RICH MAN

RICH MAN
Nikahi Dia!



“Mas, kamu nikahi, Hana, ya!”


Tubuh Rey langsung membeku ketika istrinya berkata demikian. Menikahi Hana yang saat ini sedang hamil. Gila, benar-benar sangat gila. Apa yang dipikirkan oleh Marwa sehingga dia meminta Rey menikahi perempuan itu. Rey akan menolak, akan tetap menolak bertanggungjawab atas apa yang tidak dia perbuat. Bagaimanapun juga, dia bahkan rela meninggalkan selingkuhannya dulu demi kembali lagi bersama dengan istrinya. Sekarang ini justru diminta untuk menikahi sahabat istrinya. Tidak mungkin, Rey terus menggelengkan kepalanya tidak mau jika dia diminta untuk menikahi Hana. Apalagi perempuan itu sedang mengandung anaknya Zibran.


Seperti yang dikatakan oleh Rey bahwa pria itu hanya mau enaknya saja dan seperti sekarang ini justru meninggalkan Hana sendirian.


Dia yang tadinya dibantu memasang dasi oleh istrinya tiba-tiba sjaa diminta untuk menikah. Tidak sekali tidak maka tetap akan menjadi tidak. Karena tidak pernah melakukan kebodohan untuk menghamili perempuan itu. Justru dia yang harus bertanggungjawab atas apa yang dilakukan oleh orang lain. Gila, berbagi barang. Mungkin saja Rey ikhlas. Tapi jika membagi hatinya, maaf, tidak bisa dia lakukan apalagi itu akan sangat menyakiti hati istrinya.


“Marwa, aku nggak bisa,”


“Kenapa? Kasihan dia itu hamil, Mas,”


rey mengusap wajahnya dengan kasar. “Harus? Harus gitu aku nikahi dia yang sedang hamil anak orang lain. Otak kamu di mana sih, Marwa?”


“Anaknya akan jadi cemooh orang lain kalau dia nggak nikah. Perutnya sudah besar, Rey. Sudah terlihat,”


Rey? Marwa memanggil namanya hanya karena dipaksa menikah dengan sahabat istrinya sendiri. Tidak akan pernah, dan itu akan menjadi mimpi terbesar Marwa yang di mana Rey tidak akan pernah mau untuk menuruti keinginan istrinya.


Sakit, adalah ketika dia seolah dipaksa membuka lembaran usang yang dulu pernah dia tutup begitu rapat. Justru sekarang diminta istrinya untuk menikahi perempuan lain. “Aku ikhlas, Mas. Aku ikhlas asal anaknya punya, Ayah,”


“Marwa, aku bukannya nggak mau nurutin kamu. Tapi, aku nggak ada perasaan sama sekali sama dia. Bagaimana kamu bisa meminta suami kamu untuk menikah lagi? Apalagi dia sahabat kamu. Oke, mungkin yang lainnya bisa dibagi. Tapi, suami itu nggak bisa dibagi, Marwa. Apa yang kamu pikirkan sih? Kenapa kamu nggak bisa sedikit saja pikirkan diri kamu sendiri terlebih dahulu! Berhenti pikirkan orang lain. Aku sudah pernah bilang kalau kamu sudah cukup untuk ikut campur ke dalam urusan orang lain. Tapi, kenapa sih kamu masih lakukan itu! Sekarang teman kamu hamil malah kamu suruh aku tanggung jawab untuk dia. Kamu taruh di mana sih otak kamu?” nada bicara Rey tinggi dan bahkan menyebut otak yang seharusnya tidak dia katakan. Tapi, inilah kekecewaannya pada sang istri yang memintanya menikahi sahabatnya sendiri. Rey tidak akan pernah mau menyakiti hati istri. Apalagi menyakiti hati anaknya yang juga perempuan.


“Mas, aku nggak mau kalau dia itu nanti jadi bahan olokan orang lain,”


Apa pun alasannya. Rey tidak akan pernah mau bertanggunjawab. Apalagi istrinya terlihat begitu bodoh untuk memintanya menikahi Hana. “Kamu pikir aku nggak malu? Marwa, aku punya istri sebaik kamu. Tiba-tiba aku nikahi perempuan hamil anak orang lain. Bagaimana orang tua aku? kamu pikirkan orang tua kamu juga!”


“Jangan sampai mereka tahu, Mas,”


“Aku masih punya perasaan,”


Rey langsung menyeka tangan istrinya ketika Marwa hendak menyentuh pipinya. Tidak mau menyakiti hati lagi untuk kesekian kalinya. Rey keluar dan membanting pintu begitu saja. Tidak peduli dengan anaknya yang ada di dalam sana. Audri yang baru saja bisa berjalan. Apa dia haus membagi cintanya? Dia juga tidak akan pernah mau bertanggungjawab untuk hal yang tidak dia lakukan sama sekali.


