RICH MAN

RICH MAN
DUKUNGAN



Rey berangkat memancing bersama dengan papanya. Kali ini hanya mereka bertiga yang ada di rumah. Istri mana yang tak bahagia diberikan uang dan bebas belanja apa saja yang dia inginkan. padahal Marwa punya toko pakaian muslim sendiri, tapi selalu membeli baju di luar. Karena dia ingat ucapan suaminya, bahwa dia harus membeli barang di luar agar tidak terbiasa mengambil barang yang nantinya bisa habis tanpa dia sadari ketika mengambil di toko miliknya sendiri.


Marwa menunggu mamanya mengganti jilbab dan juga tas. Mereka bertiga akan pergi untuk belanja membeli baju baru, untuk Audri juga seperti yang diperintahkan oleh suaminya tadi. Rey memang termasuk suami yang sangat peka keinginan istri, menyebalkannya itu kadang membuat Marwa geram karena tingkah suaminya.


Dia yang sedang menggendong Audri di bawah sembari menemani anaknya bercanda, inilah hasil buah cintanya bersama dengan Reynand. Pernikahan yang selalu dipenuhi dengan rasa sakit. Rasa yang di mana Reynand tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya dia dulu. Marwa yang sampai ingin menceraikan suaminya tapi memilih bertahan demi sang buah hati yang belum lahir ketika itu. namun, perubahan Rey mulai terlihat begitu suaminya tersebut terlihat begitu serius untuk hubungan rumah tangga mereka kedepannya.


Reynand yang juga meluangkan waktu bersama dengan keluarga. Awalnya Rey sering melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, kemudian dia yang mulai mengurangi jam kerjanya di kantor dan memilih untuk berkumpul bersama dengan keluarganya ketika berada di rumah. Marwa juga sempat berdiskusi dengan suaminya itu, bahwa Rey yang begitu menginginkan menambah keturunan lagi nanti setelah Audri besar. Mereka menginginkan banyak anak dan juga Marwa setuju dengan permintaan suaminya. Dia yang tidak punya saudara pasti merasakan yang namanya kesepian. Sekalipun dulu apa yang dia mau selalu dipenuhi oleh sang papa. Tapi tetap saja bahwa dia itu sangat kesepian.


Audri sering melontarkan kata papa dengan begitu jelas, itu artinya dia memang mencari keberadaan Reynand. Marwa juga sadar jika anaknya ini memang dekat dengan Reynand. Karena mereka sering menghabiskan waktu berdua dan kadang jika sudah berdua, maka Rey akan melupakan dirinya sampai Audri tertidur digendongannya lalu barulah mereka yang bermesraan. Rey selalu bertingkah bijak kali ini. Mengajarinya begitu banyak hal, sekalipun ada rasa sakit yang kadang mengingatkannya pada masa lalu. Tapi dia tidak ingin jika masa lalu itu membuat rumah tangganya menjadi berantakan.


“Mama bawakan susunya Audri,” Mamanya memasukkan botol susu Audri ke dalam tas. Terlihat sangat cantik dan juga perempuan yang selalu menjadi kesayangan Marwa. Dia juga ingat betapa dulu dia tidak bisa bertemu dengan sang mama ketika orang tuanya bercerai. Marwa belajar dari sana. mempertahankan Rey adalah cara dia mencintai pria itu, sekalipun orang lain melihatnya sangat bahagia dengan pernikahan ini. “Ayo sama nenek,” Audri tertawa dan merentangkan tangannya.


Audri sangat suka bermain dengan siapa saja. Apalagi dengan tantenya yang kembar itu. pasti Audri tidak akan tidur karena mereka berdua selalu mengganggu ketenangan anak kecil itu.


Marwa keluar terlebih dahulu, mamanya berpamitan kepada asisten yang ada di rumah mereka yang bertugas hanya membersihkan rumah saja. Untuk menyiapkan makanan, tetap saja itu adalah tugas dari istri. Papanya juga yang lebih suka masakan mamanya, kemudian Marwa tahu bahwa itu akan sangat membahagiakan ketika dia bisa bertahan untuk rumah tangganya. Mungkin dulu juga mamanya bertahan demi dirinya ketika kembali lagi bersama papanya.


