RICH MAN

RICH MAN
MERAJUK



“Pa, Papa berantem sama, Mama?”


Teddy baru saja pulang dari rumah sakit. Sudah dua hari dia tidak pulang ke rumah. Mereka telah


tinggal bersama. Semenjak kelulusan, ia langsung mengurus segala urusan tentang


pindah ke Indonesia. Ia bekerja di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Namun


semenjak pulang, Nagita pun semakin sibuk dengan pekerjaannya. Melihat anaknya


yang tiba-tiba menyambutnya dengan pertanyaan itu, ia langsung mengahampiri Rey


yang sedang menujunya.


Ia membuka sepatu dan kaos kakinya.


“Papa, kok nggak jawab?”


Ia mengelus kepala anaknya dan meninggalkan Rey begitu saja. Pertengkaran memang sering terjadi,


itu bukanlah masalah besar. Nagita hanya salah paham tentang ia yang tidak


pulang. Begitu banyak yang harus di urus oleh Teddy semenjak pindah. Baru tiga


bulan ia bekerja di rumah sakit itu, dan Nagita sudah mulai berpikiran yang


tidak-tidak tentang dirinya.


“Mama mana?”


“Mama di atas, tadi Rey tanya soal, Papa. Mama malah bilang tanya sama Papa, Papa beneran berantem?”


“Nggak kok, ini sudah larut. Rey tidur, besok kan harus sekolah!”


“Papa jangan berantem sama, Mama ya!”


Teddy mengangguk setelah itu mengikuti Rey ke atas. Ia langsung masuk kamar dan menemukan


istrinya yang sudah tertidur. Perlahan ia mengecup kening istrinya dan berlalu


ke kamar mandi.


Kembalinya dari kamar mandi, ia telah menemukan Nagita duduk dipinggir ranjang. Perempuan itu


cemberut dan membuatnya merasa bersalah.


“Hey, kenapa ngambek?”


“Kamu baru pulang? Masih ingat rumah?”


“Nagita, aku ini dokter. Jadi kapanpun aku dibutuhkan tentu saja aku akan segera menemui pasien,


kamu tahu pekerjaanku ini tidaklah mudah. Aku nggak pulang karena aku sudah


bilang sama kamu, kan? Bahkan aku hanya tidur di ruanganku, Nagita. Aku capek,”


“Terus kenapa kamu peluk-peluk perempuan lain?”


Ia tersenyum melihat istrinya cemburu.


Flashback.


Ada seorang perempuan yang waktu itu adiknya meninggal. Tak ada pilihan lain dan karena tidak ada


orang lain yang menemani, Teddy memberikan semangat agar perempuan itu merasa


lebih tenang sedikit. Mulai dari mengelus punggung perempuan itu.


“Kehilangan, siapapun pasti akan merasakannya. Sakit memang, tapi mau bagaimana lagi, dokter itu


adalah manusia, dia bukan Tuhan yang menentukan hidup dan mati seseorang.


Pasien sembuh, itu karena izin Tuhan yang menyembuhkan orang yang dia operasi,


jika operasinya gagal, barangkali memang sudah waktunya. Benar bahwa kadang


dokter gagal melakukan, tapi itu juga terkadang mereka berusaha sangat keras


untuk mencapai keberhasilan, nggak ada yang mau gagal setiap melakukan operasi,”


“Tapi kenapa adik aku menjadi korban?”


“Dia bukan korban. Memang sudah waktunya bukan? Keadaannya sudah melemah semenjak di bawa ke rumah


sakit,”


“Itu karena aku tidak punya biaya,”


“Ada atau tidaknya, silakan di bawa! Jangan sampai itu menjadi alasan untukmu tidak membawanya dan


mendapat perawatan yang bagus. Perihal biaya, barangkali aku bisa membantumu.”


“Tapi dia sudah tidak ada,”


“Maka dari itu, jangan pernah memikirkan biaya. Masih banyak orang yang baik di dunia ini akan


memberikan pertolongan meski hanya diberikan imbalan terima kasih. Tidak semua


orang membutuhkan uang untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Siapa tahu doa-doa


orang yang pernah ditolong itu di dengar oleh malaikat dan kemudian Tuhan


memperlancar segala urusan orang yang telah membantu tersebut. Uang? Mungkin


benar bahwa semua orang butuh, biaya untuk rumah sakit memang mahal. Tapi


cobalah untuk pikirkan adikmu dulu,”


“Terima kasih dokter.


