
Semoga suatu masa ketika semua itu terlanjur dikatakan oleh pria itu. Akan ada kasih sayang dan permintaan maaf yang diterima oleh mertuanya. Meskipun bukan dia yang mengajak Marwa bertemu dahulu, tapi bagaimanapun juga dia harus berkata dengan jujur bahwa pria itu adalah dirinya.
Berbincang begitu lama dengan saudara dari mamanya membuatnya sedikit lega. Walaupun sarapan yang diberikan tidak jauh beda dari papanya. Dan papanya pernah bersedia untuk mengantarkan Rey ke rumah Marwa untuk mengatakan hal itu. Tetapi hanya butuh waktu bagi seseorang berkata jujur mengenai kesalahannya.
Meskipun sekarang ini sifat Marwa sedikit berbeda semenjak hamil. Setidaknya perempuan itu masih bisa diajak untuk bekerja sama mengenai apa yang akan dilakukan oleh Rey nantinya.
Di bawah cahaya bulan yang begitu terang, dia menghadap ke langit menghirup udara malam hari di rumah sang Oma. Dia sengaja menjenguk sang Oma sepulangnya dari mall bersama dengan adiknya.
Ia mengenakan sebuah jas hitam yang masih belum diganti malam itu. Suasana yang seolah hanya semesta yang mengerti tentang perasaannya kali ini. Seolah tidak ada lagi orang yang mengerti mengenai suasana hatinya. Terkadang menyimpan sendiri itu lebih baik dibandingkan menceritakan kepada orang lain yang terkadang hanya ingin tahu. Lalu setelah tahu, mulai bersikap layaknya orang yang tidak peduli.
Rey menelan sendiri rasa sakit itu. Menahan semua kecemasannya, walaupun dia menceritakan masalahnya kepada orang tuanya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dia masih menyimpan rahasia besar itu.
Seorang pria yang usianya berbeda beberapa bulan dari usianya keluar menghampirinya. Pria yang sudah lebih dulu menjadi seorang papa itu.
“Mikirin apa?” tanya Leo yang waktu itu menghampirinya dan menepuk bahunya.
Rey menutup matanya sedikit kemudian menoleh ke arah Leo. Mereka berdua sedang berbicara di atas atap. Tempat di mana Rey biasanya menghabiskan waktu. Atap yang di desain khusus untuk menikmati malam yang indah.
“Kak Rey sama Marwa mau sampai kapan tinggal di rumah orang tua?” Leo menanyakan hal itu karena pria itu sendiri sudah lebih dulu tinggal terpisah dengan orang tua. Meskipun di awal mereka tinggal di rumah oma. Tetapi setelah melahirkan, Leo membawa istri dan anaknya tinggal di tempat berbeda.
Rey merasa itu sebuah pukulan dari adik sepupunya itu. “Leo, sebenarnya aku juga mau tinggal di rumah yang berbeda,”
“Tapi alasan kakak masih tinggal sama orang tua itu apa? Bukannya kakak ingin sekali hidup berdua sama istri kakak?”
“Memang itu adalah keinginan terbesar aku,”
“Amanda melahirkan, dan sekarang kami berdua hanya berkunjung di sini. Hidup berdua dengan istri kemudian tidak ada lagi orang yang tahu tentang masalah rumah tangga kita. Mungkin saat tinggal bersama dengan orang tua itu terasa sangat berbeda. Bukan berarti bahwa kita itu mengasingkan diri, tetapi saat tinggal berdua tentu saja itu adalah hal yang sangat baik. Apalagi nanti ketika memiliki masalah, hanya kita yang tahu. Jadi kita tidak memendam apa pun lagi. Semua bisa kita katakan, mungkin di rumah orang tua kita memilih mengalah. Tetapi dalam hati begitu berat untuk dikatakan karena memikirkan orang tua kita berada di sana,”
Rey juga sering bertengkar dengan Marwa karena perbedaan-perbedaan keduanya. Marwa yang memilih diam dan tidak melanjutkan pertengkaran mereka. Namun, Rey sadar setiap kali bertengkar Marwa lebih sering menangis dan tidak mengungkapkan kekesalannya. Sebagai seorang pria, dia berusaha untuk menenangkan. Akan tetapi tentu istrinya butuh waktu untuk bisa menerima semuanya itu.
