
Sinar matahari mulai menembus gorden putih yang ada di kamar pria itu. Sinar matahari pagi yang sangat membuatnya silau hingga terbangun. Dia lupa menghidupkan alarm, biasanya alarm selalu membantunya untuk bangun pagi. Tidak dengan hari ini, perlahan dia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil posisi duduk sambil memegangi kepalanya yang sedikit terasa pusing. Setelah melihat ke arah jam, jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Tidak biasanya dia terlambat hingga jam itu.
Ia turun dari ranjangnya dan menarik handuk yang bergelantung di samping pintu kamar mandi.
Sudah dua hari semenjak kepergian Marwa dari hidupnya, Rey menjadi pria yang tidak terurus lagi, setiap pagi perempuan itu selalu membangunkannya, tidak seperti hari ini dia terlambat ke kantor karena tidak ada yang membangunkan, dua hari ini dia sengaja mengambil cuti untuk istirahat dari begitu banyak beban pikirannya.
Mengenai foto yang dia dapatkan, pria itu mencari tahu siapa yang mengirim foto tersebut dan membuatnya bersedih. Hingga membuat istrinya sendiri terasingkan. Sejujurnya Rey tidak ingin melakukan hal itu, tetapi hatinya terlalu membeku untuk mempertahankan Marwa tetap berada di sisinya. Daripada membuat perempuan itu terus saja sakit, lebih baik dia melepaskannya dengan segala keputusan terbaik membiarkan perempuan itu mencari kebahagiaannya tersendiri.
Selesai mandi dan mengenakan setelan dengan rapi karena pilihannya sendiri, biasanya perempuan itu selalu memasangkannya dasi setiap pagi dan mengajaknya ke tempat makan karena sudah disiapkan sarapan seperti biasa.
Rey keluar dari kamarnya dan melewati kamar Marwa. Dia berhenti di sana, tiba-tiba dia rindu sosok perempuan yang selalu membuatnya tenang setiap pagi. Akan tetapi justru membuatnya merasa sangat menderita karena tidak bisa mempertahankan Marwa.
Rey masuk ke dalam perempuan yang selalu membuatnya tersenyum setiap pagi, sosok perempuan yang tidak pernah membuatnya merasa lelah dan sibuk setiap paginya. Sosok perempuan yang selalu patuh terhadapnya, Rey melihat fotonya berdua dengan Marwa ketika sedang berada di ruang tamu yang waktu itu mereka berdua sengaja mengabadikan momen indah itu. Dan ternyata foto yang dianggap Rey sebagai kenangan biasa saja, tetapi justru dipajang oleh Marwa di kamarnya.
Ia benar-benar merindukan Marwa kali ini.
Ada rasa sesak di dada Reynand ketika mengingat kenangan-kenangannya bersama sang istri, hanya karena masa lalu yang kembali lagi, membuat semuanya menjadi sangat kacau. Rey yang ingin sekali menceritakan masalahnya kepada sang Mama. Tetapi dia takut jika mengecewakan perempuan yang selalu membelanya itu, Rey sendiri ingin berbagi cerita mengenai Marwa.
Pria itu pun keluar dari kamar sang istri dan hendak pergi ke kantor. Setiap pagi dia selalu sarapan dengan baik, menjaga pola makannya dengan baik pula. Semenjak Marwa pergi, tidak ada lagi yang menyiapkannya sarapan.
Rey berhenti salah satu supermarket untuk membeli roti sekadar mengisi perutnya. Sebenarnya dia tidak terlalu menyukai makanan seperti itu, lebih suka buatan mama atau buatan sang istri. Tetapi kini, perempuan itu sedang menenangkan diri, Rey juga menenangkan diri sebelum mengambil keputusan final tentang berpisah dengan perempuan itu.
Rey tiba di kantor setelah empat puluh lima menit mengendarai mobilnya. Dia juga hanya sarapan selama diperjalanan tadi. waktunya dia kembali lagi pada kegiatannya seperti biasa.
Ada rasa bersalah dan juga rindu bercampur menjadi satu ketika Rey ingin sekali bertemu dengan perempuan itu, tetapi ketika melihat Marwa menangis untuknya, rasanya sangat sulit untuk bertemu lagi dengan perempuan itu.
Siang itu, Rey yang tengah hendak istirahat karena makan siang yang dia pesan sudah tiba. Tiba-tiba Om Dimas datang untuk menghampirinya, sudah sangat lama sekali dia tidak bertemu dengan pria itu.
"Apa kabar, Rey?" pria itu langsung duduk di sofa bersebrangan dengan Rey.
Rey yang menutup kembali makanan itu. "Baik, Om tumben main ke kantor?"
"Sebenarnya dua hari lalu Om ke rumah kamu kok, tapi sepertinya kamu ada masalah sama istri kamu, jadi Om pergi,"
Rey mengangkat sebelah alisnya, dari mana pria itu tahu bahwa dia dan Marwa berencana untuk berpisah. "Om tahu dari mana?"