Lain kali aku tidak akan menundanya. Semoga Tuhan memberikan kemudahan untukmu


dalam menjalani setiap operasi,”


“Hmmm,”


Teddy beranjak dari


tempat duduknya tadi saat menenangkan perempuan itu. Tiba-tiba saja tangannya


ditahan dan dipeluk dari belakang. Teddy langsung berbalik dan memeluk


perempuan tadi seraya mengelus punggung dan puncak kepala perempuan itu.


Setelah itu, ia kembali


lagi ke ruangannya. Meski orang itu bukanlah dari keluarga pasien yang ia


tangani, tetap saja ia harus memberikan semangat bari perempuan tadi. Namun


saat dirinya hendak masuk, Nagita berdiri diambang pintu sambil menangis.


“Puas kamu pelukan sama


perempuan tadi?”


“Nagita, aku bisa jelasin.”


Belum sempat ia mengejar Nagita yang berlari meninggalkannya. Ia sudah dipanggil untuk


memeriksa pasien yang lainnya.


Flashback off


“Aku lagi marah sama kamu,”


“Marah boleh. Tapi kamu harus tahu batasan, Nagita. Aku bekerja untuk kamu dan anak kita, Rey. aku memeluk perempuan lain bukan berarti mengkhianati perasaan kamu. Oke sekarang aku tanya, kamu cemburu?”


Nagita menggeleng dan langsung merebahkan tubuhnya kemudian menutup kepalanya dengan selimut. Melihat itu, Teddy yang tadinya hendak menjelaskan tersenyum dengan tingkah Nagita yang sepertinya memang sedang merajuk.


Pelan-pelan, Teddy memeluk Nagita dan langsung mencium perempuan itu.


“Marah?”


“Nggak,”


“Besok aku libur, cuman satu hari. Aku akan nemenin kamu ke seminar,”


“Tahu dari mana kalau ada seminar?”


“Siapa yang nggak tahu sekarang ini istrinya Teddy jadi desaigner terkenal, hm?”


“Aku dapat sponsor,”


“Bagus dong. Dari perusahaan mana?”


“Perusahaan Daddynya, Rey,”


Teddy melepaskan pelukannya dan langsung bangun dari ranjang. Kehadiran pria itu sangatlah tidak diinginkan oleh Teddy. Bagaimanapun juga, ia sudah terlanjur membenci Azka karena kejadian di mana pria itu sudah mencampakkan istrinya dulu. Teddy hanya tidak ingin Nagita bertemu lagi dengan pria itu, kemudian istrinya justru teringat tentang Azka lagi.


Ia yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya dan duduk di pinggiran ranjang. Ia merasakan tangan Nagita menyusup dan menyentuh dadanya dari belakang. Darah Teddy berdesir hebat, ia tidak bisa berlama-lama dengan pikirannya yang kalut.


“Aku nggak nerima kok. Lagian dia nggak tahu kalau itu adalah aku, dia hanya tahu bahwa desain yang aku buat itu sangat bagus,”


“Kamu buat desain apa?”


“Berarti kamu akan bertemu dia?”


“Aku nggak bakalan temui dia kalau kamu nolak, sayang,”


“Nagita, aku cuman nggak mau kamu balik lagi sama dia,”


“Iya. aku nggak bakalan balik kok. Aku sudah terlanjur sayang sama kakak,”


“Nagita, kapan kamu akan memanggilku dengan sebutan yang lebih romantis?” ucapnya memprotes istrinya. Ia memegang tangan Nagita yang terus bergerak naik turun. “Jangan menggodaku


Nagita!”


“Aku tidak menggoda. Hanya saja sedang ingin bermanja dengan suami, apa itu salah?”


“Nagita, datang bulanmu sudah selesai?”


“Sudah dari satu minggu yang lalu. Kamu nggak tahu karena kamu terlalu sibuk sama pekerjaanmu, dan kamu sudah puasa hampir satu bulan. Katanya pengin lihat aku hamil, gimana mau hamil kalau nggak pernah di siram,”


Teddy membuang muka karena ucapan istrinya. Dengan segera ia menyingkirkan tangan Nagita dan langsung **** perempuan itu.


“Sudah nggak marah lagi?”


“Mana bisa aku marah lama-lama sama kamu, Mas,”


Teddy tersenyum mendengar panggilan istrinya. Rasa lelahnya hilang seketika itu, ia menyentuh dagu istrinya. Dengan sisa-sisa air yang masih ada di dadanya. Nagita


membersihkannya dengan selimut.


“Boleh?”


“Apanya?”


