
Dalam kehidupan Azka,
bersaing dengan sahabat sendiri itu adalah hal yang tidak pernah terbayangkan
olehnya. Selama ini ia selalu unggul
dalam hal apa pun. tetapi kini, ia harus menerima kenyataan bahwa Damar, saat ini
sedang mencoba untuk mendekati mantan istrinya.
“Panggil aku kalau ada
apa-apa!” ucapnya pada sekretarisnya. Semenjak ia tidak bertemu lagi dengan
Nagita, ia tahu bahwa kini perempuan itu telah berusaha untuk menjalin hubungan
dengan Damar. Tidak mungkin bagi Azka membiarkan hal itu terjadi, anaknya
adalah tetap anaknya, tak akan pernah mendapatkan kasih sayang dari siapa pun
juga, selain dirinya.
Sedikit perubahan yang
terjadi dengan Damar, pria itu kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk
mengambil cutinya. Azka sendiri tidak bisa menolak karena itu adalah hak untuk
Damar, tetapi waktu cutinya terlalu panjang. Meski itu adalah jatah sahabatnya
sendiri, Azka merasa bahwa Damar kini menghabiskan waktu bersama dengan Nagita
dan juga Rey.
Ia menggenggam erat
ponselnya. Hatinya begitu sakit melihat postingan yang waktu itu sempat
membuatnya marah. Meski sudah tidak ada hak lagi untuk Azka cemburu ataupun
marah. Tetapi baginya, Nagita akan selalu menjadi miliknya. Walaupun ia tidak
berhak lagi. Karena mereka adalah mantan suami istri.
Azka mencari
kesibukannya sendiri untuk melupakan sedikit kejadian memilukan waktu itu.
Menceraikan Nagita bukanlah pilihan yang tepat. Walaupun kembali, ia tidak
yakin bahwa Nagita akan mau melanjutkan rumah tangga yang sudah terlanjur retak
itu.
Azka juga selalu saja
terbayang dengan masa lalu. Deana yang jelas-jelas sudah ia pergoki tidur
bersama orang lain, tetapi dalam hatinya, ia percaya bahwa tidak ada cinta yang
lain lagi selain Nagita dan Deana yang menguasai hatinya.
“Lo kerja atau nggak
sih?” Azka mendengar hal itu langsung menoleh, seketika ia melihat sahabatnya
itu datang dengan menenteng sebuah map di tangan kanannya.
“Apaan?”
“Kenapa perusahaan lo,
lo biarin jatuh begini? Udah capek lo dengan kemewahan? Lo nggak ada gairah
buat senang-senang lagi dengan uang lo?”
“Maksud lo apaan?” Azka
tidak bisa menahan emosinya. Ia langsung bangun dan langsung menarik kerah
kemeja Damar.
“Lo rugi besar, dan
sekarang lo cuman diam gitu aja? Mana Azka yang dulu selalu semangat? Mana Azka
yang dulunya selalu saja menangin tender-tender besar? Sekarang lo cuman
tidur di sarang lo dengan nyenyak tanpa
ada usaha sedikitpun?”
Azka duduk kembali ke
tempat duduknya. Penyebab ia menjadi seperti itu adalah karena memikirkan
kenangannya dulu dengan Nagita. Kenangan yang di mana saat dirinya memulai
kehidupan baru dengan Nagita. Saat perempuan itu sakit ketika hamil, saat
mereka bermesraan di taman belakang. Bahkan saat dirinya menemani Nagita
sekadar membeli makanan. Kini hatinya mulai membeku kembali, entah kepergian
Nagita membawa dampak yang teramat buruk bagi dirinya. Perusahaannya merosot
bahkan hampir bangkrut, tetapi Azka tidak peduli dengan hal itu. Kenyamanan
yang pernah ia rasakan saat itu, hilang seketika oleh keegoisannya sendiri.
Beberapa hari lalu, ia
memeluk perempuan itu untuk terakhir kali. Entah kapan lagi bisa bersatu lagi,
sudah terlalu dalam menyakiti hati Nagita, dan tidak mungkin baginya untuk
kembali ke sisi Nagita saat semuanya sudah hancur. Rey, adalah kesalahan yang
ia perbuat dulu. Segala beban seolah ia tumpahkan kepada Nagita.
“Kerjain apa yang harus
lo kerjain, jangan pernah mikir yang nggak-nggak!” Damar meletakkan map
tersebut. Azka memeriksanya dan laporannya memang sedikit mengalami penurunan.
