RICH MAN

RICH MAN
SABARMU



Bagi siapa saja yang jatuh cinta, dikhianati adalah hal yang paling menakutkan di dunia ini karena selain menghancurkan perasaan, dikhianati juga bisa menghancurkan kehidupan.


Dia yang berusaha untuk mengikuti ke mana istrinya akan pergi. Barangkali semua itu akan selesai hari ini. Setelah berpakaian rapi dan seperti biasanya ketika Marwa keluar. Maka seperti biasanya perempuan itu akan menutup dirinya dengan cadarnya.


Apalagi yang kurang pada istri Rey. Justru dia yang sudah menghancurkan perasaan istrinya dan mengajarkan istrinya bagaimana untuk diam dari semua ini. Bahkan mamanya tidak pernah menyinggung perihal dirinya lagi. Akan tetapi yang lebih crewet itu adalah papanya ketika dia pernah berkata bahwa dia bosan kepada istrinya dan mencintai Alin. Akan tetapi selama ini justru istrinya sudah bersabar melewati batas perempuan lain.


“Mas, aku pergi ya,” pamit istrinya. Begitu istrinya keluar. Dia langsung mengikuti ke mana perempuan itu akan menemui Alin. Dengan topi dan juga hoodie yang dikenakan, Rey berusaha menyamar sebaik mungkin agar tidak dikenali oleh istrinya nanti.


Perempuan itu berhenti di salah satu kafe persis seperti alamat yang dibaca oleh Rey tadi diponsel istrinya. Setibanya di sana dia tetap menggunakan hoodie tersebut kemudian duduk membelakangi istrinya. Dengan sofa yang tersedia di sana, dia yakini bahwa istrinya tidak mungkin akan melihatnya. Pelayan datang menghampirinya, dia menunjuk minuman yang dia pesan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Ia memasukkan kedua tangannya sambill menunduk dan mendengarkan mereka berbicara karena baru saja Alin datang ke tempat itu.


Rasanya begitu sakit dan benar-benar sakit harus menghadapi istrinya sekaligus kekasihnya. “Sejak kapan kalian dekat seperti itu?”


Alin terdengar seperti begitu angkuh ketika bertemu dengan Marwa. Apa yang dianggapnya baik selama ini ternyata benar seperti yang dikatakan papanya, bahwa baik buruk istrinya sudah dia ketahui. Akan tetapi buruk Alin belum dia ketahui sama sekali. Mengenai foto itu, Rey baru saja berusaha untuk melupakan kejadian itu. “Kamu nggak tahu aja kalau selama ini suami kamu nggak pulang itu karena di apartemen aku, kalau dia pulang terlambat itu artinya dia mampir ke apartemenku,”


“Aku tahu kalau kalian sudah memulai ini semua semenjak Mas Rey pergi ke luar negeri bahkan kalian pergi bersama. Aku yakin kamu bisa nemuin pria lain, nggak harus Rey kan?” ucap Marwa tegas. Lagi-lagi perasaan itu membuat Rey menderita. Dia mengkhianati istrinya dia juga telah membohongi istrinya.


“Tapi dia harus tanggung jawab atas perbuatan dia,”


Marwa terdiam sejenak kemudian menarik napas panjang dan berusaha agar tidak terlihat seperti orang ang begitu menyedihkan di depan perempuan yang telah merebut suaminya itu.


Tempat di mana begitu banyak orang berlalu lalang keluar dan masuk bergiliran. Dia tidak ingin terlihat sedang bertengkar dengan perempuan yang ada di depannya itu. Bagaimanapun juga dia berusaha untuk mengendalikan emosinya. Dia sebentar lagi melahirkan, akan tetapi suaminya juga memiliki calon bayi di perempuan lain. Maka, mau tidak mau dia harus meminta suaminya bertanggung jawab akan hal itu.


Apalagi sikap Rey yang aneh itu sudah menjawab semua rasa penasaran Marwa pagi tadi.


“Kalau begitu, biarin Mas Rey nemenin sampai bayi ini keluar. bagaimanapun juga dia harus melihat anaknya untuk pertama kali sebelum kami pergi dari hidupnya, dia akan bertanggung jawab atas kamu, dia akan menanggung semua ini. Kamu bakalan dapatin dia, cuman itu yang aku minta dari kamu, Alin. Berikan Mas Rey waktu untuk nemenin ngelahirin itu aja,”


“Oke, setelah itu kamu harus tepati janji kamu,”


Dibalik sofa itu ada pria yang tidak bisa menahan air matanya mendengarkan ucapan istrinya yang akan meninggalkannya. Disaat semua sudah berhasil dia kembalikan lagi. Tapi tidak dengan hati istirnya yang sudah terlanjur sakit itu. Perlahan, Rey pergi terlebih dahulu meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumahnya.


Dia menunggu kepulangan istrinya dengan meninggalkan sopir di sana. Dia meminta sopir tersebut menjaga Marwa sampai perempuan itu pulang.


Tatapan menyedihkan itu mulai terlihat dan ketika dia melihat ke luar jendela. Hujan turun perlahan dan suara pintu diketuk membuat Rey berbalik dan langsung membuka pintu itu. “Rey, Marwa ke mana? Mama dari tadi nyariin nggak ketemu,”


Rey hanya terdiam tidak sanggup mengungkapkan ini semua. “Marwa di luar, Ma. Dia lagi ketemu sama temannya,”


“Kamu suruh pulang gih. Lagi hujan nih, kasihan dia,” ucap Mamanya. Pria itu tidak menghubungi Marwa. Tetapi dia menghubungi sopir yang tengah bersama Marwa.