“Leo, kalau Marwa sudah baikan. Tentu aku bakalan pindah dari rumah Papa. Tapi untuk saat ini Mama masih menahan kami berdua dengan alasan Marwa masih ngidam. Kalau udah enggak muntah-muntah lagi, mungkin aku juga akan hidup berdua sama dia. Mencari kehidupan dan belajar saling memahami satu sama lain. Meski tidak ada pasangan yang benar-benar cocok dalam dunia ini. Akan tetapi pasangan yang baik adalah ia yang menerima kekurangan itu. Ia yang melengkapi kekurangan itu dengan kelebihannya bukan justru menolak kekurangan itu lalu mencari lagi yang lain,”
Tiba-tiba suara deru napas Rey berubah menjadi sedikit lebih kasar. Napasnya pun melambat, dia berusaha untuk menahan itu. Pertengkaran dalam rumah tangga tentu pernah dia hadapi, apalagi sampai tidur saling membelakangi. Rey tahu bahwa istrinya pasti butuh waktu.
Tak lama kemudian Leo tersenyum dan langsung menyenggol bahunya. “Bentar lagi jadi Papa. Pasti rasanya berbeda. Apalagi kalau anak bangun tengah malam karena pampers tembus, jangan serahin ke istri semua pekerjaan mengenai anak. Suami juga harus berbagi, kalau misalnya kita yang lihat gitu, ya minimal kita yang gantiin pampers. Kasihan istri selama seharian penuh jagain anak kita,”
“Oh jadi sekarang ini anak lebih dewasa dari kakaknya semenjak jadi Papa? Hah, gimana rasanya?”
“Pastinya senang. Apalagi waktu nemenin istri lahiran. Pokoknya di situ baru terasa, dan semua terbayang tentang kesalahan kita waktu bertengkar. Semua masalah-masalah yang pernah kita hadapi waktu itu akan terasa sangat sakit. Penyesalan itu pun akan terasa, intinya semua masalah yang pernah terjadi pasti akan membuat kita teringat lagi waktu istri berjuang melahirkan,”
“Maaf waktu istri kamu melahirkan justru aku enggak ada,” ucap Rey sambil menepuk bahu kanan Leo yang berdiri disebelah kiri Rey.
“Karena enggak ada orang yang tahu kalau Amanda melahirkan. Bahkan orang tua aku telepon waktu anak aku udah lahir. Intinya belajar untuk berjuang berdua, apa pun yang terjadi. Dan rasa yang paling mengesankan adalah ketika gendong dia yang baru lahir. Hasil cinta, ah pokoknya enggak bisa dijabarin deh. Nanti kakak sendiri tahu rasanya seperti apa,” ucap Leo hingga membuat Rey tersenyum membayangkan bagaimana nanti seandainya dia menemani sang istri melahirkan. Menemani semua proses mendidik anaknya.
Rey menghela napas, “Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar,” harap Rey.
“Amiin, intinya aku berusaha untuk doain kakak. Ngomong-ngomong ajak dia ke rumah. Masa enggak mau lihat keponakan sendiri?”
“Nanti, pasti aku ajakin kok,”
“Mama jadi nenek muda juga akhirnya,”
“Itu karena kamu, kalau kamu enggak hamili Amanda, ya Tante Naura masih jadi Mama yang selalu awet muda buat kamu,”
“Tapi setelah jadi Papa nanti kakak juga akan mengerti. Bukan hanya menjadikan Mama sebagai nenek. Tapi akan mengerti tentang arti tanggung jawab yang sesungguhnya. Tanggung jawab adalah sesuatu yang berat untuk dilakukan. Coba saja buktikan nanti, kak!”