
Dimas pulang bekerja
malam lagi seperti biasa, semenjak kehadiran Azka di rumahnya, ia tak
segera pulang. Melainkan pergi ke suatu tempat entah itu hanya sekadar
nongkrong. Memberikan waktu berdua untuk Nagita dan juga Azka agar
adiknya bisa memaafkan suaminya sendiri.
Ia membuka pintu dengan
pelan, tak ingin mengganggu Nagita dan juga Azka di kamarnya. Meski ia
tahu sendiri bahwa tidak akan terjadi apa-apa sebab trauma Nagita yang
benar-benar sangat parah karena perbuatan Azka. Setidaknya perempauan
itu sedikit bisa menghargai keberadaan Azka di sana.
"Udah pulang, Dim?"
Dimas memutar bola
matanya, baru saja ia menghindari orang tersebut. Namun Azka sudah
muncul di depannya dengan santainya memegang gelas minuman dingin yang
terlihat sangat menyergarkan.
"Udah. Kalau saya di sini, berarti sudah pulang,"
"Kamu kenapa akhir-akhir ini lembur? Ada masalah di kantor?"
"Hah, itu ada urusan sama teman-teman kantor,"
"Oh gitu, ya udah saya balik ke kamar dulu,"
Dimas tak menjawab. Azka
berlalu meninggalkan dirinya di depan pintu. "Anjiiir, ternyata di sini
gue cuman jadi nyamuk. Tuh orang ngapain, kerja nggak. Hobi banget
gangguin adek, gue." Gerutunya. Dimas pun pergi ke dapur untuk mengambil
air minum karena merasa tenggorokannya sudah sangat kering.
Pukul sembilan malam, ia
keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu sambil membawa beberapa
berkas yang harus dikerjakan oleh Azka di rumah. Selama bosnya tidak
masuk bekerja. Damar menitipkan berkas itu kepada dirinya untuk
diberikan pada Azka. Adik iparnya yang usianya lebih tua dari dirinya.
Akhirnya orang yang ia
tunggu pun keluar dari kamarnya. Mereka berdua bergelut kembali dengan
pekerjaan. Meski sebenarnya itu bukan pekerjaan Dimas, tetapi ia hanya
sekadar menemani di ruang tamu agar laki-laki itu bisa fokus dengan
pekerjaannya.
"Dim, saya izin bawa Nagita pulang,"
Dimas mengangkat wajahnya, "Yakin? Dia udah baik-baik saja?"
"Saya akan merawat dia, kamu tenang saja. Saya janji tidak akan pernah membuat dia ketakutan lagi,"
"Tapi, saya takut kalau adik saya tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri,"
"Maksud kamu?"
"Seperti yang anda
katakan waktu lalu, anda membuat Nagita seperti itu karena nafsu bukan?
Saya takut jika anda tidak bisa mengendalikannya,"
"Dimas, percaya sama
saya. Bagaimana mungkin saya melukai perasaan istri saya lagi jika sudah
tahu bahwa itu adalah hal yang sangat mengerikan,"
Dimas berdiri.
"Kamu nggak setuju?"
"Yang lebih berhak itu adalah anda, bukan saya. Jadi selama itu yang buat Nagita membaik, maka saya izinkan."
"Lalu kamu mau ke mana? Kamu berdiri bukan karena keberatan?"
"Nggak. Saya mau buat minum dulu,"
"Oh oke."
Dimas berlalu ke dapur.
Menyiapkan minuman untuk mereka berdua. Meski dalam hatinya begitu
khawatir. Tetapi tidak mungkin baginya melarang Azka membawa Nagita.
Sebab Nagita adalah istri Azka. Dan lelaki itu lebih berhak dibandingkan
dengan dirinya.
Kembali lagi ke ruang
tamu, ia memberikan satu minuman untuk Azka. Dan satu lagi untuk
dirinya. Hingga pukul sebelas tiba, mereka masih bergelut dengan
pekerjaan. Tiba-tiba Nagita keluar dari kamar sambil membawa ponsel.
"Mau ke mana, dek?"
"Cari makan, aku lapar kak,"
Azka seketika menoleh dan melihat Nagita yang berdiri dibelakangnya dan bersiap akan pergi.
