RICH MAN

RICH MAN
MAMA



"Ma, please jangan tinggalin aku, Ma!"


Bintang Aira Harista, lahir dari keluarga yang cukup terpandang dan hidup selalu bahagia. Lahir dari pasangan Afifah Nur Aqila dan Adi Haris, merupakan anak tunggal yang kehidupannya selalu saja mewah. Bahkan kedua orang tuanya sangat memanjakan dirinya dengan begitu baik dan tidak pernah merasa kekurangan selama ini. Tetapi, dengan didikan sang Mama, Bintang merupakan gadis yang baik dan tidak pernah sombong terhadap apa yang dia punya.


"Masuk, Bintang! Papa bilang masuk!"


Semua berawal dari pertengkaran yang mengakibatkan perceraian kedua orang tuanya, Bintang kini tinggal bersama dengan Papanya. Bahagia yang pernah dirasakannya pun seolah tak ada celah untuk kata kekurangan, semua yang dia inginkan, keharmonisan keluarga juga merupakan suatu hal yang menjadi suatu kebahagiaan baginya. Tetapi semua itu hancur begitu saja saat datangnya perempuan lain ke dalam hidup Papanya.


"Papa jahat!" teriak Bintang saat melihat Mamanya pergi begitu saja dengan sopir, sedangkan Papanya menahannya dan menyeretnya ke kamar.


"Papa milih pelacur Papa dibandingkan, Mama? Papa lupa kalau selama ini Mama yang udah nemenin Papa dari awal? Papa milih pelacur, Papa itu?"


Plaaak


Bintang baru kali ini merasakan pukulan dari Papanya sendiri. Bahkan hingga usianya belasan tahun, ia tidak pernah diperlakukan dengan tidak wajar seperti sekarang ini.


Bintang memegangi pipinya yang ditampar oleh Papanya tadi, tidak pernah menyangka bahwa dia akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Papa kandungnya sendiri.


"Papa kenapa berubah secepat ini?" isaknya.


"Papa enggak sayang lagi sama, Mama?"


"Papa sudah bilang kalau Papa itu udah enggak nyambung lagi sama, Mama. Papa sering berantem, merasa enggak cocok lagi, kenapa kamu enggak bisa ngerti juga?"


"Semua ini salah siapa? Papa yang sudah buat keluarga kita berantakan, Papa yang sudah menghancurkan pernikahan Papa sendiri dengan cara menghadirkan perempuan lain di dalam hidup, Papa. Papa hanya kasihan karena perempuan itu janda dan curhat kalau selama ini dia dipukul sama suaminya, Papa bilang kasihan sama Janda, tapi Papa menjandakan istri Papa sendiri, apa pernah Papa pikir gimana perasaan, Mama?"


"Papa yakin Mama kamu itu bukan perempuan lemah, Bintang,"


"Papa yakin karena Papa itu sudah terkena hasutan pacar Papa itu, Papa lebih belain Pelacur dibandingkan istri dan anak Papa sendiri,"


"Jangan pernah katakan dia sebagai pelacur, Bintang!" teriak papanya.


plak plak plak


Bintang hanya bisa mengaduh saat tali ikat pinggang tersebut mengenai tubuhnya beberapa kali. Mendapatkan perlakuan kasar dari papa kadungnya. Bintang meringkuk dan terus menahan rasa sakit saat dipukul seperti itu.


Dalam benaknya, ia berpikir bahwa dirinya tidak akan hidup setelah dipukul dan dibawa ke rumah sakit oleh asisten rumah tangga, sedangkan papanya pergi entah ke mana. Jika mencari Mamanya, Bintang tidak tahu harus mencari ke mana keberadaan Mamanya setelah perceraian itu.


Bintang meringis menahan sakit disekujur tubuhnya, apalagi dibagian punggungnya ia palig banyak mendapatkan perlakuan kasar itu.


"Kita lapor polisi ya, Non?"


Bintang menggeleng, karena bagaiamana pun juga itu adalah orang tuanya dan tidak ingin melihat orang tuanya mendekam dipenjara hanya karena memukulinya.


