RICH MAN

RICH MAN
TERBAIK



"Fen, duluan ya,"


Rey pun mengemudi ke rumah Oma untuk mengantarkan Leo terlebih dahulu. Untuk pertama kali dia membawa mobil ke sekolah karena perintah dari mamanya karena tidak ingin membonceng Clara dengan motor pagi tadi. Jenny, Leo, keduanya pun ikut di dalam mobil Reynand.


Setelah mengantarkan Leo, kini Jenny dan Rey sepakat untuk ke kantor papa Rey untuk membahas perihal rencana membuka bengkel dalam waktu dekat ini seperti yang dikatakan oleh papanya. Tidak ada salahnya juga membawa Jenny, karena perempuan itu juga berhak tahu mengenai rencana kedepannya.


Mereka tiba di kantor papa Rey dan Jenny mengedarkan pandangannya. "Rey, kok enggak asing gue sama tempat ini,"


"Maksud lo?"


"Papa gue kayaknya kerja di sini kalau enggak salah,"


Rey pun tak menanggapi apa yang dikatakan oleh Jenny dan langsung turun dari mobil dan segera msauk ke dalam lift. "Mau jadi patung lo?"


Gadis itu langsung masuk ke dalam lift dan mereka berdua tiba di tempat tujuan mereka, mereka pun segera ke ruangan Papa Rey. Perlahan Rey mengetuk pintu, bagaimanapun juga dia adalah anak dari pemilik perusahaan itu dan tetap menjalankan etika dengan baik menerapkan adab bertamu dan tidak sembarangan jika ingin masuk ke dalam ruangan papanya.


"Papa?"


Rey menoleh saat Jenny berkata demikian. "Jangan bilang kalau Papa Azka itu Papa lo juga?" gerutu Rey. Jika benar itu terjadi, maka Rey akan langsung mengajak mamanya pergi jauh dari papanya. Dirinya sudah trauma dengan kejadian dulu, di mana dia dan mamanya ditelantarkan dan disakiti begitu saja.


"Bukan, kampret. Itu Papa gue yang disebelah Papa lo,"


"Eh? Papa lo Pak Firman?"


"Bukan, tapi Pak Udin, puas?"


Rey tertawa dan merasa bersalah karena telah salah paham dengan papanya, waktu itu dirinya sempat kesal saat papanya sering bermain perempuan. Mengingat masa lalu, Rey bahkan sangat takut jika dia memiliki saudara lagi.


"Rey, kapan datang?" lamunannya buyar begitu saja.


"Aku tadi ngetuk pintu, Papa sibuk sih," Rey duduk di sofa dan langsung menarik seragam Jenny untuk ikut duduk.


Sejenak Papanya menoleh ke arah Jenny.


"Kalian teman sekelas?" tanya Papa Rey. Rey pun menjawab dengan anggukkan karena mengingat masa kecilnya di ruangan itu dulu. Buku-buku yang dia sukai dahulu masih tertata dengan rapi, bahkan cita-cita ingin menjadi dokter dahulu kini tidak sekuat dulu. Semenjak mamanya di khianati, Rey pun mengurungkan niatnya ingin menjadi Dokter. Meski orang tuanya bisa mewujudkan itu semua, tetapi Rey enggan, sudah cukup traumanya dengan profesi itu.


"Sudah makan?"


"Belum, Pa,"


"Papa pesankan makanan dulu, kalian berdua di sini saja. Papa ada meeting sebentar,"


"Jen, Papa pamit ya," Jenny pun bersalaman dengan Papanya dan menetap di ruangan itu bersama dengan Reynand. Keduanya berbaring di atas sofa panjang itu dan Rey ingin beristirahat sejenak menghilangkan lelahnya walau hanya sebentar.


"Bangunin gue nanti, Jen! Gue tidur bentar,"


"Ya udah, nanti Papa yang bangunin."


Mereka berdua pun tidur di ruangan itu di sofa yang bersebrangan. Rasa lelah Rey karena harus mengemudi beberapa kali. Bahkan dirinya tiba di kantor Papanya menjelang sore.


