RICH MAN

RICH MAN
Masalah Terberat



Rey keluar dengan rambutnya yang masih sedikit basah. Berbeda halnya dengan sang istri yang masih bisa menyembunyikan rambut basahnya. Ketika dia keluar dari kamarnya untuk turun ke ruang keluarga berkumpul dengan keluarga istrinya. Di sana anaknya sedang bermain masak-masakan dengan mama mertuanya dan juga papa mertuanya.


Dia duduk disebelah anaknya kemudian Audri berdiri dan menangisinya. Sudah beberapa hari dia tidak menggendong anaknya karena dia kesal dengan perbuatan istrinya yang mau menang sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan anaknya yang sekarang inig. Rey memang tidak pernah ingin kehilangan anak dan juga istriya. Berusaha sebaik mungkin dia mempertahankan rumah tangganya. Karena di luar sana belum tentu dia mendapatkan wanita sebaik dan sesabar Marwa yang menghadapi sifat sialannya yang dulu pernah dia lakukan. Terlebih punya mertua yang tidak pernah ikut campur terhadap urusan rumah tangga mereka.


“Sudah maem?” tanya Rey kepada Audri yang berada dipangkuannya.


“Mama yang suapin tadi, istri kamu mana?”


“Masih di kamar, Ma,”


Kedua mertuanya saling melempar tatap yang seolah Rey tahu dengan alasan ini. Apakah papa mertuanya akan meledeknya nanti setelah tadi dia bercinta singkat di dalam kamar bersama dengan Marwa karena kemarahannya yang ingin melihat ekspresi istrinya ketika sedang cemburu dan juga agar istrinya jera menyuruh dia menikahi Hana karena perempuan itu sudah resmi menjadi istri Zibran.


“Hmm, udah baikan nih kayaknya. Rambut basah, apa di kamar Marwa lagi keringin rambut?”


Benar tebakan Rey jika papa mertuanya akan meledeknya seperti ini. Karena itu memang dia akui jika dia memang melakukannya barusan. Tapi, itu semata agar Marwa tidak ngambek dan justru selalu pulang ke rumah orang tua ketika marah.


“Hehehe, iya begitu deh pokoknya, Pa,”


“Ya dijalani ajalah. Mau gimana-gimana, Papa nggak bakalan ikut campur. Lagian itu rumah tangga kamu sama anak, Papa kok. Tapi kalau boleh tahu, kenapa kamu sama Marwa bsia berantem gitu, sih?”


Rey tidak ingin jika Audri mendengar pembicaraan seperti itu. kemudian dia pamit kepada kedua mertuanya. “Sebentar, Ma, Pa. aku antar anak ini ke kamar dulu. Biar dia sama Marwa. Aku bakalan ceritain nanti,” pamit Rey. Rey bukannya tidak ingin cerita. Tapi karena di sana ada Audri, anak seusia dia sudah bisa merekam apa yang mereka bicarakan. Maka dari itu Rey harus mengantarkan anaknya ke kamar terlebih dahulu agar Audri selalu mendengar cerita-cerita yang baik untuk dicerna dikepalanya. Bukan justru masalah orang tua yang terus menimpa seperti sekarang ini.


“Kenapa, Mas?” tanya Marwa ketika dia hendak memberikan Audri karena ada pembicaraan penting dengan orang tua istrinya.


“Aku mau ngomong sesuatu sama Papa dan juga Mama. Tapi nggak bisa kalau ada Audri, soalnya—“ belum Rey menyelesaikan pembicaraannya. Marwa langsung mengambil Audri dari gendongan, Rey.


“—Aku ngerti kok sayang. Sana gih, ngomong sama Papa dan Mama. Biar aku yang jagain dia,”


Seulas senyum tercipta dari bibir Rey. Begitu mudahnya istrinya luluh seperti tadi. Marwa yang awalnya ngambek karena perbuatan dirinya justru terlihat begitu bahagia kali ini. “Nggak mau cium suami dulu?”


Marwa menjinjitkan kakinya kemudian menciup bibir Rey sekilas. Rey langsung mencium anaknya kemudian mencium kening Marwa. “Aku ke bawah dulu ya. Udah, nggak boleh ngambek lagi. Nggak boleh marah sama orang tua. Nggak boleh libatin orang tua. Kamu tuh bukan anak kecil lagi,”


Istrinya mengangguk dan tersenyum. Begitu menggemaskan dan ingin sekali Rey cubit pipi istrinya karena terlihat begitu lucu. Marwa yang sedang mengeringkan rambutnya. Saat dia melhat ke arah leher istrinya yang diberi tanda tadi, dia tersenyum kemudian melambaikan tangannya. Mana ada perempuan yang rela di madu sekalipun cinta. Itulah yang dipikirkan oleh Reynand. Sehebat apa pun, pasti akan ada rasa iri dan ingin memiliki ketika suaminya berlaku sedikit berlebihan kepada salah satu istrinya.


