RICH MAN

RICH MAN
Menangis Bahagia



Marwa keluar dari kamar terlebih dahulu. Sedangkan suaminya masih mengajak Audri mengaji seperti biasanya. Audri yang memang selalu diam ketika diajak mengaji oleh Rey. Anak itu akan duduk dan tenang dipangkuan Rey. Kata suaminya, biar Audri terbiasa mendengar hal-hal baik dan kadang melarang Marwa marah-marah ketika ada hal yang menyangkut tentang mereka berdua. Rey juga melarang Marwa marah di depan anaknya. Karena itu akan direkam oleh Audri dan nanti anaknya menjadi nakal. Untuk pertengkaran pun, Rey selalu memelankan suaranya.


Seperti yang selalu diajarkan oleh om Dimas. Ketika dia marah, maka harus memeluk istri. Begitupun sebaliknya, itu adalah cara meredam emosi. Papanya juga mengajarkan hal yang sepertiu itu agar dia dan juga rumah tangganya menjadi lebih baik. Mengenai kesalahan, tentu saja harus dibicarakan terlebih dahulu. Tidak boleh mengambil keputusan sendiri seperti dulu.


Marwa yang menunggu di ruang tamu karena Rey bilang jika mereka harus pergi setelah magrib dan nanti sholat isya mereka bisa mampir di masjid ataupun mushala.


“Masih ngaji tuh yang dua?”


“Masih, Ma,”


“Kamu tengokin bentar deh. Siapa tahu Audri tidur!”


Marwa kembali lagi ke kamarnya dan melihat suaminya yang msih berdoa dan mengajarkan Audri untuk berdoa. “Semoga jadi anak yang sholihah bisa buat Mama sama Papa bangga. Apa yang Papa carikan selama ini adalah rezeki yang baik untuk dikonsumsi oleh Mama dan juga Audri tersayang. Semoga Papa selalu dijalan yang baik. Jika kelak Papa yang nggak bisa didik kalian, tegur Papa kalau itu adalah hal yang salah. Semoga Audri tetap sehat, jadi anak sholihah seperti yang Papa dan Mama harapkan. Bisa menjadi anak yang berbakti untuk kedua orang tua. Baik sama orang lain dan hatinya selalu lembut seperti, Mama,” Rey mengusap wajahnya kemudian wajah anaknya kemudian Rey mencium kepala anaknya.


Rutinitas yang selalu dilihat Marwa setiap harinya ketika waktu magrib. Yaitu mengajak Audri mengaji dan berdoa. Sejak Audri baru lahir, Rey sudah membiasakan itu. Bahkan ketika sakit pun, Rey selalu meminta anaknya bersabar. Audri yang seolah mengerti dengan ucapan papanya pun jarang menangis ketika sakit.


Tidak mungkin dia meninggalkan suami yang begitu baik dalam mendidik anak dan juga dirinya. Marwa yang terbiasa melihat pemandangan itu setiap hari selalu merasa tenang. Apalagi kadang dia ikut mengaji dan membiarkan Audri duduk. Anaknya yang tidak pernah menangsi ketika diajak mengaji. Bahkan Audri akan tertidur ketika dipangkuan Rey.


“Aamiin,”


Marwa mendekati Rey yang baru saja berbalik dan melihat dirinya yang berjalan mendekat lalu duduk disebelah sang suami. Rey menarik kepalanya dan mencium keningnya. “Kenapa tadi siang jilababnya dilepas waktu tidur?”


“Lagi suapin Audri, terus kena, Mas. Udah gitu dia tidur kan, terus aku nemenin dia tidur. Tapi aku juga ketiduran, jadi lupa,”


“Lain kali nggak boleh dilepas!”


Ia menganggukan kepalanya. “Maafin aku ya, Mas,”


“Iya. Lain kali jangan diulangi lagi. Aku bersyukur kamu tuh mau dibimbing, nggak ngelawan kalau dikasih tahu. Sadar apa yang dilakukan itu salah. Kamu juga nggak pernah keras kepala. Justru kalau dimarahin dikit langsung nangis,”


“Karena aku nggak bisa dibentak, Mas,”


“Ngga bakalan ada yang bentak kamu, sayang. Aku nggak bakalan bentak. Aku bakalan tegur kamu kalau kamu salah. Dan juga ingatin aku kalau aku salah!”


Marwa mencium pipi suaminya. “Masya Allah kok cantik banget sih nih istri,” goda Rey yang baru pertama kali melihat istrinya menciumnya seberani itu. Marwa menciumnya sesekali tapi tidak pernah sampai mencium dalam waktu yang begitu lama seperti sekarang ini. “Gitu dong! Nggak usah malu lagi. Kan udah suami istri, lagian di kamar,”


“Kalau diluar aku mana mau sih, Mas,”


Rey terkekeh, “Kamu memang luar biasa sayang,”


“Mas, ditungguin di luar sama Papa dan Mama,”


Rey tersenyum, “Nanti aja tunggu isya,”


“Papa ngajakin sekarang, nanti sholatnya kita mampir,”


“Hmm, lima belas menit lagi lho, masa sih nggak mau nunggu sebentar saja?”


Rey kemudian menggendong Audri keluar kamar dan memberitahu papanya jika dia menunggu isya terlebih dahulu sekalian sholat di rumah agar nanti mereka tidak perlu mampir.


“Pa, sholat di rumah aja, ya? Lagian ya kita nanti mampir di jalan ya sama aja sih sebenarnya,”


Ia memilih kembali ke kamar dan mengajak anaknya menemui Marwa di sana.


