
Sepulang dari kantor, Rey mampir di pemakaman adiknya dengan membawa rangkaian bunga yang begitu cantik. Rey meletakkan diatas makam adiknya. Ketika Alvin menceritakan mengenai Ashira, sontak dia teringat dengan adik yang sudah lama sekali tidak dia kunjungi. Rey memang belum sempat mengunjungi Ashira karena dia memang belum ada waktu untuk pergi ke sana. namun, mengenai uang yang dibutuhkan olah Ashira sudah diberikan oleh Rey kepada Alvin tadi sebelum pulang. Dia juga menyuruh pria itu pulang terlebih dahulu karena pastinya Ashira butuh didampingin papanya di rumah sakit.
Rey memaklumi itu semua. Kemudian dia yang sedang di sana tersenyum sambil mengusap batu nisan adiknya. “Apa kabar sayang? Lama banget kakak nggak kemari ya, kamu apa kabar di sana? maafin kakak yang selalu sibuk ya sampai nggak pernah kunjungi kamu,” Rey tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya ketika membahas mengenai Syakila. Ketika dia mengingat adiknya karena penyakit yang diderita oleh Ashira itu sama dengan Syakila dulu. Dia menjadi teringat dengan sosok adiknya.
“Syakila sekarang punya keponakan yang cantik banget, mungkin besar nanti mirip Syakila sayang,” air matanya tidak bsia dibendung lagi ketika membahas tentang adiknya. Rey memang selalu menangis ketika mengunjungi adiknya. Bukan karena dia cengeng. Tapi dia tahu bagaimana sakitnya ketika pertama kali Syakila bertemu dengan papanya justru adiknya itu meninggal dipelukan sang papa.
Bagi Rey, perempuan yang pernah hidup sekalipun itu hanya sementara. Tuhan lebih sayang kepadanya. Tapi Syakila juga perempuan yang Rey sayangi, adik perempuan pertamanya yang dia ketahui ketika dia masih kecil dulu. Perceraian orang tua, mungkin mereka berdua adalah korban dari ketidaktahuan dulu. Rey yang korban perceraian, sedangkan Syakila hadir tanpa adanya pernikahan papa dan juga mama Syakila dulu. Dia mengerti dengan kehidupan yang dulu pernah dia keluhkan. Ketika teman-temannya bahagia. Ketika dia harus dititipkan pada om Dimas. Satu-satunya yang bisa memberikannya sebuah kekuatan untuk tetap bertahan dengan kehidupan ini adalah tentang dia yang harus semangat menjalani kehidupan ini. Sekalipun Rey sendiri mengeluh ketika dia tidak mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari orang tua yang utuh. Belum lagi ketika dirinya masih kecil dan mendengar ucapan-ucapan Teddy dulu. Rasanya bathinnya memang terluka.
Ketika dia merasakan kasih sayang yang baik, menganggap bahwa pria itu begitu baik menyayanginya. Tapi ketika mengetahui mamanya hamil lagi, Rey tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia yang akan menjadi korban. Apa pun yang dia lakukan, apa pun yang dia usahakan. Bahkan dia yang selalu mendapatkan juara kelas dulu tidak pernah dibanggakan. Dia hanya memegang piala di dalam kamarnya sambil menangis dan berharap orang tuanya kembali utuh lagi.
Tapi sayangnya, dia pernah punya harapan yang hingga pada akhirnya Rey harus memilih tinggal bersama dengan papanya. Yang di mana dia merasakan kasih sayang itu begitu nyata. Diperlakukan dengan tidak begitu adil oleh papa tirinya adalah kesakitan yang Rey rasakan sampai saat ini.
Dia mempertahankan ruamh tangganya juga karena dia tidak ingin jika anaknya kelak merasakan hal yang sama. Yaitu punya papa tiri kemudian diperlakukan dengan tidak baik seperti yang dirasakan oleh dirinya. Rey menyeka air matanya di pemakaman adiknya. “Kakak pulang sayang, besok kakak janji bakalan ke sini sama kakak ipar dan juga keponakan Syakila ya,” pamitnya kepada adiknya. Sebelumnya dia berdoa untuk adiknya dan beranjak dari sana.
Hari sudah gelap, Rey memilih untuk pulang ke rumah mertuanya karena anak dan juga istrinya ada di sana.
Setibanya di rumah, dia disambut oleh anaknya yang sudah sangat harum dan digendong oleh papa mertuanya. “Papa pulang,” kata papa mertuanya. Rey kemudian bersalaman dan mencium tangan papa mertuanya. Dia juga menyodorkan tangannya kepada Audri dan anak itu sudah pandai menyalaminya setiap kali berangkat dan pulang bekerja.
