RICH MAN

RICH MAN
HADIAH ULANG TAHUN



Hari ini adalah hari di mana Rey akan menjemput istri dan juga anaknya di rumah mertuanya. Sudah tiga hari dia memberikan waktu untuk Marwa berada di sana tanpa dia ganggu sedikitpun. Padahal perjanjian bahwa mereka akan menginap selama satu minggu. Tapi Marwa meminta untuk dijemput. Rey yang nyaman di rumah orang tuanya hanya bisa pasrah.


Kali ini dia pergi menjemput anaknya yang sangat dia rindukan. Rey juga menyibukkan diri bekerja selama istri dan anaknya tidak ada di sisinya. Mengingat juga bahwa dia lebih nyaman di rumah kedua orang tuanya dibandingkan dengan berada di luaran sana untuk keluyuran seperti dulu lagi. Banyak pelajaran yang bisa diambil oleh Rey ketika berada di rumah orang tuanya. Yaitu bagaimana papanya selalu menyelesaikan masalah dengan baik, bahkan mamanya juga mengajarkan dia bagaimana menyikapi istrinya ketika ada masalah nanti. Rey sudah tahu kali ini, memang diawal menikah dia sempat goyah oleh perempuan lain. Tapi tidak untuk kali ini. Tidak akan pernah lagi dia rasakan bagaimana perih itu. Rey akan berusaha sebaik mungkin menjaga rumah tangganya agar tetap utuh dan juga tidak ada lagi yang namanya perempuan lain di dalam rumah tangganya.


Rey memasukkan barang-barang ke dalam mobil yang di mana di sana juga mama mertuanya membelikan kereta untuk Audri. Padahal dia sudah membelikan itu di rumah. Namun, Marwa bilang bahwa roda dibagian belakang sudah rusak dan dia bilang juga bahwa dia tidak pernah meminta untuk dibelikan. Semua itu adalah inisiatif dari orang tuanya.


“Ma, Pa, aku pamit dulu ya,” Marwa mencium tangan kedua orang tuanya. Anak satu-satunya di rumah itu, pasti akan merasakan kesepian ketika Marwa tidka pulang. Rey juga baru tahu bagaimana rasanya menikahi anak tunggal yang ternyata bebannya begitu berat. Rey tidak akan pernah lagi menyakiti hati istrinya. Karena bisa saja perempuan itu meninggalkan dirinya dan tidak akan pernah kembali lagi.


Rey juga berpamitan kepada papa mertuanya dan juga mama mertuanya yang begitu baik. “Ma, Pa, aku juga pamit ya,”


“Papa titip Marwa sama kamu ya! Ingat tanggung jawab Papa berpindah sama kamu!” peringat papa mertuanya.


Rey menganggukkan kepalanya. “Pasti dijaga dengan baik, Pa,”


“Ya sudah. Hati-hati di jalan. Jangan sampai kamu kecapean juga! Ingat anak istri di rumah juga ya! Sering-sering ajakin pulang juga! Mama sama Papa pasti kangen sama dia,”


“Baik, Pa. nanti aku ajakin pulang. Dan kalau dia mau juga kapan-kapan dia boleh pulang selama dia mau, Pa,”


“Kamu nggak larang?”


“Ngga, Pa. buat apa aku larang istri aku pulang ke rumah kedua orang tuanya? Aku nggak mau kalau dia itu aku kekang,”


Rey tersenyum dan pamit. Dia masuk ke mobil terlebih dahulu.


Begitu mereka pamit dari rumah kedua orang tua Marwa. “Sayang, kenapa nggak jadi nginap lama?”


“Dimarahin sama, Papa,”


“Kenapa gitu?”


“Takutnya kamu cari bini baru,”


Rey memutar bola matanya dengan alasan itu papa mertuanya menyuruh Marwa pulang. “Hanya karena itu? Kenapa kamu nggak suruh aku pulang ke rumah kamu aja sih? Aku kan bisa nginap lagi. Aku ngasih kamu waktu karena mungkin kamu memang butuh waktu. Aku juga pengin pulang ke rumah orang tua gitu. Lagian ya aku beneran pulang kok ke sana, aku juga tahu kalau kamu lagi chat Mama,”


“Aku tahu itu, Mas. Tapi Papa itu nggak bolehin aku nginap lama-lama tanpa ada kamu,”


“Ya udah deh. Bulan depan ke sana lagi, kita nginap lagi,”


Marwa tersenyum, “Serius?”


“Serius, sayang banget sama kamu. Jadi apa pun yang kamu mau, aku turutin,”


“Kalau Mas pengin apa?”


Rey berpikir sejenak sambil tetap fokus menyetir. “Aku?” tanya Rey sejenak dan kemudian, “Aku cuman pengin kita sama-sama, terus aku juga pengin kalau rumah tangga kita nggak ada masalah lagi,”


“Setiap rumah tangga pasti ada masalah, Mas,”


“Tapi aku nggak mau kita kabur-kaburan lagi dari masalah. Capek saling hindari,”


“Papa bilang, dia pengin kita nambah anak,”


Rey sejenak terdam ketika Marwa langsung memotong pembicaraan mereka yang serius tadi dengan permintaan papa mertuanya itu. Rey memang ingin menambah keturunan. Tapi tidak untuk sekarang ini. Dia masih ingi untuk membiarkan Audri sendirian dulu. Karena anaknya yang masih kecil juga. Rey tidak akan membiarkan anaknya mendapatkan adik sebelum dia besar. “Untuk itu, aku mau Audri besar dulu,”


“Hmmm, aku setuju sama kamu, Mas,”


“Aku selalu sibuk dan ngerasa kamu nggak bisa bebas luangin waktu buat apa kek gitu, jadi untuk punya anaknya nanti aja kalau Audri sudah dua tahun. Terus nambah lagi, begitu seterusnya,”


“Berdoa juga kita panjang umur, Mas!”