"Kita bisa pesan lewat telepon, Nagita. Kamu masuk sekarang,"
"Nggak, mau makan dan
cari sendiri, kak kunci motor mana?" ia masih mengingat motor butut
warisan dari sang ayah dulu. Nagita tak pernah membiarkan kakaknya
menjualnya, sebab itu adalah harta paling berharga miliknya yang selalu
di taruh di garasi belakang.
"Dimas, nanti kita lanjut. Saya temani dia cari makan dulu,"
"Aku bisa sendiri,"
"Saya suami kamu, ingat itu!"
Melihat raut wajah
adiknya yang kesal, Dimas tersenyum melihat kelakuan adiknya. "Nggak
jadi, nafsu makannya hilang." Nagita berlalu dan membanting pintu dengan
kasar, tak peduli dengan kehadiran kakaknya dan juga Azka.
"Sabar ya, maklum masih labil. Yang penting jangan pernah lelah didik dia, sebenarnya dia itu nurut,"
"Saya tahu dia baik,
bahkan selama bekerja di kantor dulu. Dia nggak pernah ngelawan. Mungkin
sekarang keadaan berbeda. Saya maklumi itu. Kalau begitu saya pamit
dulu, mau nenangin dia."
Dimas membereskan berkas
yang berceceran di atas meja dan membiarkannya di sana. Sebab Azka
belum selesai dengan pekerjaannya. Ia takut nant adik iparnya itu
mencari berkas itu lagi, karena ingin istirahat. Jadi ia membiarkan
berkas itu tersusun rapi di ruang tamu.
****
Azka harus lebih
bersabar dari biasanya, seperti yang dikatakan oleh Dimas tadi. Bahwa
Nagita masih sangat labil, tetapi selabil apa pun, gadis kecil itu
merupakan calon ibu dari anak Azka. Mau tidak mau, ia harus mendidiknya
hingga mau menjadi yang lebih pengertian lagi. Ia harus bersabar
menghadapi sikap Nagita yang terkadang keterlaluan mengabaikannya,
bahkan menganggapnya tidak ada selama berada di rumah. Tetapi ia tidak
pernah menyerah, ada saja cara yang ia gunakan untuk mengganggu
ketenangan istrinya. Asal itu bukan kontak fisik, dia tahu bahwa Nagita
masih tak ingin melakukan hal itu. Menjaga jarak, tetap dilakukannya.
"Sayang, masih marah?"
"Nggak."
"Buka pintunya dong!"
"Tidur di luar!"
"Memangnya kamu mau lihat saya sakit? Saya sakit, kamu juga yang repot urus saya,"
Menunggu beberapa saat,
akhirnya pintu kamar terbuka. Ia segera masuk dan duduk di ujung
ranjang. Masih dengan ekspresi yang kesal.
"Masih marah?"
"Nggak. Pergi sana!"
"Hey, nanti nggak dibeliin badut lagi, lho." Rayunya penuh hati-hati.
"Gita, boleh minta sesuatu?"
"Mau tidur, tapi dipeluk,"
Ingin rasanya Azka
bersorak sambil berjingkrak mendengar ucapan itu keluar langsung dari
mulut istrinya. Setahunya, Nagita sangat takut bersentuhan fisik
dengannya. Tetapi malam itu, dia sendiri yang minta. Memang akhir-akhir
ini Azka menikmati perannya sebagai seorang suami. Sifat dinginnya
bahkan hilang seketika saat berada di samping istrinya.
"Tapi pakai itu dulu!"
Azka menggaruk tengkuknya, "Itu apa?"
"Kaos tangan, kaos kaki, celana panjang, baju tidur panjang,"
"Untuk?" Azka mulai merasa tidak tenang.
"Gita nggak mau disentuh
langsung, maunya Papa adek bayi harus pakai itu dulu, kalau papa adek
bayi nggak mau, Mamanya adek bayi juga nggak mau tidur,"
Ia sempat tersenyum
mendengar ucapan itu dari istrinya. Papa adek bayi, terdengar sangat
menarik dan asing ditelinga Azka, tetapi ia merasa itu seakan hal yang
sangat membahagiakan. Karena tidak ingin mengambil risiko, ia pun
berjalan ke arah meja rias Nagita untuk mengambil pakaian serta
perlengkapan lainnya yang akan digunakannya.