“Mandi dulu sana! Marwa di dapur sama Mama kamu,”
Rey menganggukkan kepalanya. “Aku pamit mandi dulu ya, Pa. Maaf ngrepotin,” kata Rey kepada papa mertuanya. Tapi terlihat jika papa mertuanya begitu bahagia menggendong Audri. Marwa anak tunggal, jadi kemungkinan orang tua Marwa memiliki cucu satu-satunya dan terlihat sepertinya sedang menikmati masa-masa bersama dengan cucunya.
Begitu Rey meninggalkan ruang tengah.
“Marwa, siapin bajunya Rey sana! biar makan malam nanti diurus sama Mama kamu,”
Marwa melepaskan semuanya dan menuruti ucapan papanya. “Papanya Audri pulang?”
“Iya, baru aja naik tuh,” kata papanya.
Marwa kemudian mengelap tangannya. “Aku titip Audri bentar, Pa,”
“Marwa, Rey kayaknya abis nangis. Matanya merah, Rey sering begitu? Kalau mabuk kayaknya enggak, karena enggak ada kecium bau alkohol gitu,”
Marwa menganggukkan kepalanya dan tetap tersenyum kepada papanya agar tidak menimbulkan kekhawatiran kepada papa mertuanya. Rey memang tidak pernah seperti itu sebelumnya. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia melihat suaminya sedang membuka kancing kemeja yang dia gunakan. “Mas sudah pulang, kenapa nggak salaman?” tanya Marwa yang kemudian mendekat ke arah suaminya dan bersalaman. Rey mencium keningnya seperti biasanya. Marwa langsung melihat ke arah mata suaminya dan melihat jika mata suaminya memang merah seperti habis menangis. “Mas nangis?”
Rey menggeleng, tapi Marwa mengusap pipi Rey dengan lembut.
Rey mengerjapkan matanya karena merasa perih, “Sayang, tangan kamu abis ngapain? Mata aku perih, sumpah,”
Marwa terlihat begitu panik. Yang tadinya dia ingin melihat kebenaran apa yagn dikatakan oleh papanya justru dia yang membuat mata suaminya perih. Rey langsung berlari ke kamar mandi dan mencuci wajahnya.
“Kamu pegang apaan sih?”
“Aku iris bawang, Mas. Tapi udah cuci tangan,” ucap Marwa dengan nada rendahnya, “Tapi lupa pakai sabun, aku cucinya sekilas,” Marwa menyeringai ketika Rey mengelap wajahnya dengan handuk.
“Kebiasaan banget ya. Besok-besok pasti bakalan pegang pipi suami waktu lagi buat sambal,” keluh Rey yang merasakan perih pada matanya karena bawang tadi. “Besok aku nggak kerja,”
“Kenapa?”
“Temenin Papa kamu mancing. Jarang-jarang aku bisa ada waktu buat Papa kamu. Tapi sebelumnya aku mau ngajakin kamu ke rumah sakit. Aku mau ajak kamu jengukin anaknya teman aku,”
“Sakit apa?”
“Gagal jantung,”
Marwa terdiam ketika Rey menjelaskan mengenai penyakit yang diderita oleh anak temannya itu. karena dia tahu jika suaminya juga kehilangan adik perempuan karena penyakit yang sama. “Besok kita sekalian ke makam dia juga ya, Mas,”
Rey mengangkat telunjuknya. “Ah ya, kamu benar. Aku sampai lupa, aku memang mau ngajakin kamu ke makam dia besok pagi sebelum ke rumah sakit. Udah gitu kita belanja keperluan Audri juga, susu dan sebagainya. Selama dia tinggal di sini. Kamu memangnya mau berapa hari di sini?”
“Dua minggu, Mas. Kamu nggak apa-apa?”
Rey tersenyum, “Nggak apa-apa. Kamu udah lama banget nggak pulang. Sekalinya ke sini nggak pernah nginap, jadi aku nggak apa-apa. Nanti aku juga pulang ke rumah orang tua aku ya. Kamu luangin waktu buat ngobrol sama orang tua kamu selama aku nggak di sini nanti. Aku tetap bakalan kabari kamu,” kata Rey. Kemudian dia mendekati istrinya, “Gosokin punggung aku ya?” pinta Rey.