Mereka mengendarai mobil kurang lebih setengah jam dari rumah sampai ke mal. Audri yang sangat senang ketika diajak untuk jalan-jalan seperti ini. Tidak salah jik Reynand sering mengajaknya pergi jalan-jalan ketika dia libur bekerja.


Bahkan, Audri juga sepertinya sudah tahu kalau sudah dipasangkan baju baru. Mereka akan pergi jalan-jalan. Itu semua adalah akal-akalan suaminya yang membuat anaknya pun bisa peka seperti itu.


Mereka turun dari mobil dan mengajak Audri masuk. Anaknya ceria ketika diajak ke sana. “Sudah hafal banget dia kalau diajak jalan-jalan begini, ya?” tanya sang Mama ketika Audri tertawa terbahak.


“Audri, memang sering banget diajakin jalan-jalan sama, Mas Rey, Ma. Mas Rey itu manjain banget anaknya,” seperti biasanya, mereka begitu masuk sudah mendapatkan sambutan beberapa balon besar untuk toko ponsel.


Marwa senang ketika melihat anaknya bahagia seperti ini. Untuk bercerai? Bahkan Marwa jijik dengan pilihannya waktu itu. ketika melihat anaknya akrab dengan Rey itu sudah cukup membuatnya bahagia dengan sangat.


Sekalipun dia dengan jelas mengingat bagaimana Rey mengkhianatinya dulu. Mulai dari parfum wanita yang tercium pada kemeja kerja Rey. Dia juga ingat dengan jelas bagaimana pria itu berselingkuh dengan foto-foto yang ditunjukkan oleh perempuan itu kepadanya. Apalagi ketika dia hamil besar justru diminta untuk meninggalkan suaminya kala itu. awalnya karena terlalu sakit, Marwa akan meninggalkan suaminya dulu. Tapi, seiring berjalannya waktu dia berjuang dengan begitu baik. untuk anaknya juga. Andai saja dia benar-benar bercerai, maka Audri tidak akan pernah dekat papa kandungnya. Bersyukur ketika dia bisa memberikan kebahagiaan kepada anaknya ketika dia bertahan waktu itu. Rey juga yang tidak sembunyikan apa pun darinya. Ponsel suaminya juga dengan bebas sekarang dia periksa. Tanpa permintaanpun, Rey akan langsung menunjukkan dengan siapa dia menelepon.


Kejujuran suaminyalah yang membuatnya percaya lagi dengan cinta itu.


Sementara mereka jalan-jalan di sana mencari toko baju yang hendak mereka tuju. Marwa ingin mencarikan anaknya terlebih dahulu. “Ma, Mama juga disuruh beli sama, Mas Rey. Tadi dia bilang Mama juga dibeliin,” ujar Marwa. Rey memang menyuruhnya untuk membelikan mamanya. Rey tidak pelit, apa pun jika mengenai keluarga dia akan jauh lebih utamakan.


“Hemat ya sayang! Bukannya mau gimana-gimana. Tapi kasihan suami kamu udah kerja, sampai jarang punya waktu itu juga buat nyenengin kamu,”


“Aku nggak pernah minta, Ma. Uang aku masih utuh dong, dia itu nyuruh aku beliin Audri gamis, udah gitu dia juga nyuruh aku beliin Mama. Dia juga pesan tadi kaos untuk ganti di rumah katanya,”


“Berarti dulu Papa nggak salah nerima lamaran orang itu ya. Apalagi waktu Papa itu keras kepala banget bilang kalau dia nerima lamaran dari Dimas yang mewakili Rey dulu. Papanya juga datang untuk minta kamu, nggak nyangka aja sih kamu bakalan beneran saling sayang,”


“Udah dari dulu sebenarnya, Ma,”


“Maksudnya?”


“Sudah dari SMA saling sayang. Tapi Mas Rey itu nggak mau pacaran. Dia bilang kalau dia nggak mau terikat komitmen. Nggak apa-apa dekat selama baik, asal jangan keluar katanya,”


“Iya, Ma. Tapi aku sendiri kan ngilang waktu itu, Mas Rey bilang kalau dia nyariin aku,”


“Ternyata kalian udah dekat dari dulu,”


“Mama lupa waktu aku nyariin Mama dulu. Itu kan dia, cuman penampilannya aja yang beda. Dulu masih muda dia memang beda banget,”


“Tapi tetap aja ganteng,”


“Ganteng, banyak yang mau tapi, Ma,”


“Hah? Rey banyak yang suka sama dia?”


