke rumah Mama biar dia bisa jaga kandungan,”
“Bukan kandungan aja yang harus dijaga. Tapi kamu juga sebagai suami harusnya bisa jaga hati istri kamu. Kamu ke mana aja? Apa pernah kamu kabari dia? Dia nungguin kamu di ruang tamu tiap malam, berharap kamu pulang. Setiap hari juga Papa sama Mama nemenin dia dan jadi saksi di mana dia telepon kamu, tapi satupun nggak ada yang kamu respon,” papanya tiba-tiba datang dan berkata demikian.
“Aku banyak urusan, Pa,”
“Kadang kamu nggak sadar perlahan apa yang kamu miliki itu akan menghilang. Contohnya kamu spelekan istri kamu yang hamil, bagaimana kalau dia pingsan sendirian di kamar kamu terus terbentur? Dia keguguran,”
“Kenapa Papa harus bicara seperti itu?”
“Karena kamu menyimpan kebodohan itu terlalu dalam, Rey. Kamu pergi sama perempuan ke luar negeri dan ninggalin istri kamu. Apa kamu sadar bahwa selama ini istri kamu berusaha menjaga hatinya buat kamu, apa yang kamu lakukan di sana?”
“Aku kerja, Pa. Demi Tuhan aku kerja,”
“Jangan pernah bawa nama Tuhan saat kamu berbohong. Padahal kamu itu ngerti tentang bagaimana beratnya hal itu, Rey. Kalau memang kamu kerja, coba cek laporan keuangan kamu, kamu nggak sadar semakin hari semakin terkikis,”
“Papa tahu dari mana?”
“Papa ke kantor kamu. Karena itu perintah dari Leo. Beberapa waktu lalu, waktu kamu berangkat, Leo ke kantor kamu dan memantau keungan kamu. Kamu habiskan untuk senang-senang sama perempuan itu? Kamu pernah nggak mikirin sedikit saja perasaan istri kamu,”
Rey beranjak dari tempat duduknya dan mengajak papanya keluar. Baru saja dia keluar, Dimas datang bersama Lyla dan si kembar. “Ayo keluar sebentar, Dimas!” ajak Azka. Pria itupun membiarkan anak-anak masuk terlebih dahulu.
Mereka duduk di kantin rumah sakit. “Rey, jangan lagi kamu sembunyikan tentang rumah tangga kamu sama perempuan itu,”
“Perempuan siapa?” tanya Dimas yang baru saja di ajak keluar darn tidak tahu menahu tentang hal ini.
“Dia tahu aku punya istri,”
“Harusnya kamu bisa jaga hati istri kamu. Bukan justru menyakiti, kamu nggak tahu gimana dia tetap berusaha tersenyum di balik semua ini. Kalau memang kalian nggak ada masalah, apa iya kamu akan pergi sama perempuan lain?”
“Aku nemenin dia ke acara pameran, dia pelukis yang cukup terkenal,”
“Nemenin bisa sama orang lain. Nggak mesti kamu yang nemenin. Apa alasan kamu mau pergi sama dia? Bukannya waktu itu kamu mohon-mohon bantuan Papa biar semua masalah kamu kelar? Justru sekarang kamu kemakan sama omongan kamu sendiri,”
“Karena dia buat aku bangga. Dia buat aku menjadi orang yang dikenal sama beberapa orang penting,”
“Hanya karena dia membanggakan, itu yang buat kamu berpaling?”
“Orang-orang selalu mendukung aku sama dia. Apalagi dia itu cantik, pintar masak. Dan kalau ada pameran, dia selalu di undang,”
“Dikenal di dunia itu memang hal yang memang luar biasa. Tapi kamu nggak pernah sadar bahwa bidadari surge justru iri sama apa yang kamu miliki sekarang ini. Istri yang sholehah, sabarnya melebihi siapapun yang kamu kenal. Dia jatuh pingsan dan memendam semua masalah kalian berdua, tidak pernah sama sekali Mama sama Papa dengar dia bicara buruk tentang kamu. Dan kalau memang dia cerita buruk sama orang tuanya, mungkin dia nggak bakalan kembali ke rumah kamu di saat kamu mengabaikan dia,”
“Papa, Papa juga pernah melakukan kesalahan di masa lalu, kan?”
“Melakukan kesalahan di masa lalu adalah suatu kebodohan yang Papa sesali sampai saat ini. Maka dari itu Papa selalu ingatin kamu. Bagaimana caranya agar kamu tidak merasakan hal yang sama seperti apa yang Papa rasakan dulu, Mama kamu udah cukup menderita, Om Dimas adalah saksi di mana rasa penyesalan itu ada,”
Rey menatap papanya. “Tapi bagaimana bisa dipaksakan saat perasaan itu memudar?”
“Apa penyebabnya?”
“Karena perempuan yang sekarang ini jauh lebih baik dari istri aku, Pa,”
“Orang yang belum kita kenal itu akan menampilkan sisi terbaiknya. Namun, jika kita sudah kenal dan menikah. Pasti kita tahu baik buruknya, sekarang ini mungkin yang kamu anggap baik hanya sedang menyembunyikan sisi buruknya. Istri kamu sendiri sudah kamu tahu baik buruknya, Rey,”
“Pa, jujur rasa bosan itu sudah muncul semenjak kami pindah,”
“Dan apa yang kamu pikirkan sekarang ini? Apa nggak mau kamu perbaiki. Sebentar lagi kamu punya anak,”
Pria itu menunduk, “Lepasin Marwa,”
Azka menjambak rambutnya. Sementara Dimas mengusap wajahnya. “Pikirkan bayi kamu, Rey. Kamu pernah merasakan bagaimana sakitnya perpisahan orang tua, kamu mau ngasih hal itu kepada anak kamu nantinya,”
“Aku yang rawat,”
“Kamu mudah ngomong seperti itu,”
“Apa yang bisa aku banggain dari Marwa sih, Om? Apa yang bisa buat aku bahagia dari dia? Dia bisa apa? Kerja nggak, aku ke acara teman-teman saat mereka banggakan istri mereka, aku bisa banggakan apa?”
“Andai saja dari dulu sebelum hamil kamu bilang kalau kamu bosan sama dia, mungkin Papa sudah setuju kamu pisah. Tapi sekarang ini keadaannya berbeda. Apa tujuan kamu datang kemari setelah tahu dia pingsan? Apa karena anak kamu?”
“Kalau hanya karena rasa bosan yang buat kamu ingin pisah. Harusnya kamu belajar tumbuhkan perasaan itu, Rey,” timpal Dimas yang mencoba menengahi.
“Bagaimana caranya?”
“Lakukan kebiasaan yang pernah buat kamu mencintai dia. Misalnya sebelum kerja kamu salaman cium kening dia, pulang kerja cium kening dia. Sebelum tidur kamu peluk dan elus perut dia, pokoknya kamu selalu mengingat apa pun yang pernah buat kamu mencintai dia,”
Rey terdiam. “Aku pergi,” ucapnya kemudian berdiri dari tempat duduknya.
“Ke mana?”
“Aku bakalan cari jalan tengah untuk ini semua, Pa. titip Marwa sama anak aku,”
Satu sisi dia sudah terlanjur menjanjikan sebuah pernikahan kepada Alin bahkan dia mencium perempuan itu. Alin pernah mengatakan bahwa itu adalah ciuman pertamanya dan yang diterima oleh Rey adalah ciuman pertama Alin.