RICH MAN

RICH MAN
MENUTUPI KESALAHAN



Pagi itu Marwa bangun sambil mengucek matanya setelah mendengar suara ribut yang berasal dari dapurnya. Sekiranya pukul setengah delapan, Marwa melanjutkan tidurnya karena kelelahan dan sedikit bersantai karena hari itu suaminya tidak pergi ke kantor.


Baru saja dia keluar dari kamarnya dan menuju dapur karena tidak menemui suaminya di kamar. Dia melihat pria itu sedang memasak di sana, bergegas Marwa ke sana dan menghampiri suaminya. “Mas, kamu lapar? Sini biar aku yang masak,” namun belum sempat Marwa mengambil alat yang digunakan untuk menggoreng, Rey menggeleng sambil memerintahkannya duduk di kursi.


Pria itu sadar bahwa semalam istrinya mencuci serta menyetrika beberapa pakaian untuk esok harinya. Dia tahu bahwa istrinya bukan tipikal orang yang suka menunda pekerjaan. Melihat ekspresi lelah istrinya subuh tadi, maka dari itu dia harus membiarkan istrinya melanjutkan tidur dan menggantikan istrinya sebentar untuk menyiapkan sarapan. “Kamu mandi sana! Biar aku yang masak. Maaf ya adanya bahan masakan ini aja, jadi aku buat nasi goreng,” ucap Rey sembari fokus pada pekerjaannya.


Perempuan itu menurut dengan langkah gontainya. Sebagai seorang suami, tentu dia harus membantu pekerjaan rumah juga. Bukan hanya mencari uang untuk kehidupan mereka berdua. Akan tetapi ketika libur bekerja, Rey harus menyiapkan tenaga untuk bersih-bersih di rumahnya. Ia tahu memang ada asisten yang datang dari pagi sampai siang hanya untuk membereskan rumah. Tetapi Rey tidak pernah memerintahkan asisten untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia tahu bahwa itu adalah tempat pribadi yang harus dibersihkan sendiri.


Setelah nasi goreng serta telur gulung selesai ia buat. Ia pun membuat jus stroberi pagi itu. Menyiapkan minuman untuk istrinya. Rey sadar bahwa istrinya harus mengkonsumsi makanan yang baik. Maka dari itu dia harus membuat beberapa makanan bergizi, namun untuk sarapan kali ini hanya ada nasi goreng serta tulur gulung. Ketika melihat isi kulkas tadi, ia baru sadar bahwa ia belum membeli bahan masakan. Tidak mungkin baginya menyuruh Marwa pergi ke pasar untuk membeli itu semua. Apalagi sampai mengangkat barang berat. Rey tidak pernah suka akan hal itu.


Seusai istrinya mandi dan berdandan pagi itu. Ia menyambut kedatangan sang istri dengan senyuman semringahnya. Di sana sudah tersaji makanan serta minuman, Rey langsung menarik kursi dan mempersilakan istrinya untuk duduk.


“Kamu lapar banget, Mas?”


Rey menggeleng, “Bukan, tapi aku pengin masak buat kamu,”


“Buktinya kamu bangun pagi. Biasanya kalau nggak kerja kamu bangunnya jam Sembilan lebih, Mas,”


Pria itu menatap istrinya kemudian memberikan kode agar mereka berdua berdoa sebelum makan. Setelah doa selesai, Rey berkata. “Bukan, karena hari ini kita bakalan pergi jalan-jalan sekaligus periksa kandungan kamu. Dan aku lihat di brosur, kalau di salah satu tempat yang nggak jauh dari tempat tinggal kita itu ngadain kelas ibu hamil,”


“Kelas ibu hamil? Maksudnya?”


“Ya pokoknya seru aja. Nanti kita diajarin bagaimana cara merawat anak baru lahir, mengganti popok segala macam, beda dari kelas yang lainnya. Persiapanlah,”


“Kamu dapat brosur dari mana, Mas?”


Rey ingat bahwa ketika dia pergi waktu itu, seseorang memberikannya brosur dan ia langsung kepikiran tentang mengajak istrinya ke sana. “Kamu tahu nggak ada yang lucu, aku tanyain sama panitianya waktu itu, kalau selama ngikutin itu cowoknya dikasih kayak gendongan bayi gitu. Kira-kira beratnya lima kilogram gitu, kayak orang hamil,”


Marwa asyik mendengarkan suaminya bercerita yang sepertinya antusias pergi ke sana. “Terus apalagi, Mas?”


