
"Mohon maaf pak, istri anda kritis."
Setelah dokter
menyatakan Nagita kritis dan harus dirawat dengan lebih intensif lagi.
Harapan Azka mulai redup. Hatinya diguncangi dengan rasa bersalah yang
terus mendera dirinya. Hari kedua setelah operasi. Azka masih tetap
berada menunggu istrinya. Bahkan belum pulang sekalipun demi menjaga
Nagita.
"Az, kamu pulang dulu.
Mandi, ganti baju. Jangan lemah seperti itu. Kamu mau kan Nagita sembuh?
Kamu juga jaga kesehatan kamu, kasihan anak kamu. Jangan sampai kamu
ikutan sakit juga. Sudah dua hari kamu nggak tidur,"
Azka tetap berdiam diri
tak menanggapi ucapan mamanya. Yang ada dipikirannya kini adalah Nagita
harus sadarkan diri terlebih dahulu. Melihat istrinya dipenuhi dengan
alat-alat medis membuat Azka menyesali semua perbuatannya dahulu. Andai
ia lebih berani meninggalkan Deana lebih awal. Tentu saja Nagita tak
akan terluka seperti sekarang.
"Ma, aku kunjungi anak
aku dulu," pamitnya kepada mamanya. Di ruangan itu semua anggota
keluarganya berkumpul demi menunggu Nagita siuman.
Azka melihat bayinya
yang ada di box kecil. Bayi mungil dengan berat badan 2,6 KG. Azka
tersenyum miris jika mengingat ia akan menggugurkan bayi itu. Setelah
lahir ke dunia. Itulah yang menjadi penyemangat Azka selama Nagita belum
sadarkan diri.
"Hey, Daddy berkunjung
lagi. Maafkan Daddy belum bisa bahagiain Mommy. Belum bisa bahagiain
kamu. Maafkan Daddy dulu hampir bunuh kamu di perut Mommy. Jagoan Daddy,
maafkan atas keteledoran Daddy nggak bisa jaga kalian berdua. Sampai
akhirnya Mommy seperti sekarang karena Daddy yang jahat. Anak Daddy juga
harus sembuh, harus kuat. Daddy ada buat kamu, ada buat Mommy. Kalau
Mommy sampai kenapa-kenapa, Daddy nggak bakalan maafin diri Daddy
sendiri."
Azka mengamati bayinya
yang masih terlelap. Darah dagingnya dengan Nagita. Hadir tanpa pernah
direncanakan. Bahkan kini telah lahir. Azka melihat bayinya tersebut dan
tersenyum. "Ayo bangun sayang. Kita ke tempat Mommy. Mommy tidur lama
banget sayang, Daddy mau kalian berdua sembuh. Kalau kalian sembuh,
Daddy janji bakalan jaga kalian dengan sangat baik. Sayang sama Mommy,
sayang sama jagoan kecil. Jangan sakiti hati Daddy dengan seperti ini.
Daddy nggak kuat lihat kalian berdua harus terbaring lemah seperti ini.
Daddy pengecut kan, nggak berani ambil tindakan sampai Mommy celaka
karena tingkah Daddy sendiri. Ohya jagoan Daddy harus segera sembuh,
Daddy sakit lihat kamu seperti ini. Lebih baik Daddy yang ngerasain
daripada kalian berdua."
Tiba-tiba air mata Azka
menetes jika mengingat semua keinginan Nagita yang tak terpenuhi di
Mall. Ia memejamkan matanya dan seolah ingatan itu menyerang dirinya
yang terus saja berputar dalam kepalanya.
"Daddy tinggal ya sayang. Daddy jagain Mommy, Daddy bakalan sering berkunjung. Lekas sembuh kesayangan Daddy."
Azka berdiri dan
berpamitan kepada buah hatinya. Keadaan yang tak jauh beda dengan
Nagita. Azka merasakan hatinya dicabik-cabik karena melihat dua orang
yang paling dicintainya lemah tak berdaya dibruang rumah sakit.
Azka keluar dari ruangan khusus tempat bayinya di rawat.
"Kenapa lo nggak pulang?"
Azka berjalan lemah.
