RICH MAN

RICH MAN
LEKAS SEMBUH



Beberapa waktu setelah


tinggal berdua di rumah barunya, Azka dan Nagita semakin dekat dan


hubungan mereka pun semakin membaik meski seringkali terjadi


pertengkaran kecil saat Azka mulai sibuk dengan pekerjaannya. Namun


bagaimanapun juga ia berusaha untuk menyesuaikan waktu bekerjanya dengan


Nagita. sebagai kepala keluarga, ia mengalah dan menuruti keinginan


Nagita. Usia kandungan Nagita yang memasuki sembilan bulan, Azka semakin


berhati-hati sebab perkiraan melahirkan tinggal tiga minggu lagi.


Pagi hari Azka terbangun


dari tidurnya sambil memeluk Nagita yang tengah demam selama dua hari,


selama itu pula ia meninggalkan pekerjaannya demi merawat istrinya


dengan baik. Perempuan itu terus memanggil nama orang tuanya yang


membuat Azka merasa kasihan dan meminta Dimas untuk datang ke rumah baru


mereka.


Melihat keadaan Nagita


yang semakin hari semakin lemas, Azka menjadi tidak tega walau hanya


meninggalkannya sebentar saja. Ia sudah mendatangkan dokter untuk


memeriksa Nagita, tetapi justru istrinya itu semakin sering mengigau.


Pukul sebelas siang, Dimas datang menjenguk Nagita dan langsung


dipersilakan masuk oleh Azka.


"Sejak kapan dia begini?"


"Dua hari yang lalu,"


"Sudah di bawa ke dokter?"


"Sudah, Dim. Cuman dia sering manggil nama orang tua,"


Dimas mengganti kompres


Nagita dan membetulkan selimut adiknya. "Nggak apa-apa. Dia memang


begini kalau sakit, tetap temani. Dia sudah minum obat?"


"Sudah tadi pagi, tinggal siang ini,"


"Thanks ya, udah jagain dia selama ini, Pak,"


"Jangan panggil saya dengan sebutan itu jika di luar. Bagaimanapun juga saya adik ipar kamu, Dimas."


"Adik ipar yang umurnya udah bangkotan,"


"Ck, sialan. Sempat-sempatnya kamu meledek saya," jawabnya dingin.


"Soal traumanya gimana?"


"Sudah berlalu begitu saja, bahkan dia sudah tidak takut berhubung—" Azka menggantungkan kalimatnya karena keceplosan.


"Jangan bilang kalau kalian sudah melakukannya?" selidik Dimas.


"Hehehe, sorry," Azka menyeringai setelah Dimas menangkap basah dirinya.


"Beneran terjadi?"


"Iya, Dim,"


"Dia nggak teriak lagi?"


"Sudah nggak, cuman akhir-akhir ini sering marah kalau saya tinggal kerja hingga larut malam,"


"Jangan buat dia begadang, kasihan lagi hamil malah nungguin kamu kerja,"


"Dia nggak tidur kalau nggak dipeluk. Sedangkan kerjaan saya belum beres,"


"Nanti saya bantu, jangan buat dia merasa sendirian. Tahu kan kalau saya sayang banget sama dia," Dimas mengingatkan Azka.


"Iya saya tahu. Tapi bukannya kamu sibuk?"


"Nggak apa-apa. Setidaknya dia masih bisa ditemani sampai dia melahirkan. Setelah itu pekerjaannya saya balikin lagi ke kamu,"


"Thanks ya,"


"Masih ada saya dan Damar. Jadi jangan pikirkan urusan kantor, fokus aja dulu di rumah,"


"Iya. Ngomong-ngomong Damar gimana di kantor?"