Rey perlahan membuka matanya setelah mendengar suara orang sedang mengobrol, ia mengucek matanya sambil mengedarkan pandangannya di sana, menemukan papanya sedang berbicara dengan seorang pria yang Rey sendiri tidak tahu siapa itu. Karena jarang mengunjungi kantor papanya selama ini dan lebih fokus untuk menjaga adik-adiknya di rumah. Rey juga merasa asing dengan orang itu.


Rey beranjak dari tempat tidurnya dan langsung ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Sedangkan Jenny sudah terbangun terlebih dahulu, keluar dari kamar mandi pribadi milik papanya, Rey meraih tisu yang ada di atas meja dan membersihkan sisa air.


"Kenapa lo enggak bangunin gue?"


"Lo nyenyak banget, dan kelihatan banget lo itu kecapean, ngomong-ngomong orang tua lo bahas mengenai buka bengkel? Lo mau pimpin itu?"


"Lo dengar?"


"Dengar. Cuman gue dengarnya mereka bahas bengkel aja sih, selanjutnya enggak tahu. Ngomong-ngomong lo itu tajir juga kampret, tapi lo lebih kalem dibandingkan si ulat bulu itu,"


"Ini semua bukan punya gue, apa yang mau gue sombongin?"


"Ini bakalan jadi milik lo, kan?"


"Enggak, kok. Gue punya sendiri dari usaha kerja keras gue nanti, jadi semua harta Papa gue sepeser pun bukan milik gue. Mama gue yang ngasih,"


"Kok gitu?"


"Ya karena gue mau jadi anak yang mandiri, enggak mau sombong dari hasil kerja keras orang tua,"


"Tapi ya Papa gue bilang kalau orang tua lo itu enggak bakalan kehabisan harta, sekalipun lo itu keliling dunia tiap hari,"


"Lo lihat dari enaknya, lo cuman nilai dari apa yang lo dengar dari orang lain. Lo aja yang enggak tahu apa yang gue rasain, intinya ya gue itu mau usaha sendiri. Tenang, gue udah ada tabungan buat bisnis nanti kalau udah selesai sekolah, terus gue kuliah. Udah gitu mau rintis bisnis sendirian,"


"Memang ya lo itu beda dari yang lain, terus Leo?"


"Sama, Leo juga begitu. Cuman bedanya dia yang bakalan nerusin, gue sih enggak mau. Biar aja semuanya jadi milik adik gue," jelasnya. Tanpa menjelaskan alasannya, karena tidak mungkin menceritakan hal itu, yang termasuk adalah aib orang tuanya sendiri. "Ngomong-ngomong, Jen. Gue mau buka bengkel sama Papa itu biar si Fendi tetap sekolah. Dia bilang dia mau berhenti sekolah dan fokus buat cari duit, lo jangan kasih tahu dia ya! Ini semua kemauan Papa agar bisa bantu itu anak, kan sama-sama saling menguntungkan, lagian nanti selesai sekolah, Papa siap juga tanggung biaya pendidikan dia. Selama dia itu jujur,"


"Rey, makasih banget ya. Sumpah gue enggak nyangka lo bakalan sebaik ini sama dia,"


"Terima kasih lo tulus? Atau jangan-jangan lo itu cuman ada maksud tersendiri?" Selidik Rey.


"Rey, gue itu tulus banget tahu enggak sih, gue benar ngucapin terima kasih karena lo itu udah bantu dia banyak banget,"


"Karena dia itu sahabat gue, Jen," ucapnya menjelaskan. Bahkan tanpa ucapan itu pun Rey memang akan membantu Fendi dengan apa yang dia bisa. Dan kali ini dia dan Papanya akan bekerja sama untuk membuat sebuah bengkel yang di mana nantinya anak itu dan juga Rey bisa selalu bersama dan belajar sambil bekerja. Sebenarnya Rey tidak diperbolehkan untuk terlalu banyak keluyuran karena harus fokus pada pendidikannya, mungkin itulah tujuan orang tuanya agar Rey tidak perlu lagi jauh-jauh ke tempat Fendi.


"Lo yang terbaik, Rey."