Tidak ada cinta yang ingin di bagi. Itulah yang dipikirkan oleh Reynand yang kemudian dia langsung bergegas turun menemui papa dan mama mertuanya yang menunggu di ruang keluarga. Menjelang siang, mereka justru berada di sana. Saat Rey sedang menuju ke sofa, asisten di sana meletakkan teh untuk ketiganya.


“Makasih, Mbak,” ucap Rey yang langsung duduk dengan sopan di dekat seberang mertuanya.


Papa mertuanya menyeruput teh tadi kemudian meletakkan cangkir itu. “Gimana? Anak kamu mau ditinggal?”


“Mau kok, Pa. kalau aku sama mamanya ketemu, nggak pernah nangis,”


“Syukurlah,” ucap mama mertuanya.


Rey kemudian mengambil napas dalam dan ingin menceritakan sumber masalahnya dengan Marwa yang tadi juga sempat Marwa katakan bahwa dia cemburu ketika melihat Hana keluar dari ruangannya beberapa waktu yang lalu. Pada malam hari juga ketika Rey lembur bekerja di rumah. Mungkin itu juga bisa menjadi alasan yang baik di mana Rey memang ingin mempertahankan dan sengaja membuat istrinya cemburu dengan kehadiaran Hana di sana. Agar Marwa berhenti memaksanya juga untuk menikahi Hana.


“Aku berantem sama Marwa karena Marwa maksa aku nikah sama temannya,”


Mama mertuanya yang tadi sedang minum air mineral langsung tersedak. Rey bukan sengaja, tapi dia tidak melihat mama mertuanya sedang minum dan langsung tersedak dengan apa yang dilakukan olehnya.


“Maaf, Ma,”


“Maksud kamu gimana? Marwa minta dimadu?”


Rey menganggukkan kepalanya. “Bukannya kamu sudah nggak lagi sama pacar kamu itu?”


Pacar? Bahkan Rey sudah rela meninggalkan perempuan yang dulu pernah mengisi hatinya sesaat setelah dia menikah dan waktu itu Marwa tengah hamil besar dan Rey justru sibuk selingkuh dan jalan-jalan bersama dengan pasangan yang membuat hidup mereka menjadi berantakan waktu itu.


Pria itu langsung menggelengkan kepalanya. “Aku nggak bahas pacar, Ma. Ini tentang temannya, Marwa. Namanya Hana dan dia adalah karyawan Mama aku di restoran di mana Mama makan malam itu,”


Mama mertuanya mencoba mengingat-ingat kembali perempuan bernama Hana yang merupakan teman Marwa. “Hana? Dia temannya Marwa yang selalu ketemu sama dia itu bukan?”


Rey menganggukkan kepalanya. “Iya, itu dia, Ma. Marwa maksa aku buat nikahin temannya,”


“Sinting banget, kenapa memangnya?”


“Jangankan orang tua kamu, Rey. Papa juga nggak bakalan pernah terima sekalipun Marwa yang minta. Dia nangis-nangis juga nggak bakalan Papa kasih dia untuk maksa kamu nikah. Sebagai laki-laki, Papa juga mikir gimana tuh keluarga besar, Papa. Benar yang kamu lakukan, Rey. Nolak adalah cara yang paling baik,”


Nah, apa yang dikatakan oleh papa mertuanya juga benar. Bahwa dia tidak akan pernah setuju dengan permintaan konyol Marwa. Jangankan dirinya, papa mertuanya saja menolak keras permintaan itu dan menganggap bahwa Marwa sudah gila dengan keputusannya yang meminta Rey menikah lagi. Pilihan itu adalah pilihan yang paling buruk ketika Marwa memutuskan dengan sendirinya dan menganggap bahwa itu adalah bentuk dari dia peduli terhadap temannya. Pedulinya Marwa salah adalah ketika dia rela membagi suaminya untuk perempuan lain yang posisinya waktu itu memang tidak baik. Tapi, Rey tetap keras kepala untuk menolak dan di dukung juga oleh papa mertuanya.


“Terus, papa kamu tahu kalau Marwa maksa kamu nikah?”


“Nggak, mana mungkin aku cerita, Pa. yang ada aku yang dimarahin karena dituduh yang enggak-enggak. Lagian anak aku gimana? Marwa tuh pikirannya pendek banget. Dia nggak mikir nanti gimana Audri bisa diledek di sekolahnya dan orang-orang pasti bilang kalau aku nikahin tuh temannya karena hamil. Yang ada dia juga kena imbasnya,”


“Memang tuh anak,”


“Tapi bersyukurnya aku kalau pria itu mau tanggungjawab, Pa. Dia datang ke rumah aku untuk jemput Hana,”


“Dia tinggal di rumah kamu?”


