RICH MAN

RICH MAN
TERKADANG



Tiba di bengkel tempat Fendi bekerja, Rey menunggu sahabatnya itu selesai dengan pekerjaannya barulah menyerahkan makanan yang dibawakan sesuai perjanjiannya sepulang sekolah tadi. Fendi sudah seperti saudara kandungnya sendiri, keakraban mereka sebenarnya sudah dari SMP, dahulu Fendi adalah siswa berprestasi hingga mendapatkan beasiswa di sekolah favorit, namun kini dia memilih sekolah yang biasa saja menyesuaikan SPP, bahkan Rey sendiri enggan untuk sekolah ke tempat yang mahal, orang tuanya pun tak keberatan dengan sekolah pilihannya.


Widya yang merupakan anak pindahan itu membuat kehidupan Rey menjadi kacau, bagaimana tidak? Setiap harinya dia diganggu oleh gadis itu di sekolah, bahkan Widya mengakui bahwa dia dan gadis itu memiliki hubungan atau lebih tepatnya mereka adalah tunangan di masa depan. Rey sendiri kesal dengan itu, bahkan sebisa mungkin untuk menjauh dari Widya.


Sambil menunggu Fendi selesai, dan masih ada motor lain yang harus diganti olinya. Beberapa saat kemudian Fendi usai dengan tugasnya, "Makan dulu, biar gue yang kerjakan!"


"Tadi itu gue bercanda, malah serius dibawain,"


"Mama nyuruh lo ke sana,"


"Tahu sendiri kan gue itu kerja, mana ada waktu buat main ke rumah lo. Ngomong-ngomong gue mau berhenti sekolah, Rey,"


"Kenapa?"


"Adik gue, dia harus gue biayain. Orang tua gue enggak sanggup lagi, lo tetap sekolah ya! Kalau lo mau main ya datang aja,"


"Fen, kenapa lo berhenti sekolah segala?"


"Gue kan udah bilang, gue mau biayai adik gue. Kalau gue setengah hari, yang ada mereka enggak bisa makan, penghasilan Ibu gue juga enggak seberapa, sekarang tanggung jawab gue yang harus jadi tulang punggung buat mereka,"


"Beban lo sebenarnya apa?" ucap Rey tanpa mengalihkan pandangannya dan fokus pada motor yang ia ganti olinya.


"SPP, Rey. Tahu kok gue selama ini lo yang bayarin SPP gue sampai lunas bahkan sampai kenaikan kelas, lo enggak tahu apa susahnya nyari duit kayak gimana? Orang tua lo juga pasti mikirnya gue itu manfaatin lo doang, malu gue kalau begini terus, tapi nanti gue ganti kok biaya itu semua, Rey. Tapi maaf gue enggak bisa lanjut sekolah,"


Rey menaruh penampung oli di bawah dan mulai membuka penutup hingga oli bekas itu tidak berceceran, sedangkan Fendi sedang menikmati makan malamnya. Dia tahu bahwa selama ini sahabatnya itu jarang makan karena memikirkan keadaan keluarganya.


"Kalau lo dapat pekerjaan yang penghasilannya lebih gede, terus ngebolehin lo sekolah sambil kerja? Apa lo mau kerja di sana?"


"Mana ada yang mau, gue ahlinya cuman di bengkel doang,"


"Janji dulu sama gue, lo bakalan lanjut sekolah apa enggak?"


"Iya, gue lanjut. Itu kalau penghasilannya bisa hidupi dan bayar sekolah adik gue, gue bakalan lanjut kok, sekalian buat ganti duit yang lo pakai buat bayarin SPP gue,"


"Ya udah lo harus kerja di sana, terus lo ganti duit gue, yang jelas lo harus lanjut sekolah, jangan berhenti karena lo itu pintar. Masa depan lo masih panjang, jangan berhenti hanya karena masalah ini,"


"Tapi emang ada gitu?"


"Sejak kapan lo itu goblok, sih, Fendi?"


"Ya kan mana tahu, kalau emang ada, gue lanjut deh,"


"Ngomong-ngomong lo itu kenapa baik banget sih sama gue?"


Rey menutup bawah mesin penampung oli dan langsung menuangkan oli baru ke motor tersebut, "Karena lo udah kayak saudara gue sendiri, Papa gue juga anggap lo kayak anaknya, asal lo tahu ya, Papa gue, Papa Leo, sama sekali enggak pernah bandingin orang, Fen. Lo tahu Leo kan?"


