RICH MAN

RICH MAN
MULAI LAGI



“Kak Rey nanti bakalan jarang pulang?”


Dengan suara yang ditarik sedikit dia berkata, “Iya, pasti bakalan jarang pulang dan jarang ketemu sama kalian berdua. Apalagi sama Mama dan Papa,”


“Kenapa harus di luar sih, kak? Kita kan keluarga. Kata Mama sama Papa tempat terbaik sejauh apa pun kita pergi adalah keluarga. Jadi kalau kakak pergi jauh, kakak nggak sayang lagi sama kita?”


“Nggak ada orang yang nggak sayang sama keluarganya. Sejauh apa pun kakak pergi, kalian adalah orang yang paling kakak sayangi dan akan tetap jadi keluarga kakak. Tapi, kakak juga punya keluarga yang harus kakak urus,”


Kedua adiknya saling tatap seolah tidak mengerti dengan penjelasan darinya. “Nanti kalau udah sampai rumah kalian tanya sama Papa dan Mama deh!”


Nabila dan Salsabila mengangguk dan mulai menyantap makanan yang sudah tersaji, Rey sendiri tersenyum melihat keduanya selalu mengawali dengan doa sebelum makan. Semua itu diajarkan oleh papanya. Rey tahu bahwa masa lalu buruk papanya dahulu, akan tetapi kini jauh lebih hebat dalam mendidik anak. Apalagi selalu mengajarkan hal baik kepada keduanya, selalu pulang lebih awal agar keduanya tetap mengaji seusai sholat magrib. Dibantu oleh Marwa dan terkadang dibantu oleh mamanya, keduanya pun menurut jika diminta melakukan tugasnya oleh orang tua.


Jika mengingat kembali masa di mana dia dulu membentak mamanya karena sakit hatinya terhadap Marwa semasih sekolah, terkadang dia membenci dirinya sendiri. Membentak orang tua hanya karena cinta. Dan itu sangat keterlaluan baginya. Rey ingat bagaimana dulu papanya selalu menjadi jalan tengah untuk masalah dirinya dan juga mamanya. Ia yang selalu memiliki pendapat yang berbeda. Padahal dulu, ia selalu saja berada di sisi mamanya semasih kecil.


Rey bahkan ingat semasa kecilnya dipenuhi dengan rasa sakit yang diakibatkan oleh orang tuanya. Terlebih saat dia harus menerima orang baru menjadi papanya. Dan itu adalalah masa-masa tersulit baginya.


Papanya selalu berpesan agar Rey tidak pernah mengulang masa lalu itu. Sampai saat ini papanya belum bisa memaafkan dirinya sendiri karena kesalahan masa lalu itu. Bahkan papanya selalu menceramahinya jika Rey memiliki sekretaris perempuan yang cukup seksi agar berpakaian lebih sopan lagi. Terkadang Rey selalu menuruti apa yang dikatakan oleh papanya dan menjaga hati istrinya meskipun di kantornya sekalipun.


Dia ingat betapa dulu begitu terburu-burunya dia jatuh cinta hingga Rey tersiksa hanya karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan waktu itu.


“Kakak mulai melamun lagi,” tanya adiknya sambil berusaha menjangkau makanan yang ada di depan Rey dengan sumpitnya. “Kak Rey nggak makan?”


Rey yang melihat adiknya kesulitan akhirnya mengangkat piring itu dan meletakkan di depan adiknya. “Kenapa nggak minta tolong kalau susah?”


“Abisnya kakak melamun dari tadi. Gimana kita mau minta tolong kalau kakak melamun terus,”


Sebelum ia memiliki kesempatan untuk berbicara karena adiknya terus menerus berbicara dari tadi memprotesnya yang terus saja melamun dengan pikirannya yang melayang dan fokus pada calon buah hatinya di dalam kandungan Marwa.


“Ma, kapan kita periksa ke dokter?” tanya Rey tanpa ragu.


Marwa yang sedang makan karena untuk pertama kalinya ia makan seleluasa itu dan selalu dibebaskan oleh Rey untuk makan apa pun asal bisa masuk ke dalam perutnya dan tidak muntah lagi. Ia yang tadi sedang mengunyah makanan itu langsung tersedak karena suaminya memanggil dirinya seperti itu.