“Pastinya sayangku,”


Mereka berdua memasuki pekarangan rumah mereka. “Mas, besok aku mau pergi sama teman aku, si Hana,”


“Ke mana?”


“Ngajakin jalan-jalan aja sih,”


“Kamu hat-hati ya!”


Marwa menganggukkan kepala dan juga membantu Rey mengeluarkan barang dari mobilnya.


Begitu mereka masuk ke dalam kamar, dia langsung membaringkan dirinya. Sedangkan Audri duduk di dekatnya, “Sini sama Papa sayang!”


Audri justru menolaknya. “Udah berapa hari dia nggak lihat kamu coba? Gimana anak mau dekat, Mas,”


“Ah, nanti juga pasti nempel lagi. Duplikat aku mana bisa jauh dari aku coba,” ledek Rey kemudian menciumi pipi tembam anaknya. Dia gemas dengan anaknya yang sudah tiga hari ini dia biarkan di rumah sang mertua.


Marwa langsung membuka jilbabnya dan ikut berbaring di dekat Rey. “Mas,”


“Hmm?”


“Kangen,”


Dia tersenyum begitu istrinya mengatakan kata kangen.


“Sayang, bentar lagi kamu ulang tahun kan?”


Marwa menatap langit-langit kamar. “Iya, Mas,”


“Mau mobil apa?”


Marwa langsung bangun dari tempat tidurnya. “Mas?”


Rey tahu bahwa ada tanda tanya yang terselip dari tatapan istrinya. “Aku serus, kamu pengin mobil apa?”


“Mas, kamu lagi nggak bercanda?”


“Sayang, aku nggak pernah ngasih kamu apa-apa selama kita menikah. Jadi apa salahnya aku ngasih kamu mobil? Waktu kita baru aja baik-baik saja, ya aku akui kalau aku memang pernah belikan. Tapi itu nggak bertahan lama dan justru rumah tangga kita diguncang cobaan itu karena aku. Jadi sekarang, aku bakalan beliin kamu lagi dan semua yang menyangkut masa lalu aku udah buang bukan?”


“Mas, ini lagi nggak bercanda kan?” Marwa merengek karena melihat Rey dengan entengnya mengatakan bahwa dia akan membeli mobil baru.


Rey menyodorkan ponselnya dan membiarkan Marwa mencari mobil yang dia inginkan di internet. “Kamu cari yang mana yang kamu mau! Aku beneran mau beliin kamu, sebagai kado ulang tahun dari aku. kalau aku, Audri saja sudah merupakan kado untuk aku sayang, jadi sekarang nggak ada salahnya ngasih kesayangan hadiah,”


Marwa dengan senang hati untuk menerima ponsel itu dan mencari mobil yang dia inginkan.


Rey menaikkan Audri ke atas perutnya sambil bercanda. Marwa berbaring tepat disampingnya dan mengatakan mobil apa yang dia inginkan. “Mas, mau ini,”


Rey mengambil ponsel dan melihat mobil keinginan istrinya. “Warna putih?” mobil yang memang cocok untuk perempuan dengan warna putih dan tidak terlalu besar itu membuat Rey juga suka mobil pilihan istrinya.


“Besok pergi,”


“Mas, kamu beli mobil kayak beli jajan,”


“Siapa bilang? Aku nabung udah lama buat beliin kamu tahu. Enak aja bilang aku beli mobil kayak beli jajanan, memangnya Papa aku? kalau Papa aku beda lagi. Dia ngasih hadiah mobil juga ke si kembar untuk sekolah tahu,”


“Papa kamu memang nggak ada duanya, Mas,”


“Hehehe, dia juga mau beliin kamu tahu. Tapi aku bilang nggak usah. Katanya kamu doang yang menantu kesayangan. Karena aku sendirian laki-laki. Jadi, sekarang aku bakalan berusaha buat bahagiain kamu,”


“Nggak apa-apa padahal ya walaupun Papa kamu mau beliin aku,”


“Mau aku gigit? Kamu pikir aku nggak bisa beliin kamu? Tanya Mama tuh, dia lebih tahu kalau aku nabung juga buat kamu. Nabung buat beliin kamu,”


“Hehehe, bercanda, Mas,”


“Aku sayang kamu tahu. Jadi apa pun yang kamu mau pasti aku beliin. Asal kamu sabar ya! Sabar aku punya uang,”


“Pastinya, Mas,”


 


 


Rey memang menabung sangat lama untuk membelikan mobil yang diinginkan oleh istrinya. Dia memang sangat ingin membahagiakan Marwa. Apalagi istrinya begitu baik dalam merawat anak di rumah dan juga melayaninya, menyiapkan apa saja yang dia butuhkan. Rey memang sangat cekatan untuk hal itu untuk memuji istrinya dengan cara membelikan mobil sebagai hadiah ulang tahun untuk sang istri.