“Kalau aku minta sekarang,”


Nagita mengangguk pelan. Semenjak bekerja, mereka berdua disibukkan dengan pekerjaan


masing-masing. Hingga semuanya benar-benar normal nantinya. Nagita yang sudah berhasil mewujudkan mimpinya menjadi seorang desainer profesional. Ditambah lagi kejutan rumah yang terbilang sangat mewah dari Teddy. Belum lagi resepsi


yang tiba-tiba menyambutnya sepulang dari Jepang. Bahkan Rey yang sangat antusias dengan kepindahan mereka. Setelah memutuskan pindah, ia meminta izin kepada Dimas untuk membawa istri dan anaknya untuk pulang ke rumah yang telah ia bangun sendiri dengan hasil yang selama ini ia tabung. Bahkan sebelum lulus, ia benar menghadiahkan Rey sebuah mobil yang dikhususkan untuk anak itu.


Ia menatap Nagita intens. Perlahan ia mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.


“Pintu?”


“Jangan khawatir, aku sudah menguncinya tadi,” jawab Teddy pelan. Melihat Nagita dengan baju tidur yang kali ini sangat seksi. Berwarna merah dengan motif bunga mawar dan memperlihatkan belahan dadanya. Ciumannya perlahan menurun, Nagita mengelus punggungnya dan terasa itu semakin membuatnya bergairah. Aroma parfum istrinya juga berbeda dari biasanya.


“Ganti parfum?”


Nagita menggeleng.


“Nggak suka?”


“Bahkan aku suka, sangat suka dan itu membuatku bergairah,”


Ia mencium leher Nagita, hingga perempuan itu mengeluarkan suara desahannya. Teddy mulai mengelus bahu Nagita dan menurun, bahkan kulit istrinya pun kini sangat lembut. Mungkin sudah terlalu lama ia tak menyentuh istrinya seperti ini. Hingga membuatnya merasa berbeda dari biasanya. Dada Nagita yang juga nampak menonjol membuatnya ingin segera melahap yang ada di dalam bungkusan bra dan baju tidur itu.


Tangannya perlahan menyusup dan langsung menemukan yang ia cari. Namun bibirnya juga tak berhenti untuk menciumi bibir istrinya dan bergantian dengan leher Nagita.


“Ssssshhh,”


“Pelan-pelan suaranya, sayang. Nanti Rey dengar,”


“Kamu beda dari biasanya, Mas,”


“Yang beda itu kamu, semuanya beda. Maaf kalau nanti kamu merasa tidak nyaman,”


“Maksudnya?”


“Durasi kita bercinta


akan lebih lama dari biasanya, Nagita,”


Ia menyeringai dan melepas pakaian Nagita. Teddy mengecup kening Nagita sebelum melanjutkan aksinya. “Semoga kali ini bisa hamil, Nagita! Jangan pernah di tunda lagi. Bagaimanapun juga aku ingin menjadi seorang ayah yang sesungguhnya,” istrinya hanya mengangguk sambil menikmati permainannya.


Teddy langsung melahap


gundukan kenyal milik Nagita. Tak lupa juga ia memainkan kedua dada Nagita dan


menggigitnya perlahan. “Suka?”


“Hmm, iya,”


“Mau dilanjut?”


“Terserah kamu, Mas.”


Ia sengaja menggoda istrinya. Tak ingin ada pertengkaran lagi dalam rumah tangganya. Terkadang ia yang cemburu dengan beberapa teman bisnis istrinya. Namun kali ini, istrinya yang cemburu. Merasa dicemburui, ia merasa bahwa Nagita sudah mulai mencintainya. Bahkan perempuan itu seringkali diam-diam memeriksa ponselnya dan Teddy pernah menemukan istrinya tapi ia tak berkomentar apa pun. tak ingin pula membahas hal itu. Sebagaimana menjadi seorang suami, ia harus pandai menjaga hati istrinya.


Perlahan ia menurunkan celana Nagita beserta celana dalam itu. Kali ini ia dibuat tertegun lagi, “Kamu perawatan?”


Nagita mengangguk. Teddy hanya tersenyum dengan keadaan yang disuguhkan oleh istrinya. Ia sudah benar-benar menegang kali ini. Perlahan ia menurunkan handuk yang ia kenakan hingga sama-sama bertelanjang saat itu.


“Nagita, aku mulai,”


Istrinya mengangguk. Merasa cukup dengan pemanasan yang ia ciptakan tadi. Perlahan ia memasukkan junior miliknya ke dalam organ intim istrinya. Nagita menutup mata dan juga mulutnya, melihat hal itu, Teddy langsung memegang tangan istrinya dan langsung diletakkan disamping Nagita.


