
Suasana di rumah Nagita
begitu menegangan, hari itu juga Dimas tidak masuk bekerja karena harus
menyiapkan segalanya dengan mendadak. Pun begitu dengan Azka yang ikut
andil dalam menyiapkan segalanya untuk acara pernikahan, lebih tepatnya
untuk tanggung jawab semata untuk memberikan identitas kepada calon buah
hati yang harus memiliki seorang ayah ketika lahir nanti.
Nagita mengenakan kebaya sederhana, pun dengan Azka yang hanya mengenakan jas berwarna hitam.
Di depan penghulu dan juga para saksi yang lainnya, Azka menjabat tangan Dimas selaku wali untuk Nagita.
Hanya dengan
satu kali pengucapan, semua para saksi mengucapkan kata sah. Air mata
Nagita mengucur ketika mencium tangan Azka dan juga ketika keningnya
dicium oleh pria yang kini sudah berstatus sebagai suaminya. Cinta,
tentu saja Nagita sudah mencintai pria itu. Pernikahan hanya sebagai
jalan yang digunakan untuk tanggung jawab bayi yang ada di dalam
perutnya itu.
Semua acara
selesai begitu saja, para tamu sudah mulai berpamitan. Tidak ada orang
tua Azka di sana, karena tidak mungkin bagi seorang pria yang namanya
sangat terkenal dalam dunia bisnis harus menikah dengan cara yang begitu
sederhana, pernikahan yang harus digelar besar-besaran karena itu
adalah yang harus dilakukan, akan tetapi semua itu berjalan sangat
berbeda.
"Siapkan
barangmu, ikut saya!" begitu dingin perintah Azka untuk Nagita dan
sebentar lagi mereka akan meninggalkan rumah itu dan akan tinggal
bersama layaknya suami istri.
"Nggak nginep?"
"Sorry, Dim.
Gue bawa Nagita ya?" ucapnya meminta izin dan begitu sopan terhadap
Dimas. Berbeda sikapnya jika bersama dengan Nagita.
"Baik-baik
di sana! Jangan nyusahin, kalau ada apa-apa telpon kakak. Ka, titip
Nagita, gimana pun juga dia sekarang istrimu."
Azka hanya mengangguk dan setelah mengganti pakaian, ia langsung membawa Nagita pulang menuju apartemennya.
****
"Ini
sekarang kamar kita berdua, enggak ada kamar lain lagi. Disebelahnya
hanya ada ruang kerja, mau tidak mau kita harus berbagi tempat tidur.
Pakaian kamu, taruh di lemari sebelah pakaian saya!"
Nagita
mengangguk, malam itu sudah seperti neraka baginya. Tidak ada
keharmonisan sama sekal yang dirasakannya seperti suami istri pada
umumnya.
Ia merapikan
pakaiannya dan juga bersiap-siap untuk menyiapkan makan malam untuk
Azka. Akan tetapi ketika dirinya membuka kulkas, sama sekali tidak ada
bahan untuk memasak di sana.
"Kamu mau ngapain?"
"Masak."
"Nanti saya
pesankan makanan, kamu jangan khawatir. Dan malam ini saya harus ke
rumah orang tua saya, kamu nggak apa-apa saya tinggal?"
Nagita
mengangguk pelan, ia tidak bisa melarang Azka pergi karena itu bukan
haknya. Di sini ia akan menyadari begitu banyak hal, pertama pernikahan
atas dasar tanpa cinta, kedua karena terpaksa. Dan ketiga, mereka tidak
pernah saling mencintai. Selebihnya Nagita saja yang merasakan hal itu.
Ia masuk
kembali ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan menyegarkan
tubuhnya. Beberapa saat setelah selesai, ia sudah mengenakan pakaian
yang begitu rapi, Azka duduk di ruang tengah sambil memesan makanan.
Dengan begitu hati-hati, Nagita menghampiri suaminya yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Kartu
kredit, ATM, beli keperluan yang kamu butuhkan, kamu sudah menjadi
tanggung jawab saya, yang bagaimana pun juga kamu akan tetap saya
nafkahi. Jangan meminta lebih dari ini!"
Nagita mengangguk, sebelum Azka pergi, pria itu memberitahukan password apartemennya, dan Nagita mengangguk pelan.
