RICH MAN

RICH MAN
JANGAN LAGI



Reynand berjalan menuju ruang tamu mendekati mereka semua dan di sana memang ada beberapa rekan bisnis Om Reno. Reynand seperti biasanya memang patuh kepada siapa pun rekan Papa atau bahkan rekan bisnis Opa.


"Reynand itu kan putra tunggal dari Azka. Enggak ada salahnya dong kalau kita jodohin dia sama Widya. Lagian itu anak saya yang minta dijodohin, karena dia suka sama Reynand," tukas pria itu dan membuat Reynand mengurungkan niatnya untuk ke sana.


"Pak, jadi begini. Azka itu keras kepala dan lebih menyeramkan dibandingkan saya, perihal kebahagiaan anaknya, dia tidak pernah main-main. Bukannya dulu Bapak juga menginginkan perjodohan ini juga dan Bapak meminta anak saya, Leo. Harusnya Bapak jangan menjadikan anak kita sebagai alat untuk bisa bekerja sama,"


"Tapi saya yakin Reynand juga akan tertarik kepada Widya nantinya, jangan diremehkan. Sekarang boleh bilang enggak suka, tapi setelah setuju dengan perjodohan ini, suatu waktu dia bakalan mau juga kok sama Widya,"


"Oke, silakan. Jangan salahkan sikap Azka nantinya jika dia lebih keras kepala menanggapi hal ini, karena dia bukan tipe orang yang bisa bersikap baik sama orang yang mengusik kebahagiaan anaknya, terlebih itu adalah Reynand, karena putra pertama dan anak laki-laki tunggal, jangan berharap terlalu tinggi jika dia bisa menyanggupi tentang hal ini,"


"Lihat saja nanti bagaimana tanggapan dia, yang saya yakini sendiri bahwa Pak Azka akan menyanggupi ini, apalagi ini akan menguntungkan perusahaan, secara enggak langsung nanti akan ada beberapa cabang jika kita bekerja sama dan menjodohkan anak kita masing-masing,"


Reynand tersenyum getir, bagaimanapun juga dirinya tidak akan menerima hal itu karena usianya yang terlalu muda untuk menerima perjodohan dan seolah tidak memiliki kebebasan untuk memilih pasangan hidupnya sendiri.


"Lakukanlah, aku enggak keberatan sama sekali. Jika memang anda ingin anak anda tersiksa, maka lakukan!" ucap Om Reno.


Reynand keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung menghampiri Om Reno. "Re-Reynand?" ucap Om Reno terbata. Dengan ekspresi mereka yang berubah begitu saja membuat Reynand tersenyum.


"Aku izin bawa Clara pulang ya, Om. Dia nginap di rumah aku, ngomong-ngomong tadi bicara soal Widya?"


"Iya, Rey. Kenapa dengan anak Om?" ucap Papa Widya.


"Sebelum menjodohkan, alangkah lebih baiknya dijaga Widya itu Om. Dia itu bergaul bebas dan bergaul sama yang bandel-bandel, enggak sayang apa sama Widya kalau nanti malah tiba-tiba salah pergaulan?"


"Widya itu anak baik-baik,"


"Tidak akan ada orang tua yang mau mengatakan anaknya tidak baik. Orang tua hanya tahu anaknya jika berada di rumah, tapi tidak tahu kelakuan anaknya di luar, itu saja yang mau aku bilang. Aku pamit Om Reno," ucapnya. Om Reno membalas dengan senyuman.


"Oke, Om."


Reynand keluar dari tempat itu dan mencari keberadaan Oma dan Opanya yang ada di ruang keluarga, dirinya pun langsung berpamitan begitu saja. "Enggak nginap?"