“Banyak, Ma. Tapi Mas Rey tetap bilang dia sayang sama aku, sering banget dulu waktu awal-awal nikah aku berantem sama dia. Apalagi waktu hamil, karena ada aja yang godain dia waktu itu,”


“Rey ganteng, banyak uang, apalagi dia masih muda kayak gitu. Perempuan mana yang nggak mau, Marwa? Jadi wajar aja sih menurut, Mama. Tapi sabar, kuatin hati kamu. Kalau mereka deketin suami kamu. Otomatis kamu juga harus belajar bagaimana caranya menjadi istri yang bisa buat dia menetap. Misal apa yang dia suka, itu harus kamu turuti. Jangan pernah ikuti cara orang lain untuk buat suami kamu jatuh cinta sama kamu. Tapi jadilah diri sendiri. Mama juga lebih suka jadi diri sendiri, buktinya Papa kamu pernah diambil orang. Tapi ujung-ujungnya dia balik sama Mama karena dia bilang lebih sayang sama Mama. Dulu kamu punya suadara tiri dan juga mama tiri. Kalau ada masalah, jangan sampai cerai sayang! Jujur Mama suka Rey yang sopan, dia juga terlihat lembut, kesalahan itu memang ada. Setiap rumah tangga pasti ada cobaannya. Nggak ada ya orang nikah itu nggak diuji, jadi kamu harus kuat. Kamu nggak boleh nyerah! Ingat juga bagaimana dulu kamu tuh nggak dapatin kasih sayang dari mama tiri kamu! Ada kalanya kamu harus berjuang, ada juga waktunya kamu untuk menyerah. Ketika kamu menyerah, kamu pasti nggak bakalan bisa berjuang lagi untuk kejar semuanya. Maka dari itu Mama nggak mau kamu sampai nyerah. Audri butuh papanya. Apa Rey pernah selingkuh?”


“Pernah, Ma,” jawabnya dengan pelan. Sekalipun dia berusaha untuk sembunyikan semuanya. Tapi tidak mungkin selamanya dia berhasil sembunyikan.


Mereka bercerita dengan nada suara yang kecil sehingga tidak mungkin orang lain dengar ketika mereka sedang memilih baju. “Hmm, wajar. Tapi sekarang nggak lagi kan?”


“Justru takut, Ma. Dia ketahuan, terus dipukulin sama Papanya sendiri,”


“Hah? sampai segitunya Papa mertua kamu belain kamu?”


“Ya, jangankan Papanya dia, Ma. Mamanya pun belain aku kalau Mas Rey yang salah. Orang tuanya dia itu nggak pernah belain anak kalau salah. Kalau salah ya salah, nggak bakalan pernah belain Mas Rey kalau aku berantem. Dulu kan waktu hamil aku tinggal di sana,”


“Mertua kamu baik. Susah cari mertua yang kayak gitu, makanya pertahanin ya. Kalau memang Rey udah bertingkah lebih jauh, baru kamu boleh nyerah. Selingkuh dia misal di luar sana dia hamili anak orang gitu, lebih baik kamu nyerah,”


“Semoga aja enggak, Ma. Mas Rey nggak lakukan hal bodoh gitu. Sekarang ini juga dalam tahap perbaikan untuk kedepannya, Audri berhak bahagia sama orang tua lengkapnya, kan? Sakit banget orang tua pisah, Ma. Kayaknya, aku bakalan perjuangin Mas Rey kalau dia memang begitu sayang sama keluarganya,”


 


 


Marwa tersenyum ketika dia bisa mengungkapkan perasaan sakitnya. Hanya mertuanya yang tahu mengenai hal itu. tapi sekarang dia berhasil menceritakan semuanya dan respons mamanya mendukungnya untuk bertahan dengan Rey. Bukan justru memojokkan dirinya ataupun menyalahkan suaminya.