Azka bersandar berusaha
mencari ketenangan. Namun hatinya tetap memikirkan Nagita dan juga Rey. Tetapi
saat ia berusaha untuk menjemput mantan istrinya, sungguh hati Azka berubah
saat itu juga melihat perubahan sikap Nagita yang sudah berbeda. Bahkan Dimas,
ia tahu bahwa Dimas akan selalu menjadi penghalang baginya jika ingin bertemu
dengan anaknya.
Semua orang juga akan
melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Dimas. Yaitu melindungi
harta yang paling berharga dalam hidupnya. Azka tahu, bahwa Nagita tidak
memiliki orang tua lagi, tetapi seberapa hebat pun Azka berusaha untuk
mempertahankan Nagita, hatinya tetap memikirkan Deana. Saat dengan Deana,
hatinya untuk Nagita. Namun kini saat dirinya sendirian, ia jauh lebih
merindukan Nagita dan juga Rey. Pelukan, aroma bahkan kehangatan Nagita selalu
terbayang di pikirannya.
Azka tersadar dari
lamunannya saat Damar pamit dari ruang kerjanya.
“Jauhi Nagita!” ucapnya
dengan dingin.
“Urusan lo apa?”
Azka memicingkan
matanya saat mendengar jawaban dari Damar. “Gue nggak suka,”
“Hak lo apa? Dia bukan
siapa-siapa lo lagi, dia mau dekat dengan gue, ya terserah dia. Lo nggak ada
hak apa-apa lagi buat ngelarang dia ketemu sama gue, jalan sama gue, bahkan
pacaran sama gue,”
Azka bangun dari tempat
duduknya dan langsung menghajar Damar.
“Lo hanya nggak tahu
apa-apa, dan kenapa sikap lo aneh sama gue? Lo mau hancurin gue perlahan dengan
cara dekati Nagita, gitu?”
“Yang aneh itu lo, Az,
lo. Nagita udah cukup menderita karena lo, gue harap lo nggak pernah lagi
datang ke kehidupannya, Rey juga udah
cukup lo kasih harapan yang nggak jelas. Maksud lo apa buat nyalahin dia dekat
sama gue? Salah ya kalau gue itu berusaha untuk dekati dia? Salah gitu kalau
gue berusaha buat dia bahagia? Dia bahagia sama gue, dia nggak pernah tuh sebut-sebut lo di depan gue,
bahkan Rey minta gue nikahin, Nag-“
Azka sudah melayangkan
pukulan untuk Damar. Hatinya telah dikuasai oleh sikap egoisnya. Memang benar
bahwa tidak ada hak lagi untuk memarahi siapa pun yang dekat dengan Nagita. Akan
tetapi hatinya sakit saat mendengar bahwa Damar dekat dengan Nagita. Apalagi anaknya
sendiri meminta untuk Damar menikahi Nagita. Sampai kapan pun juga, Azka tetap
berprinsip bahwa Nagita adalah miliknya.
Cuih
Damar meludah ke
samping kanan karena perbuatan Azka. “Ini yang lo mau kan?”
“Apa pun yang lo
lakuin, gue bakalan tetap dekati Nagita. Sekalipun lo itu marah, gue nggak
peduli. Atau bahkan lo pecat gue dari sini, itu nggak ngaruh sama sekali buat
gue, yang ada gue bakalan tetap dekati dia, apa pun caranya. Dan ingat! Dia mantan
istri lo, bukan istri lo lagi.”
Azka melepaskan kerah
kemeja Damar dan membiarkan pria itu pergi. Di dalam ruangannya, kepalanya
sangat terasa pusing karena memikirkan hal itu. Tanpa berpikir panjang, ia
langsung meraih kunci mobilnya untuk mengunjungi anaknya lagi. Ia tak akan
membiarkan Rey dekat dengan Damar. Bagaimanapun juga anak itu adalah darah
dagingnya meskipun hadir dengan kesalahan. Tetapi Azka berusaha untuk bersikap
seperti biasa, yaitu memberikan kasih sayang yang baik untuk anaknya. Namun dengan
cara menghindari rasa rindunya pada Nagita, ia harus memiliki alasan sibuk
bekerja lagi agar hatinya bisa terasa sedikit lebih tenang.
Sudah dua jam Azka
duduk di dalam mobilnya sambil menunggu kepulangan anaknya dari sekolah. Hingga
kini ia bahkan tidak tahu di mana anaknya itu sekolah. Semenjak bercerai,
Nagita pernah mengatakan bahwa akan memindahkan Rey ke sekolah lain.