"Setiap hari dia ngumpat, ngata-ngatain kamu karena semua tugas dia yang kerjakan,"


"Sialan itu masih saja sering marah,"


"Bagaimana nggak marah,


kamu di sini enak-enakan sama istri kamu. sedangkan dia di sana harus


bergelut dengan pekerjaan bahkan dia nggak pulang kalau banyak kerjaan,"


"Risiko dia. Saya nggak peduli, setidaknya dia akan mendapatkan imbalan. Damar itu mudah ditebak,"


"Kenapa nggak ke kantor aja sih?"


"Nggak akan, sampai Nagita melahirkan, saya akan jadi suami siaga buat dia,"


"Kenapa bulu kuduk dan saya mual dengarnya, Az? Itu terdengar sangat menjijikkan dari mulut seorang Azka,"


"Apa saya terkenal dengan kebrengsekan saya di kantor?"


"Tentu saja. Orang-orang justru menganggap kamu sedang liburan sama kekasihmu dan menghabiskan malam bersama,"


"Itu dulu, sekarang saya sudah sadar. Saya sebentar lagi punya anak, jadi ayah. Hal yang saya nanti-nantikan,"


"Hah, akhirnya insyaf juga,"


"Itu juga karena calon keponakan kamu yang nyadarin saya,"


"Dia sehat?"


"Sehat, bahkan sangat sehat. Cuman Mommy-nya yang nggak sehat, bikin khawatir aja,"


"PR kamu, Az. Katanya pengin jadi suami siaga, jadi harus benar-benar rawat dia sekarang,"


"Tentu saya rawat. Ada darah daging saya tumbuh di rahimnya,"


"Kalau begitu saya pamit ya, nanti pulang kerja saya datang lagi. Bahkan saya akan menginap untuk gantiin kamu jaga dia,"


"Thanks, Dimas. Saya tunggu."


Dimas berpamitan, Azka


mengantarkan hingga teras depan. Ia pun menelepon mamanya untuk datang


ke rumah. Meski perempuan itu belum siap bertemu dengan mertuanya,


tetapi sudah cukup bagi Azka memendam semuanya. Bagaimanapun juga ia


ingin mengenalkan Nagita kepada mamanya.


Ia segera kembali lagi


ke kamar untuk menjaga Nagita. Azka mematikan AC kamarnya dan membuka


jendela sebagai alternatif. Meski menggunakan AC, Nagita keringatan,


namun kakinya sangat dingin. Opsi kedua adalah ia harus mematikan


pendingin ruangan dan membiarkan udara masuk ke kamarnya.


"Gadis kecil, sembuh


dong! Nggak asyik kalau nggak ada kamu yang buat saya jengkel setiap


harinya, jangan lama-lama sakitnya, saya kangen." Ucapnya sembari


mengganti kompres Nagita. Tubuh itu terus menggigil, namun keringat


terus keluar dari tubuh istrinya.


Beberapa saat kemudian


suara mobil terdengar masuk ke halaman rumahnya yang ia yakini bahwa


itu adalah mamanya yang beberapa waktu lalu ia hubungi untuk


mengunjunginya. Ia langsung turun untuk menemui mamanya. Azka menyambut


mamanya di teras depan, sontak ia terkejut saat melihat adiknya yang


ikut bersama dengan mamanya. Padahal selama ini ia ingin merahasiakan


itu semua dari yang lainnya, kecuali mamanya.


"Ma, kok ajak dia?" sambil memicingkan mata ke arah adiknya.


"Kakak nggak suka aku di sini?"


"Bukan gitu, tapi kenapa datang?"


"Azka, tadi mama sama


adik kamu pergi ke dokter kandungan. Kamu nelpon malah suruh


cepat-cepat. Mau tidak mau mama ajak dia kemari,"


"Dasar, ganggu aja," ketusnya pada adik semata wayangnya.


Ia pun mengajak mamanya


untuk masuk. Sebelum menuju ke kamar ia menjelaskan kepada mamanya


keadaan Nagita saat ini. adiknya yang hanya diam terus mengangguk karena


tidak mengerti dengan pembicaraan tersebut. Azka tak peduli dengan


reaksi adiknya itu.