Sekitar lima
belas menit lalu Azka pergi meninggalkan dirinya sendirian di dalam
sana, ia memainkan ponselnya dan mengedarkan pandangannya, bahwa tempat
itu merupakan tempat yang pernah membuat dirinya begitu trauma untuk
menghadapi Azka, bagaimana tidak, saat itu di sana adalah tempat dirinya
kehilangan masa depannya yang kini sedang mengandung hasil dari
perbuatan Azka yang secara paksa menghadirkan janin dalam rahim Nagita.
****
Azka
menimbang-nimbang semua keputusannya yang waktu itu sudah begitu bulat
untuk bertanggung jawab, kini perempuan itu sudah resmi menjadi
istrinya, Azka duduk di sofa ruang tamu sambil memesankan makanan untuk
Nagita sebelum meninggalkannya.
Memberikan
sebuah kartu ATM dan juga kartu kredit yang suatu waktu dapat digunakan
oleh Nagita untuk keperluannya. Bagaima pun juga ia harus menyadari
posisinya yang kini sebagai seorang suami.
Setengah jam
berlalu saat dirinya pergi dari apartemen dan langsung ke rumah orang
tuanya, di sana ada beberapa asisten rumah tangga yang sudah menyambut
kedatangannya, Azka sudah terbiasa dengan pemandangan itu dan langsung
masuk begitu saja untuk menemui orang tuanya.
Azka duduk
di samping sang mama. Di sana ada adik dan juga adik iparnya yang tengah
berbincang. "Ma, Pa, dan semuanya. Tolong untuk beberapa waktu jangan
ada yang datang ke apartemen,"
"Kenapa, Kak?"
"Mungkin
untuk beberapa waktu kakak akan tinggal di sana dan fokus untuk
pekerjaan. Selama tidak pulang ke rumah, pasti kakak di sana. Dan kakak
tidak ingin di ganggu,"
"Ya sudah terserah kamu." Jawab mama ketus.
Bukan tidak
menginginkan anggota keluarganya datang berkunjung akan tetapi belum
siap untuk mengatakan bahwa dirinya sudah menikah dan beberapa bulan
lagi akan memiliki bayi dari seorang perempuan yang tidak dicintainya
sama sekali.
"Ya sudah, kita makan malam yuk! Azka kan sudah datang," ajak mama.
Semua
anggota keluarga menuruti keinginan sang mama, ia melirik ke arah
adiknya yang begitu romantis dengan suaminya. Akan tetapi ia sendiri
tidak bisa berlaku demikian karena tidak ada cinta dihatinya yang
menuntunya untuk berbaik hati sedikit saja pada istrinya.
Beberapa
saat setelah makan malam usai, mereka kembali lagi untuk ke ruang tengah
sang suami ke rumah mereka. Karena setelah keguguran, adik Azka begitu
ingin bermanja dengan sang suami, tidak ada pilihan lain juga selain
menyetujuinya.
"Sayang, kamu sendiri kapan mau kasih mama cucu?"
"Jangan bahas itu, ma. Aku pusing,"
"Apa perlu mama carikan jodoh?"
"Nggak ma. Azka masih bisa cari sendiri,"
"Mau sampai kapan? Kamu masih mencintai, Deana?"
"Sangat."
Semua orang
terdiam ketika jawaban terakhir Azka begitu lantang dan bersemangat
ketika membahas tentang perempuan yang telah menyakiti hati Azka.
Setelah puas
berbincang, ia meminta izin untuk keluar. Yang tidak lain adalah
bersenang-senang bersama dengan Damar seperti biasanya.
Tiba di apartemen Damar, ia langsung melangkah menuju kamar pria itu yang sudah seperti saudaranya sendiri.
Ia disambut
dengan begitu hangat oleh Damar, dengan rangkulan ala-ala sahabat,
mereka berdua masuk dan langsung di sambut dengan minuman di atas meja.
"Acara lo, lancar?"
"Iyalah, lancar banget malah. Gue udah nikahin dia kok,"
"Terus ngapain lo di sini kalau udah nikah? Pulang gih! Temenin istri."
"Nggak, gue tinggal di rumah orang tua gue, ngapain juga gue tinggal di rumah. Nggak ngaruh sama sekali,"
"Buset. Lo punya otak enggak?"
"Gue nggak cinta, gue nggak ada perasaan. Intinya gue cuman tanggung jawab, gue mau ngejer, Deana lagi."
"Man,
please. Sebentar lagi lo bakalan jadi orang tua, gimana sih? Belajar
cintai istri lo! Gimana pun juga dia ngandung anak lo,"
"Damar, jadi
gini. Setelah gue dapatin, Deana. Tentu gue bakal nikah sama dia,
Nagita bakal hidup lagi seperti biasanya. Jalanin hidupnya seperti ABG.
