RICH MAN

RICH MAN
KESALAHAN YANG SAMA



Pagi hari ketika dirinya


akan berangkat ke kantor. Ia melihat kotak susu Nagita yang berada di


lemari dinding yang menggantung. Azka membuka kotak susu tersebut dan


melihat isinya yang hampir habis. Jika tidak bisa mengawasi pola makan


Nagita, setidaknya ia bisa untuk mengawasi gizi yang baik untuk calon


buah hatinya.


Untuk pertama kali dalam


pernikahan mereka Nagita tak menyiapkan sarapan untuk dirinya. Ia pun


tak mempermasalahkan akan hal itu, bahkan hingga pukul delapan Nagita


masih tertidur pulas di kamar mereka. Ia berangkat bekerja tanpa


dilayani oleh istrinya seperti biasa. Ia hanya menghela napas panjang


dan keluar dari apartemen untuk menuju ke kantor.


Azka tiba di kantor dan


langsung duduk di ruang kerjanya. Perutnya terasa begitu keroncongan


karena tidak sarapan pagi. tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu


ruangannya dan ia mempersilakan untuk masuk.


"Permisi, Pak?"


"Ada apa, Dimas? Tumben?"


"Ah itu pak. Hmm—"


"Kenapa? Kamu gugup sekali?"


"Saya bisa ketemu Nagita?"


Sorot tatap Azka


memandangi Dimas yang seolah seperti orang lain. Padahal dia masih


berhak untuk bertemu dengan adiknya. Azka tak mempermasalahkan Dimas


bertemu dengan adiknya. Namun tidak memperbolehkan siapa pun tahu


tentang status pernikahannya selama berada di area kantor. Bahkan Damar


pun masih bisa tutup mulut hingga saat ini.


"Cari dia di apartemen saya!"


"Baik pak. Saya permisi dulu,"


"Telepon saja dia nanti. Atau saya yang akan beritahu dia kamu akan ke sana,"


"Tidak usah pak. Biar saya saja nanti saat istirahat siang,"


"Oke."


"Kalau begitu saya permisi, Pak."


Azka mengangguk dan tak


menjawab apa pun. Setidaknya di depan Dimas ia masih bisa bersikap


seolah rumah tangganya baik-baik saja. Padahal sama sekali ia tak


menginginkan akan hal itu. Azka sendiri masih belum bisa menerima


kehadiran Nagita di dalam hidupnya.


Ia mulai bergelut dengan


pekerjaannya. Bahkan beberapa kali panggilan dari Deana tak


dihiraukannya. Jika sudah fokus bekerja, ia memang paling tidak suka


diganggu. Tidak mungkin baginya, meninggalkan pekerjaan jika hanya untuk


urusan yang tidak terlalu penting.


Hingga tiba waktu untuk jam makan siang, Dimas yang sudah berpamitan untuk mengunjungi Nagita.


Damar menghampirinya ke


ruangan kerjanya begitu saja. Ia tak menghiraukan kehadian Damar dan


tetap fokus pada pekerjaannya. Untuk urusan makan siang ia bisa meminta


orang lain untuk membelikannya.


"Jangan nekat, Azka. Lo tahu nggak, di luar ada pacar lo yang nggak tahu diri itu datang kemari sambil marah-marah nyariin lo,"


"Deana?"


"Memangnya siapa lagi yang nggak tahu malu nyosorin suami orang."


Azka segera bangkit dari


tempat duduknya dan menyingkirkan Damar yang berdiri di depannya. Ia


berlari untuk keluar menemui perempuan yang sedari tadi menghubunginya.


Memang benar bahwa Deana tak bisa jika tidak dihubungi. Padahal ia sudah


mengingatkan perempuan itu agar tidak datang ke kantor sebab ada Dimas


di sana. Satu-satunya orang yang menjadi ancaman baginya adalah Dimas.


Ia tak mempermasalahkan siapa pun tahu tentangnya, tetapi jika


bersangkutan tentang hubungannya. Azka tentu tak menyukai akan hal itu.


"Kamu ngapain ke sini?"