Terpaksa, ia harus menggunakan itu agar membuat istrinya senyaman mungkin.
"Bukannya takut sama saya?"
"Kalau sentuhan langsung, baru takut. Kalau kayak gitu, nggak apa-apa,"
"Ya udah, kamu baringan. Mau dipeluk dari depan atau belakang?"
"Belakang,"
Nagita berbaring di atas ranjang. Azka pun menyusul dan langsung memeluk Nagita.
"Pegang perut!"
Azka menuruti dan
mengusapnya dengan pelan. Sudah sebulan lebih dia ada di sana, tapi tak
pernah meleakukan hal konyol seperti ini, bahkan untuk pertama kalinya,
Azka memegang perut buncit Nagita. Tiba-tiba perut Nagita bergerak.
"Sayang, itu kok gerak?"
"Anak kamu yang gerak. Bukan aku,"
"Emangnya bisa?"
"Bisa, kan dia hidup di dalam. Jadi otomatis dia gerak, karena memang usianya yang semakin tumbuh besar,"
"Adek kapan keluarnya?"
"Sebentar lagi,"
Ia merasa sangat bahagia saat memegang perut Nagita. Di sana ada calon buah hatinya yang begitu aktif menendang-nendang.
Beberapa lama mengelus
perut Nagita, ia mendengar napas perempuan itu begitu tenang. Saat
mengangkat tubuhnya dan menoleh, perempuan itu tertidur. Azka tersenyum,
"Andai saya tahu rasanya jadi suami itu kayak gini, saya nggak bakalan
sia-siain masa hamil kamu." gumamnya dalam hati. Ia menciumi belakang
kepala Nagita penuh sayang. Meski belum seutuhnya mencintai istrinya,
setidaknya ia telah berusaha membuktikan.
Azka ikut tertidur dalam keadaan memeluk istrinya.
Beberapa saat kemudian
ia merasakan tangannya bergerak, ia membuka mata dengan pelan. menemukan
"Dapur, lapar,"
Azka bangun dari tempat tidurnya dan menoleh ke arah jam yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Ia mengikuti Nagita keluar.
"Nggak ada apa-apa," keluhnya.
"Kita beli ya. Makan di luar, kamu sih ngambek segala,"
Nagita mengangguk pelan.
"Ayo keluar!"
Ia memegangi tangan istrinya, tak ada penolakan sebab ia tak melepas sarung tangan yang masih melekat pada tangannya.
"Yakin mau pakai baju itu untuk keluar?"
Azka memperhatikan dirinya sendiri yang masih mengenakan piama. "Jangan pedulikan, yang penting kamu jangan kelaparan."
Menyusuri kota Jakarta, "Mau makan apa?"
"Apa aja, yang penting bisa kenyang,"
"Adanya cuman bakso yang masih buka, atau kita ke area apartemen kita?"
"Bakso aja,"
Azka menuruti apa pun
yang Nagita inginkan. Beruntunglah di dalam mobilnya ada tisu basah yang
ia gunakan untuk membersihkan wajahnya selepas bangun dari tidurnya.
Mereka berdua turun dari mobil, ia memesankan bakso untuk istri dan
untuk dirinya sendiri.
"Mau makan di dalam mobil?"
"Nggak, di dalam warungnya aja,"
"Ya sudah. Duduk dulu!"
Beberapa saat menunggu,
akhirnya dua mangkuk bakso berada di hadapannya. Melihat porsi yang
cukup besar, itu membuatnya tak yakin bisa menghabiskan sebanyak itu.
Azka sudah tidak merasa jijik lagi dengan makanan pinggir jalan. Selama
ini Nagita selalu membawanya ke tempat sederhana. Tak seperti yang
dibayangkan orang-orang. Justru tempat seperti itu sangat menjaga
kebersihan.
Yang ia sukai adalah
melihat istrinya sangat lahap ketika menyantap makanan. Ia menyangga
dagunya dengan tangan kanannya sambil tersenyum menatap istrinya.
