RICH MAN

RICH MAN
SAMPUL MANUSIA



Sebelum mulai masuk di sekolah baru, mereka masih menikmati liburan mereka yang hanya dihabiskan di rumah saja. Rey menolak untuk pergi liburan dan itu yang membuat Azka dan Nagita sempat khawatir.


Namun, ada yang lebih membuat keduanya bahagia, yaitu Rey sibuk belajar di rumah Dimas. Mereka berdua tahu bahwa selama Rey berada di rumah Dimas, lelaki itu akan lebih menghabiskan waktu untuk belajar dibandingkan dengan bermain ponsel. Bahkan untuk mendapatkan kabar mengenai anaknya pun, Azka harus menghubungi Dimas maupun Viona karena dia kesulitan menghubungi anaknya sendiri.


Ditengah teduhnya sinar matahari sore, Rey mengayuh sepedanya menuju lapangan yang tidak jauh dari rumah Dimas.


Dia menyandarkan sepedanya tidak jauh dari tempat dia berdiri dan melipat kedua tangannya sembari menyaksikan pertandingan sepak bola antar desa. Kehidupannya selama di sana tentu saja begitu berbeda dibandingkan di rumah orang tuanya.


Kehidupan yang dulunya selalu saja mewah, tetapi jika di rumah Dimas dia akan menjadi orang biasa lagi seperti dulu waktu kecil.


"Rey,"


Lelaki itu mengangkat alisnya, karena dia tidak mengenali orang yang tengah merangkulnya itu, mungkin usia mereka sama. Tetapi dia benar-benar tidak mengenali orang itu.


"Jangan bilang kamu lupa sama aku?"


Rey berusaha untuk mengingat-ingat lelaki yang ada di sampingnya itu.


"Siapa?" ucapnya polos.


"Astaghfirullah, ayolah Rey jangan bercanda. Ini teman main kamu waktu kecil waktu mandi bareng di kamar mandi waktu itu,"


"Fatir?" tebaknya.


"Fahmi, bukan Fatir," jawab lelaki itu sambil menyeringai. Rey langsung membalas rangkulan itu.


"Astaga, apa kabar? Lama banget enggak ketemu ya?"


"Iya, kamu kan ikut orang tua, jadi enggak pernah ke rumah Om Dimas lagi,"


"Aku sering ke sana, tapi katanya kamu kan dari SMP udah di sekolahin di pesantren,"


"Iya sih, ya gitu. Orang tua penginnya aku jadi anak yang hidupnya lurus,"


"Selama ini kamu bengkok gitu?"


Rey mengangguk. "Ngomong-ngomong aku juga ke sini karena mau pindah sekolah,"


"Ke mana?"


"Pesantren juga, orang tua mintanya di sana. Mungkin udah jengah kali sama sikap aku yang selama ini, kurang ajar sama orang tua hanya karena cewek,"


"Hah? Yang benar aja kamu sudah mulai pacaran? Nyoba pacaran itu cuman bikin kamu sakit, Rey,"


"Nah itu dia, orang tua penginnya aku kayak dulu lagi,"


"Hafalan gimana?" tanya Fahmi. Rey hanya menggeleng. "Kenapa sama hafalan kamu?"


"Lupa, banyak yang udah lupa,"


"Itulah Rey kalau kita udah hafal, terus enggak coba diulang-ulang ya bakalan lupa dengan sendirinya. Bayangin aja kamu yang dulunya pintar banget soal hafalan, bahkan orang tua aku sering bandingin aku sama kamu, kenapa sekarang tiba-tiba kendor gitu?"


"Kadang kan ada waktunya di mana orang itu kendor karena godaan,"


Fahmi menepuk pundak Reynand. "Bukannya sok ngajarin ya, memang Rey kalau kita udah mulai terpikat dengan lawan jenis gitu, terus kita udah mulai tertarik sama dia dan mulai meninggalkan apa yang harusnya kita lakuin hanya karena dia, mungkin Tuhan cemburu dan ngasih kita kepedihan yang luar biasa sakitnya hingga kita merasakan bagaimana harus bertahan?"