Beberapa kali melihat
ke arah arlojinya, anak itu pulang sekolah dengan jalan kaki bersama seorang
perempuan yang tidak di ketahui oleh Azka. Tanpa menunda lagi, ia langsung
turun dari mobil dan menghentikan langkah kedua orang yang hendak masuk itu.
“Tunggu!”
Mereka berdua langsung
menoleh.
“Tante ayo masuk!” Azka
memicingkan matanya saat mendengar anaknya yang ingin masuk ke dalam rumah
untuk menghindari dirinya.
“Rey, Daddy mau
ngomong!”
sama Daddy. Lebih baik Daddy pulang!”
“Rey, ingat pesan Om
Dimas? Kalau Rey nggak boleh benci sama. Papa. Sana ngomong sama Papa sebentar,
tante tungguin di sini,” ucap perempuan itu.
Rey langsung
mengulurkan tangannya dan Azka menyambutnya dengan senang hati.
“Aku bawa Rey sebentar,”
“Iya. Jangan lama-lama!”
Azka mengangguk dan
langsung menggendong anaknya menuju mobil. Melihat anaknya yang membuang muka,
hatinya terasa sakit diperlakukan seperti itu oleh anaknya sendiri. Memang salahnya
yang menelantarkan anaknya, tetapi bukan itu keinginan Azka. Hatinya hanya
tidak bisa memilih dua hati hingga akhirnya Nagita ia singkirkan begitu saja.
“Rey marah sama Daddy?”
“Sebenarnya Daddy sayang
nggak sama, Mommy?”
“Kenapa Rey bertanya
seperti itu? Mommy yang nyuruh?”
“Nggak. Mommy nggak
pernah nyuruh,”
“Kenapa Rey bertanya
seperti itu?” nadanya agak sedikit tinggi.
“Kenapa Daddy itu nggak
pernah ngerti? Kenapa semuanya Mommy yang salah? Kenapa Daddy itu harus buat
Mommy sedih? Pernah Mommy itu buat Daddy marah? Daddy Rey iri lihat teman-teman
Rey punya keluarga yang utuh, punya orang tua yang selalu jemput anak-anaknya
ke sekolah, sedangkan Rey sekarang nggak punya siapa-siapa,”
“Rey punya Daddy,”
“Apa artinya kalau
Mommy nggak ada?”
“Mommy ke mana?”
“Mommy sibuk kerja,”
“Di mana?”
“Nggak tahu,”
Azka langsung
mengangkat tubuh Rey yang tadi duduk disebelahnya.
“Rey sayang sama Daddy?”
anak itu hanya menggeleng, “Kenapa nggak sayang?”
“Daddy sering buat
Mommy nangis, nampar Mommy, Daddy nggak pernah sayang sama Mommy kayak Mommy
sayang ke Daddy,”
“Kalau Daddy balik sama
Mommy, Rey senang?”
“Lebih baik nggak usah
Daddy,”
“Kenapa?”
“Rey nggak mau lihat
Mommy nangis lagi, Daddy sebenarnya Mommy ada nggak sih di sini?” Rey
meletakkan tangannya di dada Azka. Melihat anaknya yang bertingkah seperti itu,
Azka langsung menggenggam tangan Rey.
“Ada, Rey. Mommy ada,”
“Kenapa harus Rey yang
nggak punya keluarga utuh? Leo sama Clara pasti bahagia ya kan Daddy? Nggak
kayak Rey yang harus pisah sama Daddy dan Mommy,”
“Mommy sebenarnya di
mana? Mommy ninggalin Rey juga?”
Anak itu mengangguk. Azka
memejamkan matanya menahan sakitnya. “Mommy ke mana?”
“Mommy kerja, Daddy,”
“Jangan bohong,
sebenarnya Mommy ke mana? Bilang sama Daddy!”