"Enak?" Nagita sontak memelankan cara makannya dan mengangguk.
"Nggak makan?"
"Kamu dulu yang makan, saya gampang."
Ia melihat sisa bakso di mangkuk istrinya tinggal sedikit, "Mau lagi?"
"Emang boleh?"
"Makan sepuas kamu, asal jangan yang pedas,"
"Nggak dilarang lagi kayak kemarin-kemarin?"
"Nggak akan. Apa pun sekarang yang kamu mau, kita cari. Biar kamu sehat,"
"Terima kasih ya, Mas."
Azka tersenyum, "Coba ulangi lagi, tadi kamu bilang Mas ke saya?"
Nagita gelagapan, "Nggak, bapak salah dengar,"
"Telinga saya masih normal, saya suka kamu panggil begitu,"
Nagita masih malu-malu kepadanya.
"Jadi nambah?"
"Jadi, tapi harus ikut makan juga!"
"Iya, saya janji." Azka
beranjak dari tempat duduknya dan memesankan Nagita bakso untuk kedua
kalinya. Ia tak ingin melarang Nagita makan apa pun sekarang, tak ingin
terlalu sok higienis, jika nyatanya makanan itu tak membahayakan calon
buah hatinya, ia tak akan melarang.
Pesanan pun datang,
mereka berdua menyantap makanan bersamaan. Selesai makan, Azka terlebih
dahulu meninggalkan Nagita untuk membayar makanan mereka berdua.
"Ayo pulang!" Azka
mengangguk, ia pun mendekat Nagita yang sudah menunggunya di depan
mobil. Perempuan itu keluar saat dirinya membayar bakso tadi.
"Gita, kita pulang ke rumah mama, mau?"
Nagita terdiam. Kemudian menggeleng.
"Kenapa nggak mau?"
"Ini alasannya," Nagita mengelus perutnya.
"Dia anak kita. Jangan pernah salahkan dia hadir, dia ada karena perbuatan saya,"
"Bukannya waktu kita menikah, orang tua bapak tidak ada waktu itu?"
"Karena saya belum siap
menceritakan itu, ayo kita pulang. Saya mau cerita ke mama, kalau saya
punya istri, dan sebentar lagi punya anak, mama tahunya saya belum
menikah,"
"Kamu aja yang pulang. Gita nggak ikutan,"
"Kita pulang berdua,"
"Nggak, Gita belum siap. Tolong jangan paksa!" suara itu mulai parau.
"Ya sudah. Kita nggak ke rumah mama. Tapi suatu saat jangan kaget kalau saya bawa mama ke rumah kamu, boleh?"
"Jangan!"
"Kenapa lagi? Bukannya mama juga berhak tahu?"
"Malu. Gita beneran belum siap."
"Iya, kalau kamu belum siap. Saya nggak bakalan paksa, kamu terima saya kembali saja itu sudah cukup,"
"Tentang bapak mau menikah? Jadi?"
Azka terkejut mendengar pertanyaan Nagita.
"Sudah saya bilang, saya menikahnya sama kamu. Punya keluarga kecil juga sama kamu, Nagita."
"Waktu itu bapak bilang mau nikah?"
"Kamu istri saya,"
"Tapi aku nggak bisa,"
"Kenapa? Kita akan perbaiki sayang," Azka mendekat dan mengelus pipi Nagita.
"Nagita nggak bisa ngasih kewajiban sebagai seorang istri. Aku sedih, untuk apa kalau aku nggak bisa menuhin keinginan suami,"
"Hey, Nagita harus sembuh. Harus sembuh dulu dari trauma, saya nggak akan nuntut,"
"Tapi aku takut, saat
nggak bisa menunaikan kewajiban, kamu nyari perempuan lain sebagai
pelampiasan, aku nggak mau itu terjadi,"
Benar bahwa jika dulu ia
melampiaskan nafsunya pada Deana dan perempuan lain, tapi kini sudah
berbeda. Semenjak bersama istrinya, ia tak bernafsu lagi untuk menyentuh
perempuan lain. Yang ia fokuskan adalah kesembuhan mental Nagita.
"Kalau nggak mau, berarti Nagita harus janji buat sembuh, mau?"
