RICH MAN

RICH MAN
TENTANG TANGGUNG JAWAB



Seusai membuat sup, Rey kembali lagi ke kamar untuk menemani sang istri yang masih berbaring sambil menonton televisi di sana, istrinya justru tidur di lantai sambil memeluk gulingnya. Sebagai seorang suami, perannya tentu saja untuk merawat istrinya yang sakit. Bukan justru meninggalkan istrinya sendirian.


Rey membawa sup itu dan menaruhnya di atas meja, dia mendekati istrinya dan duduk sambil meraih tangan kanan istrinya kemudian menggenggam erat tangan perempuan itu. "Apanya yang sakit?" tanyanya pelan. Istrinya yang tadi sedang asyik dengan acara televisi kemudian melirik ke arah Rey.


"Perut, sakit terus mual-mual," jelas Marwa.


Perlahan Rey mengangguk pelan ingin sekali dia menebak, akan tetapi justru takut itu menyinggung istrinya jika benar bahwa Marwa tidak hamil. Tentu saja harapan terbesarnya adalah melihat istrinya hamil. Buah hati dari hubungannya yang selama ini sudah cukup terasa sakit.


"Bangun dulu, sarapan! Aku suapin," tawar Rey mengajak istrinya untuk duduk.


Ketika sudah posisi duduk, Rey menyeka rambut istrinya. Ketika bersama, Rey sering kali meminta istrinya melepas jilbabnya ketika berada di kamar. Namun berbeda halnya walaupun hanya pergi ke dapur, istrinya selalu mengenakannya. Dia menatap lekat ke arah istrinya yang terlihat begitu pucat, "Nanti dokternya ke sini, jadi kamu harus sarapan dulu ya!" tawarnya.


Baru saja Rey berkata demikian, Marwa menyingkirkan tangan Rey kemudian istrinya berlari ke arah kamar mandi sambil muntah-muntah. Pria itu langsung berdiri dan mengejar Marwa, hatinya terasa begitu nyeri ketika melihat istrinya sakit. Bagaimana mungkin dia bisa pergi bekerja jika yang ia dapati adalah Marwa yang seperti sekarang ini.


"Rey, ajak Marwa ke dokter!" panggil mama-nya dari luar. Rey yang masih menemani istrinya di kamar mandi hanya bisa pasrah. Dia tahu sendiri bahwa istrinya tidak suka dipaksa, itu akan menjadi pertengkaran nantinya. Karena istrinya kurang sehat, mau tidak mau dia harus mengalah agar tidak terjadi pertengkaran.


"Denger Mama, kan? Kita ke dokter ya!" ajaknya lagi.


Tetap saja ketika mereka berdua keluar dari kamar mandi, istrinya tetap menolak untuk diajak ke dokter. "Mau ke rumah Mama," Rey terdiam ketika sudah mengajak istrinya duduk di pinggiran ranjang, bukan tidak ingin mengajak istrinya pulang. Akan tetapi dia tahu sendiri bahwa mertuanya sangat membencinya, "Kasih aku waktu, Marwa. Aku butuh waktu untuk bisa berhadapan sama orang tua kamu sebagai sosok orang yang telah membuat kamu hilang ingatan dulu," ucapnya lirih.


Perempuan itu mengangguk pelan, rindu terhadap orang tuanya begitu besar. Akan tetapi mengingat bahwa orang tuanya memang tidak menyukai Rey, jika seandainya Rey jujur bahwa pria itu adalah orang yang akan ditemui oleh Marwa beberapa tahun yang lalu, tentu saja orang tuanya tidak akan pernah menyetujui pernikahan itu dilanjutkan. Apalagi orang tuanya bersumpah dulu. Dan sekarang hanya mertua Marwa yang tahu bahwa dia sudah mulai pulih. Marwa pun berusaha pura-pura tidak mengingat kejadian di mana dia dulu ingin menemui Rey akan tetapi justru tidak pernah jujur yang menikahinya adalah pria yang dulu.


Marwa menggigit bibir bawahnya sambil mendengarkan penjelasan-penjelasan Rey. "Kalau kamu mau, aku bakalan antarin," tawar Rey. "Tapi setelah periksa ke dokter, kalau kamu enggak periksa, aku enggak bakalan mau antarin kamu," ucapnya.


"Mas, kita ke rumah Mama lain kali aja,"


Rey justru kasihan terhadap istrinya yang waktu itu terlihat begitu menyedihkan. "Marwa, aku bakalan ke sana, tapi bisa enggak aku enggak usah jujur dulu?" tawarnya. Dia ingin mengakui bahwa dia adalah penyebab semua itu agar dendam orang tua istrinya segera usai terhadap dirinya.