"Saya akan tetap tungguin dia, Dimas."
"Ingat bahwa dalam keadaan apa pun. Lo ceraikan, Nagita,"
"Dim, bisa kita omongin ini nanti?"
"Gue muak. Gue hancur
lihat adik gue lo giniin. Andai gue nggak mikirin calon bayinya nggak
punya ayah. Gue rawat sendirian. Sekarang apa? Gue harus kehilangan
lagi, gitu? Azka satu-satunya yang gue miliki itu Nagita. Lo tega buat
dia kayak gini? Lo nggak punya otak tahu nggak. Lo cuman mikirin apa
yang menurut lo bener. Kalau lo mau buang adik gue, kenapa nggak dari
dulu aja!"
"Dimas, saya mohon saya butuh bicarakan ini nanti."
"Gue harap lo selesaikan
hubungan ini dengan segera. Gue bisa rawat dia. Gue mau dia bahagia.
Anak lo, gue rawat. Gue nggak bakalan ganggu lo lagi, Azka."
Azka tak menghiraukan
ucapan Dimas. Justru ia pergi begitu saja. Tak sengaja mata Azka menatap
ke arah mata Dimas tadi. Nampak begitu jelas kesedihan tergambarkan
dari raut wajah iparnya tersebut. Bukan hanya Dimas, Azka juga merasakan
hal yang sama.
Saat tiba di depan
ruangan Nagita dirawat. Dokter berlarian dan langsung masuk begitu saja.
Azka langsung mengikuti namun dihalangi oleh perawat dan diminta untuk
keluar.
"Ma, Nagita kenapa?"
"Keadaannya memburuk, Azka."
Tiba-tiba lutut Azka
begitu terasa sangat lemas setelah mendengar ucapan mamanya. Air mata
mamanya juga keluar saat menjelaskan hal itu. Tubuh Azka langsung
ditahan oleh Reno saat dirinya akan tumbang karena begitu terkejut
mendapati kabar tentang Nagita.
"Nagita kenapa bisa seperti itu?"
"Mama juga nggak tahu. Tadi tiba-tiba suara monitor bunyi saat kami duduk. Detak jantungnya udah nggak ada,"
Azka mengusap wajahnya
kasar. Ia terus merapalkan doa agar istrinya tak kenapa-kenapa. Sungguh
ia tak sanggup harus merasa kehilangan untuk pertama kalinya. Ia bahkan
tak sanggup tanpa ada Nagita disisinya saat ini.
Di kursi seberang sana nampak pria itu sedang frustrasi dan menjambak rambutnya. Tubuh Azka meluruh ke lantai dan meringkuk.
"Semua gara-gara aku, Ma."
"Bangun, Azka. Kamu
jangan seperti ini. Kamu lupa sekarang kamu sudah jadi seorang Ayah.
Percaya bahwa Nagita tidak akan kenapa-kenapa."
"Kak, Nagita pasti bisa sembuh."
"Kalian semua lebih baik
pulang!" Tiba-tiba mereka semua menoleh ke arah Dimas. Mata laki-laki
itu berkaca-kaca membuat mereka semua menunduk.
"Pulang. Aku mohon! Aku yang jaga Nagita sendirian."
"Saya tetap di sini. Saya suaminya,"
"Jangan pernah anggap Nagita istrimu lagi. Mulai detik ini juga jangan pernah datang kemari. Ingat itu!"
"Dimas, kamu jangan seperti itu. Bagaimanapun juga Azka suaminya Nagita," ucap papanya yang akhirnya angkat bicara.
"Suami? Sekarang baru
ingat dirinya suami? Ada suami yang mau perkosa istrinya untuk kedua
kali hanya karena emosi? Ada suami yang tidur dengan perempuan lain saat
istrinya lagi hamil besar? Ada seorang suami yang berpikiran untuk
membuang istrinya dan mengambil hak asuh anaknya?"
Semua tatapan langsung tertuju pada Azka.
"Dim, itu dulu..."
