
Pagi hari ketika dirinya
akan berangkat ke kantor. Ia melihat kotak susu Nagita yang berada di
lemari dinding yang menggantung. Azka membuka kotak susu tersebut dan
melihat isinya yang hampir habis. Jika tidak bisa mengawasi pola makan
Nagita, setidaknya ia bisa untuk mengawasi gizi yang baik untuk calon
buah hatinya.
Untuk pertama kali dalam
pernikahan mereka Nagita tak menyiapkan sarapan untuk dirinya. Ia pun
tak mempermasalahkan akan hal itu, bahkan hingga pukul delapan Nagita
masih tertidur pulas di kamar mereka. Ia berangkat bekerja tanpa
dilayani oleh istrinya seperti biasa. Ia hanya menghela napas panjang
dan keluar dari apartemen untuk menuju ke kantor.
Azka tiba di kantor dan
langsung duduk di ruang kerjanya. Perutnya terasa begitu keroncongan
karena tidak sarapan pagi. tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu
ruangannya dan ia mempersilakan untuk masuk.
"Permisi, Pak?"
"Ada apa, Dimas? Tumben?"
"Ah itu pak. Hmm—"
"Kenapa? Kamu gugup sekali?"
"Saya bisa ketemu Nagita?"
Sorot tatap Azka
memandangi Dimas yang seolah seperti orang lain. Padahal dia masih
berhak untuk bertemu dengan adiknya. Azka tak mempermasalahkan Dimas
bertemu dengan adiknya. Namun tidak memperbolehkan siapa pun tahu
tentang status pernikahannya selama berada di area kantor. Bahkan Damar
pun masih bisa tutup mulut hingga saat ini.
"Cari dia di apartemen saya!"
"Baik pak. Saya permisi dulu,"
"Telepon saja dia nanti. Atau saya yang akan beritahu dia kamu akan ke sana,"
"Tidak usah pak. Biar saya saja nanti saat istirahat siang,"
"Oke."
"Kalau begitu saya permisi, Pak."
Azka mengangguk dan tak
menjawab apa pun. Setidaknya di depan Dimas ia masih bisa bersikap
seolah rumah tangganya baik-baik saja. Padahal sama sekali ia tak
menginginkan akan hal itu. Azka sendiri masih belum bisa menerima
kehadiran Nagita di dalam hidupnya.
Ia mulai bergelut dengan
pekerjaannya. Bahkan beberapa kali panggilan dari Deana tak
dihiraukannya. Jika sudah fokus bekerja, ia memang paling tidak suka
diganggu. Tidak mungkin baginya, meninggalkan pekerjaan jika hanya untuk
urusan yang tidak terlalu penting.
Hingga tiba waktu untuk jam makan siang, Dimas yang sudah berpamitan untuk mengunjungi Nagita.
Damar menghampirinya ke
ruangan kerjanya begitu saja. Ia tak menghiraukan kehadian Damar dan
tetap fokus pada pekerjaannya. Untuk urusan makan siang ia bisa meminta
orang lain untuk membelikannya.
"Jangan nekat, Azka. Lo tahu nggak, di luar ada pacar lo yang nggak tahu diri itu datang kemari sambil marah-marah nyariin lo,"
"Deana?"
"Memangnya siapa lagi yang nggak tahu malu nyosorin suami orang."
Azka segera bangkit dari
tempat duduknya dan menyingkirkan Damar yang berdiri di depannya. Ia
berlari untuk keluar menemui perempuan yang sedari tadi menghubunginya.
Memang benar bahwa Deana tak bisa jika tidak dihubungi. Padahal ia sudah
mengingatkan perempuan itu agar tidak datang ke kantor sebab ada Dimas
di sana. Satu-satunya orang yang menjadi ancaman baginya adalah Dimas.
Ia tak mempermasalahkan siapa pun tahu tentangnya, tetapi jika
bersangkutan tentang hubungannya. Azka tentu tak menyukai akan hal itu.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Kamu dihubungi nggak ada jawaban,"
"Dee, aku kerja. Apa kamu nggak bisa ngerti dengan hal itu?"
