
Malam itu, Rey pulang dengan penampilan yang sangat kacau dari biasanya. Biasanya dia pulang tidak lebih dari jam dua belas. Namun kini dia pulang jam setengah dua dini hari karena banyak beban pikiran yang dia hadapi.
Mengenai paket yang diterimanya, Rey perlahan masuk ke dalam rumah dengan pikiran yang berantakan. Apalagi sekarang ini ada perempuan yang selalu sabar menantikannya di rumah.
Benar saja, baru saja Rey masuk ke dalam rumah, dia menemukan istrinya tengah tertidur di sofa. Menunggu pulang adalah suatu kebiasaan baginya.
Perlahan, dia mendekati istrinya kemudian mengelus kepala perempuan itu hingga terbangun. Seperti yang sudah-sudah, Marwa selalu menunggunya setiap malam di sana dengan buku-buku yang selalu Rey temukan di atas dada sang istri. Tentu saja dia sangat takut menyakiti hati perempuan itu karena kembalinya Bintang ke hidupnya saat ini. Berat adalah ketika berusaha melupakan masa lalu, akan tetapi masa lalu itu datang lagi ketika ia sudah berusaha untuk menerima perempuan lain dalam hidupnya yang akan menjadi pendampingnya selamanya.
Rey menatap istrinya lekat dengan tatapan yang sepertinya tidak bisa ditahan lagi oleh pria itu.
"Mas, kamu kenapa?" tanya perempuan itu sambil mengucek matanya.
Rey diam namun tersenyum kemudian memegang tangan istrinya.
"Tidur yuk! Kenapa enggak tidur duluan aja?" tanya pria itu. Dia tidak ingin menimbulkan suatu kecemburuan pada istrinya. Dia ingin bahwa semuanya baik-baik saja. Biarlah masalah itu dia yang hadapi. Tidak melibatkan istrinya apalagi dengan cara membahas perempuan lain nanti pada istrinya. Rey sungguh tidak tega jika harus menyakiti hati Marwa hanya karena paket fotonya bersama dengan Bintang dulu terbongkar oleh istrinya.
"Mas," panggil Marwa lagi.
Rey menarik kepala istrinya kemudian mengecupnya perlahan. "Maaf," ucapnya lalu memeluk istrinya. Sudah berapa kali dia berusaha untuk baik-baik saja di depan istrinya jika perasaan mengenai perempuan lain terlintas dalam benaknya. Tidak pernah ada dalam pikirannya bahwa meninggalkan Marwa adalah pilihan terbaik untuk mengejar Bintang lagi.
"Mas baik-baik aja, kan?" tanya Marwa.
Ditanya seperti itu, Rey melepaskan pelukannya lalu mencium kening istrinya untuk kedua kali. Menghindari masalah itu hanya akan membuatnya menjadi jauh lebih berantakan lagi. Barangkali dia harus menghadapi itu meskipun harus mengecewakan Marwa. Tidak ingin terus pura-pura mencintai Marwa saat pikirannya dikuasai oleh Bintang.
Rey melamun beberapa detik, "Hey, Mas kalau capek mending istirahat aja. Besok kita omongin ini ya!" ajak Marwa.
Pria itu mengangguk kemudian pergi ke kamar masing-masing bersamaan. Rey yang tak melepaskan tangan istrinya, hingga mereka berpisah di depan pintu kamar Marwa.
Sudah seharusnya dia bahagia dengan Marwa. Tetapi baru saja ingin membuka lembaran hati yang baru bersama dengan perempuan lain, justru Bintang datang dengan sejuta kenangan dalam hidupnya untuk mengacaukan itu semua dalam dirinya.
Tentu, bagi Rey itu adalah hal yang paling dia takutkan selama ini. Kehadiran Bintang saat rumah tangganya bersama dengan Marwa sedang berusaha untuk menjadi baik-baik saja dan menjalinnya dengan serius.
Banyak kata yang Rey pilih untuk menggambarkan perasaannya kali ini. tidak ingin secara gamblang untuk mengatakan bahwa dia masih belum bisa mencintai Marwa hanya karena kehadiran sosok perempuan di masa lalu yang menghancurkan segala kebahagiaannya itu.
Keesokan harinya.