"Enggak, Clara yang mau nginap. Ngomong-ngomong kalian ikut nimbrung sana, aku mau dijodohin sama Widya, aku enggak mau Oma, Opa,"


"Rey, sekolah yang benar. Opa sayang sama kamu, jadi anak yang bisa banggain kami, Leo juga nolak. Kalau mereka terus memaksa, nanti Opa yang ngomong, Papa kamu juga mana mau sih jodohin kamu sama anak itu. Pikirin sekolahmu ya, salam sama Papa dan Mama suruh mereka kemari, kita bahas ini nanti. Opa enggak mau cucu tertua Opa itu ada beban pikiran," Reynand tersenyum dan mencium Oma dan memeluk Opanya. Dari dulu memang dirinya dimanjakan, akan tetapi dirinya selalu bersikap biasa saja agar Leo tidak iri kepadanya.


"Beneran ya?"


"Hari sabtu suruh mereka menginap di sini. Jangan sampai Opa itu botakin kepala Papamu kalau sampai setuju sama perjodohan sampah begini. Kamu harus bahagia sama pilihan kamu sendiri, Rey juga jangan pacaran ya, jaga anak orang baik-baik! Jangan kejadian seperti Papa kamu, Opa sedih kalau sampai hal itu terulang lagi, Opa pengin banget kamu sukses dulu, terus soal pasangan nanti kamu cari sendiri, tapi harus tahu asal usulnya. Jangan buntingin dulu kayak Papa kamu,"


"Opa suka banget deh nyindir Papa?"


"Iya bagaimana enggak nyindir, Papa jarang ngobrol sama Opa semenjak dia bawa Mama kamu dalam keadaan hamil kamu dulu, sakit hati Opa Rey. Apalagi dia anak satu-satunya yang cowok,"


"Aku janji enggak bakalan begitu kok. Aku juga punya adik perempuan, kalau aku main perempuan, berarti sama aja aku ngasih celah buat diri aku dihukum dengan kesalahan yang sama, contohnya itu aku ngasih kesempatan ke orang lain buat nyakitin hati adik aku sendiri. Sudah cukup Mama yang rasain gimana sakitnya itu semua, Oma, Opa. Sekarang Papa juga sepertinya sedang belajar buat benar-benar setia sama, Mama. Buktinya kalau mau kerja keluar kota, Papa selalu hubungi Mama tiap waktu, apa pun yang Papa kerjain selalu izin sama Mama. Biarlah si kembar ngerasain gimana bahagianya dapat kasih sayang, enggak ngerasain gimana rumitnya hidup aku dulu ketika seusia mereka selalu saja dibohongi dengan alasan Papa sibuk," ucapnya lirih.


"Jangan berkata seperti itu, Opa sayang kamu. Begitupun dengan adik-adik kamu, tumbuh menjadi kakak yang baik bagi adik-adik kamu, Reynand. Nabila, Salsabila, itu mirip banget sama kamu, apalagi mereka sayang sama kamu, jangan buat mereka sedih. Bertanggung jawab yang baik, Leo juga sepertinya sekarang ngikut ke kamu. Papanya enggak khawatir lagi, Clara juga lebih condong sama kamu, itu artinya kamu punya 4 adik yang bakalan kamu jaga ketika semua keluarga udah enggak ada, termasuk Opa sama Oma, jangan pernah berselisih ya! Leo, Clara, Nabila, Salsabila, mereka itu akan jadi tanggung jawab kamu nantinya. Jangan lupa didik Leo biar bisa menjadi saudara yang baik buat kamu,"


"Pastinya, Opa. Kalau gitu aku pulang ya, kasihan Clara sama si kembar udah nungguin."


Reynand bersalaman lagi dan berpamitan kepada Oma dan Opanya. Ia bergegas keluar dan melewati Om Reno yang sedang sibuk bersama rekan bisnisnya yang taidak lain adalah papa dari Widya. Siapa yang tak kenal dengan gadis itu yang selalu saja mengejarnya di sekolah. Bahkan Reynand sangat risih dengan kehadiran Widya di dalam hidupnya.