
Setiap orang pasti memiliki cara untuk menyampaikan perasaan. Baik itu menyampaikannya secara langsung ataupun hanya diam dan diam-diam mendoakan dengan cara yang baik agar disandingkan dengan cara yang terbaik. Banyak pula yang hanya diam tak mengungkapkan rasa, membiarkan orang yang dia inginkan peka dengan sendirinya.
Semenjak hidupnya dipenuhi dengan rasa bahagia ketika jatuh cinta terhadap seorang lelaki yaitu teman sekelasnya sendiri. Bintang selalu menghabiskan waktu malamnya untuk mencatat setiap kebersamaan yang pernah ia lewati bersama dengan Reynand setiap waktu. Tidak pernah terlewatkan satu hari pun dia melupakan untuk menuliskan itu semua dalam buku catatannya.
Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, perut Bintang keroncongan karena dia tidak makan malam tadi. Gadis itu justru sibuk untuk mempersiapkan dirinya pergi besok sore. Mereka sengaja mempercepat keberangkatan karena waktu yang akan ditempuh ke Lombok akan lama. Belum lagi menuju lokasi yang akan mereka tuju.
Bintang turun dari kamarnya menuju ke dapur. Sekilas dia hanya menemukan mi instan yang ada di lemari penyimpanan makanan dalam kemasan. Bintang mulai menyalakan kompor dan memanaskan air. Berselang lima menit setelah berhasil membuat mi instan dengan irisan cabai yang menjadi kesukaannya. Bintang duduk dan hendak memakan mi instan tersebut. Akan tetapi papanya datang dan duduk di sebelahnya. Gadis itu mengurungkan niatnya makan dan mengambil gelas dan juga air untuk disuguhkan untuk pria itu.
"Kenapa belum tidur?"
"Aku lapar, Pa. Ngomong-ngomong besok aku berangkat sama teman-teman. Sengaja dipercepat biar pulangnya juga cepat,"
"Bintang, jaga diri baik-baik ya! Karena kamu batal menemui Mama, jadi setelah pulang mendaki nanti usahakan untuk bertemu sama Mama. Bintang, barangkali kamu enggak bakalan sekolah di sana lagi. Kamu akan Papa pindahin, kamu akan aman sama Mama, tunggu waktunya,"
Bintang mendengar ucapan papanya dan merasa sangat kesal. Baru saja dia menemukan kenyamanan yang baru dalam hidupnya, begitu saja mau dipindahkan ke tempat lain untuk melanjutkan pendidikan. Padahal belum lama ini dia menjadi murid baru di sekolah itu dan menemukan teman-teman baru yang selalu mengisi harinya dengan ceria setiap harinya.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Bukan tiba-tiba, ini sudah direncanakan oleh Mama sendiri. Papa harap kamu bisa mengerti dengan keadaan yang sekarang ini, Nak. Papa enggak pernah mau kamu pergi dari sisi Papa. Akan tetapi Papa enggak bisa untuk terus libatkan kamu dalam hal seperti ini, Bintang. Papa enggak mau kamu jadi korban atas kebodohan Papa. Papa mau kamu baik-baik saja, Papa sudah ngomong sama Mama tadi,"
"Papa ketemu sama Mama lagi?"
"Iya, Papa ketemu sama Mama tadi sebelum pulang kemari. Bintang, banyak hal yang tidak bisa Papa ceritakan kepadamu. Barangkali suatu saat nanti kamu bisa mengerti keadaan ini dengan sendirinya tanpa harus Papa ceritakan ke kamu. Ada yang mengganjal di hati Papa. Ada pula yang menjadi beban dalam pikiran Papa untuk membuat kamu merasa baik-baik saja bersama dengan Mama kamu, Nak,"
Gadis itu mengangguk pelan dan mulai menyantap mi instan yang dia buat tadi. Walaupun agak sedikit panas, Bintang tetap melahap mi instan tersebut. Dia sangat kelaparan. Karena keberadaan mama tirinya yang ada di rumah itu. Tidak jarang juga Bintang tidak makan karena tidak mau satu tempat dengan perempuan yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Kini, Papanya telah kembali pada sisinya, akan tetapi dia masih belum bisa menerima itu semua. Karena dia yakin bahwa suatu saat bisa jadi papanya berkhianat lagi dan membela perempuan itu dibandingkan mama Bintang sendiri.