“Marwa yang bawa, Pa. Dia yang nggak izin sama sekali sama aku untuk bawa temannya. Mungkin kalau dia izin nggak apa-apa, Pa. tapi, ketika dia nggak izin dan justru ngagetin aku dengan perintah konyolnya yang bilang kalau aku harus nikahi temannya. Itu sangat tidak masuk akal. Ditambah lagi karena temannya yang nggak bisa dipaksa jgua untuk nikah sama aku. karena bagaimanapun juga pasti dia cinta sama pria yang udah buat dia kayak gitu,”


Papa mertuanya menggeleng. Dia benar-benar tidak mengerti lagi dengan Marwa yang waktu itu tidak bisa dipahami. Mengapa juga dia membawa Hana ke rumah mereka dan membuat semanya menjadi tambah kacau. Terlebih ketika menantunya menceritakan bahwa Marwa yang membawa perempuan itu.


“Kalau dia nyuruh kamu nikah lagi, ancam dia dengan perpisahan, Rey! Kok emosi banget, Papa dengarnya,”


“Sama, Mama juga emosi dengar dia yang bodohnya kayak gitu. Kalau nyariin cowoknya mungkin kita bisa bantuin cari, tapi ini masalah masa depan yang nggak dia pikirkan. Malah maksa kamu buat nikah,”


“Dia nggak tegur aku selama beberapa hari, Ma, Pa. belum lagi kalau aku di rumah. Dia cuekin aku gitu aja. Tapi, kalau dia lihat aku ngobrol sama Hana, dia bakalan pergi ke kamar. Itu yang marah-marah dan maksa aku buat nikah? Sedangkan dia sendiri nggak bisa tahan hatinya biar nggak cemburu. Malah dia nggak bisa tahan dirinya untuk tidak sakit. Sekarang malah jadi cemburuan,”


“Nggak ada yang mau dimadu, Rey. Sebaik apa pun perempuannya, Marwa cengeng. Dia mau dimadu adalah hal bodoh banget. Mama juga dulu pernah mau dimadu sama Papanya Marwa. Tapi milih pisah, pada akhirnya milih kembali lagi ketika papanya Marwa sadar kalau Mama yang terbaik,”


Rey tahu bahwa dulu orang tua istrinya memang pernah berpisah. Tapi hanya sebentar, sebentar atau pun lama sama saja bagi Rey. Karena itu pasti akan membuat anak dan juga orang tua terpisah. Apalagi sang anak yang selalu menginginkan orang tua yang utuh.


“Papa bilang kayak gitu barusan karena Papa yakin kalau kamu juga nggak bakalan pernah mau kan madu, Marwa?”


“Nggak ada niat sedikitpun untuk lakukan itu, Pa. aku juga pasti mikir. Aku nggak bakalan pernah hancurin keluarga aku sendiri,”


“Ngomong-ngomong itu lakinya udah nikah?”


“Sudah, Pa,”


“Alamat deh tuh. Jarang ada pria yang mau ninggalin istri pertama demi istri keduanya, Rey. Yang ada kalau dia ninggalin istri pertamanya demi yang kedua, suatu waktu juga bakalan tetap nyari yang pertama. Dan juga, kalau sekali dia selingkuh. Pasti bakalan terulang lagi,”


“Ekheeem, pengalaman,” sindir mama Marwa.


Papa mertuanya tertawa dan menggaruk tenguknya. “Udah, Ma. Biarin aja, lagian mereka itu udah nikah kok. Hari ini mereka nikah. Semoga aja mereka bahagia dan istri pertamanya bisa nerima dengan baik. Kalau bisa ya selamanya, semoga istri pertamanya itu mau nerima Hana dan anaknya. Karena kasihan kalau nanti justru Hana nggak bisa lihat anaknya karena mau diambil oleh si cowok,”


Mama Marwa menyeka air matanya. “Mama kok sedih?” tanya papa mertuanya.


“Mama ngebayangin gimana dia pengin ketemu anaknya. Pasti kangen banget,”


“Mereka mau cerai memangnya setelah Hana lahiran?”


“Katanya sih begitu,” ucap Rey.


“Ya ampun, kasihan banget,” ucap papanya.


 


 


Rey tidak tahu membela siapa. Satu sisi dia pasti kasihan juga dengan Hana. Satu sisi, ketika Hana tahu, tapi perempuan itu menyuruh Zibran menceraikan istrinya dan yang tidak akan pernah dilakukan oleh Zibran. Yang salah itu memang dia karena dari awal memang mau mempermainkan hati Hana justru terlibat dengan masalah berat seperti ini.