
Tiba di kantor Azka, perempuan itu langsung berpamitan kepada dirinya.
"Rey baju ganti sudah Mama siapin ya,"
Nagita mengeluarkan baju kaos dan celana untuk Rey. "Nanti ganti di kamar mandi kerja Daddy ya!"
"Iya, Ma. Hati-hati di jalan, Ma!"
Perempuan itu mengangguk. Rey bersalaman kepada Nagita, Azka hanya melambaikan tangan, tak ingin ada kesalahpahaman selama mereka di kantor. Ia langsung mengajak Rey untuk ke ruangannya.
"Mau makan?"
"Pesan ya, Daddy!"
Azka menggeleng melihat anaknya yang super aktif. "Mau makan apa?"
"Ayam panggang madu, Daddy. Sama udang saus pedas,"
"Oke jagoan, kesukaan kita nggak jauh beda,"
"Iya dong. Kan nular sama Daddy,"
"Ada-ada saja. Minumnya?"
"Minumnya air putih aja, Daddy. Ohya, Rey pengin donat juga ya Daddy!"
Azka terdiam mendengar Rey menyebutkan kata donat. Teringat dengan Nagita yang dahulu sangat doyan makan itu, hingga suatu kejadian menimpanya. Ia ingat melarang Nagita makan banyak. Azka hanya mampu mengingat kenangan-kenangannya dahulu dengan Nagita.
"Daddy melamun?"
Azka tersadar dari lamunannya dan langsung tersenyum. "Daddy, bakalan pesanin. Sekarang ganti seragam sekolahnya ya!" Perintahnya kepada Reynand. Azka berencana memindahkan Rey ke sekolah lain. Bukan karena tempat Rey kurang populer, akan tetapi jaraknya yang terlalu jauh dengannya. Dan tak mungkin cukup waktu untuk bisa berbagi waktu jika jarak sekolah dan kantor cukup jauh.
Rey tengah membaca buku majalah anak-anak yang ada di ruangan Azka. Ia sengaja membeli buku-buku tersebut karena dulu Rey sering bermain ke kantornya sewaktu kecil dan belajar banyak tentang buah-buahan melalui buku.
Beberapa saat kemudian makanan yang ia pesan pun datang. Rey bangun dari tempat duduknya dan langsung mendekati Azka yang menerima makanan tersebut.
"Yeeey,"
"Anak Daddy harus makan banyak,"
"Daddy, nanti tidur bareng ya?"
"Tentu dong,"
Azka bukan bermaksud memanjakan Rey dengan segala hal yang ia punya. Akan tetapi tadi Nagita sudah menceritakan hal itu, ia menjadi sangat merasa bersalah dengan tingkah anaknya yang membuatnya merasa sangat terpukul mendengar curhatan Nagita mengenai Reynand. Memang mereka berdua sudah tak ada hubungan suami istri. Akan tetapi untuk urusan anak, mereka berdua masih berhak mendidiknya bersama.
Melihat anaknya makan dengan sangat lahap, Azka tersenyum dan makan dengan sangat bahagia karena di temani oleh buah hatinya. Bahkan saat melihat Rey memakan donat tersebut hatinya terus saja tertuju pada Nagita yang dulu.
"Kamu itu, Mama kamu banget, Rey," ucapnya hampir tak terdengar.
"Daddy bilang apa?"
"Daddy nggak bilang apa-apa,"
"Daddy bilang Rey mirip Mama,"
"Daddy bilang Rey itu kayak Mama kalau lagi makan,"
Rey hanya beroh ria. Azka melanjutman makannya dengan lahap juga karena ditemani oleh Rey. Beberapa menu masakan yang ia pesan tadi, bukan hanya pesanan Rey.
Setelah selesai makan dan membersihkan diri. Azka menyuruh Rey ke kamar yang khusus ia buat jika tidak pulang ke rumah. Rasanya ia belum puas juga bersama dengan Rey meskipun anak itu sudah berada bersamanya. Kerinduannya terhadap anak itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Daddy!"
Aza yang tadinya membaca dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja dan begitu banyak yang menumpuk harus segera diselesaikan. Tugas yang ia abaikan begitu saja karena pikirannya kacau karena anak itu beberapa hari yang lalu. Namun saat ini ia begitu bahagia meski Rey diserahkan dan akan tinggal bersama dengannya. Ia menoleh ke arah anaknya dan langsung memutar kursi kerjanya saat Reynand mendekat.
Tanpa berpikir panjang, Reynand langsung duduk dipangkuannya.
Anak itu mengendus dan memainkan alisnya. "Kenapa?"
Azka mulai curiga dengan tingkah anaknya yang senyum-senyum sendiri serta memainkan alisnya.
