RICH MAN

RICH MAN
ALASAN DUA HATI BERTAHAN



Menepati janji merupakan hal yang harus dilakukan oleh Reynand. Dia telah berjanji untuk menepati semua permintaan adiknya untuk mengantarkan dan menjemput si kembar ke sekolah. Namun, hingga saat ini Reynand belum sempat untuk sekadar menjenguk sang Oma di rumah. Terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga ia lupa bagaimana cara membagi waktu untuk Oma yang pernah begitu baik dalam merawatnya semasa kecil.


Semenjak menikah, ia begitu jarang bermain ke rumah sang Oma lagi. Waktunya lebih banyak kini merawat istrinya yang tengah hamil muda, bagaimana pun juga sebagai seorang suami yang siaga, dia berusaha sebaik mungkin untuk tetap menemani sang istri.


Di ruangannya, Rey mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik. Meski di kepalanya selalu saja tertuju kepada rumah. Dia bekerja dengan baik agar bisa menabung membeli rumah kelak dan tinggal bersama Marwa dan juga buah hatinya. Ia telah memiliki rumah, akan tetapi rumah itu ia rasa kurang nyaman karena terlalu besar. Rey tidak ingin itu justru membuat Marwa lelah. Karena dia tahu bahwa istrinya sangat sulit untuk meminta bantuan asisten. Pekerjaan rumah seringkali dia yang mengerjakan, dan itu tidak mungkin bagi pria itu membiarkan istrinya mengerjakan pekerjaan rumah lagi.


Sesekali ia melirik ke arah jam yang menempel pada dinding ruangannya.


Tok tok tok


Rey melepaskan berkas dan mengerutkan alisnya, padahal ia sudah memberitahu kepada sekretarisnya agar tidak ada orang yang menganggunya. Akan tetapi saat itu terdengar suara pintu di ketuk dan membuat Rey penasaran dengan orang yang berani mengganggu pekerjaannya.


“Masuk!” perintahnya dan merapikan beberapa berkas. Dia belum melihat ke arah tamu yang berani mengganggunya itu.


“Sibuk ya?”


Suara itu, Rey tahu bahwa pemilik suara itu adalah dari kakak mamanya. Dia langsung mengangkat kepalanya. “Om Dimas,” ucapnya sambil tersenyum dan mendekati pria itu. Rey yang begitu senang dikunjungi langsung ke kantor oleh saudara satu-satunya yang dimiliki oleh sang mama.


“Om apa kabar?” Tanya Rey kemudian mempersilakan Dimas untuk duduk setelah dia bersalaman.


“Baik, kamu kenapa enggak pernah ke rumah? Om dengar kalau Marwa hamil. Terus kenapa enggak pernah di ajak ke rumah? Tante kamu tuh bawel banget nanyain Om terus kamu enggak pernah ke rumah ajak dia,”


Rey merasa sangat malu kepada saudara tunggal dari mamanya itu. Dia sadar, jangankan ke rumah Om Dimas. Ke rumah oma pun Rey sudah sangat jarang saat ini.


“Rey, Marwa baik-baik aja, kan?”


Ia terdiam sejenak. “Baik, tapi ya itu. Aku enggak pernah ke rumah om karena dia masih muntah-muntah tiap pagi. Kadang aku juga kasihan sama dia kalau dia lagi makan, terus baru aja masuk, langsung dimuntahin lagi,” jelasnya.


“Turuti aja dia mau makan apa, jangan sampai di larang. Sekalipun dia minta durian, enggak masalah. Asal dikit,”


“Malah Mama waktu itu ngamuk sama aku gara-gara aku bawain Marwa durian,”


“Lah Om dengar kamu dimarahi sama Mama kamu karena bawa durian banyak. Katanya kamu mau nuruti semua kemauan Marwa,”


“Emang enggak boleh?”


“Mau istri kamu keguguran? Kalau dikit sih ya enggak apa-apa, dikit aja. Satu biji misalnya, udah gitu aja. Jangan sampai berlebihan, obat pengin,”


“Terus apalagi yang dilarang, Om?”