“Ada lomba masak juga,”


“Lomba masak apa?”


“Buat bubur dan sebagainya. Aku udah daftarin kita berdua kok. Jadi tinggal ke sana nanti,”


“Mas, kamu ada-ada aja pengin datang ke acara begituan. Emangnya nggak malu nanti disuruh pakai gendongan yang dikasih beban gitu?”


Rey justru menggeleng. “Enggak, sama sekali enggak. Ngapain malu? Disitu berarti kita dilatih biar para suami paham gimana beban istri hamil. Biar enggak sembarangan merintah bilang manja segala macam. Nanti ngerasain gimana susahnya gerak dan sebagainya,” ucap Rey sambil menyantap makananya. Dia sangat tertarik dengan hal itu karena di sana tentu saja banyak yang akan diajarkan. “Mandiin bayi juga kita diajarin loh,”


“Yang benar, Mas?”


“Iya, tapi yang mandiin itu para suami. Kalau istri enggak, istri enggak perlu kursus aja pasti bisa karena nalurinya nanti yang bombing dia biar bisa seperti itu,”


Suara ponsel Rey berbunyi pagi itu. Namun karena di depannya ada Marwa dan tidak mau ada salah paham lagi. Dia menjawab telepon itu di depan istrinya dengan menggunakan suara luar. “Kamu nggak kerja?” ucap seorang perempuan dari seberang telepon.


“Nggak. Hari ini aku ada urusan,”


 


 


Tubuh Rey menegang saat Alin berkata demikian di telepon. Dia melihat kea rah istrinya yang nampak tidak nyaman akan hal itu. Pria itu langsung menutup telepon itu. “Dia belum selesai bicara, Mas. Kenapa kamu matikan?”


“Nggak penting,”


“Penting bagi dia. Makanya dia telepon kamu,”


“Marwa,” panggil Rey pelan.


“Kenapa, Mas? Kamu takut kalau aku tahu apa yang kamu lakukan di luar?”


“Bukan gitu,”


“Kamu kadang nolak dibuatin sarapan hanya karena bilang telat dan telat. Ini alasan kamu? Kadang kamu nggak mau makan sarapan yang aku siapin karena kamu bilang nanti di kantor, itu perempuan tadi yang ngantarin sarapan buat kamu?”


Seharusnya dia tidak menjawab telepon dari Alin jika itu akan menjadi pertengkaran pagi itu. “Marwa, sudah! Aku nggak mau bertengkar pagi-pagi,”


“Kamu nggak mau bertengkar tapi buat masalah sepagi ini, Mas. Apa yang ada dikepala kamu? Saat istri kamu bangun pagi, nyiapin segalanya buat kamu. Kamu sendiri nggak hargai usaha aku masakin kamu, Mas. Mungkin sekali dua kali aku masih bisa maklumi, tapi kalau sampai terulang dan itu sering banget, Mas. Itu sakit,”


Rey meletakkan ponsel serta melepaskan sendok yang ada ditangannya. Kemudian dia memegang tangan istrinya. “Sama sekali bukan itu alasannya,”


“Mas, kamu tahu apa yang aku temuin di belakang kemeja kamu semalam?”


Rey menggeleng karena dia belum melihat itu dan keduluan di ambil oleh Marwa dan dicuci. Dia belum melihat apakah yang dimaksud oleh istrinya itu. Yang ia ingat hanyalah bau parfum Alin menempel pada kemeja kerjanya.


“Apa?”


“Sejak kapan kamu main perempuan dan sampai disusul ke kantor, Mas?” Marwa masih berusaha tenang walaupun air matanya akan keluar. Rey tahu bahwa itu sangat sakit. Dan dia sama sekali tidak bisa menjelaskan hal apa pun kali ini. “Yang ada dibelakang kemeja kamu itu…”


“Apa yang kamu lihat? Ngomong!”


 


 


“…Lipstik, Mas. Dan nggak mungkin itu cuman goresan. Karena itu bekas bibir perempuan, dan itu yang buat aku semakin sakit, Mas,”