"Kamu dihubungi nggak ada jawaban,"


"Dee, aku kerja. Apa kamu nggak bisa ngerti dengan hal itu?"


"Aku bisa ngerti, tapi kamu juga harusnya ingat sama aku,"


Azka menyeret Deana


keluar dari kantornya. Beruntunglah tidak ada orang-orang yang


melihatnya selain resepsionis dan juga Damar. Tiba di parkiran ia


mendorong tubuh Deana untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi.


"Kamu apa-apaan sih, kasar banget?"


"Kamu cuman mau dingertiin. Kamu bisa juga nggak ngertiin aku? Kamu nggak usah datang ke kantor,"


"Kenapa? Kamu ada perempuan lain di kantor?"


Azka memicingkan


tatapannya terhadap Deana. "Jangan buat aku jadi orang yang kasar,


Deana. Selama ini aku selalu turutin apa yang kamu mau. Jangan lagi kamu


buat masalah dengan kelakuan kamu yang maunya dituruti terus, jangan


mikir yang lain-lain. Kalau memang ada perempuan lain, untuk apa aku


beliin ini itu buat kamu?"


"Kamu banyak uang. Apa pun bisa kamu beli, termasuk perempuan,"


"Bahkan kamu termasuk orang yang aku beli, puas?"


"Azka, kamu kok ngomong gitu?"


"Diam!" serunya.


Perempuan itu hening seketika. Untuk pertama kalinya Azka bersikap


seperti itu kepada perempuan yang begitu ia sayangi. Namun karena Deana


tak menuruti apa yang ia katakan. Hal tu terpaksa ia lakukan agar


membuat efek jera kepada kekasihnya yang terbilang memang egois.


"Maaf, aku cuman nggak suka kamu menentang apa yang aku bilang."


Tidak ada tanggapan apa


pun dari Deana. Bahkan kata maaf begitu mudah baginya. Tetapi meminta


maaf kepada istrinya, mengapa hingga kini Azka tak mengatakan hal itu


meski hanya satu kali. Karena perbuatannya.


"Ya sudah. Kita pergi belanja. Mau?"


"Beneran?"


Azka merasa kesal. Hanya itu yang mampu membuat Deana luluh.


"Jangan lama-lama. Karena aku harus balik ke kantor,"


"Az?"


"Mau atau nggak? Kalau nggak ya udah aku antar ke apartemen kamu,"


"Kamu kenapa dingin? Kamu berantem sama istri kamu?"


"Memangnya kamu pernah lihat aku baik-baik saja? Apa aku pernah prioritaskan dia melebihi kamu? Jangan ngada-ngada, Deana."


"Kamu kenapa sih?"


"Jangan menyebalkan. Aku lagi banyak kerjaan. Aku antar ke apartemen kamu, kamu belanja sendirian,"


Azka memutar haluan


untuk menuju apartemen Deana dan melihat perempuan itu benar-benar kesal


dengan dirinya. "Turunin aku di sini, Azka!"


"Mau kamu apa?"


"Aku mau turun."


"Oke, turun. Setelah itu kita udahan."


"Azka, kamu serius?"


"Kapan aku pernah


main-main? Walaupun aku sayang dan cinta sama kamu. Bukan berarti hanya


aku yang berhak ngerti sama kamu. Kamu juga harusnya ngerti, apa yang


aku inginkan. Aku tahu hubungan kita sudah sejauh itu, tapi ingat


perjanjian kita,"


"Azka, aku nggak mau kita udahan,"


"Kenapa? Kalau memang kamu nggak bisa ngerti juga. Untuk apa kita bertahan,"


"Oke. Aku janji nggak bakalan datang ke kantor kamu lagi,"


"Aku pegang janji kamu. Ingat aku bisa main kasar sama kamu. Nggak selamanya cinta itu bisa lembut."


"Iya. Aku akan usahakan."