"Aku bisa ngerti, tapi kamu juga harusnya ingat sama aku,"
Azka menyeret Deana
keluar dari kantornya. Beruntunglah tidak ada orang-orang yang
melihatnya selain resepsionis dan juga Damar. Tiba di parkiran ia
mendorong tubuh Deana untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi.
"Kamu apa-apaan sih, kasar banget?"
"Kamu cuman mau dingertiin. Kamu bisa juga nggak ngertiin aku? Kamu nggak usah datang ke kantor,"
"Kenapa? Kamu ada perempuan lain di kantor?"
Azka memicingkan
tatapannya terhadap Deana. "Jangan buat aku jadi orang yang kasar,
Deana. Selama ini aku selalu turutin apa yang kamu mau. Jangan lagi kamu
buat masalah dengan kelakuan kamu yang maunya dituruti terus, jangan
mikir yang lain-lain. Kalau memang ada perempuan lain, untuk apa aku
beliin ini itu buat kamu?"
"Kamu banyak uang. Apa pun bisa kamu beli, termasuk perempuan,"
"Bahkan kamu termasuk orang yang aku beli, puas?"
"Azka, kamu kok ngomong gitu?"
"Diam!" serunya.
Perempuan itu hening seketika. Untuk pertama kalinya Azka bersikap
seperti itu kepada perempuan yang begitu ia sayangi. Namun karena Deana
tak menuruti apa yang ia katakan. Hal tu terpaksa ia lakukan agar
membuat efek jera kepada kekasihnya yang terbilang memang egois.
"Maaf, aku cuman nggak suka kamu menentang apa yang aku bilang."
Tidak ada tanggapan apa
pun dari Deana. Bahkan kata maaf begitu mudah baginya. Tetapi meminta
maaf kepada istrinya, mengapa hingga kini Azka tak mengatakan hal itu
meski hanya satu kali. Karena perbuatannya.
"Ya sudah. Kita pergi belanja. Mau?"
"Beneran?"
Azka merasa kesal. Hanya itu yang mampu membuat Deana luluh.
"Jangan lama-lama. Karena aku harus balik ke kantor,"
"Az?"
"Mau atau nggak? Kalau nggak ya udah aku antar ke apartemen kamu,"
"Kamu kenapa dingin? Kamu berantem sama istri kamu?"
"Memangnya kamu pernah lihat aku baik-baik saja? Apa aku pernah prioritaskan dia melebihi kamu? Jangan ngada-ngada, Deana."
"Kamu kenapa sih?"
"Jangan menyebalkan. Aku lagi banyak kerjaan. Aku antar ke apartemen kamu, kamu belanja sendirian,"
Azka memutar haluan
untuk menuju apartemen Deana dan melihat perempuan itu benar-benar kesal
dengan dirinya. "Turunin aku di sini, Azka!"
"Mau kamu apa?"
"Aku mau turun."
"Oke, turun. Setelah itu kita udahan."
"Azka, kamu serius?"
"Kapan aku pernah
main-main? Walaupun aku sayang dan cinta sama kamu. Bukan berarti hanya
aku yang berhak ngerti sama kamu. Kamu juga harusnya ngerti, apa yang
aku inginkan. Aku tahu hubungan kita sudah sejauh itu, tapi ingat
perjanjian kita,"
"Azka, aku nggak mau kita udahan,"
"Kenapa? Kalau memang kamu nggak bisa ngerti juga. Untuk apa kita bertahan,"
"Oke. Aku janji nggak bakalan datang ke kantor kamu lagi,"
"Aku pegang janji kamu. Ingat aku bisa main kasar sama kamu. Nggak selamanya cinta itu bisa lembut."
"Iya. Aku akan usahakan."
