
Rey menggendong Audri keluar kamar dan mengayunkan anaknya. Audri sangat mudah sekali tidur ketika berada di dalam gendongannya. Beberapa saat kemudian ketika dia bolak-balik di depan kamar sambil melantunkan ayat Al-Qur’an seperti biasanya agar anaknya bisa tertidur. Tangan anaknya sudah tidak bergerak lagi. Rey menggosok-gosok punggung anaknya juga agar Audri bisa tidur dengan cepat. Dia tidak ingin lagi membuat anaknya begadang nantinya.
Ketika dia melewati kamar mertuanya, mama Marwa keluar. “Rey,”
Ia mendekati mama mertuanya yang sedang berdiri di dekat pintu. “Kenapa, Ma?”
Mama mertuanya terdiam sejenak dan tidak berkata apa-apa dalam beberapa detik. “Kamu marah?”
Rey tersenyum kemudian mendekati mama mertuanya. “Nggak, Ma. Aku tadi khawatir karena dia nggak angkat telepon aku. Karena Papa juga sudah khawatir banget sampai jam sembilan kalian belum balik. Aku sama Papa udah lama banget pulangnya. Jadi karena kalian bertiga itu sama-sama perempuan. Apalagi bawa anak kecil, aku khawatir kalian kenapa-kenapa di jalan,”
“Kalian nggak berantem?”
Rey menggeleng, “Nggak, Ma. Buat apa aku berantem? Lagian kalau aku marah itu wajar aja kan, Ma? Aku khawatir sama kalian bertiga. Belum lagi karena Papa ngomel dari tadi semenjak pulang. Dia coba hubungi, Mama. Tapi Mama nggak respons,”
“Mama silent handphone, Mama. Jadi maafin, Mama ya!”
“Mama istirahat! Aku mau tidurin Audri dulu. Marwa juga kayaknya udah selesai mandi,”
“Jangan bertengkar ya! Kamu salahin, Mama aja!”
Rey mana mungkin tega memarahi keduanya. Karena dia sama sekali tidak berminat memperpanjang masalah tersebut. Lagipula masalah itu sudah selesai baginya. Rey tidak mau jika dia dan Marwa justru bertengkar hanya karena masalah tersebut. Rey pun berpamitan kepada mama mertuanya untuk mengajak Audri tidur karena sudah jam sembilan lebih.
Ketika dia masuk ke dalam kamar. Dia melihat Marwa membawa pakaian kotor ke keranjang yang ada di dekat lemari yang berdekatan dengan meja rias istrinya. Tanpa mengganggu kegitan istrinya, ia menidurkan anaknya dengan perlahan diatas ranjang yang begitu empuk. Dia kemudian menggantikan popok Audri, takut jika nanti popok anaknya penuh. “Aku lupa ganti tadi, Mas,” kata Marwa tiba-tiba datang dan duduk disebelahnya.
“Nggak apa-apa. Kamu jadi beliin dia baju?”
“Jadi, Mas. Mama juga tadi aku belikan sesuai perintah, Mas,”
Rey memasang popok Audri dan membawa popok bekas itu ke kantong plastik yang ada di kamar mandi. Rey juga mencuci tangannya. Dia tahu jika istri dan juga mama mertuanya pasti merasa bersalah karena dia tadi sempat berekspresi datar menyambut keduanya. Tapi bersyukurnya dia yang masih bisa menahan emosinya agar tidak keluar dan justru memarahi istrinya dihadapan sang mama.
Begitu dia selesai mencuci tangan dan mengeringkan tangannya. Rey langsung berbaring di tempat tidur dan menarik istrinya. “Sini peluk!” satu-satunya cara untuk menetralkan kembali emosinya adalah memeluk sang istri dengan penuh kasih sayang. Dia tidak mau jika masalah itu terus menerus besar dan justru merugikan Marwa juga dirinya ketika dia begitu egois.
Marwa mengambil kertas kemudian membawa ponselnya dan tidur di dekat suaminya. “Mas, aku ketemu sama teman lama aku tadi,”
“Teman siapa? Teman sekolah kita atau teman kuliah kamu?”
“Teman sekolah aku sebelum aku pindah, Mas,”
“Hmm, cewek kan?”
Marwa menyeringai, “Mau cemburu aja nih. Siapa sih yang ngenalin aku, Mas? Kecuali Leo sih,”
“Hmmmm. Ya juga sih. Jadi dia itu siapa?”
Marwa tidur dan dipeluk oleh Rey dari belakang. Otomatis pria itu juga bisa melihat layar ponselnya dengan jelas. “Namanya itu, Hana. Dia teman baik aku. Jadi nanti kalau ada waktu, aku keluar sama dia nggak apa-apa? Ohya, dia juga kerja di restoran yang kamu rekomendasikan itu, Mas,”
“Ohya? Kalian nggak sengaja ketemu di sana?”
“Iya, Mas,” Marwa kemudian mengirim pesan kepada temannya itu dan meletakkan ponselnya di dekat kasur kemudian dia berbalik dan membalas pelukan Rey. Begitu hangat dan juga seperti biasanya, dia yang begitu nyaman ketika berada dipelukan Rey. “Mas, kenapa kalau kita jalan, kadang Mas itu cuek banget?”