Marwa menahan dada Rey ketika pria itu hendak mendekat. “Bentar, aku kasih tahu Mama dulu,”
“Jangan bilang aku minta dimandiin dong!”
“Mas Rey pikir aku gila? Ya enggak dong, aku bilang apalah pokoknya. Nggak mungkin dong,”
“Kamu juga pasti belum mandi, bau tahu,”
“Ya udah mandi bareng,”
Rey menyeringai ketika Marwa hendak turun dari kamarnya untuk meminta izin kepada orang tuanya.
Baru saja dia keluar dari kamar, dia bertemu dengan papanya. “Ada apa, Pa?”
“Susunya Audri di mana?”
“Di atas meja makan itu, Pa. botol susunya juga di sana,” kata Marwa yang kemudian papanya langsung turun tanpa bertanya apa pun lagi. “Ayo minum cucu, bial nggak nangis lagi,” ujar papanya Marwa.
Perempuan itu langsung ke dapur dan melihat semua sudah selesai karena tadi dia hanya membantu mengiris bawang ketika hendak membuat sambal matah untuk papanya. “Rey mana?”
“Mau mandi, Ma. Aku juga mau balik ke kamar,”
“Bilang aja mau dimandiin,”
Raut wajah Marwa merah ketika mamanya berkata demikian. Mamanya seolah bisa menebak apa yang sedang Marwa pikirkan. “Ma,” Marwa berucap dengan lirih.
“Papa kamu juga dulu gitu kok. Jadi nggak usah malu lagi. Ya udah sana! biar nanti Audri sama Mama dan juga, Papa,”
“Mama jangan singgung ya nanti kalau makan malam. Mas Rey itu orangnya ngambekkan,”
“Udah kelihatan kok dia memang begitu. Mamanya aja bilang kalau dia itu memang ngambekkan dari dulu, nggak salah deh jodoh kamu,” ledek mamanya. “Sana gih, mandiin biar ganteng. Biar tambah disayang. Itu salah satu resep rumah tangga juga lho kalau mandiin suami,”
“Mama ih,”
“Kamu juga kan pernah dimandiin dulu waktu nggak bisa mandi sendiri pas lahiran,” ucap mamanya.
Rey memang seperti itu ketika Marwa dulu melahirkan Audri. Rey dengan sabar memandikan dan bahkan untuk mencuci pakaian anaknya pun dia yang melakukannya sendiri.
“Ma, aku ke kamar ya,”
“Ya, jangan lama-lama. Ingat nanti magriban langsung! Biar Audri sama Papa tuh mumpung dia mau dititip,”
Marwa menyeringai mengangkat jempolnya dan berlari ke kamar karena suaminya sudah lama menunggu. Baru saja Marwa membuka pintu kamar, dia melihat suaminay sedang menekuk kaki kanannya yang menepelkan telapak kaki ditembok. Rey melipat kedua tangannya didepan dada dan hanya menggunakan handuk.
“Lama banget tahu nggak,” protes Rey. Marwa mengunci pintu kamarnya dan seperti yang dikatakan oleh mamanya tadi. inilah suaminya, suaminya yang selalu bertingkah seperti anak kecil. Rey yang biasanya selalu bijak tapi tidak dengan kali ini yang justru bersikap layaknya anak kecil.
“Maaf,”
“Buruan ih. Keburu magrib loh nanti,” pinta Rey.
“Iya, Mas. Astaga ini kayaknya aku bakalan punya dua anak kecil deh,”
“Siapa?”
“Mas sama anak kita dong. Mas itu ngambekan,”
“Ngambek karena sayang itu wajar,”
“Tapi nggak wajar kalau kamu yang ngambek, Mas. Kesannya kayak gimana gitu,” ledek Marwa.
“Bawel, mau dicium?”
“Nggak di rumah nggak di sini tetap aja kelakuannya ya, Mas.”
Bagaimana dia bisa melepaskan Rey dengan begitu mudah ketika suaminya selalu bersikap seperti ini ketika manja. Rey yang memang ingin tetap dimanja di manapun dia berada. Sekalipun itu berada di rumah orang tuanya sendiri. Dia tidak pernah malu memperllihatkan kemesraannya.
Marwa senang, apalagi ketika memiliki mertua yang teramat baik. bahkan Rey pernah dipukuli oleh papa kandung sendiri karena selingkuh waktu itu. peran mertuanya yang sangat baik ketika melarang Marwa pulang ke rumah orang tua karena takut mengadu. Dan justru tetap menyalahkan Rey sekalipun itu adalah anak kandung papa Azka sendiri.