“Kamu wudhu lagi?” tanya Rey ketika melihat istrinya dari kamar mandi.


“Hehe kan batal tadi,”


Rey kemudian mengaja anaknya bermain di atas ranjang sambil mengganggu si kecil. Rasanya dia begitu senang menjadi orang tua apalagi usia anaknya yang masih kecil tapi sudah mengerti dengan apa yang dia katakan. Rey juga tidak pernah bertengkar dengan Marwa jika itu menyangkut tentang bagaimana mereka merawat anak mereka.


“Istriku sayang!” panggil Rey yang kemudian Marwa berbalik dan melihat suaminya yang sedang berbaring sambil mengajak Audri bermain.


“Apa sih, Mas? Manggilnya gitu banget,”


“Ini ajaran Om Dimas lho, biar istri jadi tambah sayang katanya,” Rey menggoda istrinya yang baru saja memasang mukenahnya. “Jagain Audri bentar, mau wudhu dulu!” ucap Rey yang kemudian dihampiri oleh Marwa.


Setengah jam kemudian, mereka berdua selesai sholat dan baru saja selesai berdoa dan mengajak Audri keluar dari kamar dengan jilbabnya yang begitu lucu. Audri yang dia biasakan menggunakan jilbab sejak kecil berharap bahwa dia tidak akan melepaskannya kelak ketika besar. Itu adalah harapan Rey karena kelak, dia yang dimintai pertanggungjawaban ketika anaknya tidak mau menutup auratnya.


“Aduuuh cucu nenek kok cantik banget sih? Tadi pakai jilbab lain, sekarang lagi pakai jilbab baru ternyata, ada bau baju baru,” canda mamanya yang kemudian menggendong Audri.


“Biar Papa yang nyetir, Rey,” ucap papanya begitu Rey hendak masuk ke dalam mobil dan mengambil kendali.


Mereka cukup lama dijalan, kali ini berhenti di salah satu restoran mewah yang belum perna dikunjungi oleh Rey dan istrinya. Bahkan sama sekali tidak pernah dia datangi restoran sebesar itu selama hidupnya.


Ketika mereka masuk, suasaa romantis pun mulai terasa. Apalagi dengan meja khusus yang ada di lantai empat dan di sana hanya ada mereka dan disekelilingnya hanya ada lampu-lampu kecil yang menghiasi tempat itu.


“Pa, ini kayak kencan tahu, nggak,” kata Rey karena tidak pernah sekalipun dia datang ke tempat seperti ini dan melihat pemandangan yang begitu bagus seperti sekarang.


Tak berselang waktu lama, kue besar pun datang ke tempat mereka duduk. Azka yang menyiapkan semua ini untuk menantunya. Semua itu dia lakukan karena dia begitu menyayangi menantunya yang rela bertahan untuk anaknya yang bodoh waktu itu. Mungkin ini tidak seberapa, tapi inilah yang diberikan oleh Azka. Belum lagi untuk kejutan berikutnya dia berikan ketika mereka pulang dari restoran nanti. Dia memang sempat kesal ketika anaknya selingkuh waktu itu dan hampir saja rumah tangga anaknya tidak bisa diselamatkan. Namun, dengan usaha dan juga doa yang dia panjatkan setiap hari agar anaknya bisa utuh kembali dengan istrinya. Azka lakukan apa pun demi keduanya.


Marwa menoleh ke belakang. “Itu kue ulang tahun buat kamu,”


Kue ulang tahun yang begitu besar dan juga membuat Marwa tidak percaya dengan kejutan yang diberikan oleh papa mertuanya. Ini adalah pertama kalinya dia merayakan ulang tahun seperti ini.


Belum lagi ketika dia melihat kedua orang tuanya juga hadir di tempat itu. Yang datang terlambat. “Selamat ulang tahun sayang,” ucap mama dan juga papanya yang menciumnya bersamaan. Tak terasa air matanya menetes begitu saja ketika orang tuanya dihadirkan dalam acara ulang tahunnya.


“Maaf nggak ada lilin dan sebagainya, Marwa. Ini adalah perayaan di mana kamu adalah menantu terbaik yang Papa dan Mama punya. Kamu bukan sekadar menantu, tapi kamu adalah anak Mama dan Papa,” ucap Azka yang kemudian dibalas dengan senyuman. Rey yang membiarkan istrinya membuka cadarnya dan langsung memeluknya karena dia begitu terharu dengan kejutan yang diberikan malam ini. Lagipula tidak ada orang lain di sana selain kedua orang tua dan juga mertuanya.


“Terima kasih, Ma, Pa. makasih juga buat kedua orang tua aku yang sudah datang,”


“Mama sama papa datang karena diundang sama mertua kamu, Nak,”


 


 


Marwa menyeka air matanya. “Terima kasih, Ma, Pa,” ucap Marwa kepada kedua merutanya. Jangankan Marwa, Rey saja tidak tahu jika orang tuanya menyiapkan ini semua untuk istrinya. Rey tidak pernah menyangka jika orang tuanya akan memberikan hadiah seperti sekarang ini. Pertemuan kedua orang tua yang mungkin saja diharapkan oleh Marwa dan justru membuat istrinya menangis karena bahagia. Belum lagi karena perbuatan dirinya tadi di rumah ketika dia membelikan hadiah dan membuat istrinya menangsi juga karena kado ulang tahun itu.