“Ya tanya aja sama Mama kamu. Tuh, kamu minta pisah rumah. Malah enggak tahu makanan apa aja yang enggak boleh di makan sama istri kamu sendiri, jangan sembarangan ya Rey. Nanti istri kamu bisa keguguran kalau kamu ngasih makan sembarangan. Kadang ya makanan yang dilarang itu yang dia inginkan, tapi pintar-pintarnya kamu buat atur keinginan dia. Jangan sampai nanti dia diam-diam makan,”


Rey mengangguk mengerti, “Ngomong-ngomong Om, kemarin orang tua Marwa ke rumah. Mereka tegur aku yang enggak pernah bawa Marwa pulang, sebenarnya aku bukannya enggak mau bawa pulang. Tapi begitu banyak hal yang buat aku selalu menunda ke sana. Pertama adalah karena aku takut jika orang tua Marwa menolak aku mengenai pria yang dulu pernah membuat Marwa hilang ingatan,”


Dimas mengerutkan alisnya dan menarik napas. “Maksud kamu tentang kalian yang enggak jadi ketemu terus Marwa dapat kekerasan gitu?”


Rey mengangguk.


“Rey, sebenarnya itu adalah hal yang enggak bisa kita salahkan. Kalau misalnya orang tua Marwa benci sama kamu karena kamu jujur sama mereka. Lebih baik memang harus jujur, daripada kamu diliputi dengan rasa bersalah yang begitu besar. Apa pun risikonya, cobalah untuk dijalani. Enggak bakalan ada orang tua yang rela memisahkan anaknya dengan suaminya apalagi mereka berdua saling mencintai. Sama halnya dengan Om dahulu yang enggak mau larang Mama sama Papa kamu untuk balik lagi. Ingat kalau dahulu Om adalah orang yang begitu menentang keduanya, tapi Om mikirin nasib kamu. Sakit memang ketika dipaksa menerima keberadaan Papa kamu. Tapi mau bagaimana lagi, kamu butuh Papa kamu,”


“Kadang aku ingin jujur saat itu juga, Om. Mau jujur dan bilang bahwa aku adalah orang yang pernah mereka ceritakan mengenai alasan mereka benci terhadap orang yang pernah membuat Marwa tersiksa begitu,”


“Kamu pernah bilang bahwa Marwa adalah perempuan yang menjadi korban broken home. Lalu apa bedanya sama kamu? Bukankah seseorang dipertemukan dengan pasangannya karena ada kesamaan? Tuhan mempertemukan itu ada minus dan ada plus. Tidak semua hidup itu begitu sempurna. Misalnya kamu sekarang udah mampu untuk bahagiain Marwa. Bukan berarti kamu akan bahagia terus untuk ngasih kebahagiaan ke istri dan calon buah hati kamu. Akan ada suatu masalah yang kadang membuat seseorang ingin pisah dari istrinya, tetapi hebat-hebatnya kamu sama istri kamu hadapi masalah itu,”


Dimas menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar. “Karena Om tahu takut jika orang tua Marwa minta kamu ceraikan Marwa, kan? Kalau memang itu yang kamu takutnya hingga kamu takut untuk jujur, cobalah belajar dari apa yang pernah terjadi. Jangan pernah takut untuk jujur, rasa sakit, rasa bahagia itu kadang berdampingan. Daripada kamu terus hidup dengan kubangan rasa sakit karena enggak bisa jujur,”


“Aku enggak sanggup kalau seandainya nanti orang tua Marwa minta aku untuk ceraikan, Marwa,”


“Coba saja. Nanti kalau kamu takut, biar kamu ajak orang tua kamu dan jujur sama orang tua Marwa. Om enggak ada hak untuk ikut campur. Sebenarnya ini adalah masalah kamu,”


“Papa juga bilang gitu. Dia bilang kalau Om juga dulu izinin Mama sama Papa bersatu karena mikirin aku,”


 


 


“Karena akan ada suatu alasan yang membuat dua hati untuk bertahan meski nalar begitu egois untuk berpisah. Tetapi hati meminta untuk menetap.”