Gue bakal rawat anaknya sama, Deana. Dia bakalan bebas dari gue kok, gue
bakal pisah sama dia."
Damar menggeleng, "Selain kaya, teman gue yang satu ini emang nggak kurang dari sekelas bajingan ya,"
"Gini-gini temen lo,"
"Terserah
lo, gue cuman berharap semoga lo itu enggak dihukum sama Tuhan dengan
penyesalan yang teramat mendalam, biasanya ya selalu ada karma. Niat lo
aja udah jelek banget, belum lagi ngejalaninnya. Tapi gue yakin, suatu
saat lo bakalan ada perasaan juga sama dia, setiap hari lo kan sama dia.
Dan gue enggak yakin iman lo enggak tergoda sama tubuh istri lo
sendiri,"
"Itu sih
gampang, gue tinggal bayar orang jadi pemuas nafsu gue, jangan sumpahin
gue yang nggak-nggak, Mar. Udah deh, yuk kita minum!"
Mereka
berdua pun akhirnya larut dalam alkohol masing-masing, Damar sudah
berusaha mengingatkan, akan tetapi bukan Azka namanya jika ia mendengar
nasihat dari sahabatnya sendiri.
"Udah cukup lo?"
"Gue enggak sampai mabuk, nanti mama gue bisa ngamuk lagi."
****
Selesai
makan malam, Nagita berpikir setelah menikah semua akan berubah. Justru
tidak ada yang berubah sama sekali, menikah hanya akan mempertemukannya
dengan kesepian kembali.
Ia keluar
dari apartemen dan menunggu taksi di pinggir jalan. Karena persediaan
bahan yang akan di masak tidak ada, mau tidak mau Nagita harus ke
supermarket untuk memenuhi kulkasnya yang takut suatu waktu Azka pulang
dan tidak ada bahan masakan yang di masak.
Supermarket
yang menyediakan bahan masakan dua puluh empat jam, Nagita memiih
beberapa daging dan sayur yang bisa diolah nantinya. Membeli beberapa
peralatan untuk memasak juga karena peralatan di apartemen Azka sangat
terbatas.
Setelah puas
berbelanja dan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, Nagita
pulang dengan bebeapa kantong plastik yang ia bawa sendirian.
Keesokan harinya.
Pagi tadi
Azka memang tidak pulang ke apartemennya, dan tiba-tiba saja setelah
sore membersihkan diri, Nagita kedatangan beberapa tamu yang tidak lain
adalah teman dari Azka yang membawa teman-temannya ke apartemen.
"Hy, apa kabar?" sapa Damar, yang memang lebih sopan dibandingkan dengan Azka.
"Baik, pak."
"Gimana kandungan kamu?"
Nagita
tersenyum ketika seseorang menanyakan perihal kandungannya, hal yang
begitu membahagiakan adalah ketika orang peduli juga terhadap calon
anaknya.
"Memangnya dia hamil? Ngomong-ngomong itu siapa?" tanya salah satu teman Azka.
"Saya is_"
"Pembantu
yang bantu gue ngurus apartemen, kamu siapin minuman sana!" potong Azka,
seketika membuat Nagita tersenyu menyadari posisinya yang hanya sebagai
istri terpaksa.
Ketika
dirinya menyiapkan beberapa minuman dan juga camilan, Damar datang untuk
menghampirinya, "Jangan di masukkin ke hati. Percayalah nanti lambat
laun dia akan mengakuimu sebagai istrinya. Sabar, itulah kuncinya. Ingat
di sana ada buah dari cinta kalian kan?"
"Terima kasih, tapi ini bukan hasil cinta, tapi-" Nagita berusaha tegar tak menjatuhkan air matanya di depan Damar.
"Percayalah,
dia akan menyatukan kalian. Gita, jangan pernah bersedih. Ingat Dimas
itu sangat sayang sama kamu, lihat dia semangat kerja waktu itu karena
kamu, jangan pernah ceritakan sedihmu. Jalani saja, Dimas sangat
menyayangi kamu, jangan buat dia khawatir. Tetap baik-baik saja. Percaya
kan sama anak itu yang bakal nyatuin kalian?" sambil mengarahkan
tatapan ke perut Nagita.
Nagita mengangguk pelan.
"Ya sudah,
sana temui Azka. Dia memang egois, tapi percayalah sekeras-kerasnya batu
akan terkikis juga oleh air. Dan sekeras-kerasnya hati akan luluh
juga,"
"Terima kasih, pak."