"Iya, aku masih bisa jaga rahasia itu kok, Mas,"


Rey mengelus punggung tangan istrinya kemudian meraih kepala istrinya dan mencium kening Marwa. "Bagaimana sayangnya aku sama kamu, bagaimana usaha aku biar kamu tetap di sisi aku, enggak bakalan ada yang bisa misahin lagi. Berat aku harus jujur sama orang tua kamu, karena aku enggak mau ambil risiko kalau pada akhirnya mereka minta kita pisah, Marwa. Kamu tahu sendiri bagaimana sulitnya aku untuk bisa bertemu sama kamu, bahkan nikah sama kamu enggak pernah ada dalam pikiran aku, yang aku tahu kamu sudah hilang. Meninggalkan semua janji kita dulu, kalau seandainya kamu hilang lagi, aku enggak tahu harus cari kamu di mana?"


"Aku enggak bakalan pernah ke mana-mana, apalagi ninggalin kamu, Mas. Asal kamu bisa jaga hati aku,"


Marwa menunduk sambil memainkan jemarinya. "Mas, aku telat,"


Rey menyinggungkan senyum akan tetapi hampir tidak nampak begitu jelas. "Telat?" ucapnya pura-pura tidak tahu bahwa yang dimaksud adalah telat datang bulan.


"Telat datang bulan, Mas," jawab Marwa dengan suara yang sedikit bergetar.


"Hmmm, terus?"


"Kalau seandainya aku hamil bagaimana?"


Rey kembali memegang kedua tangan istrinya, "Kalau memang itu terjadi, tentu aku akan sangat senang mendengarnya,"


"Aku takut,"


"Kok takut?"


"Kamu bakalan berpaling kalau istri kamu hamil, biasanya itu adalah hal yang seringkali terjadi,"


Rey tersenyum paham dengan yang dimaksud oleh Marwa. Karena itu juga yang terjadi pada Papanya dulu. "Ikut ke mana pun aku pergi kalau kamu mau, jika seandainya kamu benar-benar hamil, tentu aku senang, bakalan jagain kamu. Niat aku udah lurus menikah sama kamu itu adalah suatu kebahagiaan bagi aku, menyempurnakan kamu, melengkapimu. Saling melengkapi, jika seandainya ada hal yang aku enggak suka dari kamu, tentu aku bakalan bilang sama kamu, enggak mungkin aku diam, enggak mungkin juga aku bakalan seperti itu, ninggalin kamu hanya karena kamu hamil dan berpaling ke perempuan lain, karena aku enggak mau ngerasain hal yang sama seperti dulu lagi. Yaitu kehilangan kamu, kehilangan separuh aku, kehilangan banyak hal tentang kamu. Andai masa lalu itu bisa terulang, aku ingin putar kembali, yaitu agar kita enggak usah janji untuk ketemu di taman. Tapi tentu saja pertemuan kita selanjutnya sudah direncanakan. Kita dipisahkan dengan cara yang seperti itu, barangkali Allah mau kita menjaga hati, menjaga cinta dengan sebaik-baiknya. Mungkin waktu itu Allah menegur kita agar tidak menjalin hubungan yang salah, buktinya kita dipertemukan dengan sebuah pertemuan tanpa terencana, kamu percaya bahwa ketetapan-Nya itu nyata,"


"Iya, aku percaya itu semua, Mas,"


"Maka dari itu, tolong jangan pernah berpikir bahwa aku akan mencari perempuan lain lagi ketika kamu hamil, Marwa. Karena niatku itu bukan untuk main-main, bukan lagi mau lepasin kamu seperti yang aku bilang waktu itu, tentu aku benci sama diri aku sendiri ketika aku bilang kalau mau lepasin kamu dulu,"


"Sekarang enggak lagi, kan?"


"Kamu suruh aja Papa hajar aku kalau aku sampai berani lepasin kamu, enggak mau lagi kesepian, hampir sembilan tahun. Itu adalah waktu yang enggak sebentar, tahu. Andai aku nikah umur segitu, udah besar anak aku," candanya menggoda istrinya agar tidak berpikir hal negatif tentang kehamilan. Rey tentu saja berharap bahwa istrinya benar-benar hamil. Mendapatkan keluarga baru, dari buah cintanya yang selama ini sudah mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi. Yang akan mengajarkan dirinya kelak tentang suatu tanggung jawab.


****Jadwal updatenya sudah diatur ya\, jadi barangkali besok updatenya otomatis karena author sudah up beberapa\, jadi untuk episode berikutnya up setiap hari selama beberapa hari\, mohon maaf karena menunggu lama. Karena author banyak tugas\, ceritanya belum selesai kok. Jadi alasan enggak mau buat chapter khusus pengumuman biar yang dibaca karyanya saja. Bukan cuman pengumumannya. Terima kasih\, mohon maaf sebelumnya ya.