Azka meraih tangan Deana


dan menggenggamnya erat. "Maaf. Aku cuman nggak mau kamu ganggu


konsentrasi aku kerja. Kamu tahu sendiri pekerjaan aku itu nggak pernah


sedikit. Jangan sampai buat aku seperti orang bodoh yang terus saja kamu


permainkan. Aku yang ngejar kamu, aku yang mau kita kembali. Kamu baik,


bahkan aku bisa lebih baik sama kamu, kamu mulai ngelawan. Aku bahkan


bisa kasar sama kamu. Sesayang apa pun seseorang, kalau hatinya sudah


mulai tidak nyaman, mau dipaksa untuk menjadi utuh sekalipun nggak


bakalan bisa,"


"Aku juga minta maaf sama kamu,"


"Aku antar kamu pulang. Kamu belanja sendiri, nanti bawa kartu kredit aku,"


"Tapi janji pulang kerja kita ketemu?"


"Aku selalu sempatkan diri buat ketemu kan,"


"Ya udah. Kita pulang!"


Hingga tiba di apartemen Deana. Azka langsung menyerahkan kartu kreditnya dan langsung kembali lagi ke kantor.


Di kantor, Azka mengusap


wajahnya kasar. "Gue juga bilang apa? Jangan main api kalau lo nggak


mau kena baranya, asapnya itu perih bikin sesak lagi,"


"Maksud lo apaan?"


"Beruntung Dimas udah


pergi terus cewek lo datang. Kalau Dimas di sini, terus lo kayak gitu.


Gue nggak jamin lo masih ganteng, yang ada lo dihajar lagi kayak dulu.


Di mana-mana seorang kakak itu nggak bakalan suka adiknya diganggu. Kita


manusia normal, nggak salah kalau misal nanti lo dihajar lagi sama


Dimas. Tapi yakin lo Nagita nggak buka mulut soal kelakuan brengsek lo


yang sering bawa perempuan pulang ke apartemen lo?"


Azka mulai tidak tenang


dengan ucapan Damar. Selama ini ia memang tidak pernah berbuat lembut


pada istrinya sendiri. Sesekali hanya berbicara seperlunya selebihnya ia


bersiap layaknya brengsek yang bisanya hanya melukai hati perempuan.


"Gue yakin kok, nggak bakalan terjadi kalau itu mah."


"Semoga aja Tuhan masih


berbaik sama lo, kalau nggak ya gue nggak ikutan lho ya, Dimas kalau


marah nggak peduli sama bosnya sendiri. Dia sangar, gue aja takut.


Walaupun umur dia lebih muda dari kita, tapi dia nggak pernah takut demi


"Itu juga gue tahu.


Waktu gue dengerin saran lo buat nikahin dia. Muka gue juga hampir rusak


gara-gara dia. Gue mikirnya antara mati atau masuk penjara sama


kelakuan gue, cuman si perempuan itu noh larang kakaknya buat berhenti


hajar gue,"


"Itu namanya dia nggak mau lo kenapa-kenapa,"


"Terus untungnya buat gue apa?"


"Mati aja deh lo. Susah ngomong sama orang budak cintanya, Deana. Lama-lama lo itu goblok juga."


******


Azka mulai pulang larut


lagi. Setelah bertemu dengan Deana, hingga pukul satu dini hari. Ia


memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Ia tidak pernah lupa untuk


pulang, sejauh apa pun ia pergi. Bahkan sepengkhianat apa pun dia,


pulang adalah tujuannya ketika pergi.


Beberapa kali Deana


meminta agar Azka menginap, tetapi hal itu tidak pernah mampu dipenuhi


oleh Azka, ia memilih untuk tetap pulang. Tidak mungkin berlama-lama


karena sudah begitu jauh hubungan mereka. Ada rencana untuk mengenalkan


perempuan itu kepada kedua orang tuanya, tetapi masih ada kejanggalan di


hati Azka, yaitu tentang sikap Deana yang masih angkuh. Jika belum bisa


mendidik Deana dengan baik, maka ia tidak akan pernah mengenalkan


perempuan itu kepada orang tuanya.