Azka meraih tangan Deana
dan menggenggamnya erat. "Maaf. Aku cuman nggak mau kamu ganggu
konsentrasi aku kerja. Kamu tahu sendiri pekerjaan aku itu nggak pernah
sedikit. Jangan sampai buat aku seperti orang bodoh yang terus saja kamu
permainkan. Aku yang ngejar kamu, aku yang mau kita kembali. Kamu baik,
bahkan aku bisa lebih baik sama kamu, kamu mulai ngelawan. Aku bahkan
bisa kasar sama kamu. Sesayang apa pun seseorang, kalau hatinya sudah
mulai tidak nyaman, mau dipaksa untuk menjadi utuh sekalipun nggak
bakalan bisa,"
"Aku juga minta maaf sama kamu,"
"Aku antar kamu pulang. Kamu belanja sendiri, nanti bawa kartu kredit aku,"
"Tapi janji pulang kerja kita ketemu?"
"Aku selalu sempatkan diri buat ketemu kan,"
"Ya udah. Kita pulang!"
Hingga tiba di apartemen Deana. Azka langsung menyerahkan kartu kreditnya dan langsung kembali lagi ke kantor.
Di kantor, Azka mengusap
wajahnya kasar. "Gue juga bilang apa? Jangan main api kalau lo nggak
mau kena baranya, asapnya itu perih bikin sesak lagi,"
"Maksud lo apaan?"
"Beruntung Dimas udah
pergi terus cewek lo datang. Kalau Dimas di sini, terus lo kayak gitu.
Gue nggak jamin lo masih ganteng, yang ada lo dihajar lagi kayak dulu.
Di mana-mana seorang kakak itu nggak bakalan suka adiknya diganggu. Kita
manusia normal, nggak salah kalau misal nanti lo dihajar lagi sama
Dimas. Tapi yakin lo Nagita nggak buka mulut soal kelakuan brengsek lo
yang sering bawa perempuan pulang ke apartemen lo?"
Azka mulai tidak tenang
dengan ucapan Damar. Selama ini ia memang tidak pernah berbuat lembut
pada istrinya sendiri. Sesekali hanya berbicara seperlunya selebihnya ia
bersiap layaknya brengsek yang bisanya hanya melukai hati perempuan.
"Gue yakin kok, nggak bakalan terjadi kalau itu mah."
"Semoga aja Tuhan masih
berbaik sama lo, kalau nggak ya gue nggak ikutan lho ya, Dimas kalau
marah nggak peduli sama bosnya sendiri. Dia sangar, gue aja takut.
Walaupun umur dia lebih muda dari kita, tapi dia nggak pernah takut demi
"Itu juga gue tahu.
Waktu gue dengerin saran lo buat nikahin dia. Muka gue juga hampir rusak
gara-gara dia. Gue mikirnya antara mati atau masuk penjara sama
kelakuan gue, cuman si perempuan itu noh larang kakaknya buat berhenti
hajar gue,"
"Itu namanya dia nggak mau lo kenapa-kenapa,"
"Terus untungnya buat gue apa?"
"Mati aja deh lo. Susah ngomong sama orang budak cintanya, Deana. Lama-lama lo itu goblok juga."
******
Azka mulai pulang larut
lagi. Setelah bertemu dengan Deana, hingga pukul satu dini hari. Ia
memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Ia tidak pernah lupa untuk
pulang, sejauh apa pun ia pergi. Bahkan sepengkhianat apa pun dia,
pulang adalah tujuannya ketika pergi.
Beberapa kali Deana
meminta agar Azka menginap, tetapi hal itu tidak pernah mampu dipenuhi
oleh Azka, ia memilih untuk tetap pulang. Tidak mungkin berlama-lama
karena sudah begitu jauh hubungan mereka. Ada rencana untuk mengenalkan
perempuan itu kepada kedua orang tuanya, tetapi masih ada kejanggalan di
hati Azka, yaitu tentang sikap Deana yang masih angkuh. Jika belum bisa
mendidik Deana dengan baik, maka ia tidak akan pernah mengenalkan
perempuan itu kepada orang tuanya.