Sarapan, Rey masih bisa bersama dengan Bintang. Bahkan dia tidak pergi bekerja dan lebih banyak bermalas-malasan di kamar. Marwa pun tidak memaksanya untuk pergi ke kantor.
Marwa yang melihat suaminya seperti itu, dia menghampiri suaminya dan tidur di sebelah Rey. Mereka berdua berhadapan dan seketika itu Rey memegang pipinya.
"Ada hal yang harus kamu tahu, Marwa. Maaf baru mengatakan ini selama kita menikah, apa pun Marwa. Apa pun bakalan aku kasih untuk kamu, asal jangan minta untuk dicintai. Karena perasaan itu sudah mati dikarenakan oleh perempuan lain," Rey mengusap wajah istrinya kemudian melihat butiran air mata jatuh dari pipi Marwa.
"Aku ngerti, Mas. Itu alasan kamu enggak pernah bisa untuk lebih dekat sama aku?"
Rey pun tidak bisa membendung lagi air matanya. "Maaf, aku memang enggak bisa. Mau seberapa hebatnya aku berusaha untuk mencintai kamu. Tetap saja, itu akan nyakitin kamu. Perasaan itu sudah lama mati sebelum kita bertemu, maka dari itu. Mari hidup masing-masing, aku akan bebasin kamu, kamu berhak mencari kabahagiaan kamu,"
"Maksud kamu cerai?" ucap Marwa perlahan dan pria itu langsung menggeleng.
"Beri aku waktu untuk semua ini, Marwa. Aku butuh waktu untuk nerima kenyataan ini, memang ini sakit buat kamu. Aku juga, tapi aku enggak bisa terus bertahan kalau terus seperti ini, lihat sekarang aku nyakitin kamu,"
"Mencintai orang yang masih mencintai masa lalunya itu sangat sulit ya, Mas," ucap Marwa melepaskan tangan Rey dari pipinya kemudian menyeka air matanya lalu bangun dari tempat tidurnya.
"Maaf,"
"Kamu memang butuh waktu untuk sendiri, Mas. Jujur, aku bahagia menikah sama kamu, Mas. Aku enggak pernah setenang ini sama orang asing, tapi sama kamu aku ngerasain hal yang sangat beda. Aku memilih sendiri karena aku enggak bisa nerima lain, entah itu di hati aku siapa yang selama ini buat aku enggak bisa nerima orang, tapi waktu itu adalah kamu, aku enggak tahu kenapa perasaan itu kuat, Mas,"
Rey terdiam dan terus meneteskan air matanya. Dia sudah tidak sanggup lagi pura-pura kuat di depan istrinya.
"Sekali lagi aku minta maaf sama kamu, Marwa,"
"Kamu enggak salah, hanya saja perasaan kamu yang masih terjebak sama orang lain itu yang enggak bisa aku terima, Mas. Berusaha untuk membuat kamu lupa itu enggak ada artinya, aku ngerti sekarang kalau aku hadir enggak ada apa-apanya, Mas,"
Rey menyeka air matanya. "Maaf,"
Marwa beranjak dari tempat itu kemudian keluar dari kamar Rey. Pria itu tidak mengejar istrinya karena dia tahu bahwa akan jauh lebih menyakitkan lagi ketika dia berusaha mengejar Marwa tapi hatinya masih diselimuti oleh rasa rindu kepada Bintang.
Rey berusaha menahan getir itu setelah Marwa pergi dari kamarnya.
Dia menghela napas panjang. Beranjak dari tempat tidurnya tadi, dia ingin ke kamar Marwa dan justru menemukan Marwa yang tengah membawa kopernya. "Mau ke mana?"
"Kamu butuh waktu untuk sendiri memutuskan semuanya sebelum berakhir, Mas. Aku enggak mau kamu memutuskan semua ini hanya karena kamu dalam keadaan bersedih maupun emosi. Ini sakit, Mas. Tapi aku enggak bisa untuk nahan perasaan kamu juga, kan? Maka dari itu izinin aku pergi satu minggu saja, Mas,"
Rey menatap istrinya dengan tatapan kosong. Sungguh sangat sulit untuk menerima semua ini. Apalagi dia berencana untuk pisah dari Marwa dan membiarkan perasaannya mati begitu saja bersama dengan masa lalunya.