Rey bereaksi cepat dan memberikan minuman tersebut dan langsung diminum oleh Marwa. “Makanya makan tuh pelan-pelan!”


“Kamu sih manggilnya gitu aku jadi kaget, Mas,”


Reynand memiringkan kepalnya. “Emangnya nggak boleh? Aku manggil gitu karena kamu calon Mama, kan?”


“Tapi nggak gitu juga, Mas. Kamu tuh ngagetin aku kalau kamu panggil aku seperti itu. Karena pertama kalinya manggil aku gitu,”


Setelah beberapa saat berpikir Rey baru sadar bahwa dirinya memanggil Marwa seperti itulah yang mengakibatkan istrinya hingga tersedak seperti tadi. Tidak seperti biasanya Rey memanggil istrinya dengan embel-embel seperti itu hingga membuat Marwa terkejut dan tersedak.


“Maaf, aku ngagetin kamu banget ya?”


“Iya,”


“Jadi lain kali aku panggil gitu nggak apa-apa, kan?”


Marwa berhenti dengan ujung sendok yang masih di mulutnya setelah tersedak tadi beberapa saat kemudian dia melanjutkan makannya. “Maksud kamu, kamu bakalan manggil aku Mama?”


“Nggak apa-apa, Mas,” jawabnya pelan.


Rey ingin melihat perkembangan sang janin walaupun belum terbentuk. Tapi dia hanya ingin memastikan bahwa istri dan calon buah hatinya baik-baik saja. “Aku pengin periksa, Marwa. Pengin ajak kamu ke dokter,”


Marwa perlahan tersenyum, “Nanti kalau kita udah pindahan kita ke dokternya ya! Kamu kan ngajak pindah cepat, jadi nanti kalau udah santai. Akhir-akhir ini kita bakalan disibukkan sama kepindahkan kita,”


Rey memandang Marwa sangat dalam dan mengangguk. “Baiklah istriku tersayang,”


“Kak Rey ngerayu melulu dari tadi, nggak malu sama kita?” celetuk adiknya ditengah-tengah keromantisan mereka. Rey tertawa mendengar adiknya yang mengatakan hal seperti itu.


“Kalian tuh ya senang banget ngerusak suasana kalau kakak lagi rayu Kak Marwa,”


Nabila tersenyum, “Kakak mirip Papa. Apalagi kalau Mama ngambek, Papa tuh nggak nyerah rayu Mama sampai bilang mau ngajakin jalan-jalan terus beli ini itu, sampai Papa pernah beliin bunga dulu banyak banget karena Papa telat pulang. Dibajunya ada bau parfum cewek, itu karena Papa nolongin orang kecelakaan terus digendong ke ambulance, padahal itu anak masih kecil kata Papa. Tapi Mama nggak percaya,”


“Kok kakak nggak tahu?”


“Kakak kan tinggal di apartemen dulu. Papa sampai beli bunga banyak kak, terus ya ditaruh di kamar Mama tuh semuanya. Tapi Mama ngambekkan banget orangnya,”


“Mama nggak maafin Papa?”


“Kakak tuh kayak nggak tahu watak Mama aja. Mama tuh kalau udah marah sama Papa pasti lama, apalagi kalau Papa telat pulang, Mama pasti marah-marah di rumah. Kita nggak berani dekat-dekat karena Mama sering nyuruh kita masuk kamar,”


“Tuh jadi nggak salah kalau sikap kakak ipar kalian yang sekarang lagi hamil ini nurunnya dari Mama. Ada sesepuhnya sih,” sindir Rey kepada istrinya yang seringkali mencium bajunya sepulang kerja jika telat pulang. Karena Marwa selalu hafal parfum yang digunakan oleh Rey.


“Apanya?”


“Nggak tahu sayang,”


“Kamu nyindir aku?”


“Entahlah, siapa lagi yang ngerasa cemburuan selain kamu,”


“Mas jangan nyebelin deh!!”


“Kapan Mas mulai nyebelin? Perasaan yang nyebelin itu selalu kamu deh,”


“Tuh kan mulai lagi,”


 


 


“Kalian itu ya! Nggak di rumah nggak di sini berantem mulu. Nanti kita bilangin loh ke Mama,” celetuk Salsabila yang merasa kakaknya sudah benar-benar kekanakan karena selalu saja bertengkar.