"Parfum, Mama nempel di kemeja Daddy,"
Azka mengendus dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Reynand. Ia lupa bahwa tadi ia memeluk perempuan itu dengan sangat nyaman.
"Daddy pelukan sama Mama?"
"Rey,"Azka ingin menyela, "ini bukan-"
"Nggak apa-apa Daddy. Rey suka kok Daddy baikan sama Mama, Rey kenal banget sama parfum ini, milik Mama. Dan Daddy nggak bisa bohong, kan?"
Azka mengangguk. "Iya, Daddy pelukan sama Mama. Jangan bilang siapa-siapa!"
"Iya Daddy. Hehehe, gimana pelukan sama Mama, Daddy?"
"Gimana apanya?"
"Kangen sama Mama?"
"Daddy selalu kangen sama Mama, sama Rey juga,"
"Kenapa Daddy dulu ninggalin, Mama?"
"Rey, sudah!"
Anak itu memainkan kakinya saat duduk di pangkuan Azka. "Daddy, ini?"
Azka memicingkan mata, kali ini apalagi yang ditemukan oleh Reynand, Azka tak ingin anaknya berharap lebih lagi. Dia dan Nagita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Akan tetapi tak bisa mencari perempuan lain untuk menggantikan Nagita di hatinya. Apalagi mencarikan Rey mama baru dengan niat agar anak itu ada yang urus. Azka akan berusaha sendiri dengan bantuan mamanya dan sekarang Naura juga tinggal di rumah mereka karena orang tua Azka sangat kesepian.
Azka mengalihkan pandangannya pada beberapa poster yang memang sengaja dipajang di ruang kerjanya sendiri. Di sana juga ada foto yang tak pernah hilang sama sekali, foto Nagita dan Rey, saat anak itu berusia lima tahun dulu.
"Daddy, kenapa nggak balik sama Mama?"
"Mama sudah menikah sama Papa Teddy kan,"
"Oh gitu, emang nggak boleh ada Daddy lagi?"
"Mana boleh sayang,"
Azka menjelaskan secara rinci agar anak itu tak salah tanggap dengan pernyataannya. Tentu saja sebagai orang tua, meski sikapnya yang dahulu sangat brengsek. Bagaiamanapun juga ia ingin anaknya menjadi anak terbaik dan tidak ikut seperti sikapnya yang dahulu. Maka Azka akan berusaha untuk belajar mendidik Rey kini sendirian.
"Daddy, lihat!"
Azka langsung menatap ke arah telunjuk Reynand yang memperlihatkan bekas lipstik Nagita. Tadi mereka berdua memang berpelukan dengan erat dan saling memberikan kenyamanan masing-masing. Akan tetapi ia baru sadar bahwa di sana ada bekas lipstik Nagita yang menempel di kemeja putihnya.
"Apaan sih ini anak,"
"Daddy jangan ngeles, Rey pacaran loh Daddy, makanya Rey tahu,"
Azka mendengar perkataan anaknya itu langsung menatap intens pada putra semata wayangnya. Dan sekarang dikejutkan dengan pernyataan Reynand yang terbilang tidak pantas diucapkan oleh anak seusia Rey yang masih SD. Anak itu menyeringai dan menampilkan giginya serta mata yang menyipit. Azka menjitak kepala anaknya hingga Rey mengelus kepalanya karena kesakitan.
"Sakit, Daddy,"
"Siapa yang ajarin Rey pacaran?"
"Rey bercanda Daddy. Mana berani, Rey kan sekolah. Nggak boleh pacaran,"
"Itu tahu. Tapi kenapa tahu kalau Daddy senyum karena Mama?"
"Karena Mama memang perempuan istimewa untuk Daddy, iya kan?"
Azka tersenyum. Memang alasannya tersenyum tadi adalah karena Nagita. Setiap kali membahas perempuan itu, tentu saja akan membuatnya tersenyum, bukan tanpa alasan. Itu karena Azka sangat rindu dengan kenangan yang dahulu. Memang tidak sewajarnya melakukan itu, karena status Nagita yang kini sudah menjadi istri orang lain. Tetapi Azka tak bisa menyeka pikirannya dan perasaannya, ia masih mencintai Nagita. Bahkan tak pernah ada pikiran sedikit pun untuk menggantikan posisi Nagita yang dulu.
Berusaha menutup diri dari anaknya dan tidak ingin ketahuan bahwa ia sangat bahagia tadi berpelukan dengan Nagita. Barangkali itu adalah pelukan terakhir dan Nagita takkan pernah kembali pada sisinya sampai kapan pun juga. Teddy dan Nagita saling mencintai, Rey diserahkan pada Azka karena itu pasti beralasan bahwa Nagita mencintai Teddy. Ia tak ingin terlalu ikut campur. Biarlah kini semua beban itu ditanggung sendiri dan membiarkan Rey hidup bersama dengan dirinya hingga kelak anak itu tumbuh dewasa dan sampai kapan pun itu.