"Tahu, dia siapa lo?"


"Dia sepupu gue, Mamanya itu adik Papa gue, Papanya tinggal di rumah Oma karena Oma enggak ada yang nemenin, kan Papa gue milih hidup terpisah dan besari gue sama adik-adik gue dengan cara dia sendiri, nah Om Reno itu Papa Leo, dia baik banget, cocoklah lah ya sama Mama dia, Mama Leo juga baik banget, jadi gue rasa anggapan lo selama ini mengenai orang tua yang membatasi anaknya bergaul sama orang yang enggak selevel, itu enggak berlaku sama orang tua gue dan Leo,"


"Lo beruntung ya punya orang tua yang kaya, terus ngerti banget sama anaknya,"


"Ya itu yang lo lihat doang. Enggak semua yang lo lihat itu terlihat sempurna di dunia gue, barangkali lo lebih bahagia dari gue,"


"Maksud lo?"


"Ya maksud gue barangkali lo cuman lihat waktu gue bahagia doang, mungkin aja sebenarnya gue yang lebih menyedihkan dibandingkan dengan kehidupan lo yang seperti sekarang, lo tanggung jawab sama adik lo, itu yang buat gue bangga. Itulah kenapa gue anggap lo seperti saudara, cuman gue pengin lo itu benar-benar di sisi gue, sampai gue sukses. Lo juga jangan lupa sama gue suatu saat nanti,"


Rey menutup tutup bagian atas mesin dan selesai mengerjakan satu pekerjaan. Ia berpindah lagi untuk mengerjakan pekerjaan lainnya, hanya itu yang bisa dia lakukan, jika memberikan uang kepada Fendi, tentu saja dengan keras kepala pria itu akan menolak pemberian Reynand.


"Yang ada gue yang takut dilupain sama, lo Rey. Gue takut banget kalau lo lupa sama gue saat lo sukses nanti, terus enggak anggap gue,"


"Percayalah, selama lo di sisi gue, lo bakalan jadi saudara gue, sama seperti Leo. Kalau suatu saat gue sukses, gue bakalan ada di sisi lo,"


"Gue harap itu bukan sekadar omong kosong doang ya, Rey. Gue harap lo itu yang terbaik buat gue, lihat kan dulu gue pintar waktu SMP, banyak yang dekati gue hanya karena prestasi gue, tapi apa buktinya? Mereka ninggalin gue, enggak ada yang ingat sama sekali sama gue, cuman lo yang ada di sisi gue selama ini, walaupun dulu kita itu saingan di kelas, tapi lo enggak pernah permasalahin itu,"


"Itulah kenapa gue selalu di sisi lo, bahkan saat lo disibukkan dengan pekerjaan, gue enggak pernah mau ninggalin lo. Kalau lo perempuan, kayaknya gue lebih sayang ke lo deh,"


"Sialan lo Rey. Jangan bilang lo naksir ke gue?"


"Gue normal sialan, kan gue bilang kalau lo itu perempuan gue bakalan sayang ke lo, jangan mikir gue naksir ke lo. Bisa digantung gue sama orang tua gue kalau gue suka sama lo, gue cuman mau ada yang ada di sisi gue sampai gue jadi orang sukses,"


"Gue juga enggak mau kali sama lo. Gue masih normal, suka sama cewek. Iyalah gue bakalan tetap di samping lo, kan lo itu udah jadi teman gue sejak lama,"


"Weleh-weleh, cini peyuk dulu," jawab Rey bercanda pada Fendi. Sejujurnya dia sudah sangat dekat dengan Fendi, tetapi terkadang dirinya merasa jauh saat sahabatnya enggan bercerita, tetapi itu bukan masalah baginya, karena setiap orang memiliki rahasia yang memang harus di simpan sendiri. Tidak semua masalah bisa diceritakan kepada orang terdekat, ada kalanya memang harus di simpan sendirian agar tidak membebani orang lain. Atau terkadang, seseorang hanya ingin tahu masalah orang lain, terlihat peduli tetapi sebenarnya tidak peduli. Bahkan ada yang sudah tahu, kemudian akan bersikap acuh. Sebagian besar memang begitu, jarang sekali seseorang benar-benar peduli terhadap orang lain.



Banyak yang minta foto Rey 😀 Jadi bonus hari ini. Foto Rey terpampang jelas ya 😂 Semoga bisa tidur nyenyak nanti malam. Hehehe. Cocok enggak?