"Tapi ingat. Lo tidur
sama jalang lo waktu lo udah bawa Nagita pulang. Ditengah-tengah rumah
tangga yang harusnya harmonis. Lo hadirkan orang lain. Bahkan gue ketemu
sama lo waktu lo jalan-jalan sama dia. Gue ikutin lo, dengan entengnya
lo cium-cium jalang lo itu. Abis itu lo masuk apartemen. Sekarang lo
masih ngaku lo suami adik gue, hah?" Dimas sudah hilang kendali dan
mengatakan apa yang ia lihat waktu itu.
Azka mendengat ucapan
dari Dimas merasa sangat terpojokkan. Waktu itu Nagita pernah
melarangnya. 'Kalau aku larang kamu untuk tidak pergi. Apa kamu akan
tetap pergi?' Azka mengingat jelas bahwa Nagita mengatakan hal itu
sebelum dirinya pergi menemui Deana.
"Pulanglah. Jatuhkan talak untuk Nagita."
"Nggak. Sampai kapan pun, nggak."
"Oke berarti Nagita
tetap tinggal dengan gue. Anak lo juga. Dan ini, mobil hadiah dari lo
gue balikin. Gue keluar dari kantor lo. Silakan nikmati uang lo, gue
akan bawa Nagita pergi jauh dari lo. Kalau lo berani datang lagi. Gue
pastikan lo bakalan nyesel seumur hidup!"
"Ayo kita pulang!" Ajak papanya.
"Pa, aku mau di sini."
"Dimas sedang gusar. Jangan diganggu. Dia butuh waktu sendiri,"
Semuanya langsung pergi
begitu saja. Meski dengan langkah yang sangat berat Azka menuruti
keinginan itu. Dari sorot mata Dimas memang penuh dengan kebencian.
"Azka,"
"Iya, Ma?"
"Nagita tahu apa yang
diceritakan oleh Dimas. Waktu itu Mama dan Naura, Nagita juga ikut
belanja. Di situ kamu sama Deana pelukan, ciuman. Nagita lihat. Bahkan
dia sudah larang Mama untuk cerita semua ini sama kamu. Dia nggak mau
kamu tahu kalau dia lihat itu semua."
"Kenapa Mama nggak bilang?"
"Apa yang dikatakan oleh
Dimas benar. Kamu harus ceraikan Nagita nanti. Papa bukannya tidak
setuju kamu sama dia. Tapi Papa nggak mau kamu terus hancurkan hidup
perempuan itu. Papa akan tanggung biaya hidup cucu Papa. Tapi ceraikan
Nagita. Papa nggak mau dia terus pura-pura kuat sama kamu. Semua ini
pasti berat. Nggak ada yang tahu kan tentang dia sakit hati atau nggak.
Terlebih saat dia nyuruh Mama dan Naura diam waktu tahu kamu selingkuh."
"Pa?" Ucap mamanya lirih.
"Papa setuju sama
ucapan, Dimas. Jadi jangan tahan dia lagi. Semakin kita tahan Nagita
untuk berada di sisi Azka. Semakin kita siksa hatinya. Biarlah dia tetap
jadi keluarga kita. Tapi ceraikan. Dia berhak bahagia. Dimas
benar-benar merasa sangat bersalah dengan semua ini. Kamu lihat dari
tatapannya. Dia rapuh. Sehebat apa pun seorang laki-laki pasti akan
lemah saat melihat perempuan yang disayanginya terluka. Terlebih Dimas
hanya punya Nagita. Cepat atau lambat Nagita juga akan lelah bertahan,
Azka. Dia berhak bahagia. Jangan paksa untuk tetap tinggal. Seberapa
hebatnya kamu berusa menahan dia. Ketika dia ingin pergi, maka akan
tetap pergi. Jadi sudahi, Papa nggak mau Nagita berakhir menyedihkan
hanya karena anak kalian."
Azka terdiam seribu
bahasa setelah mendengar ucapan sang Papa. Apakah ia akan kehilangan
Nagita dan anaknya? Ia berusaha menguatkan dirinya.
Melewati lorong rumah
sakit dengan langkah yang sangat lemah. Bahkan ia terus saja menangis
saat mengingat betapa seringnya ia membuat perempuan itu menangis.
NEXT CHAPTER=>