Azka tak munafik, tadi saat ia bertemu dengan Nagita. Terpancar jelas di dalam dirinya suatu kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Rey, Daddy mau kerja, turun ya!"
"Buka kemejanya Daddy! Jangan cuci, karena itu pasti Mama sengaja ngasih itu untuk Daddy!"
Azka kali ini setuju dengan apa yang dikatakan oleh Rey. Meski terdengar agak lebay, Azka tetap menuruti keinginan anaknya dan segera melepaskan kemejanya, di sana ada sebuah kamar dan lemari. Ada beberapa pakaian ganti di sana. Sebagai tanda bahwa ia tak tahu lagi kapan akan bisa seperti itu dengan Nagita. Azka pun membuka kemejanya dan menggantinya, melipatnya dan menaruhnya di dalam lemari. Jika ia rindu, bisa saja hanya dengan melihat bekas lipstik itu, mampu membuat Azka lebih tenang dan rindunya menjadi berkurang.
*****
Sore tiba, Azka menggendong Rey yang tengah tertidur di kamar khususnya. Ia akan membawa Reynand untuk pulang ke rumahnya. Azka menyelesaikan seluruh pekerjaannya karena akan mengurus kepindahan Rey untuk sekolah nantinya. Seminggu, itu sudah cukup untuknya karena akan mengajak Rey jalan-jalan berdua.
Selagi masih bisa, Azka ingin memberikan kasih sayang yang baik untuk Reynand.
"Ayo bangun! Kita sudah sampai di rumah,"
Azka menggoyangkan tubuh Rey hingga anak itu melenguh dan bangun dari tidurnya. Azka mengajak Rey masuk ke dalam rumah.
"Leo, Clara!" Rey langsung terkikik, padahal mereka baru saja tiba di rumah.
"Azka, kamu bawa Rey?"
"Mulai sekarang dia bakalan tinggal di sini, mohon bantuannya untuk didik dan jaga Rey, Ma,"
"Syukurlah, berapa lama?"
"Selamanya, Ma"
"Azka, kamu yakin?"
"Sangat yakin, Ma. Rey sudah cukup menderita karena aku juga kan? Nagita menyerahkannya tadi waktu aku meeting, dan mulai besok aku akan pindahin Rey sekolah, Mama aku mohon jangan pernah tanyakan pasangan nantinya. Aku tahu Mama khawatir, tapi percayalah Ma, aku ingin jaga dan didik Rey dengan baik hingga anak itu menjadi anak yang sukses tanpa menyusahkan orang lain. Terlebih aku ingin mengawasi pertumbuhan Rey. Lihat sekarang dia sudah besar. Tak terasa ya, Ma?"
"Azka, Mama salut sama kamu. Apa Rey minta tinggal sama kamu atau memang Nagita yang sengaja mengantarkannya?"
"Rey yang minta, Ma,"
Tak mungkin bagi Azka untuk menceritakan kisah hidup Nagita yang baru sekarang ini. Ia sudah cukup membiarkan Nagita menderita dulu. Dan sekarang memang waktunya perempuan itu untuk hidup bahagia. Mengawasi pertumbuhan Rey merupakan suatu tugas yang harus dijalani oleh Azka.
"Oma, masak apa?" Azka menoleh saat Reynand sudah berdiri di samping mamanya.
"Rey mau di masakin apa?"
"Sate boleh nggak?"
"Oma belum sediain bahannya, kita beli aja ya?"
"Oke, tapi kita pergi bareng ya?"
Azka menatap ke arah mamanya. Berusaha memberikan kode agar mamanya menyetujui ajakan Rey dan pergi bersama yang lainnya. Barangkali mamanya mengerti dan langsung menyetujui begitu saja.
"Aku pamit, Ma. Mau mandi. Mama sama Papa temani Rey main ya!"
"Tenang saja. Cucu tertua bakalan ditemani main sama Papa dan Mama," celetuk papanya. Azka menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mendengar ucapan papanya tadi membuat Azka sedikit tersinggung. Karena Rey merupakan cucu tertua. Namun karena keluarga yang tak utuh. Anak tersebut seringkali memanggil Naura dengan sebutan Mommy dan lagi ia malu karena tak bisa memberikan contoh baik bagi putranya sendiri.
Reynand yang notabenya memang adalah anak haram. Akan tetapi Azka tak ingin itu menjadi suatu masalah baginya. Bagi siapa saja yang menghina anaknya, maka Azka tak akan segan-srgan turun tangan untuk menguliti orang tersebut karena telah menghina darah dagingnya. Biar saja rasa malu itu ia tanggung sendiri. Tak perlu melibatkan Reynand apalagi jika harus menghancurkan psikologis anak tersebut.
