RICH MAN

RICH MAN
MENGISI KESEPIAN



Langit malam yang gelap dengan bintang berkelap-kelip bergiliran di langit. Rembulan yang mulai menampakkan diri dari timur. Bulan belum sempurna memperlihatkan cahayanya di bumi.


 


 


Bintang duduk di balkon kamarnya. Sepulang sekolah tadi dia pulang ke rumah papanya untuk meminta izin pergi mendaki bersama dengan teman-temannya. Berharap semoga keinginannya yang satu itu bisa dipenuhi oleh papanya. Mengingat papanya yang terlalu overprotektif terhadapnya.


 


 


Duduk di balkon sambil menikmati malam. Menunggu kepulangan papanya kerja dan itu sudah menjadi suatu kebiasaan bagi gadis itu menunggu papanya di sana.


 


 


Bintang yang terus saja saling membalas chat dengan Reynand. Lelaki itu selalu mewarnai hidupnya setiap hari. Bahkan sebelum tidur, lelaki itu selalu saja bersikap perhatian kepadanya. Kadang perhatian-perhatian kecil membuat seseorang menjadi nyaman terhadap hidupnya.


 


 


"Bintang!"


 


 


Gadis itu menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ketukan pintu dan bergegas membuka pintu itu karena suara yang dia dengar bukan suara asing lagi di telinganya.


 


 


Dia membuka pintu perlahan dan memeluk papanya. Di balas dengan pelukan hangat yang diberikan oleh papanya. Bintang mengajak papanya masuk ke dalam kamar. Dan saat itu juga papanya mengunci kamar dan mengajak Bintang duduk di atas ranjang.


 


 


"Nak, Papa baru ketemu sama Mama kamu,"


 


 


Raut wajah Bintang berbinar setelah mendengar ucapan papanya yang bertemu dengan mama kandung gadis itu. Dia sangat merindukan mamanya. Ingin berada dalam dekapan mamanya lagi. Bintang merindukan keutuhan keluarganya yang seperti dulu.


 


 


"Terus Mama sekarang di mana?" tanya gadis itu sangat penasaran dan sangat ingin bertemu dengan perempuan yang sudah melahirkannya dan merawatnya hingga beranjak seperti sekarang ini.


 


 


"Bintang, maafin atas sikap Papa yang waktu itu. Papa sadar kalau selama ini Papa salah sama kamu, Bintang. Gimana luka kamu?"


 


 


Bintang melotot setelah mendengar ucapan papanya. "Luka apa, Pa?"


 


 


"Jangan bohong lagi, Nak! Enggak ada orang tua yang bisa dibohongi oleh anaknya sendiri,


 


 


"Maksud, Papa apa?"


 


 


Papanya mengelus pundak Bintang dan mengelus kepala gadis itu kemudian dipeluk begitu erat. Bintang sendiri bingung dengan sikap papanya yang tiba-tiba berubah tak seperti biasanya yang selalu mengabaikannya ketika pulang ke rumah. "Papa baik-baik saja?"


 


 


"Papa selalu saja baik-baik saja, tapi anak Papa yang enggak baik-baik saja. Bintang, Papa baru sadar bahwa selama ini kamu dipukulin sama Mama tiri kamu, kan?"


 


 


"Papa tahu dari mana?" Bintang melepaskan pelukan Papanya dan menatap pria berusia sekitar empat puluhan itu dengan lekat. Dia menemukan penyesalan yang tergambar jelas dari tatapan mata papanya.


 


 


"Papa tahu kamu ke klinik sama pria, Bintang. Bahkan orang lain jauh lebih peduli sama kamu dibandingkan Papa sendiri, dan hanya satu yang Papa ingin tanyakan, siapa pria yang sudah membuat kamu menjadi begini? Pria yang sudah mampu mewarnai hidupmu, ceriamu sudah kembali meski tidak ada Mama. Akan tetapi mungkin Papa baru sadar bahwa jika hanya untuk mengisi rasa kesepian, maka siapa pun bisa. Akan tetapi seseorang tidak pernah mampu membohongi perasaannya sendiri bahwa dia juga butuh orang yang begitu dia rindukan, benar begitu?"


 


 


Bintang mengangguk pelan, dia menggigit bibir bawahnya dan memegang kedua tangan papanya yang mengelus pipi gadis itu. "Papa, maafin aku yang mengasingkan diri dari rumah dan menghindari, Papa,"


 


 


"Anak Papa enggak pernah salah. Yang salah itu adalah Papa yang sudah egois merenggut bahagia kamu. Ketika Papa terjatuh, Mama selalu ada. Ketika Papa dalam keadaan begitu jaya, sungguh Papa keterlaluan telah meninggalkan Mama kamu dan mencari perempuan lain. Ini semua bukankah hal yang sangat berlebihan?"