Rey terdiam kemudian mengangguk beberapa saat setelah Om Dimas berkata demikian.
"Rey, kamu mikirin apa sebenarnya? Kamu buat istri kamu nangis, memang di dalam rumah tangga itu pasti ada saja masalah, tapi kalau kamu enggak bisa tahan ya bakalan hancur dengan sendirinya rumah tangga kamu,"
Rey menarik napas dan membuangnya kasar. "Ini tentang perempuan yang sudah membuat hidupku kacau, dia kembali lagi entah apa yang ada dipikiran dia untuk hadir disaat aku sudah mulai belajar untuk menerima, Marwa. Bahkan kami berencana untuk bulan madu,"
Dimas menatap keponakannya dengan sorot mata yang penuh curiga. Tetapi pria itu jujur, dan itu yang membuat Dimas sedikit paham.
"Marwa pergi dari rumah, terus kamu enggak tahan?" tanya Dimas pura-pura tidak tahu kepergian Marwa.
"Om, bukannya aku enggak mau tahan. Tapi kalau memang dia enggak tahan sama aku, untuk apa aku pertahanin gitu, aku cuman buat dia sakit. Sementara aku masih sama masa lalu, sedangkan dia apa?" Rey kembali menarik napas panjang. "Dia enggak tahu apa-apa, Om. Dia hanya korban dari masa lalu bodoh yang selalu datang di saat yang tidak tepat,"
Dimas pun mulai memahami alur pemikiran Reynand yang sepertinya memang tidak berniat menyakiti Marwa karena dia tidak tahu bahwa yang dia nikahi adalah perempuan di masa lalu yang memiliki trauma dan juga hilang ingatan.
"Rey, kalau kamu tahu Marwa itu siapa. Sanggup enggak kamu nerima kenyataan semua ini? Maksud Om, bisakah kamu memperbaiki ini semua sama, Marwa?"
Rey memiringkan kepalanya. "Maksud, Om?"
"Cari Marwa, buka cadarnya! Om kali ini enggak mau lagi sembunyikan apa pun. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, bahwa Marwa sudah sangat mencintai kamu. Hanya saja kamu enggak ngerti gimana susahnya menjadi dia,"
"Maksud Om cari gimana? Dia sendiri pergi,"
"Rey, perempuan pergi bukan karena enggak mau di cari. Kadang mereka pergi itu meminta untuk dicari agar kita sebagai pria itu peka, bahwa kita juga butuh mereka. Jadi jangan egois, apalagi kalau kamu berharap bahwa dia benar-benar pergi. Sebenarnya mereka enggak pergi dengan sungguh-sungguh, hanya butuh waktu untuk memikirkan itu semua dan membuat kamu peka terhadap apa yang kamu lakukan. Sekarang kamu mikirnya dia pergi ninggalin kamu, sebenarnya itu enggak ninggalin kok. Jadi kamu butuh enggak sama dia? Kebiasaan kalian bisa kamu lupakan dengan mudah enggak? Saran Om, cari Marwa sebelum kamu menyesal seumur hidup kamu. Terima kelak jika dia bercerita tentang hal perih yang pernah dia alami dan menyerahkan hatinya sama kamu. Jangan pernah berpikir bahwa dia pergi ninggalin kamu selamanya, Rey. Dia ada, ada disekitar kamu. Yang hilang kamu cari itu, ada disekitar kamu. Hanya saja kamu enggak sadari itu, hargai yang saat ini sama kamu. Kalau dia sudah pergi, baru kamu akan sadar gimana pentingnya dia di dalam hidup kamu. Jangan egois, mementingkan hati, hati. Tapi nalar enggak kamu pakai, memang kedua itu enggak pernah bisa sinkron, tapi cobalah untuk berdamai sama masa lalu, cari Marwa. Karena dia adalah perempuan yang kamu cari selama ini."
Rey masih tidak mengerti dengan ucapan Omnya. Tetapi ketika menyebutkan kata perempuan yang dicarinya. Rey berpikir hal yang tidak masuk akal.
"Om, apa Om enggak bercanda?"
"Cari Marwa, karena sekali lagi dia pergi. Kamu enggak bakalan pernah nemuin dia lagi di dalam hidup kamu. Mungkin itu akan menjadi suatu masalah besar dan membuat kamu benar-benar kehilangan dia nanti. Yakinkan hati kamu, jangan terkecoh karena paket yang kamu terima waktu itu."
****Santai, ini masih panjang ya. Jadi tunggu aja dulu sebelum jari-jarinya usil komen yang buruk. Tunggu aja chapter berikutnya. Yang bilang ini sinetron, tinggalin ceritanya. Enggak perlu komen ini itu.