Usia Reynand berbeda beberapa bulan dari Leo. Sebenarnya jika tidak keguguran dulu, anak Naura pasti seumuran dengan Reynand. Akan tetapi takdir berkata lain dan membiarkn Rey menjadi cucu tertua di keluarganya.
Setelah mandi, Azka langsung menghubungi temannya dan meminta bantuan agar memindahkan Rey ke sekolah yang cukup terkenal. Bukan untuk sekadar gaya, akan tetapi ia ingin anaknya lebih aktif lagi dan mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik dan jaraknya memang dekat. Bukan karena sekolah lama Rey adalah sekolah yang kurang baik, meski mendapatkan juara setiap tahunnya. Azka ingin anaknya berkomunikasi dengan baik pada siapa pun. Ia juga berencana untuk memberikan les khusus nantinya untuk anak itu.
Barangkali dulu mimpi Nagita adalah menjadi seorang dokter. Hal itu pula yang kini merasuki pikiran anaknya dan semenjak TK, Rey sering membaca buku tentang organ tubuh manusia. Bahkan Azka sering dibuat tercengang dengan kemampuan Rey yang bukan main-main. Usia SD bahkan sering menegurnya jika itu perihal bisnisnya.
Di kamarnya pun banyak buku-buku tentang biologi, pelajaran yang belum dikupas tuntas oleh anak seusia Reynand. Tapi anaknya seringkali ia bebaskan berekspresi, contohnya lampu kamar yang ada di kamar Azka, ada adalah buatan Reynand. Lampu yang menggunakan baterai, dengan kabel bekas yang dililitkan pada kepala lampu dan di nyalakan dengan menyentuhkan ujung kabel yang sudah dikupas dengan ujung baterai.
Ada lagi kipas angin buatan Reynand. Azka menyimpan pemberian anaknya dan dipajang di tempat tidur. Kipas angin yang terbuat dari baling-baling helikopter mainannya dulu, serta dinamo mobil-mobilan yang masih berfungsi. Anak itu memanfaatkan mainan bekasnya menjadi penemuan. Dinamo yang dihubungkan dengan kabel serta dua baterai yang sudah dipasangkan pada sebuah kayu yang dibentuk sedemikian rupa menjadi wadah tempat penyimpanan untuk ukuran baterai besar. Sementara ujung dinamo tersebut ditempelkan baling-baling helikopter dan kayu kecil sebagai gagang tempat ditaruhnya dinamo tersebut dengan dilubangi kecil. Untuk menyalakannya cukup gampang, paku kecil yang tinggal diselipkan pada ujung kayu yang di dalamnya sudah ada baterai, dan langsung berputar begitu disatukan. Azka benar-benar bangga terhadap anaknya.
"Daddy?"
Anak itu berdiri di pintu.
"Kenapa, Rey?"
"Mau mandi, kan nanti mau pergi," anak itu mendekatinya. Azka yang tengah memainkan kipas angin buatan Reynand anak itu langsung menyalakannya. "Daddy kenapa selalu sedih?" Ucap Reynand tanpa mengalihkan pandangannya dari mainan itu.
"Daddy nggak sedih, Daddy bangga kalau Rey bisa hasilkan ini semua dari usaha Reynand,"
"Daddy banyak uang kan?"
"Kenapa nanya begitu?"
"Rey pengin Daddy nabung, Rey pengin jadi dokter. Karena Daddy banyak uang, Rey pengin dibuatin rumah sakit atau klinik khusus, gratis untuk siapapun Daddy,"
"Rey pengin jadi dokter karena Papa?"
"Bukan, karena Rey pengin orang-orang sembuh karena nggak mikirin biaya lagi, kita bantu orang harus ikhlas, percuma kaya kalau nggak bisa bantu orang lain. Kaya bukan untuk ajang pamer karena punya barang mahal, uang banyak, dan mobil mewah, tapi seberapa sering kita bermanfaat bagi orang lain,"
Azka tertegun mendengarnya. Ia mengelus kepala Reynand.
"Kalau Rey pengin jadi dokter, harus wujudkan dan buktikan sama Daddy. Soal rumah sakit atau klinik, Daddy bakalan buatin Rumah Sakit Gratis Reynand, biar Rey yang obati orang-orang di sana, mau?"
"Beneran, Daddy?"
"Iya, tapi belajar yang rajin. Semoga keinginan Rey tetap seperti ini ya!" Azka meletakkan kipas angin tersebut di atas meja. Ia tersenyum begitu melihat anaknya kegirangan dengan ucapannya. Sedikitpun tak terlintas di benak Azka untuk berpikiran seperti anaknya. Tak salah jika Rey banyak membaca buku dan membuat anak itu memilik pemikiran yang sangat luas.