Jika membandingkan sifat


Deana dan Nagita, kelembutan Nagita jauh lebih baik. Tapi selama apa


pun mereka bersama. Satu senti pun, perasaan Azka tidak pernah ada untuk


istrinya. Bahkan meski tidur berdua, memandangi istrinya agar tumbuh


perasaan cinta. Tetap saja tidak bisa. Justru ia merasa benci pada


dirinya sendiri saat hidupnya yang berantakan menghancurkan hidup orang


lain. Untuk hidupnya yang sempurna, sosok Nagita menjadi pengacau


semuanya.


Saat mengemudi untuk


pulang, ia mengingat tentang susu untuk Nagita. Setelah mencari


supermarket yang buka dua puluh empat jam, Azka berhenti disebuah


supermarket untuk mencari kebutuhan istrinya. Ia membeli beberapa kotak


susu untuk kebutuhan asupan si calon buah hati.


Tiba di apartemen, Azka


langsung membuka pintu dengan pelan seperti biasanya. Karena seringkali


menemukan Nagita telentang di sofa hanya untuk menunggunya pulang.


Namun, hal lain justru terjadi. Perempuan itu masih sibuk membaca buku


di sofa. Azka mendekatinya dan memberikan kantong plastik yang berisikan


beberapa kotak susu.


Tanpa berbicara apa pun,


Nagita meraih kantong plastik itu dan memperhatikan kotak susu yang


dibelinya tadi. Namun ada yang berbeda dari ekspresi Nagita dan


memeriksa semua susu yang dibeli oleh Azka tadi.


"Kenapa?"


"Itu, eeee susunya salah,"


"Salah gimana?"


"Susunya untuk yang baru


hamil. Sedangkan saya udah besar gini, beda lagi," Nagita menundukkan


pandangannya seolah mengisyaratkan bahwa susu yang dibelikan Azka memang


salah.


Azka mengambil salah


satu susu yang dibelinya dan membaca tulisan yang ada dibelakang kotak.


"Iya memang salah, buang aja kalau gitu!"


"Nggak usah. Nanti saya yang tukar. Tinggal kasih struknya,"


"Udah dibuang,"


"Oh. Ya sudah." Nagita


beranjak dan langsung mengambil susu yang ada di atas meja tadi. Azka


yang melihat hal itu merasa sangat bodoh. Bisa-bisanya membeli susu yang


salah untuk calon buah hatinya.


Setelah kembali dari dapur, Azka disuguhkan dengan minuman sepulang dari apartemen Deana.


Nagita berlalu meninggalkan dirinya, "Nagita, tunggu!"


"Ada apa, Pak?"


"Saya akan menikah,"


Tubuh Nagita membatu. Azka yang melihat reaksi itu hanya tak berkata apa-apa lagi.


"Lakukanlah. Setelah bayi kamu lahir. Saya permisi."


Kamu? Untuk pertama


kalinya Nagita mengatakan kata kamu untuk Azka. Kata yang tak pernah


didengar sebelumnya. Ia hanya terdiam setelah Nagita pergi. Ia beranjak


dan hendak mengikuti Nagita. Akan tetapi suara pintu yang ditutup dengan


keras membuat Azka sedikit geram.


"Kamu apa-apaan, Nagita?" Azka sedikit tersinggung dengan perlakuan Nagita.


"Kamu yang kenapa?"


"Jaga cara bicaramu!"


"Kamu jaga sikap. Di


sini saya istri kamu, apa pantas kamu perlakukan terus seperti itu? Saya


tahu kamu banyak uang. Mencampakkan wanita bisa kamu lakukan seenaknya?


Punya otak nggak?"


"Peduli apa saya sama kamu?"


"Maka dari itu, peduli apa saya tentang kamu yang akan menikah?"


"Nagita!" suara Azka meninggi. Ia mendorong tubuh Nagita ke atas ranjang dan mencumbunya kasar.