Perlahan ia mulai bergerak dengan sangat lembut. Hingga suara desahan Nagita terdengar di kamar mereka. Sudah tak peduli lagi dengan keadaan sekitar, keduanya sama-sama menikmati percintaan itu.


“Ah, bisakah berhenti sekarang?”


“Ssshh, diamlah Nagita. Aku belum selesai,” Teddy dada Nagita hingga perempuan itu mengeluarkan suara yang sedikit lebih keras dari pertama. Erangan Nagita semakin menjadi saat ia mulai bergerak kencang. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Teddy turun dari ranjang dan langsung menarik Nagita hingga membelakangi dirinya. Ia berdiri dan Nagita membelakangi dirinya. Lagi-lagi ia memasuki Nagita dan dada istrinya. Menciumi punggung istrinya dan meninggalkan jejak yang begitu banyak di sana.


Tubuh Nagita yang sedikit kurus, namun dada dan bokongnya sangat berisi. Padahal yang ia ingat terakhir kali menyentuh istrinya, Nagita tak seperti itu. Namun kali ini Teddy benar-benar merasa sedang dilayani khusus oleh Nagita.


Ia membalikkan tubuh Nagita dan **** perempuan itu. Posisinya adalah Nagita di bawah dan ia terus menghujam miliknya. Sesekali ia mencium dada hingga meninggalkan banyak sekali tanda merah di sana. Nagita akan mengeluarkan erangan setiap kali ia *** dada istrinya.


“Nagita, setiap hari kita akan seperti ini,”


“Hmm, iya,” Nagita berpegangan pada seprai.


“Teddy udah?"


“Jangan sekarang, sayang. Aku belum mencapai kepuasanku,”


Teddy terus menghujamkan miliknya, ia berhenti sejenak hanya untuk mencium dan **** dada istrinya. Hingga Nagita terlihat begitu lemas. Bahkan ia juga menyadari kini durasi bercintanya semakin meningkat dari biasanya, ditambah lagi dengan Nagita yang menggodanya malam itu.


“Nagita tahan, sebentar lagi.” Teddy terus menggerakkan miliknya lebih keras, hingga penyatuan mereka menimbulkan suara. Teddy memegangi wajah Nagita dan menciumnya saat sudah mendapat pelepasan. Istrinya lemas seketika, ia menciumnya berkali-kali tanpa mengeluarkan miliknya.


“Terima kasih,”


Nagita mengangguk. Teddy langsung mencabut miliknya dan langsung berbaring disamping istrinya. Baru saja ia berbaring, Nagita memeluknya begitu erat. Ia mengelus dan menciumi kepala Nagita.


“Nagita!”


“Iya,”


“Terima kasih, ya!”


“Hmmm, sama-sama,”


“Aku merasa ada yang aneh sama kamu,”


“Apanya yang aneh?”


“Nggak kayak biasanya, biasanya aku yang godain kamu,”


“Tahu nggak, aku perawatan ini itu biar bisa buat kamu puas. Terus kamu bilang pengin punya anak, tentu aku harus terlihat seksi khusus depan kamu kan, udah gitu setiap kita bercinta, aku akan menuruti semua kemauan kamu,”


“Berarti nggak bakalan nolak-nolak lagi?”


“Aku nggak pernah nolak, kecuali kalau aku capek,”


“Berarti sekarang nggak capek?”


“Nggak,”


“Berarti boleh lagi?”


Nagita memukul dadanya. “Kalau sekarang pastinya capek,”


“Suara desahan kamu, menggoda. Aku nggak bisa berhenti. Dada kamu nggak diapa-apain kan?”


“Maksud kamu?”


“Ya di apalah itu, suntik biar kencang atau apa kek,”


“Nggak. Ini nggak pake begituan segala,”


“Aku ngerasa beda,”


“Aku udah bilang, kalau aku rawat dengan baik biar kamu puas,”


“Hmmm, semoga kali ini kamu hamil sayang,”


“Pengin banget ya?”


“Iyalah, kasihan juga Rey nggak ada teman main,”


“Oke, kalau gitu rajin pulang. Biar rajin juga buatnya,”


“Mulai lagi nih kayaknya, yuk ah, tidur! Nanti kita lanjut lagi sayang.”


Nagita memeluknya semakin erat. Teddy menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga istrinya. Walau sebenarnya ia sangat lelah, tetapi ketika melihat istrinya yang manja seperti tadi, Teddy merasa itu adalah sebuah semangat untuknya.