Sopir itu mengatakan bahwa Marwa sebentar lagi akan tiba di rumah karena mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang.


Rey hanya mengurung di kamar dan berusaha menjelaskan itu semua kepada istrinya. Akan tetapi bagaimana nanti jika penjelasan itu justru mengganggu kehamilan Marwa dan membuat istrinya justru stress dengan semua itu.


Pintu kamarnya di buka dengan pelan. Dia langsung menatap ke pintu melihat istrinya yang baru saja pulang kemudian melepaskan cadarnya dan hendak mengganti pakaiannya yang terlihat sedikit basah dibagian bawahnya.


“Mas jadi mau dimasakin?” ucap Marwa seusai mengganti pakaiannya. Akan tetapi Rey menggeleng dan justru meminta istrinya tidur disebelahnya.


Tanpa berpikir panjang, istrinya menuruti apa yang dia mau. Dia memeluk istrinya dari belakang. “Ada banyak hal yang terjadi sama sekali tidak pernah aku sadari. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan sama kamu. Tapi aku takut, takut kalau seandainya semua itu justru buat kamu pergi,”


Marwa merasa aneh dengan sikap suaminya hari ini. Entah apa yang akan dibicarakan oleh Rey. Jika itu mengenai Alin yang hamil, maka dia akan siap mendengarkannya. Tetapi saat Rey memeluknya dari belakang dan menggenggam tangannya kemudian pria itu mencium pipinya. Rasa sakit itu datang, dia tidak dapat menahan air matanya hingga pada akhirnya keluar dengan sendirinya.


Tetap saja air matanya keluar, dia berusaha untuk melepaskan tangan Rey dia berusaha menghindari pelukan itu. Bagaimana cara suaminya mencumbu perempuan itu diluar sana hingga membuatnya merasa jijik dengan suaminya saat ini. Sudah cukup baginya memaafkan suaminya yang sudah keterlaluan selama ini telah membohonginya. Dia tidak bisa lagi menerima apa pun alasan itu. Dia tidak bisa lagi untuk memaafkan. Dia juga tidak bisa untuk terus berada di sisi Rey.


“Mas, apa kamu tahu semua penyebab kita seperti ini?”


Rey memeluknya dengan semakin erat. “Aku tahu semuanya. Aku tahu kenapa kamu berusaha sabar selama ini. Aku tahu kalau kamu tahu aku main dibelakang kamu,”


“Dan itu sangat sakit, Mas,”


“Aku minta maaf,”


“Setelah dia lahir, aku mohon sama kamu, Mas. Aku pulang ke rumah Mama aku,”


“Nggak, kamu harus tetap di sini,”


“Semakin aku lihat kamu, semakin sakit yang aku rasain berada di sisi kamu saat di luar sana kamu justru sudah menyentuh perempuan lain,”


Rey bangun dari tempat tidurnya dan melepaskan pelukannya yang begitu erat tadi. “Bangun, biar aku jelasin sama kamu,”


“Mas, segala penjelasan kamu hanya untuk pembelaan atas semua kesalahan kamu. Tapi kamu nggak sadar sama sekali atas apa yang kamu perbuat selama ini. Andai saja kamu itu sedikit saja lebih hargai perasaan istri kamu sendiri. Nggak apa-apa Mas kalau seandainya kamu nggak bisa hargai, tapi tolong pikirkan anak kamu nantinya,”


“Aku bakalan akui semua kesalahan aku tanpa ada pembelaan,”


“Mas tidur sama Alin. Dan buat dia hamil, apa yang bakalan Mas jelasin dari itu saat semua bukti udah cukup aku dapatin?”


Rey meminta Marwa bangun dari tempat tidurnya. Begitu melihat air mata istrinya menetes tanpa henti, dia mengusapnya dan terus mengucapkan maaf. “Aku tahu aku salah. Aku tahu bahwa semua ini adalah kesalahan aku, aku bahkan ngerti gimana sakitnya kamu atas sikap aku yang udah keterlaluan ini, Marwa. Aku bahkan ngerti gimana kamu berusaha sabar untuk semua ini,”


“Mas, udah. Lebih baik kamu biarin aku sendirian,”


“Nggak bisa,” ucap Rey dengan nada tinggi.


“Aku mohon pelankan suara kamu, Mas! Aku nggak mau kalau sampai mama tahu tentang ini,”


Rey hanya tidak bisa menebak hati istrinya yang terlalu sabar saat menghadapinya. Bagaimana perempuan itu bisa sesabar itu menghadapi sikapnya yang sudah keterlaluan itu apalagi kini Marwa memintanya untuk memelankan suaranya.


Rey hanya bisa meneteskan air matanya di saat istrinya yang ada dihadapannya itu menangis. “Aku mohon udah nangisnya!” ucapnya pelan.


“Mas, sampai anak kamu lahir. Aku mohon kamu tetap pura-pura kalau semuanya nggak terjadi masalah,” pinta Marwa. Tetapi Rey menggeleng kemudian tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya.


 


 


Perempuan itu memilih untuk menghindarinya dibandingkan dengan tetap berada di kamar. Dia hanya bisa menyaksikan perempuan itu pergi. Dia tidak sanggup untuk menjelaskan mengenai semua itu adalah fitnah. Bahkan dia tidak tahu kebenaran tentang dia yang tidur bersama Alin dan tentu saja bahwa Alin tidak hamil karena itu adalah akal-akalan. Bagaimana mungkin Rey tidur hari ini dan justru Alin mengatakan dirinya tengah hamil.