Lebih baik dia bertengkar hebat dibandingkan dia harus menikahi perempuan itu. Bukannya Rey mencela, tapi istrinya jauh lebih penting. Yang menjadi masalah di sini adalah ketika istrinya meminta dia menikahi Hana yang saat ini mengandung anak Zibran. Pria itu ke mana? Di saat Rey sudah berusaha mengingatkan. Justru masalah baru datang lagi.


Dia sudah meninggalkan perempuan lain dulu demi membahagiakan istrinya dan meminta kesempatan. Tapi, bodohnya Marwa yang meminta dia menikahi Hana. Istri tidak akan pernah tahu bagaimana sebenarnya di madu itu seperti apa.


Rey menolak, akan tetap menolak untuk menikahi sekalipun itu adalah teman istrinya sendiri. Tadi, Marwa meminta agar permintaannya kali ini dituruti. Tapi, untuk menikahi. Dia akan tetap mengharamkan apa yang diminta oleh Marwa tadi. Dia pikir istrinya akan meminta sesuatu yang baik. Tapi justru istrinya meminta dia menikah lagi.


Di kantor. Rey tidak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya karena dia tidak bisa bekerja dengan sangat baik ketika itu. Zibran adalah dalang dari semua ini. Beberapa kali Rey mencoba menghubungi pria itu. Tapi tidak ada satupun panggilan Rey yang dijawab oleh pria tersebut.


“Ah, brengsek!” Rey mengumpat. Kenapa masalah selalu datang ke keluarganya. Kenapa semua itu terasa begitu menyakitkan. Ditambah lagi dia yang bertengkar dengan istrinya hanya karena masalah orang lain. Seharusnya Marwa tidak perlu ikut campur ke dalam urusan orang lain. Tapi, istrinya begitu keras kepala dan sekarang ini justru dia yang diseret juga.


Rey bahkan mencari pria itu ke proyek. Tapi seperti biasanya, dia tidak menemukan pria itu di sana. Rey pikir ketika bertemu malam itu, Zibran akan menikahi Hana dan meminta izin kepada istrinya agar bertanggungjawab karena Hana sudah terlanjur hamil anaknya. Tapi, justru pria itu kabur dari kenyataan yang begitu rumit. Rey tidak bisa membantu banyak. Dia memberikan proyek itu agar dia bisa menghidupi perempuan itu juga karena sudah terlanjur hamil. Tapi apa? Justru ini adalah sesuatu yang salah. Dia tidak mendukung pria itu untuk berselingkuh, sama sekali tidak. Tapi ketika dia baru mendengar tanda-tanda kehamilan Hana, dia langsung mengajak Zibran bekerjasama. Tapi lihat saja buktinya, pria itu kabur dari masalah ini dan tidak mau bertanggungjawab mengenai anaknya yang mungkin saja nanti lahir tanpa seorang ayah.


Menjadi anak yang selalu dibully karena status orang tua itu pernah Rey rasakan ketika dia SD dulu. Mulut anak-anak yang belum bisa dijaga akan sangat sakit. Bahkan dia juga pernah mengalami masa-masa di mana dia benci orang tuanya.


Sepanjang hari, Rey hanya duduk di taman dan tidak pergi ke kantor karena otaknya sudah dipenuhi oleh masalah yang masih belum bisa dia tangani. Marwa, perempuan yang menyebalkan mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan temannya sendiri. Salah, Rey akan tetap menganggap itu adalah kesalahan yang fatal.


Menjelang magrib, dia masih berada di sana dan hanya jeda ketika waktu sholat tiba. Rey tidak suka saat ini dirinya yang dipaksa menikah oleh istrinya sendiri. Rasanya dia begitu takut jika istrinya nanti pergi hanya karena itu.


Jika dia bersikap tegas nanti. Kemungkinan istrinya akan menangis dan itu tidak akan pernah tega dia lakukan. Membuat Marwa menangis lagi adalah sesuatu yang Rey blacklist dari hidupnya.


Pelan-pelan dia langsung masuk ke dalam rumah begitu saja.


Baru saja dia hendak menaiki tangga. Dia melihat ada Hana di sana. “Marwa sedang bercanda, kah?” pikir Rey ketika melihat perempuan itu baru saja turun dari tangga dan berdiri di depannya.


“Selamat malam,”


Rey menganggukkan kepalanya. “Ah iya, selamat malam,”


“Marwa lagi tidurin Audri, Mas,”


Mas? Benar-benar panggilan itu membuat Rey semakin tidak mengerti dengan istrinya. Apakah Marwa segila itu? Apakah istrinya tidak berpikir bagaimana rasanya dia yang dimadu tapi justru meminta suami sendiri untuk menikah lagi.