Tubuh Nagita mulai


memberontak begitu saja. Berulang kali melakukan perlawanan, namun Azka


tak peduli dengan hal itu. Ia terus menyerang Nagita dengan cumbuannya,


tak peduli seberapa pun usaha Nagita untuk melawan. Semua pakaian


perempuan itu dirobeknya dengan kasar dan hanya menyisakkan bra dan


celana dalam. Hingga akhirnya tak ada perlawanan yang didapatkannya


lagi. Tubuh istrinya bergetar hebat, saat menciumi leher Nagita ia


merasakan hal itu. Seketika Azka tersadar dan berhenti melakukan aksi


bejatnya. Ia menyingkir dari tubuh Nagita saat mengingat bahwa kejadian


itu merupakan hal yang membuat Nagita membencinya.


Nagita terus menangis


dan berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut. Terlihat jelas bahwa


perempuan itu ketakukan. Azka tersadar bahwa Nagita bisa saja masih


trauma dengan kejadian dulu. Melihat perempuan itu duduk sambil


menangis, tubuhnya bergetar. Azka mencoba mendekatinya.


"Pergi, bajingan!!!"


"Gita, saya minta maaf,"


"Pergi, saya mohon kamu pergi dari hidup saya!"


Azka berusaha mendekati


dan memeluk tubuh mungil Nagita. "Maafkan saya sudah keterlaluan sama


kamu," tak ada jawaban. Justru perempuan itu semakin memberontak dalam


pelukan Azka. Untuk pertama kalinya Azka peduli terhadap perasaan


perempuan yang hadir dalam hidupnya. Ia mendekap semakin erat saat tubuh


istrinya semakin bergetar hebat disertai dengan tangisan yang


membuatnya menyesal dengan tindakannya tadi.


"Kamu brengsek, Azka,"


"Aku tahu,"


"Kamu juga lebih dari seorang bajingan,"


"Iya aku sadari itu, maka dari itu aku minta maaf atas perlakuan aku sama kamu,"


"Pergi. Saya muak dan jijik terhadap laki-laki macam kamu,"


"Tapi kamu membawa milik saya,"


"Milik apa? Bahkan barang yang kamu belikan sudah kamu sobek dari tubuh saya. Itu yang kamu anggap milik?"


"Bukan itu, tapi ini." Azka berusaha menyentuh perut Nagita disela-sela pertengkaran mereka.


"Kamu mau gugurin kan? Ayo gugurin sekarang juga, kita pergi,"


"Nggak akan, dia akan tetap lahir,"


"Kamu egois, hiks," Azka


merasakan tubuh Nagita meronta kembali. Semakin keras tenaga Nagita, ia


pun terpaksa melepaskan pelukannya saat Nagita menggigit lengannya.


Perempuan itu berlari ke


kamar mandi. Azka meringis menahan perih dan langsung mengejar Nagita,


tetapi nihil. Perempuan itu mengunci dirinya dari dalamnya.


"Ayo keluar, kita ngomong,"


"Nggak. Pergi setan!!!"


"Oke, saya akan pergi. Baik-baik di sini, saya pulang ke rumah mama."


Ia hanya mementingkan


nafsunya, tanpa memikirkan psikologis Nagita yang masih trauma. Azka


menyetir sembarangan, ia tidak bisa fokus mengingat betapa ketakutan


istrinya terhadap dirinya sendiri.


"Aaaaah, brengsek."


Tiba di depan rumahnya.


Azka turun dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Ia masih menciumi aroma


parfum Nagita pada bajunya. Azka menyesali perbuatannya yang tadi,


seharusnya tidak melakukan itu lagi. Sebab kesalahan masa lalu sudah


cukup baginya untuk membuat Nagita tersiksa.


"Bajingan!"


Azka membanting pintu kamarnya. Hingga orang-orang rumah keluar dan menuju kamarnya.


"Kamu kenapa, Nak? Ngagetin seisi rumah aja,"


"Banyak pikiran tentang pekerjaan, Ma." Sekanya.


"Ya udah kamu istirahat. Besok pagi nggak usah kerja, refreshing! Mama balik ke kamar dulu."


Ia mengusap wajahnya


dengan kasar saat telentang di atas kasur. Bagaimana nasib Nagita di


sana, ia mulai khawatir dengan kejadian tadi.


"Kenapa semuanya berantakan begini?"