Rey tertegun dengan ucapan teman masa kecilnya itu, mereka berdua memutuskan untuk duduk di rumput. Sebelum akhirnya angkat bicara, "Itulah salahnya, kenapa aku harus lepasin perasaan aku gitu aja tanpa bisa jaga dengan baik, hingga akhirnya aku yang ngerasain sendiri kecewa itu. Bahkan hanya karena kesal sama dia, aku berani bentak Mama. Mulai enggak dengar apa yang diperintahkan oleh kedua orang tua aku, semua itu kacau hanya karena aku enggak bisa jaga hati dengan baik untuk orang yang jauh lebih pantas,"


Fahmi tersenyum dan mengubah posisi duduknya menekuk lututnya dan memeluk lututnya sendiri. "Haah, begitulah cinta Rey. Kadang kalau kita kejar maka akan terus saja jauh, tetapi saat kita berusaha untuk mengejar cinta sang pencipta, secara enggak sadar Tuhan kirimkan kita pasangan yang kadang emang enggak sesuai sama yang kita minta. Misalnya gini, sekarang kamu minta dia yang kamu kejar itu jadi pasangan kamu, bisa enggak dia jadi pasangan hidup kamu kelak? Sekarang tugas kita hanya saling memperbaiki, mungkin juga dia di sana sedang memperbaiki diri. Kalau pun memang yang kita dapatkan enggak sesuai, barangkali Tuhan mengirim dia menjadi orang yang akan kita didik agar menjadi jauh lebih baik. Tugas kita belajar, memperbaiki diri. Akhirat kita kejar, karena kita enggak pernah tahu esok apakah kita masih ada atau tidak,"


Perlahan Rey mengangguk, bertemu dengan temannya yang sudah menjadi jauh lebih baik, itu yang membuatnya sangat iri. "Fahmi, aku iri sama kamu yang sudah jauh lebih paham dengan semua ini,"


"Jangan iri sama aku, Rey. Bisa jadi aku yang terlihat baik ini adalah orang yang paling banyak dosa, dan orang yang dilihat paling buruk adalah orang yang sebenarnya paling suci dihadapan sang pencipta. Karena kita tidak pernah tahu ketika orang yang kita anggap baik itu justru dosanya lebih banyak dari orang yang kita anggap buruk. Yang kita anggap buruk barangkali menangis sambil menengadahkan tangannya menghadap sang pencipta berdoa dengan sebaik-baiknya, enggak bisa kita menilai baik buruknya orang hanya dari luar saja. Kadang ya orang baru belajar, ngingetin orang lain itu dihadapan orang ramai. Cara mengingatkan orang lain itu, ajak dia berdiskusi berdua apa yang dia lakuin itu salah, bukan justru ingatin di hadapan orang ramai seolah kita itu orang paling baik,"


"Terima kasih, aku belajar banyak hari ini sama kamu, Fahmi,"


"Mari belajar bersama, Rey. Tugas kita sebagai anak adalah menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, apalah artinya dunia dan seisinya jika kita lupa terhadap sang pencipta. Apa yang mewah di dunia ini enggak kita bawa dan antar kita ke surga. Sekarang kita sibuk nih misalnya, dunia terus, kerja terus, uang terus. Sholat enggak, sedekah enggak, puasa apalagi, tapi ketika itu dengan songongnya minta surga. Tugas kita di dunia ini untuk menyiapkan bekal ke akhirat bukan?"


Lelaki itu terus berkata yang baik dan mengajak Rey berbincang dengan bahasa yang santai dan mudah dimengerti oleh Rey. Dia juga bersyukur bisa bertemu dengan temannya dan bisa belajar, mulai tersentuh hatinya. Dan bahkan Fahmi merendah diri, bukan merasa jauh lebih baik saat dipuji oleh Reynand tadi. Dia belajar bagaimana harus menjadi biasa saja. Walaupun pintar, akan tetapi masih merendah.