"Nggak bisa,"
"Kenapa nggak bisa, kan belum dicoba,"
"Sampai sekarang bahkan aku masih nyuruh bapak buat pakai sarung tangan aneh itu, takut kita sentuhan. Perasaan itu mengerikan,"
"Saya akan rawat Nagita,
sampai sembuh. Nggak bakalan nyari perempuan lain, tapi kita harus
tinggal di rumah mama. Takut sewaktu waktu kamu kumat lagi, saya nggak
akan maksa kalau kamu nggak mau. Saya sudah tahu risikonya, saya bisa
tahan."
"Tapi aku nggak yakin,"
"Percaya sama saya, janji?" Azka mengulurkan kelingkingnya pada istrinya. Dan dibalas begitu saja oleh Nagita.
"Harus sembuh, jangan
takut lagi. Kalau saya peluk jangan menghindar. Saya akan tetap pakai
ini setiap harinya, biar saya nggak sentuh kamu,"
Azka tersenyum menatap istrinya yang mengusap air matanya sedari tadi.
"Mas, lihat aku!"
Azka mendekat, kedua
mata mereka bertemu. Tangan Nagita menggantung di udara, ingin
menyentuh, tetapi beberapa kali diurungkan. Azka menyadari hal itu,
melihat air mata Nagita, ia langsung menyekanya. "Jangan di paksa kalau
memang tidak bisa!"
"Aku akan berusaha, Mas."
"Jadi istri satu-satunya
dalam hidup saya, jangan pernah berpikir saya akan menikah lagi, kamu
segalanya buat saya," ia merasa sedang berbicara dengan anak kecil, usia
mereka tertaut sangat jauh. Tapi tak menutup kemungkinan Azka bisa
menyentuh perasaan istrinya sendiri.
Nagita tertawa dengan air mata yang berurai, "Kamu aneh,"
"Saya sayang kamu," seketika bibirnya dikecup oleh Nagita.
"Nagita? Apa yang kamu lakukan?"
"Terima kasih,"
"Kamu nggak ketakutan lagi?"
"Nggak tahu. Refleks itu terjadi setelah kamu bilang sayang,"
"Saya yang cium, mau?"
Nagita mengangguk pelan,
Azka memegang dagu Nagita dan mulai mendekatkan bibirnya, napas
istrinya yang menghangat, jujur Azka sudah menginginkan hal itu terjadi,
tetapi ia tidak bisa melakukan lebih. Dikecupnya bibir Nagita dengan
sangat lembut, tak ada perlawanan. Azka semakin mendorong tengkuk
istrinya untuk memperdalam ciumannya, hingga akhirnya ia memberanikan
diri menggunakan lidahnya untuk menerobos mulut Nagita. Saat berhasil
membuka mulut, dan ia menghisap lidah Nagita dengan lembut. Lagi-lagi
hal itu terjadi, tubuh Nagita langsung bergetar hebat.
"Kita pulang," ia
langsung melepaskan tautan bibirnya. Meski Azka sangat berharap lebih
dari itu, tapi dia tidak ingin melukai perasaan Nagita.
"Maaf,"
"Jangan dipaksakan. Saya nggak mau kamu kenapa-kenapa."
Sepanjang perjalanan
tangannya tak pernah berhenti menggenggam tangan kanan Nagita. Ia
menikmati ciuman singkat itu, semakin erat tangannya menggenggam
berharap bahwa Nagita baik-baik saja.
"Mas?"
"Kenapa sayang?"
"Maafin aku," isak Nagita.
"Kamu nggak salah, jangan pikirkan hal itu, Gita. Itu saja sudah buat saya bahagia."
Ia menggenggam tangan
Nagita dan sesekali mengelus rambut istrinya. Ia tahu bahwa Nagita
terpaksa melakukan itu hanya untuk menyenangkan dirinya, tapi cara yang
digunakannya tentu saja salah. Sebab itu membahayakan dirinya, Azka
merasa bahwa kejadian singkat tadi suatu pengorbanan Nagita melawan rasa
takutnya. Ia akan berjanji pada dirinya sendiri tak akan pernah membuat
Nagita pergi dari sisinya lagi.