Sesekali Bintang melirik ke arah pria yang sedang duduk dihadapannya kini sambil menatapnya makan dengan begitu lahap. "Papa mau?"
"Papa,"
"Kenapa, Bintang?"
"Papa sayang sama aku, kan?"
Pria itu tersenyum lagi, "Bintang, harus berapa kali Papa katakan bahwa yang Papa sayang itu adalah kamu. Tidak peduli dengan seberapa cantiknya, seberapa hebatnya seorang perempuan yang mendekati Papa, jika dia menyakiti kamu dengan cara yang benar-benar keterlaluan. Mau tidak mau Papa akan ninggalin dia dan merawat kamu seorang diri, tidak apa jika suatu waktu Mama enggak mau kembali sama Papa. Tapi Papa bakalan tetap sayang dan didik kamu seorang diri, tinggal menunggu waktu di mana kita akan bisa bersama lagi seperti dulu. Jika Papa gagal, maka bantulah Papa untuk tetap meyakinkan hati Papa agar bisa meraih hati Mama kamu seperti dulu lagi. Kita bisa bersatu, semua itu karena cinta,"
"Papa, terima kasih,"
"Berhentilah mengucapkan kata terima kasih, Nak! Karena semua ini juga karena kamu yang telah berhasil menyadarkan Papa bagaimana cinta itu harus bertindak, maka dari itu, untuk menebus semua kesalahan Papa. Papa ingin kamu bersama dengan Mama, bantu Papa untuk meyakinkan Mama bahwa kita akan kembali seperti dulu,"
"Terus Mama tiri aku?"
"Berusahalah untuk tidak peduli terhadap orang lain! Bukan berarti kamu enggak boleh peduli, akan tetapi ini adalah urusan Papa sendiri, jangan pernah terlibat terlalu jauh dengan kehidupan yang berantakan ini. Biarlah Papa yang berusaha menata ini semua, Bintang tugasmu hanya sekolah,"
"Baiklah, Pa. Papa masih saling hubungi sama Mama, kan?"
"Mama selalu nanyain kabar kamu, Nak. Dia selalu ingin kamu baik-baik saja! Waktumu hanya tinggal beberapa minggu lagi untuk menikmati liburan kamu sama teman-teman kamu, setelah itu Papa minta maaf karena harus merenggut kebahagiaan kamu sama teman-teman kamu, Bintang,"
Gadis itu mengangguk pelan sambil mengingat beberapa kejadian menyenangkan yang dialami bersama dengan teman-temannya di sekolah. Jika memang harus berpisah lagi, maka dia akan susah untuk beradaptasi lagi dengan orang baru di sekolah yang baru. Namun, demi keluarganya. Bintang mau tidak mau harus tetap menuruti keluarganya dibandingkan dengan bertahan dengan hatinya sendiri. Walaupun suatu waktu dia harus berpisah dengan Reynand. Lelaki yang sudah membantunya menemukan kebahagiaan baru dengan cara sederhana.
Beberapa saat kemudian perbincangan keduanya selesai. Bintang yang kembali ke kamar dan papanya pun demikian. Bintang mengunci kamarnya dan duduk di meja belajarnya sambil menuliskan kalimat yang akan menjadi kalimat perpisahannya. Waktu untuk semester kenaikan kelas hanya tinggal menghitung minggu. Bintang menulis itu semua dipenuhi dengan air mata. Cinta yang belum sempat tersampaikan harus dia tulis mengingat bahwa dia akan meninggalkan Reynand dan juga teman-temannya.
Di dalam hatinya, meninggalkan lelaki itu sangatlah sulit. Apalagi dengan Reynand dia pernah menaruh harapan akan selalu bersama. Tetapi semesta sepertinya tidak merestui, bahkan mereka harus terpisah. Buktinya Bintang harus pergi meninggalkan lelaki itu entah sampai kapan dan apakah bisa bertemu atau tidak? Meninggalkan Reynand dengan cara tiba-tiba suatu saat nanti. Dia bahkan berencana untuk tidak mengungkapkan perasaan itu.