“Cuek bagaimana maksudnya?”
“Cuek, nggak ada rangkul dan sebagainya gitu,”
Rey menarik napas dengan dalam-dalam lalu mempererat pelukannya. “Kalau kita jalan, aku kan selalu gendong, Audri. Terus aku selalu gandeng tangan kamu, itu saja sudah cukup kalau kamu itu milik aku. Berarti orang sudah tahu kalau kita itu suami istri, Marwa,”
“Tapi kan banyak tuh yang gandeng istrinya dan kadang nggak malu cium istri di depan umum,”
“Cara orang menyayangi itu beda-beda. Sama halnya dengan aku, aku nggak mau mesra di depan umum bukan berarti aku nggak sayang sama kamu. Tapi aku tahu porsi aku seperti apa. Aku tahu kalau kita punya tempat untuk mesra dalam hubungan suami istri,”
“Yang sekarang ini. Kita kan lagi pelukan. Ini juga sudah termasuk ruang khusus di mana kita mesra. Di depan ornag tua kamu aja aku malu buat peluk kamu. Apalagi diluar, Marwa,”
“Kenapa gitu? Kita kan udah nikah,”
“Aku punya cara tersendiri untuk ungkapin sayang aku sama kamu. Jadi di luar aku tetap gandeng tangan kamu, nggak pernah lepasin juga kan?”
Marwa menarik napas panjang dan mencium aroma khusus suaminya yang begitu harum. “Aku paling suka dipeluk kayak gini, Mas,”
“Nanti kalau ada waktu. Kita bulan madu ya? Nggak apa-apa kok bocah ini ikut. Lagian dulu kita nggak pernah bulan madu, udah nikah gitu aja belum lagi kalau kita saling cuekin,”
“Itu karena kamu nggak tahu kalau istri kamu ini adalah perempuan yang kamu cari selama ini,”
“Kamu juga malah main teka-teki kayak gitu. Aku mana tahu kan kalau itu adalah kamu. Belum lagi karena kamu bikin aku kayak orang gila, dan aku waktu itu mau nyerah dan mau pisah tahu nggak?”
“Kalau sekarang?”
“Kalau sekarang ya penginnya nambah anak aja, nggak usah nambah masalah, Marwa,” Rey terkekeh dan perutnya dicubit oleh istrinya. Dia memang sangat suka sekali menggoda istrinya. Karena dia bisa membayangkan bagaimana perempuan itu berekspresi langsung berubah dan raut wajahnya akan sangat merah ketika dia menggodanya/
Drrt drrtt
Marwa melepaskan pelukannya dan mengambil ponselnya lagi untuk membalas pesan yang masuk itu. “Hana mungkin,” kata Rey yang kemudian dia melihat bahwa itu memang benar Hana. Teman yang diceritakan oleh Marwa tadi. “Balas aja!”
“Oke, setelah ini kita tidur ya?” ucap Marwa dan istrinay langsung meletakkan ponsel di dekat meja di samping lampu tidur.
Rey bangun dari tempat tidurnya untuk mematikan lampu utama dan membiarkan lampu tidur yang menyala seperti biasanya.
“Mas, aku belum ambil air untuk buatin Audri susu,”
“Udah, tadi sebelum kamu pulang aku udah siapin kok. Botol susunya juga sudah diganti,” jawab Rey kemudian dia naik lagi ke atas ranjang untuk memeluk istrinya seperti biasanya. “Besok aku nggak pulang ke sini,”
“Kenapa?”
“Aku udah bilang kalau kamu butuh waktu sama orang tua kamu sendiri. Jadi aku besok ke rumah kedua orang tua aku,”
“Kamu lagi nggak marah kan?”
Rey mengelus pipi istrina. “Nggak, aku nggak marah sama sekali. Nanti aku juga pulang ke sini kok. Tapi besok, kayaknya enggak. Aku juga butuh waktu sama keluarga aku sendiri,”
“Hmm, ya udah deh. Salam sama Mama dan Papa ya!”
“Iya, mereka juga pasti kangen sama kamu. Apalagi cucunya,”
“Setelah ini kan kita ke sana,”
“Iya, tapi aku nggak enak kalau misalnya nanti pulang malam terus ke sini. Jadi aku mungkin tidur di rumah, Mama,”
“Ya udah deh, Mas. Ayo tidur!”
“Cium dulu! Kamu yang cium!” tantang Rey kepada istrinya. Dia memang sangat usil. Dia bisa saja membuat istrinya seperti sekarang ini. Sumpah, demi apa pun dia menyesal pernah memilih perempuan lain dulu ketika dia bisa bahagia seperti sekarang ini. Ditambah lagi dengan kehadiran si kecil yang menjadi pelengkap hubungan mereka berdua. Rey tidak menyangka jika keluarganya bisa bahagia seperti sekarang ini. Maka, apa pun yang Marwa minta. Pasti akan dia penuhi, karena maaf istrinya tidak akan pernah mampu dia bayar.