 


 


Bintang tersenyum. "Papa, aku pengin ketemu sama, Mama,"


 


 


"Sebentar lagi, tapi sabar ya! Papa bakalan berusaha buat keluarga kita utuh lagi sayang. Jangan pernah merasa sendirian lagi. Papa sayang sama kamu, Papa sadar sekarang setelah beberapa bulan menikah lagi. Justru perempuan yang Papa anggap baik ternyata tidak sebaik Mama kamu dalam memberikan kasih sayang terhadapmu dan juga tidak sebaik Mama dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang istri,"


 


 


 


 


Gadis itu tersenyum dan berdiri kemudian memeluk pria itu dari belakang. Dia mencium aroma keringat yang begitu lelah dalam bekerja seharian ini hanya untuk memenuhi kebutuhannya selama ini. Pria itu meraih satu foto yang di mana ketika Bintang berulang tahun saat usia gadis itu enam belas tahun itu adalah waktu di mana mereka sangat bahagia. Bintang masih memeluk pria itu dan menangis di pelukan papanya.


 


 


"Kadang Tuhan ngasih kita suatu perasaan yang di mana kita berada dalam posisi benar-benar menyesal karena apa yang telah kita perbuat itu sangat keterlaluan. Menyadarkan kita setelah semua luka itu tertancap kuat di dalam hati. Dan saat ini luka itu Papa rasakan sendiri, yang di mana kamu di pukulin. Papa enggak pernah tahu bahwa ini terjadi dan kamu tega sembunyikan itu semua dari Papa. Bintang, sehebat apa pun Papa mencintai seorang perempuan lain. Tapi jika melihat anak perempuannya diperlakukan seperti itu, justru Papa akan meninggalkan perempuan itu dan memilih untuk mendidik kamu seorang diri. Papa akan besarin kamu sendirian, Papa enggak peduli sama perasaan Papa sendiri. Jika Mama masih bersedia untuk kembali, Papa janji enggak bakalan sia-siain kalian lagi. Sudah cukup luka lalu menjadi pelajaran berharga untuk Papa ketika posisi begitu jaya. Sungguh Papa telah lupa terhadap diri Papa sendiri,"


 


 


Bintang melepaskan pelukannya, pria itu berbalik dan memeluknya. Dia menangis dalam pelukan pria itu. Dia sungguh merindukan kebersamaan keluarga mereka.


 


 


"Papa sayang sama kamu, Nak. Jadi jangan pernah sembunyikan apa-apa lagi, Papa tahu kamu ke klinik setelah anak buah Papa lapor kalau kamu pergi sama seorang pria,"


 


 


"Papa, maafin aku ya,"


 


 


"Jangan pernah minta maaf. Ini semua benar, dan untuk pria itu. Papa ingin berterima kasih karena dia sudah begitu peduli sama kamu. Tapi satu pesan Papa. Jaga diri baik-baik!"


 


 


"Baik, Pa,"


 


 


"Setelah kenaikan kelas, tinggallah sama Mama. Papa bakalan penuhi semua kebutuhan kamu, jangan tinggal di apartemen lagi. Papa bakalan ngomong sama Mama kamu, Bintang enggak boleh kesepian. Bintang punya keluarga,"


 


 


"Papa, Bintang sayang sama Papa,"


 


 


"Apalagi Papa, justru di dalam hati Papa ada kamu. Kamu sudah mampu membuat Papa tersadar dari semua kesalahan ini. Tentang waktu itu Papa yang mukulin kamu, Papa minta maaf. Papa minta kamu jangan sampai keceplosan sama Mama tiri kamu, Nak!"


 


 


"Iya, Pa. Tapi ngomong-ngomong Bintang boleh izin mendaki, kan? Ini tour, Pa. Semua kelas sebelas pergi,"


 


 


"Ke mana?"


 


 


"Rinjani,"


 


 


"Sama siapa?"


 


 


"Teman-teman sekolah,"


 


 


"Ada cowok?"


 


 


"Ada, Pa. Ada beberapa, ada perempuan juga,"


 


 


"Papa bakalan suruh pengawal buat jagain kamu,"


 


 


"Pa, please. Aku pengin sama teman-teman hanya untuk kali ini,"


 


 


Rambut gadis itu dielus pelan. Dia merasakan sebuah ciuman mendarat di keningnya. "Baiklah, pergi dan jaga diri baik-baik! Papa percaya sama kamu, kamu berhak menikmati kehidupan kamu selama itu masih tahap wajar. Yang Papa minta kamu bisa jaga diri, apalagi ada teman laki-laki. Jangan kecewakan Mama dan Papa, Nak!"