"Mama sudah pergi, Bibi juga enggak tahu,"


Air mata Bintang menetes saat itu juga, kebahagiaan yang sempurna, namun kini sudah lenyap begitu saja dihancurkan oleh orang lain dan tidak bisa dikembalikan lagi. Keberadaan Mamanya dia sendiri tidak tahu. Ingin rasanya ia pergi jauh, tetapi jika dia mencari Mamanya, pasti papanya tidak akan pernah tinggal diam.


Bintang memegangi lengan kirinya yang di sana tedapat luka karena tali ikat pinggang tersebut hingga menciptakan garis merah yang bahkan membiru disebagian tubuh lainnya.


"Yang sabar ya, Non!"


Bintang tak habis pikir dengan kejadian yang menimpanya. Hanya karena dia membela mamanya dihadapan Papanya, justru dia yang menjadi sasaran empuk untuk melampiaskan emosi. Memang selama ini dia tidak pernah mengerti dengan permasalahan yang dihadapi oleh orang tuanya, tetapi jika sudah menyangkut hal seperti itu, Bintang yakini bahwa dirinya tidak akan betah tinggal bersama Papanya.


"Mama di mana, kenapa ninggalin aku?" lirihnya meneteskan air mata. Bintang tidak pernah percaya dengan kejadian ini. Tetapi semua itu adalah nyata dia rasakan.


Bahkan tadi, saat dipukul ia tidak berharap dirinya hidup. Karena seluruh badannya sakit, ia pun tidak sadarkan diri dan ketika tersadar dirinya sudah berada di rumah sakit dengan luka yang cukup banyak dianggota tubuhnya. Siapa pun pasti tidak ingin melihat keadaan orang tuanya sangat hancur, bahkan kebahagiaan yang pernah dibanggakan kini tinggal kenangan.


Tangisnya terus terisak jika mengingat kejadian di mana dirinya dipukul habis-habisan oleh Papanya. Bintang hendak kabur dan mencari keberadaan Mamanya karena tidak tahu lagi ke mana dia akan pergi. Dia sudah tidak bisa menahan diri, bahkan Papanya sudah berani menyentuhnya dengan pukulan yang selama ini tidak pernah didapatkan oleh Bintang.


"Aku pengin cari, Mama, Bi,"


"Percuma, Non, Bapak ada di luar,"


Bintang mengurungkan niatnya dan menangis histeris. Beberapa saat kemudian papanya masuk dan memeluknya. "Maafin, Papa!" suara Papanya membuat Bintang semakin benci dengan pria itu.


"Pergi, Bintang enggak punya, Papa,"


"Bintang, maaf. Papa khilaf,"


"Papa berani mukulin aku saat aku berusaha membela Mama dan Papa bela perempuan lain di hadapan aku, apa itu belum cukup, Pa?"


Bintang menangis histeris dan mendorong tubuh Papanya agar menjauh. "Ayo, Mas. Kita pergi dari sini, sudah terlihat jelas putrimu tidak menyukaimu!" mata Bintang langsung memerah ketika melihat perempuan disamping Papanya yang sedang merangkul tangan kiri pria yang berusia sekitar empat puluh tahunan itu. Matanya semakin perih dan emosinya tak bisa ditahan lagi.


"Pergi bawa jalang itu!"


"Jaga bicaramu!" bentak Papanya.


Bintang justru berteriak dan menarik infus yang ada di tangannya hingga punggung tangannya berdarah, rasa itu tak sebanding dengan apa yang dirasakan olehnya saat ini. Hatinya terlanjur hancur dengan kenyataan yang terus menghancurkan kesempatannya untuk berbahagia bersama dengan keluarganya, termasuk mamanya.


Perawat pun datang dan memberikan suntikan untuk menenangkan Bintang. Dia sangat emosi dan juga tidak bisa menerima kenyataan yang di mana perceraian orang tua merupakan suatu hal yang tidak pernah dia bayangkan selama ini, dibalik keharmonisan itu tersimpan busur panah yang suatu waktu siap untuk menancap anak panahnya dan tertancap begitu kuat direlung hati sasarannya.


Hal yang bisa dilakukan hanyalah menangis dan menahan sakit yang ada disekujur tubuhnya. Anggota tubuhnya sudah cukup sakit, hatinya pun demikian. Ditambah lagi dengan kenyataan yang dia lihat dihadapannya kini, bintang tak bisa berhenti menangis walaupun di bawah pengaruh obat itu.


"Bintang kangen sama, Mama."