Dia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Benar, tidak ada teguran semisal sudah pulang, Mas? Makan mala sudah aku siapkan. Sama sekali kebiasaan itu tidak ditanyakan oleh Marwa. Rasanya dia kesal. Dia ingin memaki dirinya sendiri.


Oke, jika Marwa tetap keras kepala seperti ini. Dia tidak akan pernah pulang ke rumah dan akan tinggal di rumah kedua orang tuanya untuk sementara waktu dan menyembunyikan masalah yang terjadi selama ini.


‘Sayang, kamu segila ini ternyata’ keluh Rey ketika dia melihat istrinya melewatinya begitu saja. Tidak ada senyuman, apalagi ciuman seperti biasanya ketika dia pulang bekerja dan disambut oleh ciuman di pipi oleh istrinya. Kali ini tidak ada lagi kehangatan seperti itu. Rasanya Rey ingin mengguyur dirinya di bawah shoower untuk mendinginkan kepalanya dari emosi yang sedang mendidih itu. Saran dari om adalah ketika dia marah, dia harus memeluk istrinya. Sepertinya itu tidak akan berlaku lagi sekarang.


Benar saja, Rey kali ini dibawah guyuran air yang ada di dalam kamar mandi. Sudah begitu lama dia berada di sana. Ingin rasanya emosi itu tersulut. Tapi tidak bisa, setiap kali dia melihat istrinya justru perasaan kesal itu muncul di dalam hatinya. Marwa sudah kelewatan. Rey benci jika dipaksa menikah lagi.


Seusai Rey mandi dan sholat, dia turun ke meja makan untuk makan malam bersama dengan keluarganya. Di sana ada Hana juga yang ikut makan. Sejak kapan Marwa berani membawa seorang perempuan lain ke dalam rumah tanpa seizin Rey? Istrinya benar-benar menguji kesabarannya untuk kali ini. Tidak pernah sekalipun Marwa berani membawa orang lain ke rumah kecuali keluarga dan kerabat terdekat. Tapi, sekarang seolah Marwa tidak menghargainya lagi untuk perihal seperti ini.


Ia menyipitkan matanya ketika melirik perempuan yang ada disebelah istrinya sedang makan malam dengan khidmat, dua istri? Tidak pernah ada di dalam kehidupan Rey untuk punya istri dua. Apalagi istri itu dipilihkan sendiri oleh Marwa.


Cantik, memang. Tapi kenapa dulunya perempuan itu tidak pernah mendengar nasihat dari dirinya yang disampaikan melalui Marwa mengenai pria beristri yang tidak akan pernah meninggalkan istrinya hanya demi wanita kedua. Sangat jarang sekali itu terjadi. Pihak kedua akan dirugikan. Sekalipun pihak kedua menang, pasti akan merasakan hal yang sama seperti pihak kedua. Roda kehidupan itu tetap berjalan. Tuhan tahu kapan harus memberikan hukuman bagi si pelaku. Dan itu ternyata sangat sakit bagi, Rey.


Jika dia melakukan kesalahan di masa lalu. Rey meminta maaf kepada Tuhan agar dosa itu segera diampuni karena dia tidak akan pernah menduakan istrinya apalagi sampai menyakiti hati dua perempuan. Salah, ralat. Tiga perempuan sekaligus. Yaitu, Hana, Marwa dan satu lagi malaikat kecilnya yang baru saja bisa berjalan.


Sungguh, pilihan itu sangat membuatnya seperti orang gila. Andai saja Marwa memberinya waktu dan tidak membawa Hana ke rumahnya. Mungkin Rey masih bisa membantu mencarikan Zibran untuk menikahi Hana. Tapi, Marwa terlanjur membawa Hana ke rumah ini dan kemungkinan orang akan menilainya benar bahwa yang menghamili Hana adalah dirinya. Pandangan itu akan dia rasakan dari orang-orang sekitar.


“Cobain ayam bakarnya juga, Mas,”


Oke, kali ini peran Marwa justru jadi nomor dua. Ketika peran itu harusnya dilakukan oleh Marwa. Tapi justru dilakukan oleh Hana yang menyodorkan ayam bakar dengan sambal goreng khas yang sangat dia sukai. Tapi, ini bukan yang dilakukan Marwa. Dari sudut matanya, dia melihat ekspresi istrinya berubah.


Seperti itu saja Marwa sudah cemburu. Apalagi dia yang akan menikahi Hana. Terlebih istrinya akan menangis jika melihat hal itu setiap hari. Rey mengharamkan dirinya sendiri yang menyakiti hati seorang istri. Dia tidak ingin jika hati istrinya terluka lagi. Sudah cukup baginya untuk bertengkar.


 


 


Begini rasanya, belum saja menikah sudah ada air mata yang ditahan oleh Marwa. Apalagi nanti jika dia benar-benar mengikuti kemauan istrinya. Pasti itu akan sangat menyakitkan bagi, Rey dan juga Marwa.