Mereka bertiga masuk ke kamar dan melihat perempuan kecil yang tengah berbaring di atas ranjang.


"Dia siapa, Ma?" adik Azka mulai angkat bicara.


"Kakak ipar kamu, sayang. Istrinya kakak kamu,"


"Itu yang tidur di sana


siapa coba kalau bukan istri kakakmu? Masa iya mau ajak anak orang


tinggal serumah terus keadaannya lagi hamil besar lagi,"


"Hamil? Papa juga nggak tahu kalau Kak Azka sudah nikah,"


"Jangan beritahu sayang. Mama akan jelaskan nanti, setidaknya ini hanya kamu yang tahu,"


"Kak, itu beneran istri kakak?"


"Iya dia istri kakak. Sebentar lagi mau melahirkan, lihat perutnya. Nggak percaya? Lihat cincin pernikahan dijarinya!"


"Kakak gila, nikah nggak


ngundang aku. Tiba-tiba istrinya udah bunting gini, eh ngomong-ngomong


Mama ingat nggak waktu pagi-pagi Kak Azka muntah pagi itu? Hampir setiap


pagi, Ma. ingat nggak?"


Azka mencoba mengingat kejadian itu yang benar terjadi beberapa bulan yang lalu kepada dirinya.


"Ingat, Mama ingat,"


"Berarti waktu itu Kak Azka beneran ngidam kan, Ma? Dia ngalamin morning sickness,"


"Benar juga kamu sayang. Iya juga sayang, Mama baru ingat," jawab Mamanya membenarkan ucapan adiknya.


"Mama!" rengek Nagita. seketika Azka mendekat dan memeluk istrinya.


"Saya di sini, Gita."


"Mama sama Papa jangan tinggalin, Gita!" Azka langsung menatap mama dan juga adiknya memberi kode agar mereka berdua diam.


"Pengin ketemu sama mama, Mas," isaknya.


"Ya udah sekarang kamu bangun, ya! Kita ketemu sama, Mama." Azka membantu Nagita agar bersandar di sandaran ranjang.


"Ma, minta tolong ya!" pinta Azka.


Pelan-pelan Nagita mulai membuka matanya, selama demam Nagita lebih sering menangis jika menyebut nama kedua orang tuanya.


"Ta-tante siapa?"


Mama Azka mendekat dan duduk di samping Nagita menggantikan posisi Azka.


"Ini Mama sayang. Mamanya Azka, Mama mertua kamu. apanya yang sakit, hm?"


Air mata Nagita


berlelehan membasahi pipinya. Mama Azka langsung memeluk menantunya,


"Jangan sedih, sayang. Mama di sini, jangan nangis ya!"


"Ma, maafin Gita ya karena sudah hancurin hidup Mas Azka,"


"Nggak sayang. Kamu


nggak salah, bagaimanapun juga kamu menantu Mama. Jangan berpikiran


seperti itu, sebentar lagi kan punya anak. Mama nunggu lahirnya cucu


Mama,"


"Nagita minta maaf, Ma,"


"Kamu nggak salah


sayang, anak mama yang salah. Mulai sekarang Mama yang akan nemenin kamu


di sini. Jangan cemas, ohya itu adiknya Azka, adik ipar kamu, namanya


Naura. Dia sudah menikah,"


Naura memperkenalkan dirinya kepada Nagita dan dibalas dengan begitu ramah oleh istri Azka.


"Sudah minum obat?"


"Belum, Ma. dia belum minum obat, belum makan siang juga,"


Mama menggelengkan kepalanya, "Mau makan apa sayang? Mama masakin,"


"Nggak usah, Ma,"


"Yang penting menantu sama cucu mama sehat. Ayo sayang mau apa? Bilang sama Mama!"


Azka menganggukkan kepalanya.


"Bubur ketan hitam, Ma,"


"Ya sudah, kamu tunggu di sini. Mama cari bahannya sama Azka. Kamu sama Naura di sini, ya!"