“Mommy kerja di tempat
jauh buat sekolahin Rey,”
“Rey, Daddy bisa
sekolahin Rey, Rey mau apa pasti Daddy beliin,”
“Nggak ada kok, Rey
cuman pengin lihat Mommy bahagia di sana, walaupun jarang pulang. Rey yakin,
pasti Mommy nggak nangis lagi, waktu Daddy telepon waktu itu Mommy juga nangis,
tapi Mommy bilang kalau matanya kelilipan,”
“Kalau Rey tahu Mommy
di mana, bilang! Daddy bakalan cari Mommy,”
“Nggak usah Daddy,
Mommy pengin hidup sendiri dulu. Sebelum Mommy pergi, Om Dimas sama Mommy
pernah nangis bareng, Om Dimas minta maaf sama nenek dan kakek, katanya Om Dimas
salah karena nggak bisa jaga Mommy dulu,”
‘Bukan Om Dimas yang
salah, tapi Daddy yang salah karena udah hancurin hidup Mommy. Bahkan sampai
sekarang, Daddy penyebab semuanya berantakan. Rey seperti ini juga karena
Daddy. Andai ada kesempatan untuk bertemu lagi, Daddy bakalan pilih Mommy dan
nyingkirin orang lain yang ngusik pikiran Daddy. Nggak bakalan lagi balik ke
masa lalu, Daddy pengin bahagiain Mommy saat ini’ ucapnya dalam hati. Azka tak
sadar air matanya menetes begitu saja, Rey langsung mengusapnya dan memeluknya.
“Daddy kenapa nangis?”
“Rey mau ikut sama
Daddy?”
“Nggak Daddy, Rey mau
nungguin Mommy di sini,”
Azka membalas pelukan
anaknya. Tak pernah terbayangkan rasa sakit hatinya saat bersama dengan Rey,
tetapi justru selalu menyakiti hati putranya. Jika memang kehadiran Rey adalah
suatu kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga ia masih bertanggung jawab
perihal anaknya dan ia masih memiliki ikatan yang baik dengan Rey. Jika dulu
menggugurkan Rey pernah begitu ia inginkan. Sekarang, tidak bertemu dengan
anaknya justru membuatnya merasa jauh lebih terluka dari sebelumnya.
“Daddy pulang ya! Rey nggak
mau nanti Daddy dipukulin lagi sama Om Dimas, Daddy masih bisa ketemu sama Rey
kok, tante Viona itu baik. Sama baiknya kayak Mommy, sekarang Rey tinggal sama
dia, jadi Daddy jangan khawatir,”
“Sebentar saja. Daddy pengin
peluk Rey,”
“Kalau Daddy sayang, Daddy
pulang! Rey cuman nggak mau Daddy dipukul. Om Dimas memang bilang kalau Rey
nggak boleh benci sama Daddy. Tapi Rey takut kalau dia lihat Daddy, dia bakalan
pukulin Daddy lagi kayak waktu itu,”
“Istirahat yang baik
ya! Besok Daddy bakalan datang lagi,”
“Jangan sering-sering
Daddy. Om Damar juga sering ke rumah jengukin Rey,”
“Kenapa dengan Om
Damar?”
“Rey pengin dia nikah
sama Mommy,”
“Siapa yang ngajarin
ngomong begitu?”
“Karena Mommy bahagia
sama Om Damar. Selalu nangis sama Daddy.” Anak itu turun dari pangkuannya. Sebelum
pergi, Rey bersalaman padanya seperti biasa. Melihat anaknya yang semakin
tumbuh besar, ada yang kurang dalam diri Azka saat ini. Yaitu tidak bisa
melihat Nagita yang entah di mana. Anaknya tidak mungkin berbohong, karena
selama ini Nagita mendidiknya dengan sangat baik.
Ia masih betah berada
di dalam mobil. Ia menimbang-nimbang ucapan Rey tadi perihal Damar yang sangat
disetujui oleh anaknya untuk menggantikan posisinya. Tetapi meskipun Nagita
menikah nantinya, Rey tetap anaknya. Bagaimanapun juga tidak akan pernah ada
mantan anak dan mantan orang tua. Kelak jika memang benar bahwa Nagita tak
pernah bisa kembali lagi ke dalam kehidupannya. Azka ingin tetap mencari dan
membesarkan Rey bersama. Walau di hatinya tetap ada Nagita.
“Suatu saat kita akan
bersama lagi, Rey, Nagita.” Ucapnya pada dirinya sendiri. Kali ini Azka akan
berusaha dengan keras untuk melupakan Deana. Peremuan yang pernah begitu
melekat dalam hatinya. karena mencintai perempuan itu, membuatnya dulu pernah
membuang istrinya sendiri yang sangat mencintainya. Setelah bercerai, ia baru
merasakan cinta yang sebenarnya. Ingin membawa Nagita kembali lagi pada
pelukannya. Tetapi itu sangatlah sulit bagi Azka.
*NOTE: Pada dasarnya seorang anak tak pernah menginginkan keluarganya retak. AMbil sisi baiknya. Terima kasih