Jika membandingkan sifat
Deana dan Nagita, kelembutan Nagita jauh lebih baik. Tapi selama apa
pun mereka bersama. Satu senti pun, perasaan Azka tidak pernah ada untuk
istrinya. Bahkan meski tidur berdua, memandangi istrinya agar tumbuh
perasaan cinta. Tetap saja tidak bisa. Justru ia merasa benci pada
dirinya sendiri saat hidupnya yang berantakan menghancurkan hidup orang
lain. Untuk hidupnya yang sempurna, sosok Nagita menjadi pengacau
semuanya.
Saat mengemudi untuk
pulang, ia mengingat tentang susu untuk Nagita. Setelah mencari
supermarket yang buka dua puluh empat jam, Azka berhenti disebuah
supermarket untuk mencari kebutuhan istrinya. Ia membeli beberapa kotak
susu untuk kebutuhan asupan si calon buah hati.
Tiba di apartemen, Azka
langsung membuka pintu dengan pelan seperti biasanya. Karena seringkali
menemukan Nagita telentang di sofa hanya untuk menunggunya pulang.
Namun, hal lain justru terjadi. Perempuan itu masih sibuk membaca buku
di sofa. Azka mendekatinya dan memberikan kantong plastik yang berisikan
beberapa kotak susu.
Tanpa berbicara apa pun,
Nagita meraih kantong plastik itu dan memperhatikan kotak susu yang
dibelinya tadi. Namun ada yang berbeda dari ekspresi Nagita dan
memeriksa semua susu yang dibeli oleh Azka tadi.
"Kenapa?"
"Itu, eeee susunya salah,"
"Salah gimana?"
"Susunya untuk yang baru
hamil. Sedangkan saya udah besar gini, beda lagi," Nagita menundukkan
pandangannya seolah mengisyaratkan bahwa susu yang dibelikan Azka memang
salah.
Azka mengambil salah
satu susu yang dibelinya dan membaca tulisan yang ada dibelakang kotak.
"Iya memang salah, buang aja kalau gitu!"
"Nggak usah. Nanti saya yang tukar. Tinggal kasih struknya,"
"Udah dibuang,"
"Oh. Ya sudah." Nagita
beranjak dan langsung mengambil susu yang ada di atas meja tadi. Azka
yang melihat hal itu merasa sangat bodoh. Bisa-bisanya membeli susu yang
salah untuk calon buah hatinya.
Setelah kembali dari dapur, Azka disuguhkan dengan minuman sepulang dari apartemen Deana.
Nagita berlalu meninggalkan dirinya, "Nagita, tunggu!"
"Ada apa, Pak?"
"Saya akan menikah,"
Tubuh Nagita membatu. Azka yang melihat reaksi itu hanya tak berkata apa-apa lagi.
"Lakukanlah. Setelah bayi kamu lahir. Saya permisi."
Kamu? Untuk pertama
kalinya Nagita mengatakan kata kamu untuk Azka. Kata yang tak pernah
didengar sebelumnya. Ia hanya terdiam setelah Nagita pergi. Ia beranjak
dan hendak mengikuti Nagita. Akan tetapi suara pintu yang ditutup dengan
keras membuat Azka sedikit geram.
"Kamu apa-apaan, Nagita?" Azka sedikit tersinggung dengan perlakuan Nagita.
"Kamu yang kenapa?"
"Jaga cara bicaramu!"
"Kamu jaga sikap. Di
sini saya istri kamu, apa pantas kamu perlakukan terus seperti itu? Saya
tahu kamu banyak uang. Mencampakkan wanita bisa kamu lakukan seenaknya?
Punya otak nggak?"
"Peduli apa saya sama kamu?"
"Maka dari itu, peduli apa saya tentang kamu yang akan menikah?"
"Nagita!" suara Azka meninggi. Ia mendorong tubuh Nagita ke atas ranjang dan mencumbunya kasar.