"Maaf ngrepotin, Ma,"


"Kamu kayak orang lain aja,"


"Gadis kecil baik-baik di sini ya. Jangan nangis lagi, saya segera kembali." Azka berpamitan kepada istrinya.


"Kakak kerasukan apa? Tumben-tumbenan manis banget?"


Nagita tersenyum, "Dia memang seperti itu, Kak."


"Kok manggil aku kakak? Umur kamu berapa?"


"Sembilan belas,"


"Se-sembilan belas? Kok bisa-bisanya nikah sama Kak Azka?"


"Maaf. Suatu kejadian yang tak diinginkan terjadi,"


"Kalian nggak pacaran kan terus ngelakuin hal yang salah?"


Nagita menggeleng.


"Terus kok bisa? Bahkan aku nggak tahu Kak Azka sudah nikah,"


"Diperkosa," Nagita menunduk dan menahan air matanya.


Naura terdiam dan


menutup mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi tidak


mungkin perempuan itu berbohong hingga Azka berani bertanggung jawab dan


mau menikahi gadis itu.


"Maaf, ya. Apa Kak Azka berbuat jahat sama kamu sebelumnya?"


"Nggak pernah. Dia bertanggung jawab dan perhatian selama ini,"


"Gita yang sabar, maaf sudah buat kamu ngingat kejadian itu,"


"Nggak apa-apa kak. Terima kasih sudah mau berkunjung ya,"


"Nggak masalah. Aku sering kemari, ya. Boleh nggak?"


"Boleh, aku juga kesepian di rumah, hanya berdua sama Mas Azka,"


"Memangnya dia nggak kerja?"


"Dia bilang nggak mau kerja sebelum aku melahirkan,"


"Aku boleh pegang perut kamu? kalau dia masih ada, mungkin kita barengan melahirkan, Nagita,"


"Kakak keguguran?"


"Iya, waktu itu aku stress. Nggak mau hamil lagi, tahunya Tuhan berbaik padaku. Aku hamil lagi sekarang,"


"Sudah berapa minggu?"


"Lima minggu, baru aja pulang dari dokter Eva. Ngomong-ngomong dia bilang kak Azka sering bawa kamu ke sana ya?"


"Iya. Bahkan hampir setiap minggu Mas Azka ngajakin ketemu sama dokter Eva,"


"Aku dengar percakapan mama sama dia, aku pikir itu temannya. Tahunya kakak ipar, enak ya hamil, Gita?"


"Nanti kakak juga akan ngerasain,"


"Sudah berapa bulan?"


"Masuk sembilan,"


"Berarti sebentar lagi


keluar. waaah kita harus borong perlengkapan bertiga pokoknya, Gita.


jangan khawatir! Kak Azka pasti ngasih izin,"


Nagita hanya membalas


dengan senyuman. Kepalanya kembali pusing dan tubuhnya terus


mengeluarkan keringat. "Kamu tidur gih. Jangan kelamaan duduk!"


Nagita menuruti apa yang dikatakan oleh Naura dan perempuan itu membantu menaruh kompres di dahinya.


"Cepat sembuh ya! Biar


nanti semangat belanjanya. Kita akan sering ketemu, Nagita." suara Naura


begitu bahagia. Mereka pun menjadi semakin akrab setelah ditinggalkan


oleh Azka dan juga mamanya. Perbincangan mengenai kehamilan adalah topik


menarik bagi mereka berdua. Mengingat bahwa Nagita lebih dulu merasakan


kebahagiaan itu sebab Naura harus merelakan calon buah hatinya yang


keguguran waktu itu.


Ia merasa sangat


bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik seperti adik dan juga mama


Azka yang begitu ramah kepada dirinya. Jauh dari apa yang ia pikirkan


mengenai hal itu, yang ia bayangkan adalah mertuanya galak. Adiknya


mengerikan, tetapi justru berbanding kebalik dengan apa yang ada di


pikirannya selama ini.