Tubuh Nagita mulai
memberontak begitu saja. Berulang kali melakukan perlawanan, namun Azka
tak peduli dengan hal itu. Ia terus menyerang Nagita dengan cumbuannya,
tak peduli seberapa pun usaha Nagita untuk melawan. Semua pakaian
perempuan itu dirobeknya dengan kasar dan hanya menyisakkan bra dan
celana dalam. Hingga akhirnya tak ada perlawanan yang didapatkannya
lagi. Tubuh istrinya bergetar hebat, saat menciumi leher Nagita ia
merasakan hal itu. Seketika Azka tersadar dan berhenti melakukan aksi
bejatnya. Ia menyingkir dari tubuh Nagita saat mengingat bahwa kejadian
itu merupakan hal yang membuat Nagita membencinya.
Nagita terus menangis
dan berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut. Terlihat jelas bahwa
perempuan itu ketakukan. Azka tersadar bahwa Nagita bisa saja masih
trauma dengan kejadian dulu. Melihat perempuan itu duduk sambil
menangis, tubuhnya bergetar. Azka mencoba mendekatinya.
"Pergi, bajingan!!!"
"Gita, saya minta maaf,"
"Pergi, saya mohon kamu pergi dari hidup saya!"
Azka berusaha mendekati
dan memeluk tubuh mungil Nagita. "Maafkan saya sudah keterlaluan sama
kamu," tak ada jawaban. Justru perempuan itu semakin memberontak dalam
pelukan Azka. Untuk pertama kalinya Azka peduli terhadap perasaan
perempuan yang hadir dalam hidupnya. Ia mendekap semakin erat saat tubuh
istrinya semakin bergetar hebat disertai dengan tangisan yang
membuatnya menyesal dengan tindakannya tadi.
"Kamu brengsek, Azka,"
"Aku tahu,"
"Kamu juga lebih dari seorang bajingan,"
"Iya aku sadari itu, maka dari itu aku minta maaf atas perlakuan aku sama kamu,"
"Pergi. Saya muak dan jijik terhadap laki-laki macam kamu,"
"Tapi kamu membawa milik saya,"
"Milik apa? Bahkan barang yang kamu belikan sudah kamu sobek dari tubuh saya. Itu yang kamu anggap milik?"
"Bukan itu, tapi ini." Azka berusaha menyentuh perut Nagita disela-sela pertengkaran mereka.
"Kamu mau gugurin kan? Ayo gugurin sekarang juga, kita pergi,"
"Nggak akan, dia akan tetap lahir,"
"Kamu egois, hiks," Azka
merasakan tubuh Nagita meronta kembali. Semakin keras tenaga Nagita, ia
pun terpaksa melepaskan pelukannya saat Nagita menggigit lengannya.
Perempuan itu berlari ke
kamar mandi. Azka meringis menahan perih dan langsung mengejar Nagita,
tetapi nihil. Perempuan itu mengunci dirinya dari dalamnya.
"Ayo keluar, kita ngomong,"
"Nggak. Pergi setan!!!"
"Oke, saya akan pergi. Baik-baik di sini, saya pulang ke rumah mama."
Ia hanya mementingkan
nafsunya, tanpa memikirkan psikologis Nagita yang masih trauma. Azka
menyetir sembarangan, ia tidak bisa fokus mengingat betapa ketakutan
istrinya terhadap dirinya sendiri.
"Aaaaah, brengsek."
Tiba di depan rumahnya.
Azka turun dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Ia masih menciumi aroma
parfum Nagita pada bajunya. Azka menyesali perbuatannya yang tadi,
seharusnya tidak melakukan itu lagi. Sebab kesalahan masa lalu sudah
cukup baginya untuk membuat Nagita tersiksa.
"Bajingan!"
Azka membanting pintu kamarnya. Hingga orang-orang rumah keluar dan menuju kamarnya.
"Kamu kenapa, Nak? Ngagetin seisi rumah aja,"
"Banyak pikiran tentang pekerjaan, Ma." Sekanya.
"Ya udah kamu istirahat. Besok pagi nggak usah kerja, refreshing! Mama balik ke kamar dulu."
Ia mengusap wajahnya
dengan kasar saat telentang di atas kasur. Bagaimana nasib Nagita di
sana, ia mulai khawatir dengan kejadian tadi.
"Kenapa semuanya berantakan begini?"